Resensi Film-Bhayu MH

Bordertown

Year : 2006 Director : Gregory Nava Running Time : 112 mins. Genre : , , , , , , ,
Movie review score
4/5

Di awal film ada tulisan pengantar sebagai narasi. Disebutkan sebagai hasil dari NAFTA (The North American Free Trade Agreement), perusahaan dari berbagai penjuru dunia dibolehkan membangun pabrik di Meksiko sepanjang perbatasan Amerika Serikat. Memanfaatkan buruh murah dan tiadanya tariff perdagangan, perusahaan-perusahaan itu memproduksi barang dengan biaya rendah untuk dijual ke A.S. Salah satu kota di perbatasan itu adalah Juarez, tempat 1.000 lebih pabrik yang disebut “maquiladoras” berada. Kemampuan produksinya adalah satu televisi setiap 3 detik dan seperangkat komputer setiap tujuh detik. Agar makin murah, pabrik-pabrik itu mempekerjakan wanita tanpa keamanan memadai. Banyak wanita pekerja yang mengalami kekerasan atau diserang hingga tewas saat pulang di malam atau pagi hari.

Statistik menunjukkan 375 wanita Meksiko telah diserang. Sementara 700 orang lainnya masih hilang. Dan di sini seorang wartawati AS dari Chicago Sentinel bernama Lauren Adrian tertarik menyelidiki laporan kejahatan tersebut. Ia bahkan nekat masuk ke Juarez-Meksiko guna menuntaskan keingintahuannya. Ia dibantu wartawan bernama Alfonso Diaz dari koran El Sol de Juare.

Tapi sulit sekali mencari kebenaran. Para korban umumnya terbunuh. Dan saat ada yang selamat pun, mereka terlalu ketakutan untuk bicara. Polisi dan pemerintah justru bagian dari permainan para mafia itu. Perempuan-perempuan itu bukan hanya sasaran perkosaan atau perdagangan manusia untuk dijadikan pelacur, tapi juga dibunuh untuk diambil organnya.

Akhirnya ada satu korban perkosaan bernama Eva yang selamat dan bersedia untuk menjadi nara sumber. Tapi Lauren dan Alfonso harus bekerja keras melindunginya. Karena para pelakunya mengira ia telah mati karena dikubur hidup-hidup, dan tentunya tak ingin ada saksi atas kejahatannya. Dan petunjuk yang diingat saksi-korban hanyalah bahwa ia dibawa dalam bus ke padang pasir dan diperkosa oleh sopir bus beserta temannya. Untuk melacak bus itu, kedua jurnalis itu harus mempertaruhkan nyawanya. Apalagi polisi pun menutup-nutupi adanya pembunuhan di Juarez. Apakah mereka berhasil menemukan pemerkosa Eva dan menyeretnya ke pengadilan? Atau malah kedua jurnalis itu menjadi korban dari ganasnya mafia Meksiko? Apakah koran tempat Lauren bekerja mau memuat beritanya? Itulah yang membuat film ini menarik. Karena akhirnya sulit ditebak.

Saya terus-terang menyukai jalan cerita yang kuat, filmografi yang memikat dan penokohan yang bagus. Jenifer Lopez sebagai Lauren bermain serius, sayangnya entah kenapa film ini tidak mendapat sambutan hangat di luar negeri. Dalam konteks ini, saya melihat ada semacam sentimen dari kritikus film AS kepada JLo, karena sebenarnya aktingnya tidak jelek. Ketegangan ala thriller-suspense terasa sepanjang film. Penonton dibuat bertanya-tanya ke mana arah cerita selanjutnya. Walau begitu, tempo yang agak lambat membuat penonton bisa bosan mengikuti hingga akhir.

Leave a Reply