Resensi Film-Bhayu MH

Flight Plan-the airplanes crewsTengah malam tadi, di Global TV ditayangkan film Flight Plan. Film ini cukup lawas, dan karena saya memiliki VCD-nya, maka saya tidak terlalu memperhatikan (untuk resensinya silahkan baca di Resensi-Bhayu.com). Tapi, saya kemudian ngeh bahwa sekali lagi, ini pesan Tuhan untuk saya (baca kembali tulisan saya “Tuhan Bicara”). Di film itu, tokoh utamanya dikira gila oleh semua orang. Tak ada yang percaya padanya. Namun, dia sangat yakin pada dirinya sendiri walau seolah tak ada fakta yang mendukungnya. Memang sih, penonton yang memandang dari “God’s view” tahu bahwa perempuan itu yang benar, tapi akhir film sulit ditebak karena bisa saja kebenaran hakiki tak terungkap.

Baru-baru ini, saya menemukan buku baru di rak toko buku. Karena sangat sesuai dengan apa yang saya alami, maka saya beli buku karya seorang yang bukan siapa-siapa itu, dalam arti bukan seorang pakar. Namun, apa yang dialaminya sangat mirip dengan saya. Karena memang problema yang dialaminya sama, suatu penyakit psikologi bernama bipolar. Buku itu berjudul “Mereka Bilang Aku Gila” karya Ry Kusumanintyas. Wanita paruh baya ini menderita penyakit kejiwaan bipolar disorder dengan sub-disease manic depresif. Meskipun begitu, ia mampu hidup normal. Dan di usianya yang menginjak 40 tahunan barulah ia tahu apa yang dideritanya sejak kecil. Toh, seperti saya, ia mengalami kesulitan karena mengalami berbagai kejadian yang tidak dialami orang biasa. Lingkungan juga sulit menerimanya, hingga ia seolah dianggap gila, minimal orang aneh.

Dalam film Flight Plan, karakter yang diperankan oleh Jodie Foster juga dianggap aneh bahkan gila. Ia yang kehilangan putrinya di pesawat dianggap berhalusinasi. Apalagi kondisinya mendukung karena ia baru saja kehilangan suami yang bunuh diri. Data-data faktual seperti manifes penerbangan juga meragukan kisahnya, karena sang putri tidak terdaftar di pintu keberangkatan. Sementara karena menimbulkan kepanikan, ia malah ditahan polisi penerbangan. Malah, seorang psikiater yang ada di pesawat ‘menenangkannya’ karena ia dianggap semata trauma, apalagi ia memang sedang membawa peti jenazah suaminya di dalam pesawat.

Tapi apakah ia lantas ragu? Tidak. Ia yakin ia tidak gila. Sebagai seorang insinyur yang pernah bekerja di perusahaan pesawat, ia menggunakan ilmunya dengan efisien. Diselidikilah ruangan demi ruangan untuk mencari putri kecilnya. Dan di akhir film, semua orang tahu bahwa dialah yang benar.

Saya merasa dikuatkan Tuhan dengan film ini. Kenapa? Karena saat ini saya sedang berjuang sendirian mewujudkan mimpi saya. Bukan sekedar mimpi menjadi sukses, tapi mimpi menjadi pribadi yang berguna  bagi masyarakat. Orang terdekat saya mengkhianati saya, karena ia percaya saya gila dan tidak akan berhasil. Tapi Tuhan menunjukkan, setapak demi setapak, saya berhasil membalikkan semua angggapan negatif. Alhamdulillah.

Foto: www.rottentomatoes.com

Featured image: www.superiorpics.com

Catatan: Pertama kali dimuat di blog harian penulis -LifeSchool- pada 22 Juni 2013


Categories: Pelajaran dari Film

One Response so far.

  1. Mantab banged dah film ini. Saya sangat suka om. 🙂

Leave a Reply