Resensi Film-Bhayu MH

Beautiful Creatures

Year : 2013 Director : Richard LaGravanese Running Time : 124 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
3/5

Di sebuah kota kecil bernama Gatlin-South Carolina, ada seorang pemuda bernama Ethan Wate. Ia pelajar sebuah sekolah menengah atas satu-satunya di kota itu. Beberapa kali pemuda itu mimpi buruk hingga tak bisa tidur. Mimpi itu seperti kejadian di masa silam dimana ia jatuh cinta pada seorang wanita yang wajahnya tak bisa dilihatnya.

Di sekolah, Ethan dan kawannya Wesley akrab dengan dua gadis yaitu Emily dan Savannah. Seorang murid yang baru masuk sekolah. Dia adalah keponakan dari Macon Ravenwood, pemilik rumah besar di Greenbrier yang juga pendiri kota itu. Namanya Lena Duchannes. Keluarganya diisukan sebagai penyihir oleh warga kota, tapi tak ada yang berani melawan karena keluarga Ravenwood memiliki hampir semua tanah di kota itu. Maka, yang ada hanya bisik-bisik saja sebagai “urban legend”.

Seperti sinetron, kebetulan saat pulang sekolah mobil tua Lena mogok. Dan kebetulan pula melintaslah Ethan. Lena menumpang mobil Ethan pulang ke rumahnya yang besar. Dan dari situlah cerita bermula.

Penasaran pada kemisteriusan rumah itu, Ethan sempat menyelinap masuk. Hingga ia akhirnya diundang oleh Paman Lena, Macon Ravenwood untuk masuk. Mrs. Lincoln ibu Wesle sempat berusaha mengusir Lena dari sekolah, tapi Macon mencegahnya. Ternyata, hanya tubuhnya saja yang digunakan, tapi jiwanya dirasuki oleh Sarafine, penyihir jahat.

Sarafine ini sebenarnya adalah penjelmaan dari Ibu Lena sendiri, yang telah berubah. Dan Macon sebenarnya adalah suaminya, artinya adalah ayah Lena. Kisah memuncak saat tradisi pengulangan peperangan sipil yang disebut The Battle of Honey Hill setiap 21 Desember. Di saat itulah para penyihir jahat berupaya mengambil alih kendali atas jiwa Lena. Tentu saja Macon dan para penyihir baik berupaya mencegahnya. Dan salah satu cara yang diyakini adalah agar Lena yang hidup abadi tidak jatuh cinta kepada Ethan yang manusia biasa. Tapi rupanya keduanya begitu saling mencintai walau dilarang. Dan ternyata keduanya semata “terjebak” dalam situasi itu karena leluhur mereka dahulu telah saling mengenal. Sehingga adalah takdir semata yang mempertemukan mereka.

Secara cerita, saya jadi teringat dengan serial yang disukai para “alay”: The Twilight Saga. Ada dua insan berbeda jenis yang saling jatuh cinta. Maksudnya berbeda jenis bukan pria dan wanita lho, tapi berbeda spesies. Bila di Breaking Dawn antara vampire dan werewolf, di film ini antara penyihir yang abadi dan manusia biasa yang fana.

Diangkat dari novel berjudul sama karya Kami Garcia & Margaret Stohl, rasa horror dan thriller di film ini mirip dengan The Village (2004) garapan M. Night  Shyamalan. Rasa ingin tahu saya cukup tertantang hingga akhir film. Itu berarti sutradara Richard Lagravenese cukup berhasil menulis ulang script untuk filmini. Salah satunya adalah misteri petunjuk mimpi Ethan baru terjawab kaitannya di akhir film. Lumayan lah sebagai tontonan.

Leave a Reply