Resensi Film-Bhayu MH

Captain America: The First Avenger

Year : 2011 Director : Joe Johnston Running Time : 124 mins. Genre : , , , , , ,
Movie review score
4/5

Nama Kapten Amerika dengan seragam dan tamengnya yang “ngamrik banget” sudah cukup dikenal di Indonesia. Tapi kecuali bagi penggemar fanatiknya yang mampu membeli komik asli dari luar negeri, niscaya asal-muasalnya kurang dikenal. Di Indonesia, paling-paling hanya Superman, Batman, Spiderman, Wonder Woman atau para sidekick seperti Robin dan Catwoman yang lebih terkenal dari sang kapten.

Nah, di film ini, para penyuka cerita superhero bisa lebih mengenal pahlawan fiksi Amerika ini. Aslinya, sebelum jadi superhero, Steven G. Roger adalah seorang pemuda biasa dari Brooklyn. Ia begitu patriotis dan nasionalis hingga sangat ingin mendaftar sebagai tentara A.S. Maklum, saat itu sedang dilakukan mobilisasi umum untuk menghadapi Nazi di Perang Dunia II. Sayangnya, postur Roger yang pendek dan kurus membuatnya tak bisa diterima walau sudah lima kali mendaftar dengan memalsukan kota asalnya. Sementara sahabatnya James Barnes yang memang tubuhnya tinggi dan kekar berhasil masuk dan diberi pangkat sersan.

Saat berada di pameran World Exposition of Tommorow, Roger berupaya mendaftar lagi di stan Angkatan Bersenjata yang ada di sana. Kegigihannya menarik hati Dr. Abraham Erskine, Direktur Strategic Scientific Reserve. Atas rekomendasinya, ia pun kemudian diterima masuk Angkatan Darat. Menariknya, di pameran yang berlangsung tahun 1943 tersebut kita bisa melihat Howard Stark muda. Dia adalah ayah dari Tony Stark, yang kemudian menjadi Iron Man, bagian dari The Avengers.

Singkat cerita, Rogers dibawa ke kamp pelatihan militer. Di sana, meski sempat diragukan Colonel Philips, kebeningan hatinya terbukti. Ia pun kemudian terpilih sebagai satu-satunya prajurit untuk Project: Rebirth. Roger disuntik dengan serum buatan Dr. Erskine yang bernama “Super Soldier”.  Serum itu membuat tubuhnya yang semula kurus menjadi kekar.

Namun, di malam sebelum Rogers berubah menjadi “serdadu super”, Dr. Erskine mengajak bicara dari hati ke hati. Ia mengatakan bahwa sebagai orang Jerman ia tak sependapat dengan Hitler. Namun, ia sempat dipaksa bekerja untuk Nazi. Saat itu, serumnya yang belum sempurna dipaksakan untuk disuntikkan kepada Johan Schmidt. Ia adalah perwira tinggi Nazi yang menjabat Direktur Hydra, organisasi Nazi yang melakukan riset sains dengan cara mencari benda-benda “sakti”. Di awal film, malah digambarkan Schmidt berhasil mengambil “Tesseract”, sebuah kubus tenaga milik Odin. Penggemar komik-komik Marvel tahu bahwa Odin adalah ayah dari Thor, salah satu dari The Avengers.

Dan memang di film ini “Cap” –panggilan akrab Captain Amerika- berhadapan dengan Schmidt dan Hydra. Karena serum Dr. Erskine memperkuat apa yang sudah ada di dalam, maka Schmidt yang pada dasarnya jahat menjadi tambah jahat. Ia pun menjadi villain bernama “Red Skull”.

Walau sudah bisa dipastikan bahwa “Capt” akan menang melawan “Red Skull”, menarik disaksikan bagaimana proses menuju ke sananya. Apalagi sebelum menjadi pahlawan, “Cap” semata ditugaskan oleh pemerintah AS untuk menjadi “monyet sirkus” guna menjual obligasi perang.

Menariknya, seperti diceritakan di awal film, pada akhir film (berarti apa yang ada di pangkal baru jelas saat di ujung) dijelaskan bahwa pesawat yang ditumpangi “Cap” jatuh. Dan ia kemudian tertidur panjang selama 70 tahun, untuk kemudian bangun di tahun 2011.

Bagi saya, film ini sangat terasa “komik”-nya. Sutradara Joe Johnston berhasil menghidupkan pahlawan Amerika yang pertama kali muncul pada Maret 1941. Dengan teknologi perfilman dan komputer saat ini, “Cap” tampak hebat dan nyaris sempurna. Imajinasi zaman millennium dimasukkan sehingga para serdadu Hydra tampak bersenjatakan laser. Meski agak aneh dari segi logika, tapi harus diingat ini jelas-jelas fiksi yang diangkat dari komik. Jadi semua sah-sah saja. Satu pendekatan yang bagus, penulis cerita dan sutradara mengganti penekanan cerita dari politik ke pribadi. Jadi, tidak tampak sentimen anti Nazi (yang bisa membuat Marvel Studios kehilangan penonton dari Jerman) berlebihan di sini.

Malah, cerita ditarik ke sisi personal yang cukup menyentuh. Bagaiman seorang pecundang seperti Steve Rogers yang selalu dilecehkan namun berhati mulia, berubah menjadi pahlawan bangsanya. Juga dibumbui kisah asmara antara Steve dengan Agent Peggy Carter. Saya suka detail tampaknya foto Carter di kompas saku yang digunakan Steve saat film propaganda perang ditayangkan. Walau begitu, tak ada adegan percintaan antara keduanya, selain beberapa ciuman ringan. Jadi, film ini sangat aman ditonton untuk anak-anak. Orang dewasa? Asal punya imajinasi tinggi, wawasan luas dan pikiran terbuka, niscaya akan menikmatinya. Tak heran pendapatan film ini sangat tinggi: lebih dari 363 juta dollar A.S. di seluruh dunia! Lumayan untuk propaganda kehebatan Paman Sam.

Leave a Reply