Resensi Film-Bhayu MH

Captain America: The Winter Soldier

Year : 2014 Director : Anthony Russo & John Russo Running Time : 136 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
4/5

Jalan Cerita

Adegan diawali dengan Steve Rogers yang jogging keliling taman di depan Lincoln Memorial. Ia berkenalan dengan seorang tentara veteran bernama Sam Wilson yang berkali-kali disalipnya. Sam sendiri mengenali wajah Rogers sebagai Captain America. Saat mereka sedang mengobrol, Natasha Romanoff menjemput Rogers dengan mobil sport-nya.

Mereka ternyata mendapatkan panggilan darurat dari S.H.I.E.L.D. karena salah satu kapalnya dibajak. Dua tahun setelah “Pertempuran New York”, Steve Rogers memang bekerja di Washington D.C. Rogers sebagai Captain America dan Romanoff sebagai Black Widow dikirim bersama tim anti terorisme S.T.R.I.K.E. untuk membebaskan kapal itu. Pemaparan intelijen yang disampaikan Komandan S.T.R.I.K.E. Agent Rumlow menyebutkan bahwa pembajak adalah sekelompok tentara bayaran pimpinan George Batroc.

Di tengah misi yang masih berlangsung, Captain “Cap” America mendapati bahwa Black Widow punya misi ganda, yaitu menyelamatkan data dari komputer kapal. Dan meski terbukti tindakannya benar karena Batroc kemudian menghancurkan komputer itu, Cap marah. Setibanya di Triskelion markas S.H.I.E.L.D., Cap marah kepada Nick Fury Direktur S.H.I.E.L.D. karena merasa wewenangnya sebagai komandan misi dilangkahi. Dengan tenang, Fury menjelaskan posisinya dan membawa Cap ke fasilitas rahasia S.H.I.E.L.D. Di sana, ia diperkenalkan dengan “Project Insight”, berupa pembangunan kapal induk terbang raksasa yang terhubung dengan satelit intelijen. Tujuannya adalah mencegah ancaman sedini mungkin dengan menyerang lebih dulu. Tetapi Fury curiga saat ia tidak bisa membuka data dalam flash disk yang dibawa Black Widow dari kapal. Ironisnya, komputer mengatakan dirinya sendiri yang menyegel isi data di dalamnya, tetapi sistem menolak membuka data itu. Ia pun menemui Sekertaris Jenderal S.H.I.E.L.D. Alexander Pierce untuk memintanya menunda “Project Insight”.

Dalam perjalanan menuju pertemuan dengan Maria Hill, mobil Fury diserang sekelompok orang bermobil dan berseragam polisi. Anehnya, data komputer menunjukkan tidak ada patroli polisi yang berada di sekitar posisi Fury. Dengan perlindungan mobilnya yang anti peluru dan mutakhir, Fury berhasil meloloskan diri. Tetapi kemudian mobilnya terbalik karena dipasangi semacam ranjau oleh pembunuh bayaran yang kemudian diketahui bernama Winter Soldier.

Fury berhasil kabur melalui bawah tanah. Rogers yang baru tiba di apartemennya diperingatkan tetangganya Sharon Carter yang seorang perawat bahwasanya sistem stereo-nya lupa dimatikan. Ternyata, itu adalah Fury yang menerobos masuk. Dia memperingatkan bahwa S.H.I.E.L.D. diterobos sistem keamanannya dan rahasia mereka terbongkar. Fury memberikan flash drive yang dibawa Romanoff kepada Rogers. Tetapi ia kemudian ditembak oleh penembak jitu dari atap gedung sebelah. Dalam situasi menegangkan, Sharon Carter tetangga apartemen Rogers masuk membawa pistol. Ia ternyata Agen 13 S.H.I.E.L.D. yang ditugasi Fury untuk menjaga Rogers. Cap sendiri sempat mengejar penembak jitu yang kemudian dikenali Black Widow sebagai Winter Soldier.

Fury langsung dioperasi bedah tetapi sekarat. Maria Hill lantas membawa tubuhnya pergi. Hari berikutnya, Pierce meminta Rogers menghadapnya di Triskelion. Ia meminta Rogers mengungkapkan apa yang diberikan oleh Fury. Ingat pesan Fury untuk tidak percaya siapa pun, Rogers menolaknya. Hal itu mengakibatkan ia diserang di lift oleh Rumlow dan anak buahnya.

Dibantu oleh Romanoff, Rogers kabur. Mereka berupaya membuka data di flash drive itu. Meski sempat mengalami kesulitan, akhirnya mereka berhasil melacak asal sinyal yang dipancarkan oleh pembuat data di flash drive itu. Ketika Romanoff dan Rogers mendatanginya, ternyatai tu adalah tempat latihan Rogers di New Jersey saat masih jadi tentara berbadan kerempeng, sebelum disuntik serum dan menjadi Captain America. Di sana, ada sebuah bunker yang merupakan markas S.H.I.E.L.D. pertama dan di dalamnya ada lagi fasilitas rahasia.

Turun ke fasilitas rahasia itu, mereka berhadapan dengan supercomputer kuno era Perang Dunia II. Di sana, ada sistem kecerdasan buatan yang merekam kesadaran Arnim Zola. Bila melihat film pertama sekuel Captain America: The First Avenger, kita akan tahu bahwa Zola adalah ilmuwan kepala Hydra, tangan kanan Red Skull. Ia rupanya ditangkap dan sebagai imbalan atas kebebasannya diminta bekerja untuk S.H.I.E.L.D. Meski seolah bekerja untuk kepentingan S.H.I.E.L.D., tapi loyalitasnya ternyata tetap kepada Hydra. Ia mengungkapkan bahwa misi utama Hydra adalah membuat manusia yang ketakutan pada kekacauan menyerahkan kebebasannya pada institusi pemerintah. Dalam rekaman video ditunjukkan bahwa berbagai konflik di penjuru dunia direkayasa oleh Hydra.

Saat masih berkomunikasi dengan sistem A.I. (Artificial Intelligence) Arnim Zola, Romanoff menyadari bahwa ada peluru kendali (missile) sedang menuju mereka. Rogers dan Romanoff berlindung di sebuah lubang walau nyaris tewas.

Kebingungan mencari teman yang bisa dipercaya di S.H.I.E.L.D., Rogers meminta bantuan tentara veteran yang ditemuinya saat jogging. Ia adalah bekas penerjun payung penyelamat USAF. Ternyata, ia sendiri merupakan serdadu yang juga memiliki kekuatan super karena alat khusus yang dibuat untuknya. Alat itu berupa sayap elektrik yang membuatnya mampu terbang sehingga memiliki julukan “Falcon”.

Mereka menyelidiki salah satu agen S.H.I.E.L.D. yaitu Jasper Sitwell adalah binaan Hydra. Mereka berhasil memaksanya untuk membongkar algoritma pengumpulan data yang dipakai Zola. Data itu ternyata berisi daftar orang yang dianggap potensial menjadi musuh terhadap rencana Hydra menguasai dunia. Daftar itu diintegrasikan dengan satelit untuk mengetahui posisi target. Lantas dengan menggunakan kapal induk terbang dari “Project Insight”, Hydra akan membunuh keseluruhan musuhnya. Kapal itu sendiri disebutkan mampu menembakkan peluru sekaligus ke ribuan target.

Tiba-tiba saja, Winter Soldier menyerbu dan membunuh Sitwell. Saat Captain America berkelahi dengan Winter Soldier, ia menyadari bahwa musuhnya itu sebenarnya adalah Bucky Barnes. Dia adalah sahabatnya yang diduga tewas dari kereta api saat berupaya mencapai markas Red Skull (Kejadian itu bisa disaksikan di Captain America: The First Avenger (2011) sekuel film pertamanya). Ternyata, ia ditangkap dan dijadikan bahan eksperimen untuk membuat “serdadu super”.

Rogers, Romanoff dan Wilson diselamatkan oelh Hill. Mereka menuju rumah perlindungan (safe house) yang ternyata di sana sudah menunggu Fury. Ia sengaja memalsukan kematiannya agar tidak dikejar musuh lagi. Ia menerangkan rencana menyabotase Kapal Induk Terbang dengan mengganti chip komputer pengontrolnya.

Para anggota pimpinan World Security Council sebagai lembaga yang menaungi S.H.I.E.L.D. tiba di Triskelion. Mereka hendak menyaksikan peluncuran perdana Kapal Induk Terbang dari “Project Insight”. Captain America menyampaikan rencana Hydra kepada mereka. Romanoff yang menyamar sebagai salah satu anggota pimpinan, melucuti Pierce. Fury pun tiba di ruangan kerja Pierce dan memaksanya bersama-sama membuka basis data S.H.I.E.L.D. Romanoff pun berhasil membongkar sistem komputer itu dan menyebarkan rahasia Hydra kepada khalayak umum.

Pierce berupaya melawan dan kabur, sehingga Fury menembaknya. Di saat bersamaan, Rogers dan Wilson berupaya menghentikan dua Kapal Induk Terbang yang sudah mengudara. Mereka masuk ke dalam kapal dan mengganti chip komputer pengontrol pesawat. Winter Soldier meghancurkan sayap Falcon sehingga membuat Wilson tak lagi bisa terbang. Ia pun berupaya menghancurkan Captain America di kapal ketiga. Rogers berhasil mengalahkannya dan mengganti chip ketiga. Hill dari komputer pusat berhasil mengambil alih kendali dan membuat ketiga kapal itu saling menghancurkan satu sama lain.

Rogers menolak melawan bekas sahabatnya yang telah menjadi Winter Soldier. Tetapi kapal yang dinaikinya bertabrakan dengan Triskelion. Rogers terlempar ke sungai Potomac. Winter Soldier yang mulai mengingat kembali masa lalunya sebagai Bucky Barnes menyelamatkannya, lantas menghilang ke dalam hutan.

Untuk menjelaskan posisi S.H.I.E.L.D. yang dalam sorotan, Romanoff tampil di hadapan rapat dengar pendapat subkomite Senat. Fury menuju ke Eropa Timur dalam rangka mengejar sisa-sisa sel Hydra, terlindungi oleh pemalsuan kematiannya. Rogers dan Wilson mencoba mencari keberadaan Winter Soldier. Rumlow yang ternyata adalah agen ganda untuk Hydra, masuk rumah sakit setelah penghancuran Triskelion.

Seusai film, dalam epilog di tengah credit title, diperlihatkan seorang tokoh bernama Baron Wolfgang von Strucker di salah satu laboratorium Hydra. Ia mengumumkan “masa keajaiban” telah dimulai dengan para ilmuwan menemukan sumber energi tak terbatas dan dua tahanan, seorang dengan kecepatan super dan seorang lagi dengan kemampuan telekinetic. Sementara itu, Winter Soldier yang menyamar mengunjungi sudut Bucky Memorial di dalam Smithsonian Institution. Ia mencoba mengingat siapa sebenarnya dirinya.

Kritik Film

Saya menyukai film ini karena beberapa hal. Pertama tentu saja penggambaran visual dan efek khususnya yang luar biasa. Kedua karena film ini mampu menghubungkan dirinya dengan sejarah faktual secara meyakinkan, padahal jelas ini kisah fiktif. Dan ketiga, karena keasyikan jalan ceritanya. Dan sebagai pria, saya juga menikmati penampilan Scarlett Johansson sebagai Natasha Romanoff alias Black Widow yang seksi.

Dialognya juga cerdas dan lucu. Terutama di awal film saat Romanoff menyarankan Rogers agar berkencan. Dan ia memberikan saran agar Rogers berkencan dengan tetangganya di apartemen, perawat Sharon Carter. Saya juga tertawa saat Rogers bertemu kembali tetangganya itu di markas S.H.I.E.L.D. setelah ia mengungkapkan jatidirinya sebagai Agent 13 dan menyapanya: “Hai tetangga.” Saya baru tahu setelah membaca referensi, bahwa di serial komiknya, keduanya ternyata memang berpacaran. Saat bersama S.T.R.I.K.E. menyerbut kapal yang dibajak, seloroh Romanoff saat Rogers memintanya menyelesaikan tugas lebih dulu baru kemudian mencarikannya kencan juga cerdas: “Saya multi-tasking kok…”

Saya sendiri bukan pembaca komik asli Captain America. Karena di masa kecil saya, komik sulit sekali masuk Indonesia dan harganya pun mahal (sampai kini juga masih mahal, untuk satu edisi komik asli bahasa Inggris yang tipis harganya sekitar 200 ribuan). Jadi, saya benar-benar penonton film awam. Toh, duo sutradara Russo bersaudara Anthony dan Joe mampu menghadirkan tontonan yang ‘nggak ribet’ bagi penonton yang sama sekali tidak tahu soal karakter komikal tersebut.

Sebagai orang yang bukan orang Amerika, sebenarnya saya muak dengan penggambaran sosok superhero yang sangat “ngamerika” ini. Tetapi karena setting-nya Perang Dunia II dimana Nazi Jerman memang musuh bersama dunia, maka bisa dimaklumi. Sosok heroiknya masih cukup bisa diterima dengan lapang dada.

Pendek kata, film yang dibuat dengan biaya US$ 170 juta dan menghasilkan pemasukan US$ 714 juta ini sangat layak tonton. Menarik dan tidak membosankan biarpun ditonton berkali-kali.

Leave a Reply