Resensi Film-Bhayu MH

Australia

Year : 2008 Director : Baz Luhrmann Running Time : 165 mins. Genre : , , , , , ,
Movie review score
1/5

Film ini menarik perhatian saya karena tidak cuma judulnya tapi juga pemainnya berkualitas. Menurut keterangan, hampir semua kru film ini berasal dari Australia, namun sudah sukses di Hollywood. Sebutlah nama-nama besar seperti Nicole Kidman, Hugh Jackman, Bryan Brown dan David Wenham.

Saat mulai menonton, saya langsung tahu film ini bergenre drama dengan latar historis, walau ceritanya tetap fiksi. Gaya tuturnya dan alur ceritanya amat mirip dengan film-film festival yang di Indonesia dipopulerkan lewat JIFFEST. Tapi filmografinya cukup inovatif apalagi dengan penggambaran kartun untuk peta Australia dan London. Secara garis besar, sutradara Baz Luhrmann berhasil menyuguhkan gambar fantastik tentang Australia dengan gurunnya di masa menjelang Perang Dunia II.

Kisah film ini berfokus pada upaya memperebutkan dominasi peternakan di kawasan Northern Territory, Australia. Di saat itu dikisahkan hampir semua kebutuhan ternak untuk Sekutu di Australia dipasok dari peternakan milik King Carney. Karena ia adalah pemilik peternakan terluas di sana. Hanya ada satu peternakan yang belum dikuasainya. Dan peternakan itu milik tokoh protagonis, Lord Maitland Ashley dan istrinya Lady Sarah Ashley. Cerita lantas berputar pada upaya mempertahankan peternakan tersebut pasca Lord Ashley meninggal dibunuh, justru saat Lady Sarah Ashley memutuskan menyusul suaminya dari London ke Australia. Lady Sarah Ashley yang tipikal perempuan bangsawan terpaksa belajar banyak hal termasuk berladang dan bekerja kasar. Apalagi ia kemudian bertemu Drover, lelaki kasar dan tangguh namun baik hati. Drover ini kemudian membantunya saat harus berhadapan dengan King Carney dan anak buahnya Neil Fletcher.

Masalah pembunuhan suaminya kemudian jadi terkesampingkan karena upaya Lady Sarah Ashley mempertahankan peternakannya, sekaligus melindungi Nullah. Nama terakhir ini adalah anak Aborigin campuran kulit putih. Ibunya bekerja sebagai pembantu di peternakan Faraway Downs, sementara ayahnya adalah Neil Fletcher yang memperkosa sang ibu. Anak campuran dianggap sebagai anak haram dan tak punya orangtua, karena itu pemerintah akan menangkapnya untuk dimasukkan dinas sosial. Lady Sarah Ashley begitu menyayangi anak ini dan berupaya melindunginya. Sementara sang anak menganggapnya bak dewi dari kahyangan dan menyebutnya dengan sebutan lucu: “Missis Boss”. Interaksi keduanya digambarkan dengan menarik karena Lady Sarah Ashley amat tak terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak, sementara si anak kagum pada nyonya majikannya yang berasal dari ‘dunia lain’.

Cerita lantas berkembang pada upaya tim Faraway Downs menggiring ternak ke pelabuhan laut Darwin. Karena di sanalah tentara Sekutu akan menaikkan ternak ke atas kapal guna kebutuhan suplai prajuritnya. Di saat inilah Fletcher berupaya mengganggu. Toh upaya Lady Ashley dan kawan-kawan akhirnya berhasil.

Klimaks film menurun karena saat tokoh antagonis dikalahkan, namun ternyata itu belum jadi happy ending. Sebabnya, si tokoh antagonis bisa come back bahkan berbalik menang. Di titik ini, banyak penonton mulai bosan bahkan ada yang meninggalkan bangku bioskop. Tapi bagi yang bersabar untuk tetap duduk, tentu saja film drama macam ini akan happy ending. (ssst, spoiler alert!)

Karena kondisi tersebut, film seakan jadi dua bagian. Tokoh antagonis dalam film ini jusru Neil Fletcher. Karena King Carney setelah bertemu dengan Lady Sarah Ashley yang memenangkan kontrak pembelian sapi oleh tentara Sekutu justru menghormatinya.

Bagi saya, memang cerita film ini ‘nanggung’, tapi berpanjang-panjang. Bila ingin menyoroti penindasan Aborigin, scene yang bisa disebut penindasan hanya saat Nullah dan kakeknya -King George- ditangkap dan dipenjara. Akan tetapi, saya memuji penggunaan bahasa Aborigin termasuk mantranya yang terasa merasuk. Saya sampai menggigil saat Nullah dan kakeknya melafal mantra guna menghentikan rombongan sapi yang hendak menuju ke arah Nullah yang sudah berada di tepi jurang. Mantra itu sungguh terasa magis bagi yang mengerti!

Oh ya, King George ini adalah pemuka suku Aborigin yang dituduh membunuh Lord Ashley, padahal itu cuma fitnah belaka dari Fletcher. Nah, ini satu lagi kelemahan film ini. Kalau King George adalah semacam kepala suku -dilihat dari namanya yang memakai embel-embel “King”-, kenapa ia selalu sendirian tanpa sukunya?

Pada akhirnya, saya setuju dengan saran yang ditulis oleh wartawan Kompas Dahono Fitrianto di harian tersebut hari ini, sebaiknya memang judul film tersebut cukup “Faraway Downs” saja. Karena judul “Australia” terlalu besar dan malah bisa membuat penonton yang sudah berharap banyak kecewa.

 Catatan: Resensi ini pertama kali dimuat di blog harian LIFESCHOOL pada 28 Desember 2008.

 

Leave a Reply