Resensi Film-Bhayu MH

Captain Phillips

Year : 2013 Director : Paul Greengrass Running Time : 134 minutes Genre : , , , , , , , ,
Movie review score
4/5

Bagi yang tidak membaca resensi sebelumnya tidak akan mengira film ini penuh ketegangan. Karena itu ia dimasukkan genre thriller. Kisah nyata film ini terjadi di tahun 2009, didasarkan pada buku tahun 2010 karya Captain Richard Phillips sendiri berjudul A Captain’s Duty: Somali Pirates, Navy SEALs, and Dangerous Days at Sea. Sang kapten menulisnya bersama Stephan Talty. Seperti dituturkan sang kapten di bukunya, ini adalah kisah mengenai pembajakan kapal laut (bahasa Indonesia mengenalnya sebagai “perompakan”) MV Maersk Alabama berbendera Amerika Serikat di Samudera Hindia, perairan dekat Somalia.

Jalan Cerita

Kisah film ini dimulai dari persiapan pemberangkatan kapal, mulai dari Kapten Phillips diantar oleh istrinya ke bandara. Ia akan memimpin kapal kargo pengangkut container barang dari Pelabuhan Laut Salalah di Oman menuju Mombasa di Kenya. Rutenya melewati Teluk Aden, mengelilingi semenanjung yang disebut Tanduk Afrika.

Sementara itu, di Somalia, sebuah perkampungan bernama Eyl didatangi tiga mobil berisi pria bersenjata. Mereka adalah anak buah pimpinan faksi lokal bernama Garaad. Di desa miskin itu, para penduduknya tidak mengerjakan apa pun selain tidur. Justru saat tiga mobil itu datang, mereka bersemangat karena meski dibentak-bentak namun itu berarti pekerjaan. Meski pekerjaannya adalah merompak kapal. Tetua desa itu bernama Hufan memutuskan memberangkatkan dua kapal cepat nelayan. Masing-masing dipimpin seorang kapten, yaitu Asad dan Muse. Masing-masing kapal beranggota 3 orang. Mereka ditarik oleh kapal yang lebih besar milik Hufan hingga ke laut lepas. Saat di dalam kapal milik Hufan, mereka melihat di layar radar satu kapal yang terpisah dari kawanan lainnya. Itulah tujuan mereka: MV Maersk Alabama.

Kapal MV Maersk Alabama yang dipimpin Kapten Richard tidak bersenjata, awaknya pun tidak dilengkapi dengan senjata perorangan. Padahal mereka melewati daerah rawan perompak. Kapten Phillips juga mendapatkan e-mail peringatan serupa dari otoritas pelayaran. Karena itu, segera setelah kapal berlayar, ia memerintahkan kru untuk melakukan latihan. Selang pemadam dipasang ke penyemprot di samping badan kapal. Para kru pun diminta bersiap. Namun, saat latihan sedang berlangsung, di layar radar ia melihat ada kapal mendekat.

Menyadari bahaya, ia menghubungi saluran telepon US Maritime Emergency , tapi gagal tersambung. Sementara saat ia menghubungi UKMTO (United Kingdom Maritime Trade Operations) di Dubai, petugasnya malah menganggap dua titik di layar radar itu kapal nelayan biasa. Kapten Phillips pun membuat muslihat seolah-olah ia menghubungi Coalition Warship dan meminta bantuan pesawat tempur yang akan tiba dalam lima menit. Para perompak kuatir dan salah satu di antaranya karena ketakutan lantas memutar balik arah kapalnya. Sementara satu kapal lagi meneruskan pengejaran. Kapten Phillips meminta kepala ruang mesin Mike Perry memaksimalkan mesin seraya menyetel agar timbul buih di buritan. Tindakan itu berhasil karena kapal perompak yang kecil terkena imbas gelombang dan mesinnya tak kuat mengejar.

Kapal perompak itu pun kembali ke kapal induknya yang lebih besar. Muse meminta mesin kapal miliknya tapi tak diberi, malah diejek sebagai si kurus. Abduwali Muse –kapten kapal yang pemberani-balas mengejek Asad –kapten kapal yang kabur- sebagai pengecut. Saat Asad menodongkan pistol ke kepalanya, Muse memukulkan kunci Inggris ke kepala Asad hingga terluka. Meski tampak bodoh, selain pemberani Muse ternyata juga cukup pintar karena mampu berbahasa Inggris. Akhirnya esok paginya, kapal Muse berlayar dengan dua mesin. Itu membuatnya melaju lebih cepat hingga mampu mengejar Alabama. Di samping itu, mereka juga membawa tangga besi yang mendadak dibuat malam itu.

Kali ini, Alabama tak lagi bisa lari. Meski menyalakan selang pemadam kebakaran yang disambungkan ke pipa di sekeliling badan kapal, tapi ternyata ada satu yang arahnya tidak tepat. Hal itu membuat para perompak bisa naik ke atas kapal, meskipun Kapten Phillips berupaya menembaki mereka dengan peluru suar. Melihat keadaan itu, Kapten Phillips memerintahkan seluruh awak bersembunyi di dek bawah terutama di ruang mesin. Hanya ia dan tiga awak lain yang berada di ruang nakhoda. Ia juga memerintahkan agar mesin kapal dimatikan agar para perompak tidak membawanya pergi.

Di depan Muse, Kapten Phillips mengatakan mesin kapal rusak. Ia juga menawarkan uang yang ada di brankas kapal sebesar US$ 30,000 agar para perompak itu pergi. Meski mengambil uang itu, mereka menolak pergi. Hal itu karena sesuai instruksi boss mereka, uang asuransi bernilai jutaan dollar-lah yang mereka incar. Karena itu kapal mereka sandera hingga uang tebusan dibayarkan. Kapten Phillips terus bersiasat agar para perompak tidak menguasai kapal.

Muse penasaran kenapa mesin kapal mati dan tak terlihat anak buah kapal lainnya. Maka, ia bersikeras memeriksa ke dek bawah bersama seorang anak buahnya. Tapi awak kapal sudah menyiapkan jebakan sehingga kaki Bilal terluka. Bahkan kemudian Muse pun bisa ditawan. Para awak kapal menghendaki barter Muse dengan Kapten Phillips, dan meminta perompak pergi dengan kapal penyelamat darurat. Ketiga perompak lainnya terpaksa setuju.

Tapi tanpa diduga, saat kapal penyelamat darurat sudah disiapkan, Kapten Phillips didorong ikut masuk. Ia disandera keempat perompak itu. Mereka menuju ke pantai Somalia dan menuntut uang tebusan untuk membebaskan Kapten Phillips. Awak kapal Alabama yang kuatir pada keselamatan kaptennya membelokkan arah mengikuti kapal penyelamat darurat itu. Mereka juga menghubungi USS Bainbridge yang memang ditugaskan khusus dalam koalisi internasional untuk melawan pembajakan di laut.

Para perompak mulai panik kehilangan kontak dengan kapal induknya dimana sang boss berada. Mereka juga mulai naik emosinya karena kehabisan khat, semacam daun narkoba yang dikunyah. Belum lagi kondisi di dalam kapal penyelamat yang panas, kekurangan udara dan air. Kapten Phillips sendiri mencoba memecah kekompakan empat perompak itu. Ia melihat Muse dan Bilal bisa diajak bicara, sementara Najee justru keras. Sedangkan Elmi kebingungan karena ia yang ditugasi menyetir kapal.

Memanfaatkan kebaik-hatian Muse, Kapten Phillips meminta izin untuk buang air kecil. Di saat itulah ia melompat ke laut. Tapi personel AL AS gagal mengidentifikasi salah satunya adalah sandera. Sehingga Kapten Phillips kembali ditangkap oleh para perompak.

Dalam upaya penyelamatan, kapal perusak AL AS USS Bainbridge dengan cepat mengejar kedua kapal, Alabama dan kapal penyelamat daruratnya. Komandan kapal perusak itu adalah Commander (Letnan Kolonel) Frank Castellano, mencoba melakukan kontak dengan Kapten Phillips dengan mengirimkan kapal karet. Ia mendapatkan dukungan dari regu US Navy SEAL yang terjun payung ke dekat lokasi. Dua kapal perang AL AS lagi mendekat untuk memberikan dukungan, USS Halliburton dan USS Boxer. Karena kuatir melanggar kedaulatan wilayah Somalia, personel penyelam SEAL mengaitkan kabel, lantas USS Bainbridge menarik kapal penyelamat kecil itu ke perairan internasional.

Dikepung oleh dua kapal perang, perompak makin panik. Keadaan itu dimanfaatkan Kapten Phillips untuk membujuk Muse agar mau mengikuti sarannya agar berunding. Commander Frank Castellano memberitahukan ada para tetua suku Somalia di atas kapal AL AS untuk menengahi perundingan. Ia pun pergi ke sana sementara Najee mengambil alih kendali di kapal penyelamat.

Namun, sesampainya di USS Bainbridge, Muse ditangkap. Ia ternyata dibohongi. Sementara di dalam kapal penyelamat, Kapten Phillips yang sudah diikat lantas ditutup matanya dan hendak dieksekusi. Tepat pada saat itu para penembak jitu SEAL menembak mati tiga perompak tersisa. Kapten Phillips diselamatkan, sementara Muse dibawa ke AS untuk diadili dan ditahan. Ia dijatuhi hukuman 33 tahun penjara atas tindakan pembajakan dan ditahan di penjara federal Terre Haute, Indiana.

Kritik Film

Saya sulit berkata-kata kalau ditanya komentar tentang film ini. Sudut pengambilan gambar, plot cerita, dan dinamikanya membuat penonton dicekam ketegangan. Mengetahui bahwa ini kisah nyata tambah membuat ‘panik’, karena kejadian ini bisa saja menimpa kita saat sedang berlayar di laut.

Justru wajah Tom Hanks sebagai Richard Phillips yang familiar membuat saya masih ngeh ini film, bukan dokumenter, walau didasarkan kisah nyata. Justru permainan Barkhad Abdi sebagai Abduwali Muse bisa dibilang jempolan untuk seorang aktor yang belum dikenal. Tak heran ia dinominasikan sebagai aktor pemeran pendukung terbaik dalam Academy Awards (Oscar) ke-85 di tahun 2014 ini. Sebagai Muse, ia tampil amat wajar dan natural. Wajah dinginnya tampak begitu bengis.

Dukungan dari pihak berwenang, termasuk perusahaan pelayaran Maersk tampaknya maksimal. Sehingga segala detail tak perlu diragukan lagi. Keterlibatan AL AS pun terlihat bagus, dengan menunjukkan bahwa mereka sangat taat pada aturan. Meski bisa saja mereka dengan mudah mengalahkan keempat perompak itu, tapi prosedur tetap ditaati. Misalnya menarik kapal penyelamat yang membawa sandera ke perairan internasional untuk menghindari insiden diplomatik dengan Somalia. Juga kesabaran para penembak jitu SEAL menunggu saat tepat untuk menembak.

Film ini menunjukkan bahwa di dunia nyata, kejadian seburuk perompakan bisa terjadi. Dan penanganannya ternyata tidak bisa asal dar-der-dor. Film yang bagus untuk pembelajaran kehidupan terutama strategi bertahan di tengah ancaman.

 

Leave a Reply