Resensi Film-Bhayu MH

47 Ronin

Year : 2013 Director : Carl Erik Rinsch Running Time : 119 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
3/5

Melihat film bertema samurai ini, sontak ingatan saya tertuju pada The Last Samurai (2003)-resensi bisa dibaca di situs ini juga. Cerita mengenai kepahlawanan Jepang memang jarang dibuat Hollywood. Bisa jadi ini karena dendam masa lalu mengingat Jepang bergabung di kelompok poros (axis) dalam Perang Dunia II. Di mana Amerika Serikat adalah pemimpin dari kelompok sekutu (allied nations).

Padahal, Jepang adalah salah satu negara tua yang telah ada sejak masa abad pertengahan. Masa yang dalam sejarah dunia secara netral disebut “age of kings”. Masa di mana berdiri berbagai imperium berbentuk kerajaan yang silih berganti menguasai dunia. Masa di mana antar kerajaan saling berperang untuk meluaskan kekuasaan dan merebut pengaruh.

Di Jepang sendiri, terdapat banyak wilayah yang bak kerajaan kecil dipimpin oleh para Shogun, karena itu disebut Shogunate. Mereka menguasai wilayah tertentu yang kalau kini seluas kabupaten atau distrik. Para shogun mandiri namun tetap menghormati kekuasaan kaisar.

Inti ceritanya sederhana. Balas dendam 47 orang rōnin atas kematian tuannya. Sekedar informasi, di Jepang, legenda mengenai mereka hidup sampai sekarang. Sebabnya, kisah ini diyakini benar terjadi di abad ke-18. Di Jepang sendiri lebih dikenal sebagai Chūshingura.

Dalam film ini, kisah diawali dengan ditemukannya seorang anak bernama Kai (Keanu Reeves). Ia adalah putra seorang pelaut Inggris dengan wanita petani asli Jepang. Anak ini diyakini adalah penjelmaan iblis karena ia mampu selamat dari sebuah serangan terhadap desanya. Ia ditemukan oleh seorang tuan penguasa wilayah bernama Lord Asano (Min Tanaka) lalu dibesarkan bak seorang anak. Tapi statusnya tetap sebagai seorang budak, walau ia berteman baik dengan putri majikannya. Seperti biasa dalam kisah semacam ini, putri sang majikan yang  bernama Mika (Kou Shibasaki) tertarik menjalin hubungan lebih jauh. Kai pun sebenarnya sama-sama mencintainya, tapi ia tahu diri dan meminta teman masa kecilnya itu menjauh. Meski dilatih untuk memiliki kesamaptaan fisik dan kemampuan bela diri yang baik, Kai tak pernah bisa jadi samurai. Itu karena dalam darahnya mengalir darah asing dan ia pun bukan keturunan bangsawan.

Satu ketika, diadakan semacam pertandingan tahunan antar wilayah. Tujuannya untuk mencari samurai terbaik. Sehingga pertandingan ini adalah semacam duel antar samurai. Dalam pertandingan itu, samurai dari wilayah Lord Asano yang ditantang oleh samurai dari wilayah Lord Kira (Tadanobu Asano) tidak muncul karena sakit. Namun, ini bisa terjadi karena Lord Kira dibantu oleh wanita penyihir bernama Mizuki (Rinko Kikuchi).

Karena kuatir akan ada hukuman dari Shogun Tsunayoshi (Cary-Hiroyuki Tagawa) sebagai pembesar mewakili kekaisaran, maka Kai didukung oleh Chikara (Jin Akanishi) putra Oishi maju ke arena. Kuranosuke Oishi (Hiroyuki Sanada) sendiri adalah pimpinan dari para samurai yang mengabdi pada Lord Asano.

Kai hampir mengalahkan samurai dari Lord Kira, tapi ternyata kemudian diketahui bahwa ia bukan samurai. Dan itu dianggap penghinaan. Maka, kuil Lord Asano pun dihukum. Lord Kira berusaha menarik hati Mika, tapi ia sudah berencana menghabisi kekuasaan Lord Asano. Dengan bantuan Mizuki, ia berhasil menyihir Lord Asano sehingga ia berhalusinasi mengira Lord Kira hendak memperkosa Mika. Padahal, saat itu Lord Kira sedang tidur dan tidak bersenjata.

Akibatnya, Shogun Tsunayoshi menghukum Lord Asano melakukan seppuku. Ini adalah tradisi samurai yang mati bunuh diri dengan pedangnya sendiri. Seusai Lord Asano tewas, kekuasaan di wilayahnya termasuk segala isi istananya diberikan kepada Lord Kira. Dan hal ini termasuk Mizuki yang dianggap setara sebagai barang pampasan perang. Untuk itu ia harus mau dikawini oleh Lord Kira. Namun, Mizuki memohon penangguhan selama setahun sebagai masa berkabung bagi ayahnya. Dan itu dikabulkan Shogun Tsunayoshi, walau kekuasaan wilayah Lord Asano dilucuti dan diserahkan dalam pengawasan Lord Kira. Sementara para samurai di tempat itu dibebastugaskan oleh Shogun Tsunayoshi karena tuan mereka sudah mati. Dan mereka dilarang membalas dendam kepada Lord Kira atas kematian tuan mereka.

Mereka kemudian terusir ke luar istana dan menjadi warga biasa. Di antara ke-47 rōnin itu termasuk Kai. Oh ya, rōnin adalah sebutan untuk para samurai yang tidak lagi memiliki tuan. Beberapa waktu mereka hidup sebagai warga biasa dan tercerai berai. Namun kemudian Oishi dan Kai sadar, mereka tidak bisa terus begitu. Maka, berdua mereka mengumpulkan kembali rekan-rekannya untuk melawan. Tapi perjalanan mereka tidak mulus. Dalam upaya mencari senjata, mereka pergi ke sebuah desa pembuat pedang. Tapi ternyata desa itu telah hancur.

Kai, yang memang keturunan penyihir dan mampu berkomunikasi dengan makhluk halus lantas mengajak Oishi dan para rōnin pergi ke kuil pendeta Buddha. Di sana, mereka bertemu dengan pendeta kepala yang kemudian meminta pertolongan dari makhluk halus. Tapi saya agak tidak pasti makhluk apakah itu karena wujudnya mirip alien. Akhirnya setelah melewati ujian, mereka diberikan samurai berkualitas tinggi. Kalau saya bandingkan, kisah ini amat mirip dengan The Lord of The Ring dimana Aragorn meminta bantuan dari para hantu prajurit. Saya pikir ini bukan plagiasi karena J.R.R. Tolkien tak berkomunikasi dengan orang Jepang. Cuma saya melihat pola bahwa saat dalam kesulitan, manusia lari ke sesuatu yang supranatural sifatnya.

Kembali ke kisah film, waktu setahun hampir berlalu. Mika akan dinikahi oleh Lord Kira. ke-47 rōnin akhirnya mampu membalas dendam. Mereka berhasil membunuh Lord Kira dan Mizuki, tentu saja juga para samurai pengawalnya. Setelah dendam terbalas, mereka tidak lari, tapi malah menunggu pengadilan dari Shogun Tsunayoshi.

Dan sang shogun tidak menghukum mereka dengan cara digantung seperti kriminal, karena ia menilai ke-47 rōnin telah menempuh jalan bushido. Maka, ia pun memberikan kesempatan kepada mereka untuk seppuku. Sebelum akhirnya tewas bunuh diri, Kai berjanji akan mencari Mika di kehidupan selanjutnya, karena kepercayaan Buddha-Shinto meyakini adanya reinkarnasi.

Secara pribadi, saya menilai film ini sarat nilai. Walau dari segi filmografi kurang maksimal. Bisa jadi ini cuma masalah selera. Tapi pasar tampaknya sependapat karena dengan biaya pembuatan 175 juta dollar Amerika Serikat, film ini baru meraih pendapatan tak sampai sepertiganya yaitu sekitar 50 juta dollar A.S. saja. Karakter Kai juga kurang dikembangkan, bisa jadi karena agak rancu dengan keinginan menonjolkan perjuangan 47 orang rōnin. Demikian pula kisah cinta Platonis Kai dan Mika, semestinya bisa lebih dieksplorasi. Toh, seperti saya bilang, sebagai “pelajaran hidup”, film ini cukup bernilai.

Leave a Reply