Resensi Film-Bhayu MH

Black Book

Year : 2006 Director : Paul Verhoeven Running Time : 145 minutes Genre : , , , , , , ,
Movie review score
4/5

Film ini disebutkan berdasarkan kisah nyata, akan tetapi sebenarnya berdasarkan kejadian dan karakter nyata. Jadi, kisahnya ada yang difiksionalisasi atau didramatisasi. Latar belakangnya suasana Belanda saat Perang Dunia II. Film ini memang buatan Belanda, walau kemudian tersebar luas di berbagai belahan dunia. Kualitasnya tak kalah malah sama bagusnya dengan film Hollywood. 

Film berjudul ZwartBoek atau Buku Hitam ini menggunakan berbagai bahasa seperti penutur aslinya, namun kebanyakan tentu bahasa Inggris. Selain itu juga digunakan bahasa Belanda, Jerman dan Yahudi. Ia merupakan film buatan Belanda termahal sepanjang sejarah, dengan menelan anggaran 21 juta dollar Amerika Serikat. Akan tetapi itu tidak sia-sia, karena secara komersial juga sukses. Ia membukukan pemasukan 26 juta dollar AS dari seluruh dunia. Pada tahun 2008, masyarakat Belanda mendapuk film buatan tahun 2006 ini sebagai film terbaik Belanda sepanjang masa.

Jalan Cerita

Kisah film dimulai pada tahun 1956, dimana ada serombongan turis memasuki Israel dalam rangka tour dan berkunjung ke sebuah penampungan warga Yahudi korban Perang Dunia II. Dalam area bernama “Kibbutz Stein” itu, seorang wanita turis bernama Ronnie yang datang bersama suaminya seorang pendeta Kanada, memotret suatu kelas. Sang guru merasa terganggu dan mengusirnya. Tapi kemudian keduanya menyadari bahwa mereka berdua pernah saling mengenal. Sang guru dikenali sebagai Ellis De Vries alias Rachel Stein dari Hague-Belanda. Karena rombongan turis itu tak lama di sana, maka mereka pun berjanji akan bertukar kabar.

Sepeninggal rombongan turis itu, sang guru yang sudah menikah sehingga mengganti nama menjadi Rachel Rosenthal kemudian pergi ke tepi sungai dan merenung, mengingat masa lalu. Cerita film sesungguhnya pun dimulai. Karena film ini sebenarnya berlatar di tahun 1944, berdasarkan kilas balik dari pengalaman Rachel ini.

Rachel adalah seorang warga negara Belanda keturunan Yahudi. Sewaktu Perang Dunia II dimulai tahun 1939, Nazi Jerman menduduki Eropa termasuk Belanda. Politik rasialis mereka yang anti-Semit membuat banyak warga Yahudi terbunuh. Sisanya lari menyembunyikan diri, termasuk Rachel yang bersembunyi di sebuah pertanian. Sayangnya, sebuah pesawat pembom B-2 Sekutu yang sedang dikejar Messerchmitt Luftwaffe tanpa disengaja menjatuhkan bom ke rumah persembunyiannya. Rachel terpaksa lari bersama Rob dengan kapal layarnya karena tentara Jerman segera datang ke lokasi. Rob menyembunyikan Rachel di rumah kacanya. Seorang polisi Belanda bernama van Gein yang juga anggota kelompok perlawanan memberitahu agar mereka segera pergi karena Jerman menemukan tanda pengenal Rachel di rumah persembunyian yang terbakar.

Atas rekomendasi ayahnya sewaktu mereka berpisah di saat mengungsi, Rachel mendatangi seorang pengacara bernama  Wim B. Smaal. Karena sudah dititipi ayahnya yang kaya, Rachel kemudian diberikan uang dan berlian untuk bekalnya. Van Gein mengaku yang juga anggota Gestapo membantu mereka untuk pergi dengan kapal. Di tempat pertemuan menjelang dermaga, Rachel bertemu kembali dengan kedua orangtuanya dan saudara lelakinya Max. Mereka berupaya mengarungi sungai Biesbosch untuk menuju kawasan selatan Belanda yang telah dibebaskan pasukan Sekutu dari Nazi.  Akan tetapi, di tengah jalan rupanya mereka dijebak. Kapten kapal mengarahkan kapalnya agar bertemu dengan patroli sungai pasukan SS Nazi Jerman. Seluruh penumpang yang merupakan pengungsi Yahudi tewas ditembak termasuk keluarga Rachel. Rachel sendiri berhasil lolos dengan terjun ke sungai dan dikira tewas.

Berbekal surat dari pengacaranya, Rachel menggunakan identitas baru. Ia juga mengecat rambunya menjadi pirang dari semula berwarna hitam. Namanya kini Ellis de Vries. Wanita ini pun kemudian diselundupkan ke Hague dengan mobil jenazah oleh Joop dan Timotheus Kuipers. Ellis lalu bekerja kepada Gerben Kuipers –ayah Tim- yang sehari-hari adalah pedagang besar kelontong. Lima bulan kemudian, ia ditawari Gerben untuk bergabung di kelompok perlawanan dan Ellis menerima tugas sebagai kurir.

Di dalam kelompok perlawanan juga ada dokter bernama Hans Akkermans. Satu saat, mereka menerima bantuan logistik senjata dari udara. Tapi mereka disergap di gudang oleh 5 orang tentara Nazi. Akkermans berhasil menembaki mereka hingga tewas.

Ellis pergi bersama Akkermans dengan kereta, tetapi di perjalanan ada pemeriksaan identitas. Ellis menyelinap masuk ke kabin seorang perwira Jerman bernama Ludwig Müntze berpangkat Hauptsturmführer (setara Kapten). Perkenalan ini kemudian akan berlanjut lebih dalam karena Müntze adalah Komandan Gestapo dan Pasukan Nazi Jerman di Hague.

Ketika mobil pengangkut senjata yang dikamuflase sebagai pengangkut sayuran milik kelompok perlawanan mengalami kecelakaan sehingga penyamarannya terbongkar, tentara Jerman menangkap tiga orang yang berada di truk itu. Salah satunya adalah Tim, anak Gerben. Dalam upaya membebaskannya, Rachel bersedia untuk masuk lebih dalam dengan mendekati Müntze. Ia meminta koleksi prangko Smaal untuk diberikan kepada perwira Nazi itu yang masih kekurangan prangko Queen Wilhelmina dari Dutch East Indies.

Tindakan ini berhasil. Müntze menjadikan Ellis alias Rachel sebagai pacarnya. Ia pun dibawa menghadiri sebuah pesta. Karena memang sebelum perang berprofesi sebagai penyanyi, Ellis diminta menyanyi di sana. Saat itulah ia mengenali pemain pianonya adalah komandan pasukan SS Nazi yang mencegat kapal pelariannya dan  membunuh keluarganya. Namanya Obersturmführer (setara Letnan Satu) Günther Franken.

Ellis lantas dipekerjakan sebagai sekertaris di markas tentara pendudukan Nazi. Ia bekerja di sana bersama Ronnie –yang ditemuinya saat bertamu di kantor Müntze untuk pertama kali- hanya berdua saja. Ronnie ini adalah pacar Franken. Posisi ini membuat Ellis makin leluasa menggali informasi, termasuk menanamkan perangkat penyadap di kantor Müntze. Dari penyadapan itu mereka akhirnya tahu bahwa pengkhianat yang menyebabkan kapal pengungsi Ellis disergap adalah Van Gein sendiri.

Meski sudah dilarang oleh Kuipers, Akkermans memilih untuk menyergap van Gaal. Sayangnya, upaya penculikan gagal dan ia terpaksa ditembak mati. Franken bereaksi dengan merencanakan membunuh ke-40 orang tahanan termasuk 3 orang yang ditangkap di depan toko Kuipers. Tapi Müntze menolak menandatangani perintah eksekusi. Tak seperti Franken, Müntze cenderung lebih lembut dan menjalin komunikasi dengan kelompok perlawanan.

Tapi tak urung kejadian itu juga membuat Müntze curiga pada Ellis. Apalagi ia terlambat pulang ke kediaman dinas Müntze. Tapi hati sang perwira luluh juga setelah dirayu oleh Ellis. Ia membocorkan rahasia Franken yang diberitahukan Ronnie kepadanya, bahwa di lemari besinya penuh dengan barang curian dari para Yahudi yang tewas. Esok harinya, Müntze melaporkan kepada Obergruppenführer (setara Jenderal) Käutner tentang informasi itu. Akan tetapi, ternyata tidak ditemukan apa pun selain dokumen dan sebotol champagne di lemari besi itu. Malah, Franken melaporkan balik Müntze mengadakan komunikasi dan perjanjian saling percaya dengan kelompok perlawanan yang dijuluki “teroris”. Akibatnya, malah Müntze yang diperintahkan ditangkap.

Ellis mengabarkan hal ini kepada teman-temannya. Mereka berencana membebaskan para tahanan terutama Tim putra Gerben. Akan tetapi, mereka perlu bantuan Ellis agar mudah dengan membukakan pintu dari dalam. Ellis hanya bersedia membantu apabila rekan-rekannya berjanji ikut membebaskan Müntze. Dengan berat hati Akkermans selaku komandan regu penyerbuan menyetujuinya.

Tentara Jerman berpesta dengan Ellis sebagai penyanyinya. Ia sempat menyelinap ke ruang bawah tanah dan membukakan pintu bagi rekan-rekannya Tim penyerbu memasuki markas tentara Jerman dengan menyamar sebagai anggota tentara Jerman. Tanpa mereka ketahui, Franken menjebak mereka. Akibatnya, hampir seluruh tahanan dan tim  penyerbu yang seharusnya membebaskan mereka tewas. Hanya Akkermans dan Theo yang bisa meloloskan diri.

Ellis ditangkap oleh Franken, tapi kemudian difitnah. Ia dibawa ke kantor Müntze yang dipasangi penyadap dan dibuat seolah-olah dialah yang membocorkan operasi pembebasan tahanan itu kepada Nazi. Rekan-rekannya geram dan bertekad menuntut balas. Ronnie yang telah mengetahui peranan Ellis dalam kelompok perlawanan bekerjasama dengan seorang anggota yang memihak mereka. Ia lantas membebaskan Ellis dan Müntze.

Sekutu kemudian memenangkan perang dan membebaskan Belanda dari cengkeraman Nazi. Franken berupaya kabur dengan kapal bersama seorang serdadu bernama Joseph, tapi berhasil dicegah dan dibunuh oleh Akkermans. Sementara pasukan Kanada memasuki Belanda dan mengadakan parade kemenangan. Dalam rangka menyelamatkan diri, Ronnie menggabungkan diri dengan parade dengan memacari seorang kapten pasukan Kanada bernama George. Ellis menolak ikut bergabung dan memilih pergi bersama Müntze.

Berdua, mereka memasuki kantor Smaal dan menemukan pengacara itu hendak kabur bersama istrinya. Ellis tahu bahwa Smaal bekerja sebagai agen ganda, selain membantu kelompok perlawanan, tapi juga memberikan informasi kepada Nazi. Motifnya adalah untuk merampas harta para Yahudi yang dibunuh dan dibagi bersama Franken. Tapi Smaal sudah menyiapkan semacam ‘asuransi perlindungan’ bagi dirinya dengan mencatat berbagai detail kejadian, nama dan peran mereka semasa perang. Buku notes catatan itulah yang disebut “Black Book”. Smaal mengatakan ia akan dijemput anggota pasukan Kanada, sehingga saat ada yang mengetuk pintu, ia pun membukanya. Tapi kemudian ternyata ia ditembak, demikian pula istrinya. Müntze berusaha mengejar si penembak, tapi justru ditangkap oleh anggota kelompok perlawanan yang mengenalinya saat sedang berparade. Ellis pun berniat kabur tapi mengambil “buku hitam” Smaal lebih dulu. Tapi sayang saat ia melongok di jendela, ia pun dikenali. Karena dianggap pengkhianat, Ellis pun ditangkap.

Müntze dibawa ke markas besar pasukan Sekutu yang dulunya justru adalah markasnya sendiri. Ia dihadapkan kepada seorang kolonel pasukan Kanada sebagai komandan pasukan Sekutu. tapi ternyata di sana ada bekas atasannya, Obergruppenführer Käutner yang membantu dengan perjanjian akan diperlakukan baik. Käutner meminta agar Müntze dapat dihukum mati oleh regu tembak Nazi Jerman sendiri karena ia dulunya sudah pernah diputuskan dihukum mati. Sang kolonel Kanada mengabulkan.

Sementara itu, oleh partisan dan milisi, para tahanan Nazi Jerman dan mereka yang dianggap berkolaborasi dipermalukan. Termasuk pula Ellis yang ditelanjangi dan disiram kotoran manusia. Di saat kritis itulah Akkermans yang telah diangkat sebagai Kolonel di angkatan bersenjata Belanda masuk bersama pasukannya dengan seorang perwira tinggi Kanada. Ia pun membubarkan para partisan dan milisi serta menutup tempat penahanan. Ellis dibawa ke kantornya sebagai dokter, tapi hanya untuk dibunuh dengan insulin. Ellis menyadari hal itu dan berhasil melarikan diri setelah lebih dulu melawan efek insulin dengan memakan coklat. Akkermans berupaya mengejar tapi malah terhalangi oleh massa yang mengelu-elukannya sebagai pahlawan karena telah bergabung dengan kelompok perlawanan semasa perang.

Dengan membawa “buku hitam”, Ellis menemui seorang intel Inggris yang kemudian membawanya kepada Gerben Kuipers. Saat itu Gerben Kuipers tengah memimpin penggalian kuburan massal korban Nazi dan menemukan anaknya. Mereka berdua lalu memutuskan mengejar Akkermans setelah Ellis menemukan jeep Akkermans ada di garasi mobil milik kelompok perlawanan dan justru mobil mayatnya yang tidak ada. Di masa perang, Ellis diselundupkan melewati penjagaan Nazi dengan cara yang sama. Mobil jenazah yang dikemudikan Willi akhirnya tersusul. Akkermans dibunuh oleh keduanya dengan cara menutup lubang udara di peti mati tempatnya bersembunyi hingga ia kehabisan nafas. Ellis dan Gerben sempat bingung hendak diapakan uang dan harta yang direbut Akkermans dari Franken, yang sejatinya adalah milik para tahanan Yahudi yang tewas.

Film lantas kembali ke setting ‘masa kini’ di tahun 1956. Ellis alias Rachel yang tadi di awal film sedang melamun di tepi sungai mengenang masa lalu didatangi suami dan dua anaknya. Mereka berdua lantas kembali ke Kefar Stein, dimana sepintas terlihat di papan namanya bahwa kibbutz itu dibangun dengan uang yang dicuri dari para Yahudi yang terbunuh saat Perang Dunia II. Ketika film berakhir, sebuah jeep militer melintas dan turun di dalam kibbutz untuk melindungi mereka karena saat itu Krisis Terusan Suez baru dimulai.

Kritik Film

Film ini nyaris sempurna, karena penggarapannya begitu detail. Tak perlu diragukan akurasi sejarahnya terutama dalam hal bangunan, pakaian dan perlengkapan lainnya termasuk kendaraan. Bahkan beberapa bunker dibangun di Hague untuk mengkamuflase jalan masuk ke parkir bawah tanah yang jelas tidak ada di tahun 1940-an.

Walau begitu, tetap ada sedikit kelemahan logika. Seperti saat kelompok perlawanan yang dipimpin Akkermans gagal menculik van Gein, terjadi baku tembak di tengah kota. Hingga van Gein tewas terbunuh justru oleh Theo yang sangat taat pada agama Kristen, tak ada satu pun tentara Nazi yang muncul. Padahal, saat kejadian di depan toko kelontong Gerben saat Tim ditangkap, mereka begitu cepat datang hanya karena bunyi peluit. Jelas letusan peluru senjata lebih nyaring daripada peluit bukan?

Saya juga merasa perbedaan pangkat terlalu besar. Jenjang pangkat Müntze yang cuma kapten dengan Käutner yang seorang jenderal terlalu jauh. Agak kurang logis juga seorang kapten menjadi komandan pasukan di sebuah kota. Mustinya minimal setara kolonel.

Adegan saat mobil jenazah Akkermans akhirnya tersusul juga agak aneh. Karena banyak sekali jalan untuk kabur dan saat itu kondisi kacau balau. Tapi jalanan malah sepi dan seakan mereka tahu pasti ke mana Akkermans pergi. Gerben dan Ellis yang meninggalkan mobil jeep militer serta memilih mengendarai mobil jenazah juga aneh. Bukankah lebih baik bila dua mobil berjalan beriringan? Karena Willi si pengemudi mobil jenazah yang cuma dipukul tidak mati sehingga bisa memanfaatkan mobil jeep militer itu untuk kabur.

Satu yang harus diingat, kisah film ini fiksi, demikian pula tokoh utamanya. Hanya latar belakang sejarahnya yang nyata. Penulis skenario film ini yaitu  Gerard Soeteman berperan besar di sini. Selain karena ia pernah menggarap naskah Soldier of Orange (1977) -sebuah film epik sejarah yang sama-sama berlatar belakang Perang Dunia II di Belanda dan berdasarkan kisah nyata- ia juga dibesarkan di Hague di masa itu.

Film ini menyajikan plot yang rumit. Begitu banyak peran yang terlibat. Di filmnya sendiri dilibatkan tak kurang dari 1.200 orang pemeran pendukung atau figuran. Ini bisa jadi agak membingungkan bagi penonton film awam apalagi yang menyenangi film bertipe easy movie ala Hollywood. Tidak ada pahlawan sejati di film ini, meski ada tokoh utama. Ellis sendiri sempat difitnah sebagai pengkhianat, dan Akkermans yang dielu-elukan sebagai pahlawan ternyata justru pengkhianat sebenarnya. Dilema “moral abu-abu” inilah yang membedakannya dari film-film model Hollywood yang hobby menampilkan baik-buruk secara dikotomis.

Pemerintah Belanda sendiri mendukung penuh pembuatan film ini dengan izin pemakaian berbagai fasilitas umum. Meski sempat mengalami kesulitan pembiayaan hingga mengakibatkan penyelesaiannya tertunda-tunda, akhirnya film ini meraih sukses finansial. Dan tentu saja, Belanda patut berbangga memiliki film dengan kualitas sebagus ini. Selain sukses secara finansial, film ini juga bertabur penghargaan. Tak kurang dari 9 gelar juara dan 6 nominasi lain diraihnya.

Bagi saya, film ini sangat menyentuh. Seperti film garapan Steven Spielberg Schindler’s List (1993) yang sempat dilarang di Indonesia, film ini menampilkan sisi sebenarnya dari perang. Bukan eksploitasi kepahlawanan segelintir pemimpin negara dan jenderal komandan pasukan, tapi justru kisah pilu ribuan bahkan jutaan orang di lapangan. Bukan hanya prajurit dalam rantai komando resmi, tapi juga para partisan dan milisi dalam kelompok perlawanan. Tapi yang terpenting adalah rakyat jelata, sebagai pihak paling menderita dari kekejaman perang. Ya, perang adalah kejahatan kemanusiaan terbesar. Dan film ini dengan jelas menegaskan pesannya: katakan tidak pada perang.

Leave a Reply