Resensi Film-Bhayu MH

99 Cahaya Di Langit Eropa (episode 1)

Year : 2013 Director : Guntur Soeharjanto Running Time : 105 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
2/5

Presiden SBY sempat menyaksikan pemutaran perdana film ini. Dan itu rupanya sudah cukup untuk menjadikan magnet bagi pemirsa film Indonesia. Kalau mau jujur, dari segi cerita film ini tidak istimewa. Cuma semacam film semi-dokumenter laporan perjalanan penulisnya. Film ini memang diangkat dari novel karya Hanum Salsabila Rais dan Rangga Almahendra saat keduanya tinggal di Eropa. Saat itu Rangga sedang menyelesaikan studi dan Hanum sebagai istrinya mendampinginya.

Apa yang menjadikannya  menarik sebenarnya adalah pengungkapan fakta-fakta sejarah yang sering diabaikan oleh kebanyakan dari kita. Walau, sebagai penyuka sejarah, saya sudah sering membaca data-data itu. Data dan fakta sejarah yang tak akan membuat iman seseorang goyah, apalagi yang sudah buta mata-hatinya. Padahal, dari situ sebenarnya terpapar satu kebenaran: “agama mana yang paling lurus dan benar dari Tuhan sejati”.

Karakter dari Hanum, Rangga, Fatma dan Marion tidak digali. Ini memang sejalan dengan nafas di novelnya yang lebih berupa “traveller’s diary”. Maka, penonjolan dari perhatian film ini adalah tentang aneka tempat menarik yang dikunjungi beserta sejarahnya, terutama terkait dengan Islam. Karena saat itu mereka sedang tinggal di Prancis, maka tentu tempat-tempat yang dikunjungi adalah di sana.

Bagi yang pernah ke Eropa, penggambaran beberapa lokasi wisata di film ini kurang wow. Biasa banget. Saya cuma agak heran tim pembuat film ini mendapatkan izin mengambil gambar di bagian dalam beberapa museum, termasuk Louvre dimana disimpan lukisan Monalisa. Tapi sebenarnya, sudut pengambilan gambarnya bisa lebih baik. Masih banyak adegan terutama di luar ruang yang terkesan diambil seadanya, apalagi ada orang-orang ‘bule lokal’ yang tampak menonton keheranan. Karena tentu saja ada beberapa orang dengan kamera di tangan menyorot serius satu-dua orang bicara yang entah siapa –artis kita tentu tak mereka kenal bukan?- bukan pemandangan biasa.

Saya rasa footage sejarah dari buku-buku atau film lain layak bila dimasukkan. Misalnya adegan pertempuran yang seru dari masa lalu. Sehingga film ini tidak terjebak pada pola narasi penutur yang sekaligus pelaku utama film ini. Riset yang dilakukan pembuat film ini tak melebihi riset yang sudah dibuat penulis buku novel sumbernya. Cuma copy-paste belaka.

Saya sendiri mengkritisi sudut pandang nenek-moyang Fatma yaitu Kemal Pasha sebagai ‘penjahat perang’. Padahal, itu justru cuma sudut pandang bangsa lokal yang Nasrani. Tidak ada pembantaian yang dilakukan pasukan muslim saat menaklukkan Eropa, bahkan bangunan-bangunan lama milik Nasrani pun dipelihara. Sementara sebaliknya, saat Eropa Kristen membalas dengan reconquista yang dipimpin pasukan gabungan pimpinan Ratu Isabella dari Spanyol dan Raja Ferdinand dari Prussia-Jerman, terjadi pembantaian besar-besaran terhadap umat Islam. Mereka yang tidak mau kembali masuk Kristen dibunuh dengan keji seperti disalib hidup-hidup. Bahkan untuk menunjukkan kalau warga sudah Kristen, wajib menggantung daging babi di depan rumah mereka.

Tapi sudahlah, namanya juga film. Apalagi ini film adaptasi novel. Tentu sudut-pandangnya terserah pembuatnya. Sama saja dengan saat film Kingdom of Heaven (2005) dirilis, justru muncul protes dari kaum fundamentalis Kristen. Karena film itu dianggap pro-Islam dan menjelek-jelekkan agama mereka. Padahal, memang begitu kenyataannya di abad pertengahan.

Satu yang positif dari film ini adalah soal perjuangan hidup Ayse, putri Fatma. Ia ternyata memakai jilbab sejak masih duduk di sekolah dasar bukan sekedar karena perintah agama, tapi juga karena menutupi kepalanya yang botak. Bukan sembarang botak, tapi karena efek dari kemoterapi akibat kanker yang dideritanya. Dan ucapannya dalam menyikapi hidup sangat mengena bagi saya, “Wahai masalah besar, aku punya Tuhan yang Maha Besar.”

Leave a Reply