Resensi Film-Bhayu MH

10,000 BC

Year : 2008 Director : Roland Emmerich Running Time : 109 mins. Genre : , , , , , , ,
Movie review score
3/5

Ini tentang menjadi lelaki dewasa, terkait kehormatan, kejujuran dan martabat. Bahkan di masa pra-sejarah, 10.000 tahun Sebelum Masehi dimana saat itu Bumi masih berada di zaman es. Alkisah ada sekelompok suku yang ditinggalkan oleh pemimpin klannya. Anak sang pemimpin, D’Leh, menjadi bulan-bulanan temannya alias di-bully sebagai “anaknya pengecut”. Sementara pamannya Tic’Tic sang pemburu hebat berupaya membelanya.

Sampai satu ketika datanglah rombongan Mannak –nenek moyang gajah- dan dimulailah perburuan. Pria muda yang mampu membunuh Mannak akan mengklaim White Spear (tombak putih) sebagai lambang pimpinan klan dan juga berhak memilih wanita sebagai pasangannya. Tanpa dinyana, D’Leh yang berhasil membunuh Mannak, walau banyak yang menjagokan Ka’ren. Tapi nurani mengusik D’Leh karena sebenarnya Mannak itu tidak terbunuh olehnya, melainkan semata kebetulan saja. Maka, ia pun mengembalikan White Spears kepada Tic’Tic. Suatu tindakan ksatria penuh kehormatan dan martabat.

Tanpa diduga, suatu malam perkampungan mereka diserbu klan lain. Evolet dan sejumlah orang diculik dan dibawa pergi untuk dijadikan budak. D’Leh, Tic’Tic, Ka’ren dan Baku mengejar, berupaya menyelamatkan kawan-kawannya. Perburuan mereka menjadi inti dari kisah film ini.

Rombongan penyerbu membawa tawanannya ke kota asal mereka: Gunung Para Dewa (Mountain of The Gods). Meski tidak disebutkan namanya, saya menduga dengan memperhatikan letak kota yang tepat di tepian sungai dan melihat piramida yang sedang dalam proses pembangunan, kemungkinan besar itu adalah kekaisaran Mesopotamia di Mesir Kuno. Atau bisa jadi itu kota milik suku Aztec atau Maya karena puncak piramidanya adalah emas. Dan para budak itu memang diculik untuk dipekerjakan di proyek tersebut.

Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan suku Naku. Mereka punya ramalan bahwa kelak akan ada penyelamat suku mereka ,yaitu orang yang bisa bicara dengan Spear Tooth: D’Leh. Dan memang akhirnya D’Leh dan Tic’Tic berhasil mengajak berbagai suku seperti Tutt-Tutt dan Kula untuk melakukan pengejaran ke Mountain of Gods. Seperti kisah legenda umumnya, di sini D’Leh bertindak sebagai semacam Ratu Adil yang mampu melawan penguasa.

Walau ada beberapa kejanggalan seperti mudahnya D’Leh masuk-keluar ke dalam penjara para budak yang berpenjagaan ketat, namun secara umum, saya melihat film ini kuat. Baik jalinan cerita, penokohan hingga ke perlengkapan. Hanya saja memang agak aneh di zaman es namun sudah ada pemakaian logam. Ketika tawanan ditahan, leher dan tangannya dipasangi semacam borgol, sementara tombaknya masih terbuat dari kayu dan tulang binatang. Ini kurang sesuai. Tapi selain itu, hal-hal lainnya sangat bagus detailnya. Efek khusus jelas ada, apalagi untuk membuat kota kuno sebesar itu tampak nyata. Tegang, penuh aksi dan penasaran pada akhir cerita membuat penonton akan rela bertahan hingga film berakhir. Apakah D’Leh akan berhasil menyelamatkan Evolet dengan mengalahkan penguasa Mountain of Gods? Just watch and see, folks

2 Responses so far.

  1. agus says:

    wah jadi penasaran pengin nonton filmnya habis baca sinopsisnya.:D

  2. lu lun says:

    penasaran banget sumpaahhhhh :3

Leave a Reply