Resensi Film-Bhayu MH

7878266_f496

RESENSI-FILM.com

Pola Penulisan Sinopsis (Ringkasan Jalan Cerita) dan Resensi/Ulasan/Review/Kritik Film

Ada beberapa pola penulisan resensi dan sinopsis yang umum didapati di dunia kritik film. Kebanyakan kritik film yang baik dimuat di media massa arus utama, biasanya media cetak. Tetapi, di dunia internet, juga ada beberapa situs yang dihormati karena resensinya bermutu.

Ciri resensi bermutu biasanya “berat”. Ia membandingkan film yang sedang diresensi dengan film lain, termasuk dengan referensi dari bidang lain bila diperlukan. Wawasan penulis resensi biasanya luas dan hafal banyak hal di dunia perfilman. Seringkali, produsen film bahkan mengutip resensi itu untuk memperkuat pemasaran filmnya. Biasanya, pujian atau resensi positif dicantumkan di situs resmi film atau di kemasan produk cakram padatnya.

Saya sengaja mengembangkan sendiri pola lain yang saya amati justru diperlukan sebagai referensi bagi penikmat film di Indonesia. Pertama, untuk sinopsis, saya tidak menjiplak resensi yang dikeluarkan para produsen dan biasanya dirilis saat konferensi pers (press conference) di saat pemutaran perdana (premiere). Saya sendiri mengamati, banyak media massa di Indonesia agak malas menulis sinopsis sendiri untuk film produksi Indonesia. Sehingga seringkali satu sama lain ternyata cuma copy-paste. Untuk film luar negeri terutama Hollywood, saya juga tidak meniru pola penulisan sinopsis seperti di IMDB.com.

Pola yang saya pakai seperti menceritakan kembali film yang baru saya tonton sesegera mungkin, apalagi film yang baru ditonton di bioskop. Saya mengandalkan ingatan saya yang alhamdulillah memang dikategorikan jenius ini. Setelah menonton film di bioskop, biasanya jalan cerita saya tuliskan selengkap mungkin. Kenapa begitu? Karena justru di media massa termasuk di internet, saya dapati jalan ceritanya kerapkali kurang memadai. Dan, untuk film-film yang terkategori sulit seperti Inception (2010) atau trilogi The Matrix (1999,2001), biasanya penonton Indonesia kurang bisa memahami jalan ceritanya. Maka, saya mencoba membantu dengan menyajikan jalan cerita selengkap mungkin.

Pola ini justru seringkali dihindari para penulis di media massa karena resensi semacam ini dianggap membocorkan “rahasia film” sehingga bisa berakibat membuat penonton malas pergi ke bioskop. Karena itu, biasanya ada peringatan “Spoiler Alert!” saat tulisan resensi memuat jalan cerita. Tetapi, kebanyakan tulisan di situs ini justru ditulis setelah filmnya selesai masa tayangnya di bioskop, dengan cara menonton melalui cakram padatnya. Saya tidak pernah diundang acara premiere seperti para jurnalis pewarta dunia hiburan. Karena saya tidak mendapatkan keuntungan apa pun, maka jelas tidak masalah bagi saya membocorkan jalan ceritanya.

Demikian pula untuk pola penulisan kritik film, background saya yang memiliki minat dan wawasan luas sangat berpengaruh, terutama di bidang filsafat. Seringkali, saya mendapati “pelajaran di balik film” yang kemudian saya tuliskan sebagai artikel terpisah di luar resensi film. Terkadang, tulisan ini memang agak bersifat subyektif karena berdasarkan pengalaman pribadi. Untuk kritik film, saya menyoroti pada aspek pemilihan pemeran, karakter, setting lokasi, perlengkapan termasuk wardrobe dan peralatan pendukung yang digunakan karakter, logika alur cerita dan kenikmatan menonton secara keseluruhan. Saya sangat menghargai para insan perfilman yang memproduksi film dari awal hingga tayang. Karena itu, saya tidak sembarangan asal mengkritik dalam konteks negatif. Karena saya sungguh tahu bagaimana sulitnya sebuah film dibuat.

Terus-terang saya agak menghindari pola penulisan “resensi berat” seperti bisa ditemui di harian Kompas edisi Minggu atau Majalah Tempo. Kenapa? Karena ternyata penonton bioskop Indonesia kebanyakan menonton sebagai hiburan semata. Banyak yang malas berpikir. Sebagai contoh, resensi film saya The Book of Eli (2010) malah diejek sebagai “sok tahu” oleh komentator yang bahkan terlalu pengecut untuk menampilkan jatidirinya. (Tentu saja komentarnya tidak saya approved).

Ada beberapa perbedaan antara resensi yang saya tulis belakangan dengan di awal pembuatan situs. Biasanya, tulisan resensi awal akan ada keterangan “dimuat pertama kali di blog pribadi harian penulis http://lifeschool.wordpress.com“. Hal ini karena biasanya tulisan itu memang sudah ada sebelum situs dengan domain utama ini dibuat. Tulisan versi awal tidak menyertakan “jalan cerita” dan hanya berupa ulasan “pandangan pertama” (first sight impression) atas film yang ditonton, biasanya baru saja tayang di bioskop. Tak jarang, kesan pertama kali saat menonton di bioskop akan berbeda dengan saat menyaksikan ulang di cakram padat.

Dan sekali lagi, ini situs pribadi. Saya tidak mendapatkan keuntungan langsung dari pihak produsen film. Saya membuatnya sejak 2011 semata penyaluran hobby saya menikmati –bukan sekedar menonton- film. Sekaligus sebagai bahan rujukan bagi materi tulisan dan pelatihan saya. Jadi, kalau Anda tidak memberi kontribusi apa pun, tolong hormati orang yang sudah menyediakan informasi gratis ini untuk Anda dengan cara tidak menuliskan komentar negatif. Kecuali kalau Anda memberi saya uang 1 milyar, silahkan menuliskan komentar makian sekasar apa pun di sini. 😀

Untuk melihat kebijakan penulisan resensi, silahkan baca: Tentang Situs Ini

Ilustrasi: unknownwon.hubpages.com

Featured Image: marketwatch.com


Categories: Petunjuk

One Response so far.

Leave a Reply