Resensi Film-Bhayu MH

A Perfect Fit

Year : 2005 Director : Ron Brown Running Time : 85 mins. Genre : , , , , , ,
Movie review score
1/5

Kisah dimulai dengan seorang pria yang sedang berbaring di ruang konsultasi psikolog. Ia bercerita mengenai kegelisahannya, namun sejurus kemudian saat kamera mengarah ke sampingnya, sang psikolog tewas! Pria itu bernama John. Tokoh utama film ini. Ternyata, kejadian tadi hanya mimpi. Di kehidupan nyata, John bekerja di sebuah toko elektronik dan mengalami masalah dalam berinteraksi atau bersosialisasi.

Di tokonya, John bertemu beberapa wanita menarik. Salah satunya Sarah. John menyalin data Sarah, sehingga mereka terlibat dalam chatting. Saat bertemu, barulah Sarah tahu kalau John adalah pegawai di toko tempatnya pernah berbelanja. Singkat cerita, keduanya kemudia berpacaran. Namun, sikap John sangat menekan Sarah dan tidak menyenangkan. Saat makan bersama teman-temannya, John mengira Bryan -salah satu teman Sarah- menggoda pacarnya. Padahal, Bryan homo. Juga saat Sarah membawa John ke rumah orangtuanya, sikap John sangat tidak sopan. Selain berenang telanjang, juga menyetubuhi Sarah di kamarnya yang tepat berada di samping kamar orangtuanya. John merasa ia sudah “memiliki” Sarah karena pacarnya itu hamil.

Akibatnya, Sarah berkonsultasi dengan psikiater. Dr. Weiss namanya. Sebenarnya tidak hanya Sarah, tapi keduanya berkonsultasi ke psikater yang sama. Tapi saat Sarah pergi berkonsultasi tanpa setahu John, John marah. Pada akhirnya Sarah berani memutuskan hubungannya dengan John dan mengatakan telah menggugurkan bayi yang dikandungnya. Tapi ini justru membuat John kalap.

Saya bingung mau berkomentar dari sisi mana. Film ini bergenre drama-thriller psikologis. Tokoh utama prianya digambarkan sebagai pria yang sangat tidak stabil dan punya masalah psikologis terpendam. Secara subyektif saya melihat ia menderita semacam gangguan obsesif-kompulsif. Sementara tokoh utama wanitanya menderita kecemasan (anxiety) berlebihan. Sayangnya, sepanjang film tak dijelaskan apa sebenarnya masalah yang diderita baik oleh John maupun Sarah. Padahal ada karakter psikiater. Beberapa kali adegan berganti-ganti antara kenyataan dengan dunia khayalan John. Sehingga bagi penonton bisa agak membingungkan mengikutinya. Bahkan ending-nya pun membingungkan. Apakah John mati atau tidak?

Yeah, ini film festival ala JIFFEST. Membosankan bagi penonton kebanyakan. Toh, detail cerita dan karakterisasinya sangat kuat. Tak heran film ini diganjar penghargaan sebagai film terbaik di Annapolis Film Festival dan Audience Award di Brooklyn International Film Festival. Saya cuma merasa beruntung tak menontonnya di bioskop karena bisa ketiduran. Hehehe.

Leave a Reply