Resensi Film-Bhayu MH

Avengers: Age of Ultron

Year : 2015 Director : Joss Whedon Running Time : 141 minutes Genre : , , , , ,
Movie review score
5/5

Jalan Cerita

Penikmat film dan penggemar setia barangkali masih ingat, dalam sekuel sebelumnya yaitu The Avengers (2012), organisasi S.H.I.E.L.D. tempat The Avengers bernaung terpaksa dibubarkan. Itu karena tuntutan Kongres A.S. akibat tereksposenya kegiatan dan identitas para agennya yang seharusnya rahasia. Maka, para Avengers kemudian mencari markas baru dan bernaung di bawah pimpinan Tony Stark. Seperti diketahui, Stark Tower juga ikut hancur dalam pertempuran melawan balatentara Loki.

The Avengers lantas memburu sisa-sisa Hydra yang telah dihancurkan dalam Captain America: The Winter Soldier (2014). Mereka menuju ke Sokovia, yang dikisahkan berada di Eropa Timur. Di sana, masih ada markas Hydra yang dipimpin oleh Baron Wolfgang von Strucker. Ia ternyata masih memiliki tongkat milik Loki yang direbutnya dalam pertempuran sebelumnya. Kita tahu, saudara kandung Thor itu memang dewa dalam mitologi bangsa Norse (Norwegia). Tongkat itu memiliki kekuatan luar biasa karena ada permata dewata sebagai bagiannya.

Ketika menghancurkan markas itu, The Avengers sempat berhadapan dengan dua orang manusia super. Mereka bisa dengan mudah mengalahkan Captain America dan beberapa personel The Avenger lainnya karena kekuatan yang dimiliki. Kedua manusia hasil percobaan Strucker menggunakan tongkat Loki itu adalah remaja kembar beda jenis kelamin atau di Jawa disebut “kembar dampit”. Sosok pria bernama Pietro Maximoff yang punya kecepatan super seperti The Flash. Sementara saudarinya bernama Wanda Maximoff, yang mampu memanipulasi pikiran orang lain sekaligus juga memanipulasi energi untuk digunakan sebagai alat penyerang. Meski Captain America berhasil menahan Strucker dan Iron Man merebut tongkat Loki, si kembar Maximoff berhasil meloloskan diri.

Tony Stark dan Dr. Bruce Banner bekerjasama mengeksplorasi kekuatan tongkat Loki. Mereka menggunakannya secara rahasia untuk memberikan kecerdasan buatan (artificial intelligence) bagi program pertahanan global milik Stark yang diberi nama “Ultron”. Tanpa diduga, saat ditinggalkan di laboratorium, justru Ultron “dirasuki” oleh kekuatan dari tongkat Loki. Sehingga, ia mampu berpikir mandiri dan keluar dari kungkungan tanpa bentuk. Ia senang dengan Ultron karena memiliki bentuk berupa robot cyborg yang lazimnya juga dipakai sebagai kostum tempur “Iron Man”. Tetapi ia lebih senang karena Stark punya super-komputer bernama J.A.R.V.I.S. “Ultron” lantas mengambil kendali J.A.R.V.I.S. dan menyerang The Avengers di markas mereka sendiri. Ironisnya, semua serangan menggunakan robot cyborg milik Stark.

Meskipun The Avengers berhasil mengatasi serangan, menggunakan tubuh salah satu robot cyborg milik Stark, Ultron merampas tongkat Loki. Ia lantas memakai markas Strucker di Sokovia untuk menyempurnakan tubuh buatannya dan membangun pasukan robot.

Ultron juga merekrut kembar Maximoff, karena keduanya dendam kepada Stark. Orangtua mereka tewas diakibatkan senjata yang dibuat oleh perusahaan milik sang Pembina The Avengers itu. Mereka lantas mendatangi pedagang senjata gelap bernama Ulysses Klaue di sebuah galangan kapal di Afrika. Tujuannya adalah merampas “vibranium”, logam langka yang berasal dari meteorit. Logam ini pula yang dipakai sebagai bahan bagi tameng milik Captain Amerika.

Mengetahui rencana itu, The Avengers menuju ke lokasi dan berupaya mencegah. Mereka berkelahi seru, tetapi Wanda satu-per-satu memanipulasi pikiran anggota The Avengers. Captain America dibawa kembali ke masa awal hidupnya dimana ia bertemu dengan kekasihnya Peggy Carter, yang sebenarnya saat itu sudah tua. Bahkan Thor yang dewa pun mampu dipengaruhi. Tetapi justru dalam halusinasi inilah Thor menyadari sesuatu yang akan berguna dalam mencegah rencana Ultron selanjutnya. Sayangnya, Hulk begitu terpengaruh dan mengamuk hingga merusak kota dan membahayakan penduduk. Hal itu memaksa Stark menggunakan robot baru bernama Veronica yang memiliki ukuran tubuh sebanding dengan Hulk.

Karena kuatir pikiran mereka bisa dibaca yang bisa berakibat pada kehancuran dunia, tim lantas pergi ke rumah pertanian milik Hawkeye. Ternyata, sebagai orang biasa bernama Clint Barton, ia memiliki keluarga dengan dua orang anak. Hal itu sama sekali tidak diketahui teman-temannya mengira ia masih sama-sama lajang seperti semua anggota The Avengers lainnya.

Thor lantas pergi untuk menemui Dr. Erik Selvig (lihat dua film Thor dan Thor: The Dark World untuk tahu siapa dia). Ia bermaksud menanyakan visi yang diteirmanya saat dalam pengaruh halusinasi Wanda Maximoff alias Scarlet Witch.

Di rumah itu, romansa antara Bruce Banner dan Natasha Romanoff makin lengket. Keduanya menyadari ketertarikan dan ketergantungan satu sama lain. Bruce bisa tenang bahkan sekedar dielus tangannya oleh Natasha, sehingga tidak mengamuk dan berubah jadi Hulk. Bruce yang menganggap dirinya monster lantas diyakinkan oleh Natasha yang mengungkapkan rahasia bahwa dirinya dimandulkan. Maka, keduanya tahu kecocokan mereka itu sehingga berniat pergi menyendiri usai mengalahkan Ultron.

Tanpa diduga, Nick Fury bekas Direktur S.H.I.E.L.D. tiba. Ia mengajak anggota The Avengers untuk merundingkan strategi mengalahkan Ultron. Mereka lantas mengetahui rencana Ultron untuk memiliki tubuh fisik yang sempurna. Untuk itu, ia memaksa kolega Dr. Bruce Banner di Seoul-Korea Selatan bernama Dr. Helen Cho untuk membantunya. Ultron berusaha menyatukan komponen tubuh sintetik buatan Dr. Helen Cho dengan vibranium dan permata dewata untuk membuat tubuh yang sempurna.

Di saat itulah Scarlet Witch membaca pikiran Ultron yang merencanakan pemusnahan umat manusia. Ia terkejut dan memberitahu saudaranya. Mereka berdua memutuskan untuk berbalik pihak, melawan Ultron. Saat The Avengers tiba di lokasi, mereka berhasil menghentikan proses pemuatan kecerdasan buatan ke tubuh sintetis. Tetapi Ultron berhasil lolos membawa Black Widow alias Natasha Romanoff.

Menghadapi situasi gawat itu, sesama anggota The Avengers malah bertengkar sendiri. Itu karena mereka bingung harus melakukan apa. Sementara itu, Stark mengunggah J.A.R.V.I.S. kembali ke sistem, lantas ke tubuh sintetis. Selama itu, J.A.R.V.I.S., bersembunyi di dalam internet menghindari penghancuran dari Ultron.

Di saat itulah Thor tiba kembali setelah mengetahui bahwa batu yang ada di dalam tongkat Loki adalah satu dari enam “Batu Keabadian” milik dewata. Batu itu adalah “Batu Pikiran”, karena itu tak heran memiliki kecerdasan buatan sangat luar biasa. Thor mengaktifkan tubuh sintetis yang diisi kecerdasan buatan J.A.R.V.I.S. dengan kekuatan petirnya. Sosok baru ini lantas menjuluki dirinya sebagai Vision.

Mereka lantas menuju ke Sokovia dimana Ultron masih berusaha menggunakan vibranium untuk membangun mesin perang. Mesin ini digunakan justru untuk mengangkat tanah ke atas langit. Ultron dengan cerdasnya bermaksud menjadikan kepingan tanah yang luas itu sebagai semacam meteorit yang menghantam bumi. Bayangkan saja, sebutir batu meteorit sebesar bola tenis yang menghantam permukaan Bumi saja bisa menciptakan kawah dengan radius berkilometer. Dengan meteor sebesar kota, tentu efeknya akan menjadi sangat dahsyat. Setara dengan ribuam bom nuklir. Ini jelas akan mengakibatkan kepunahan umat manusia dan kehancuran planet Bumi.

The Avengers berupaya mencegah Ultron yang memilliki bala-tentara robot cyborg berjumlah ratusan. Tetapi sementara itu, mereka berupaya mengevakuasi penduduk kota yang masih berada di atas tanah yang kini diterbangkan Ultron ke langit. Bila sampai tanah yang diangkat dengan mesin perang Ultron itu jatuh, tentu menewaskan semua penduduk di atasnya. Bahkan, para penduduk yang terkejut pun bisa saja jatuh ke tepian dan terhempas ke bawah.

Di saat kritis, Fury tiba dengan pesawat tempur super bernama “Helicarrier” bekas milik S.H.I.E.L.D. yang disembunyikannya. Ia tiba bersama Maria Hill, James Rhodes alias War Machine, Sam Wilson alias Falcon dan para bekas agen S.H.I.E.L.D. lainnya. Mereka melakukan tugas ganda, menyelamatkan warga kota sembari bertempur melawan pasukan Ultron. Dalam upaya itu, Pietro alias Quicksilver gugur karena berupaya melindungi Hawkeye dari rentetan tembakan, justru saat Hawkeye berupaya menyelamatkan seorang anak.

The Avengers, Vision, dan Wanda lantas berkumpul di sekitar mesin perang utama Ultron. Mereka berupaya mencegah Ultron mendekati mesin itu untuk mengaktifkan tahap terakhir: menjatuhkan tanah seluas kota yang sudah terangkat tinggi ke langit. Wanda yang mengetahui kematian saudaranya marah dan meninggalkan posnya. Ia mencoba menyerang Ultron, tetapi malah tidak sengaja membiarkan salah satu robot pasukannya mengaktifkan mesin.

Tanah pun mulai jatuh ke Bumi, tetapi Stark dibantu Thor berhasil membuat mesin perang itu kelebihan beban. Akibatnya, mesin itu meledak dan menghancurkan tanah yang di atasnya ada kota itu menjadi serpihan kecil. Sementara, Wanda yang kehabisan energi diselamatkan Vision.

Tanpa diketahui yang lain, bertentangan dengan rencana yang telah dibuatnya bersama Natasha, Dr. Bruce Banner pergi meninggalkan teman-temannya menggunakan Quinjet. Itu karena ia tidak mau membahayakan Natasha Romanoff yang dikasihinya.

Tubuh utama Ultron yang masih belum hancur dilawan oleh Vision yang setara kekuatannya. Dan akhirnya ia bisa dikalahkan.

Di bagian akhir film, The Avengers mendirikan markas baru di bagian utara kota New York. Markas ini dikendalikan oleh Fury, Hill, Cho dan Selvig. Karena percaya “Batu Pikiran” aman bersama Vision, Thor pun pulang kembali ke Asgard. Ia hendak menyelidiki apa penyebab situasi yang terjadi di Bumi tersebut. Stark pun kembali ke kantor pusatnya, sementara Barton pulang ke rumah pertaniannya. Di markas baru mereka, Rogers dan Romanoff mempersiapkan diri untuk melatih rekrutan baru The Avengers, yaitu Rhodes, Wanda, Wilson dan Vision.

Di pertengahanan penayangan “credit title”, diperlihatkan sosok dewata dari dunia Thor. Ia bernama Thanos yang menggunakan “Infinity Gauntlet” hendak memburu sendiri “Batu Keabadian”. Dialah aktor di balik semua kekacauan yang melibatkan kekuatan dewata dari dunia Thor.

Kritik Film

avengers_age_of_ultron-wideJelas sulit bagi penonton biasa seperti saya mencari kelemahan dari film US$ 279,9 juta ini. Apalagi jelas sekali pasar menerimanya dengan baik. Terbukti dari pemasukannya yang sebesar US$ 626,7 juta di seluruh dunia dari penayangannya di bioskop.

Malah, seingat saya, di banyak bagian film, saya berseru-seru keasikan sendiri. “Wow!” adalah sepotong kata yang beberapa kali keluar dari mulut saya. Memang, film ini memberikan banyak kejutan bagi penonton. Apalagi bagi kategori “maniak film” yang masih ingat sekuel film sebelumnya, The Avengers (2012) yang ciamik.

Tetapi, tetap saja saya harus menuliskan sesuatu di sini. Maka, pertama-tama izinkan saya mengutarakan kekaguman pada banyaknya pahlawan super (superhero) yang bertarung di film ini. Walau sayangnya, cuma untuk melawan satu penjahat super (supervillain) saja. Dari pihak The Avengers, ada anggota senior yaitu Iron Man alias Tony Stark, Captain America alias Steve Rogers, Hulk alias Dr. Bruce Banner, Black Widow alias Natasha Romanoff, Hawkeye alias Clint Barton dan Thor. Dan ada pula anggota yunior yaitu War Machine alias James “Rhodey” Rhodes, Falcon alias Sam Wilson, Quicksilver alias Pietro Maximoff, dan Scarlet Witch alias Wanda Maximoff. Itu masih ditambah J.A.R.V.I.S. yang kemudian jadi sosok Vision. Dibantu oleh eks personel S.H.I.E.L.D. seperti Nick Fury dan Maria Hill. Dan jangan lupakan dua ilmuwan hebat Dr. Erik Selvig serta Dr. Helen Cho. Plus, yang spesial adalah penampilan Veronica, senjata baru Tony Stark.

Film yang ramai pahlawan ini pastinya menimbulkan decak kagum bagi penonton. Apalagi mereka yang sejak kecil sudah menggemari kisah superhero. Mungkin penampilan The Avengers dari Marvel ini hanya bisa ditandingi oleh Justice League dari D.C. Comics. Sayangnya, hingga saat ini tampaknya pemegang hak cipta karakter komik seperti Superman, Batman, dan Wonder Woman itu belum berminat membuat film seramai The Avengers.

Satu yang paling saya kagumi dari serial milik Marvel ini adalah kesaling-terkaitan antar film. Selain The Avengers dimana semua jagoan “ngumpul bareng”, di film yang menonjolkan masing-masing karakter pun ada penampakan karakter lain. Misalnya Black Widow dan Hawkeye yang tampak membantu di film Captain America. Bahkan, “intipan” film lanjutan biasanya ada di film Marvel tepat sebelumnya. Jadi, kejadian di film ini sudah ditampakkan di bagian pertengahan “credit title” di film Captain America: The Winter Soldier (2014).

Nah, di film ini ditampakkan keistimewaan dari dua anggota yunior The Avengers. Mereka adalah si kembar Maximoff yaitu Pietro yang berjulukan Quicksilver dan Wanda yang berjulukan Scarlet Witch. Menyaksikan penampilan mereka, spontan ingatan saya melayang ke serial film franchise asal komik milik Marvel lainnya, yaitu X-Men. Kekuatan mereka memang lebih mirip mutant daripada superhero yang biasanya “alien” seperti Thor atau Superman. Atau kekuatan mereka didapat dari rekayasa laboratorium seperti Captain America atau Hulk.

Kekuatan Quicksilver yang mampu berlari super-cepat bisa mengingatkan kita pada The Flash. Tetapi, justru karakternya sebenarnya merupakan karakter anggota X-Men yang namanya persis sama. Karakter Quicksilver yang bernama asli Pietro Maximoff ini muncul di sekuel film X-Men: Days of Future Past (2014). Agar membedakan, produser Kevin Feige meminta penekanan cerita pada hubungannya dengan saudari kembarnya. Dan di film ini, Quicksilver “dimatikan”, sementara di X-Men, ia masih hidup.

Sementara Scarlet Witch sendiri kekuatannya sempat mengingatkan saya pada karakter Profesor Charles Xavier alias Profesor X, patron X-Men. Ini karena ia punya kekuatan hypnosis dan telekinesis. Tetapi, ia juga punya kekuatan memanipulasi energi dan menggunakannya untuk menyerang seperti Dr. Klaus Schmidt alias Sebastian Shaw. Ini adalah karakter antagonis dalam sekuel film X-Men: First Class (2011), dimana saat itu X-Men dan The Brotherhood of Mutants belum terbentuk. Karena Charles Xavier dan Erik Lensherr masih bersahabat dan baru berpisah-jalan di akhir film. Pada akhirnya, saya malah teringat sosok Dr. Jean Grey yang berubah menjadi Phoenix dalam X-Men: The Last Stand (2006). Hanya saja, kekuatan Scarlet Witch jelas kalah jauh dibandingkan Phoenix.

Sudahlah, kok saya malah jadi panjang menulis sih? Pokoknya, film ini “wow banget deh!”

Leave a Reply