Resensi Film-Bhayu MH

Ayat-Ayat Cinta

Year : 2008 Director : Hanung Bramantyo Running Time : 120 mins. Genre : , , , , ,
Movie review score
4/5

Film fenomenal ini dimulai dengan opening screen yang menjanjikan suasana berbeda: padang pasir. Cerita dimulai dengan adegan Fahri mengetuk pintu flat Maria untuk meminta tolong karena komputernya terkena virus. Satu adegan yang justru tidak ada di novelnya. Keberanian Maria sendiri menjadi pertanyaan karena digambarkan di novel -dan di film juga dikatakan oleh ibunya- bahwa Maria adalah gadis yang pemalu dan tertutup.

Tapi ini baru permulaan. Jelas sekali Hanung Bramantyo sang sutradara telah melakukan interpretasi ulang atas novel Habiburahman El-Shirazy. Saya yang merasa termasuk movie-goers selalu sangat mengapresiasi cara sutradara yang memfilmkan novel. Dan acungan jempol saya untuk Hanung Bramantyo justru karena ia berani melakukan tiga terobosan:

  1. Menonjolkan karakter tertentu seraya menghilangkan beberapa karakter yang dianggapnya tidak penting. Karakter Fahri dan Aisha diperkuat, karakter Nurul dikurangi porsinya, sementara karakter ayah dan adik Maria (Boutros Girgis dan Yousef Girgis) dihilangkan.
  2. Mengubah alur penceritaan dari alur maju linier di novel menjadi alur maju diselingi kilas-balik (flash back) di film. Adegan perkenalan Maria-Fahri yang di novel terletak di awal, justru diletakkan menjelang akhir di film.
  3. Menambahkan cerita yang tidak ada di novelnya. Antara lain detail tentang Maria. Di novel Maria meninggal sesaat setelah menikah dengan Fahri dalam keadaan sakit. Sementara di film Maria sempat menikmati hidup berpoligami bersama Fahri dan Aisha dan baru meninggal beberapa waktu kemudian. Juga adegan pemukulan oleh lelaki Mesir di Metro (trem) kepada Aisha yang di novel justru ia menjadi sadar oleh penerangan agama oleh Fahri.

Saya sangat menyukai detail penggambaran asesoris dalam keluarga Maria yang Kristen Koptik. Hanung dan timnya berhasil membuat atau mendapatkan salib Koptik yang berbeda dengan Katolik atau Protestan. Namun upaya penggambaran suasana Mesir kurang berhasil. Masjidnya masih terasa seperti di Indonesia. Saya seperti menonton serial televisi Friends yang setting-nya dari ruangan ke ruangan saja. Sementara adegan di luar ruangan sangat minim. Ini mungkin karena shooting-nya memang sebagian besar tidak di Mesir. Jadi sengaja dibuat agar tidak kentara lokasi shooting-nya.

Adegan di pengadilan juga sangat sinetron, bahkan “India bangeet”. Maklum-lah, pembuatnya MD-Pictures yang keluarga Punjabi. Beberapa pemain figuran saat di pengadilan juga tampak sangat India dibandingkan orang-0rang Timur Tengah. Apalagi Bahadur yang lebih mirip India Tanah Abang daripada orang Mesir totok.

Toh Hanung tetap berhasil memasukkan selera pribadinya dengan pemilihan karakter yang cukup pas. Bahkan kekuatan akting Carissa Putri yang sebenarnya pemeran pembantu mampu menenggelamkan Rianti Cartwright sang pemeran utama wanita. FYI, peran mereka berdua di-switch di saat terakhir. Cuma untuk saya pribadi, sepertinya karakter Fahri bin Abdillah  saya bayangkan lebih cocok bila diperankan oleh pemeran Syaiful. Kelihatan lebih Al-Azhar student, mengingat teman saya adalah teman kuliah Habiburrahman di Mesir. Jadi wajah-wajahnya ya alim-lugu-pintar seperti itu.

Hanung juga terlihat berhati-hati saat menggambarkan adegan kezaliman yang dilakukan aparat Mesir. Empat teman Fahri di sel yang semuanya adalah tahanan politik dihilangkan menjadi hanya satu. Bahkan satu orang ini pun seperti orang gila, padahal di novel ia adalah seorang profesor.  Demikian pula ketiadaan penampilan lambang negara Mesir dan bendera Mesir yang agak tertutup oleh pemain saat adegan di pengadilan, tampaknya dilakukan untuk menjaga hubungan baik Indonesia-Mesir. Sinematografi Hanung pun cukup apik, meski dari segi keindahan visual memang seperti disengaja agar tidak mengambil gaya Garin Nugroho.

Bagaimanapun, Salman dan Ginatri yang menulis script skenario film ini berhasil menafsir ulang novel tebal menjadi film yang padat dan bagus. Walau efeknya ritme film terasa terlalu terburu-buru. Adegan berpindahnya agama Alicia yang orang Amerika dan Maria yang orang Mesir pun diperhalus. Ini bisa jadi juga disengaja agar tidak diprotes kalangan Kristen.

Pendeknya, film ini sangat layak ditonton, terutama bagi Anda yang berpikiran terbuka. Bagi penonton Muslim taat, akan ada beberapa adegan yang membuat air mata menetes. Terutama saat diperdengarkan kutipan ayat Al-Qur’an dan shalawat Nabi yang dilantunkan dengan indah oleh Emha Ainun Nadjib dan ustadz Jeffry Al-Buchory. Tapi buat yang non-Muslim atau tidak begitu mengerti agama Islam, seperti halnya novelnya, film ini terasa terlalu menggurui. Apalagi Hanung justru menambahkan cerita “indahnya poligami” yang tak ada di novel. Jadi, terserah Anda untuk mencari hikmah apa yang akan diambil dari film “dakwah terbungkus” ini.

Artikel ini pertama kali diposting di blog harian LIFESCHOOL pada 31 Maret 2008.

 

Leave a Reply