Resensi Film-Bhayu MH

Black Hawk Down

Year : 2001 Director : Ridley Scott Running Time : 144 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
5/5

Black Hawk Down merupakan film perang yang populer bagi penyuka dunia kemiliteran. Di Indonesia, para pehobi airsoft gun sampai mengadaptasi skenarionya untuk berlatih perang-perangan (skirmish). Salah satu sebabnya, ini adalah kejadian nyata pertempuran jarak dekat (close encounter battle) di masa modern yang terjadi tak lama dari masa kita hidup. Keterlibatan pasukan yang diklaim sebagai salah satu yang terbaik di muka Bumi menjadikannya makin menarik. Tentu saja sebagai elite, senjata dan peralatan tempur yang digunakan juga yang termutakhir. Itu membuatnya makin menarik.

Tapi tentu saja tak boleh dilupakan, ini pertempuran betulan dalam perang yang juga betulan. Korban nyawa yang jatuh juga betulan. Walau dalam film terkesan seru dan asyik, tentu aslinya tidak begitu. Perang tetap saja perang, mengerikan.

Anyway, kita masuk saja ke jalan ceritanya. Setting film ini adalah misi internasional di bawah bendera PBB yang dijalankan oleh pasukan Amerika Serikat di Somalia. Campur tangan internasional ini dilakukan setelah negeri itu dilanda perang saudara. Pasukan milisi di bawah komando panglima perang lokal Mohammed Farrah Aidid bahkan berani menyerang pasukan PBB. Ia sengaja membuat warganya sendiri kelaparan dan merampok suplai pangan internasional. Setelah pasukan marinir AS ditarik pulang, ia bahkan membunuh 24 serdadu penjaga perdamaian PBB asal Pakistan. Washington mengirim pasukan elitnya yaitu Delta Force untuk menangkap Aidid. Selain itu unit kesatuan lain dari Rangers Angkatan Darat dan Penerbangan Angkatan Darat SOAR (Special Operation Aviation Regiment) ke-160 juga ikut diterjunkan. Misi yang direncanakan berlangsung tiga minggu molor hingga enam pekan. Ini karena sulitnya melacak lokasi Aidid.

Pasukan Delta kemudian menangkap Osman Ali Atto, seorang komandan pasukan lokal yang sekaligus juga pebisnis yang memasok senjata kepada milisi Aidid. Meski diinterogasi langsung oleh Mayor Jenderal William F. Garrison selaku Komandan Gugus Tugas Gabungan, tidak ada informasi memadai yang didapat. Pasukan kemudian berencana menangkap Omar Salad Elmi dan Abdi Hassan Awale Qeybdiid, dua orang menteri di kabinet Aidid.  Mereka akan dibawa ke markas pasukan AS di bandara Mogadishu.

Dalam briefing pra-operasi, pasukan AS terlalu percaya diri. Komandan operasi menyatakan misi hanya akan berlangsung dalam waktu 30 menit. Tak heran, anggota pasukan operasi memilih tidak membawa banyak amunisi bahkan meninggalkan teropong malam. Bahkan serdadu tak berpengalaman pun ikut diterjunkan dalam misi.  Dua di antaranya adalah Private First Class Todd Blackburn dan seorang prajurit administratif. Karena pimpinan regunya yang berpangkat Letnan mengalami serangan epilepsy, Staff Sergeant Matthew Eversmann diangkat menjadi komandan regu Chalk Four Ranger.

Pasukan Delta dengan mudah menyerbu gedung untuk menangkap para target. Mereka lalu dinaikkan ke Humvees yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Danny Mc.Knight, komandan batalyon ke-3 Ranger. Rombongan pun bersiap kembali ke markas. Mereka pun ditembaki milisi Somalia sehingga kesulitan untuk melintasi jalan, apalagi penduduk pun memblokir banyak jalan sehingga tak bisa dilalui. Sementara itu, regu Chalk Four Ranger diterjunkan satu blok lebih jauh karena kekeliruan pilotnya.

Sayangnya, operasi mulai kacau karena Blackburn terjatuh saat melakukan rappelling terjun dari helikopter. Gara-garanya, sang pilot helikopter Black Hawk mendadak melakukan manuver untuk menghindari RPG yang ditembakkan. Karenanya tiga unit Humvees yang dipimpin Sersan Jeff Struecker diperintahkan memisahkan diri dari konvoi untuk menjemput Blackburn.

Dalam rombongan Humvee Letkol Mc.Knight, terdapat korban tewas karena ditembak milisi yaitu Sersan Dominick Pilla. Tak lama kemudian musibah lebih besar terjadi, satu unit helikopter Black Hawk Super-Six One yang dipiloti  CWO Clifton “Elvis” Wolcott terjatuh ditembak RPG. Kedua pilot tewas sementara dua awak lainnya terluka.

Pasukan darat akhirnya diperintahkan menuju lokasi jatuhnya helikopter. Padahal, kelompok mereka mengalami luka parah. Sementara itu, kelompok Humvee Sersan Jeff Struecker berhasil kembali ke markas dan segera terjun kembali ke lapangan setelah membersihkan kendaraan dan mengisi amunisi.

Untunglah pasukan darat yang diterjunkan yaitu anggota pasukan Ranger berhasil mencapai lokasi jatuhnya helikopter. Mereka membentuk garis pertahanan untuk menunggu evakuasi. Celakanya, satu lagi helikopter Black Hawk berkode Super-Six Four yang dipiloti CWO Michael Durant terjatuh beberapa blok jauhnya.

Pasukan darat yang terhambat tak mampu mencapai lokasi jatuh helikopter kedua. Karena itu, dua orang anggota penembak jitu pasukan Delta SFC Randy Shughart dan MSG Gary Gordon meminta izin untuk turun ke lokasi dari helikopter. Sayangnya karena hanya bertiga bersama pilot, mereka tak mampu melawan banyaknya milisi yang datang. Shughart dan Gordon tewas, sementara Durant ditawan.

Akhirnya rombongan Mc.Knight pun menyerah untuk mencapai lokasi jatuhnya helikopter pertama dan kembali ke markas. Selain membawa tahanan Somalia, rombongan itu juga membawa banyak anggota pasukan yang terluka. Mereka bersiap untuk kembali lagi sementara Mayjen Garrison menyuruh Letkol Joe Cribbs untuk meminta bantuan dari Divisi Gunung ke-10, termasuk pasukan lapis baja PBB asal Malaysia dan Pakistan.

Ketika malam tiba, milisi Somalia mengepung lokasi pertahanan pasukan AS yang dibentuk di lokasi jatuhnya helikopter pertama. Untuk membantu, helikopter AH-6J Little Bird dari kesatuan SOAR ke-160 “Night Stalkers” menghujani tembakan dan roket ke kubu milisi yang telah ditandai. Mereka bertahan sampai rombongan besar bantuan datang dari Divisi Gunung ke-10 beserta pasukan PBB dari Pakistan dan Malaysia. Rombongan pun mulai berjalan kembali ke stadion markas pasukan PBB asal Pakistan dan Malaysia. Tapi karena kendaraan penuh, beberapa orang anggota pasukan Delta dan Ranger terpaksa harus berlari untuk kembali pulang.

Dalam keterangan di epilog film, dituliskan bahwa dalam operasi itu 19 prajurit AS tewas dengan lebih dari 1.000 orang Somalia dibunuh. Durant yang ditawan oleh milisi dibebaskan setelah ditahan selama 11 hari. Gordon dan Shughart dianugerahi Medal of Honor secara anumerta, yang pertama setelah Perang Vietnam. Pada 2 Agustus 1996, Aidid tewas dalam pertempuran antar klan. Jenderal Garrison pensiun tepat sehari setelahnya.

Kritik Film

Saya sengaja mengabaikan perbedaan versi antara fakta dengan film. Karena saya sungguh tidak tahu mana yang benar. Sebagai penikmat film, menyaksikan film ini yang berasal dari kisah nyata rasanya hampir tak beda dengan kisah fiksi lainnya. Kenapa? Karena adanya nuansa “jagoan pasti menang”. Genre yang amat disukai “Hollywood” adalah nuansa “putih-hitam” yang amat jelas, cenderung rasis malah. Di film ini, clearly pihak Amerika adalah “putih”, yang baik. Sementara pihak Somalia seratus persen jahat.

Konflik batin antara benar-salah tindakan intervensi dalam masalah dalam negeri suatu negara hingga kepahitan perang tidak terlihat di film ini. Nuansa yang terlihat adalah “pro-perang” dengan menunjukkan kehebatan dan heroisme para prajurit. Jelas misi yang dibawa berbeda dengan film perang ala Steven Spielberg seperti Schindler’s List (1993) atau Saving Private Ryan (1998).

Meskipun film ini diklaim berdasarkan kisah nyata, akan tetapi jelas ada unsur dramatisasi di sana. Dasar kisahnya sendiri berasal dari buku Black Hawk Down (1999) karya Mark Bowden, yang sebelumnya merupakan seri artikel yang diterbitkan di The Philadelphia Inquirer. Karena sudut pandang itulah maka wajar saja bila pihak pahlawan adalah prajurit AS.

Dengan banyaknya karakter apalagi semuanya bisa dibilang serupa dalam balutan seragam, sulit melakukan pendalaman karakter. Sutradara Ridley Scott saja sudah melakukan improvisasi dengan menunjukkan seolah para prajurit terbiasa menuliskan namanya di helm sebelum terjun bertempur. Padahal, aslinya tidak begitu. Hal ini dilakukan sutradara agar penonton bisa lebih mudah mengenali para karakter pemain.

Sebagai tontonan, jelas film ini menghibur. Apalagi bagi penyuka genre war, film ini merupakan salah satu masterpiece dunia perfilman. Dengan biaya pembuatan mencapai 92 juta dollar AS, pemasukan lebih dari 172 juta dollar AS tentu menunjukkan penerimaan pasar. Walau saya tidak menyarankan film ini ditonton oleh anak kecil karena tingginya tingkat kekerasan di dalamnya.

Leave a Reply