Resensi Film-Bhayu MH

Collateral

Year : 2004 Director : Michael Mann Running Time : 120 minutes Genre : , , , , ,
Movie review score
4/5

Film ini bergenre drama-aksi-thriller-crime ini , memotret realitas kehidupan seorang supir taksi. Tentu saja, tidak menarik kalau cuma rutinitas di jalanan. Karena itulah kemudian dimasukkan karakter seorang pembunuh bayaran yang menumpang taksi tersebut.

Tom Cruise bermain apik sebagai Vincent, sang pembunuh bayaran yang sedang melaksanakan misinya di Los Angeles-California. Wajahnya yang dingin memberikan kesan profesional pada karakternya. Sementara sosok supir taksi bernama Max Durocher diperankan oleh Jamie Foxx. Ada karakter pendukung seperti Annie Farrell yang dimainkan secara efisien tapi menarik oleh Jada Pinkett Smith. Ia adalah seorang jaksa penuntut di Kementerian Keadilan Amerika Serikat (U.S. Justice Department). Perannya muncul sejak awal film, namun ternyata akan penting dan menjadi pengikat atau jangkar dari keseluruhan kejadian di seluruh film ini.

Jalan Cerita

Dikisahkan pada satu hari di bulan Januari 2004, supir taksi Max Durocher seperti biasa menjalankan rutinitasnya. Ia punya kebiasaan mengamati penumpangnya dan menebak karakter serta pekerjaan mereka terutama dari pembicaraan baik langsung dengan sesama penumpang maupun melalui telepon. Apabila terkesan ramah, ia akan menyapa dan membuka pembicaraan. Salah satunya adalah Annie Farrell, seorang jaksa pemerintah. Begitu terkesannya ia hingga Max memberikan foto pulau Maladewa yang sangat berharga baginya. Sebagai gantinya, Anie memberikan kartu namanya.

Sebelumnya, di sebuah bandar udara, seorang pria yang kemudian diketahui bernama Vincent bertukar tas dengan seorang pria (Diperankan oleh Jason Statham, yang tak muncul lagi sepanjang film. Mungkin perannya cameo saja di film ini). Ternyata, isi tas yang dipertukarkan itu adalah penugasan baginya sebagai pembunuh bayaran.

HIdup kemudian mempertemukan jalan kedua orang yang tak saling mengenal ini di persimpangan. Vincent menumpang taksi Max dan mencarternya sepanjang malam untuk mengantarkannya ke lima tujuan. Ia memberikan US$ 600, lebih banyak daripada pendapatan normal Max yang sudah termasuk setoran. Bahkan ia berjanji akan menambahkannya US$ 100 lagi bila berhasil mengantarkannya ke bandara agar tidak terlambat naik pesawat. Kepada Max, Vincent mengaku sebagai pebisnis properti.

Sekedar bercakap-cakap, Vincent mengatakan anekdot yang akan teringat kembali di penghujung film. Kalimat itu adalah betapa aneh di kota sebesar Los Angeles orang tidak saling mengenal dan tidak saling peduli satu sama lain. Bahkan ada berita sesosok mayat penumpang kereta bawah tanah meninggal di dalam kereta dan baru diketahui enam jam kemudian. Padahal, kereta itu telah bolak-balik tanpa henti menempuh rutenya dan berkali-kali pula ada orang lain duduk di sebelah mayat itu.

Max akhirnya setuju mengantarkan Vincent semalaman. Di South Union, tempat tujuan pertama, Max menunggu di mobil sambil membuka brosur mobil Mercedes S-Class yang dibawanya dalam tas. Vincent naik dan masuk ke kamar seorang pengedar obat terlarang. Dengan dingin, Vincent membunuh korban pertamanya yang kemudian diketahui bernama Ramón Ayala. Mayat Ramón jatuh terhempas dari jendela apartemennya dan sialnya tepat menimpa taksi Max yang menunggu di jalan belakang. Kejadian ini memaksa Vincent mengungkapkan jatidiri sebenarnya sebagai seorang pembunuh bayaran. Ia menodongkan pistol kepada Max dan memaksanya bekerjasama, pertama-tama dengan memasukkan mayat Ramón ke bagasi. Max hendak pergi dan menyerahkan taksinya kepada Vincent, tapi tentu saja Vincent tak memperbolehkan. Max terpaksa menuruti kemauan Vincent mengantarkannya ke target pembunuhan berikutnya.

Setelah Max dan Vincent pergi, seorang detektif mendatangi kamar Ramón Ayala yang ternyata adalah seorang informan polisi. Detektif Ray Fanning (Mark Ruffalo) terkejut mendapati kamar Ramón berantakan dengan jendela kaca pecah. Tapi ia dan tim polisi yang datang kebingungan karena tidak menemukan mayatnya walau ada ceceran darah. Fanning mengatakan Ramón  adalah informannya untuk kasus seorang bandar narkoba (narkotika dan obat terlarang) besar Felix Reyes-Torrena.

Max dan Vincent meneruskan perjalanan ke Hollywood Barat. Akan tetapi dalam perjalanan sebuah mobil patroli polisi menyetop taksi tersebut karena kaca depannya pecah. Polisi tambah curiga karena ada noda darah di sana. Max beralasan ia menabrak rusa South Central di Slauson. Vincent bersiap membunuh polisi itu bila mereka ketahuan, apalagi polisi itu bersikeras hendak memeriksa bagasi dimana ada mayat Ramón di sana.

Untunglah ada panggilan radio justru dari lokasi tempat Ramón dibunuh Vincent sebelumnya. Sehingga polisi patroli itu pun pergi bergegas untuk meresponnya. Max juga sempat ditelepon oleh atasannya Lenny yang dikabari polisi mengenai taksinya yang pecah kacanya. Vincent mengaku sebagai asisten jaksa wilayah dan mengintimidasi Lenny sehingga taksi Max tak perlu pulang cepat ke pool.

Di tempat tujuan kedua, Vincent membunuh pengacara bernama Sylvester Clarke dengan menyamar sebagai notaris. Max yang diikat dengan zip-tie di setir oleh Vincent mencoba meminta tolong pada orang yang lewat. Celakanya ia malah dirampok oleh empat pemuda. Selain merampas dompet Max, mereka juga mengambil tas Vincent yang diletakkan di jok belakang. Tepat saat mereka hendak pergi, Vincent turun hanya untuk mendapati tasnya dibawa pergi. Ia pun membunuh dua pemuda perampok itu (saya tidak tahu ke mana dua orang lainnya. Bisa jadi bloopers).

Sambil mengisi bahan bakar, Vincent memperingatkan Max untuk tidak lagi menarik perhatian orang lain atau mencoba lari. Ia lantas mengajak Max untuk menuju ke sebuah klub yang menyajikan musik jazz. Letaknya di Crenshaw, Leimert Park. Setelah beberapa saat menikmati suguhan musik jazz dan minum di sana, ternyata Vincent memang bermaksud menemui pemilik klub yang bernama Daniel Baker dan membunuhnya. Karena sempat mengobrol lebih dulu bersama Max, supir taksi itu jengkel dan panik saat Vincent membunuhnya. Apalagi Vincent membunuh Daniel setelah salah menjawab pertanyaan trivia-nya soal legenda musik jazz Miles Davis yang diceritakannya pernah datang ke klub itu di tahun 1964.

Saat Max sedang ditenangkan Vincent, Lenny kembali memanggil lewat radio. Ia menginformasikan ibu Max terus meneleponnya karena tak muncul di Rumah Sakit. Vincent memaksa Mas mengunjungi ibunya dengan ia ikut bersamanya. Di lift, mereka berjumpa detektif Fanning, tapi mereka tak saling mengenal walau Vincent sempat berbasa-basi.

Vincent diperkenalkan Max sebagai client­-nya kepada Ida, ibunya. Sikap Max yang simpatik membuat Ida mengungkapkan bahwa Max memiliki perusahaan limosinnya sendiri. Padahal, itu masih impian dan belum terwujud. Karena malu, Max pun pergi dan lari membawa kabur tas Vincent. Karena pekerjaannya ada di sana, Vincent mengejarnya. Sial. Max keburu membuang tas itu dari atas jembatan penyeberangan dan jatuh ke jalan raya, membuat isinya berantakan dan terutama tabletnya hancur berkeping-keping.

Vincent marah. Ia memaksa Max untuk menemui Felix Reyes-Torrena di El Rodeo di Washington Boulevard-Pico Rivera. Dengan menyamar sebagai dirinya, Vincent menyuruh Max meminta file daftar korban berikutnya di flash disk. Sementara itu, di kamar mayat Sister of Charity, detektif Fanning dilapori oleh petugas koroner terdapat tiga mayat korban penembakan malam itu. Dan semuanya berpola luka tembak yang sama. Ia menduga pelakunya sama, dan memang semua korban Vincent walau polisi belum mengetahuinya. Fanning terkejut begitu mengetahui salah satunya adalah Sylvester Clarke, pengacara kriminal yang jadi kriminal. Ia menduga kematian mereka kemungkinan berhubungan dengan persidangan Felix keesokan harinya, karena Clarke adalah saksi kuncinya. Ia menelepon rekannya detektif Richard Weidner dan memperingatkan mengenai hal ini.

FBI mengawasi tempat Felix melalui CCTV. Detektif Fanning datang bersama rekannya Weidner ke stasiun pengintaian. Di sana, mereka melihat ada taksi yang atapnya hancur berantakan.Mereka juga mendapatkan kabar ditemukannya mayat Daniel. Fanning makin sadar itu adalah tiga saksi kunci untuk kasus Felix, minus Ramón yang mayatnya belum ditemukan tapi diduga telah tewas. Mereka menganalisa rekaman kedatangan Max dan menduga diala sang pembunuh bayaran bernama Vincent.

Setelah Max berhasil mengelabui Felix Reyes-Torrena, Vincent menggunakan komputer di taksi Max untuk membaca file dalam flash disk. Dari data, mereka menuju ke sasaran berikutnya di sebuah klub malam bernama Fever di Alexandria. Namanya Peter Lim, seorang gangster asal Korea Selatan.

Polisi dan FBI dikerahkan ke klub malam Fever tempat Lim berada. Karena adanya video itu, polisi keliru menyergap Max karena menduganya sebagai sang pembunuh bayaran. Vincent terlibat baku-tembak dan perkelahian. Walau ia sempat disergap, tapi kemudian berhasil membunuh Lim serta para pengawalnya.

Fanning mengamankan Max keluar klub, tapi kemudian Vincent keluar dan membunuh sang detektif. Mereka berdua bertengkar soal makna hidup hingga membuat Max kesal dan menabrakkan taksinya ke beton pembatas jalan. Vincent keluar dari mobil dan meneruskan misinya dengan berjalan kaki. Tak lama kemudian polisi tiba dan menemukan ada mayat di bagasi taksi Max. Polisi menangkap Max, tepat saat itu Max melihat ada profil Anniee di di file Vincent yang terbuka. Ia menyadari penumpang taksi yang dikenalnya di awal film ini adalah target berikutnya. Max pun melawan polisi dan merampas pistolnya demi menyelamatkan Annie.

Di jalan, ia merampas handphone seorang pejalan kaki dan berbekal kartu nama Annie, Max  mecoba menelepon Annie untuk memperingatkannya. Annie masih bekerja di kantor hingga larut. Semula Annie menganggap Max hanya menggodanya, tapi baru percaya saat Max menyebut nama Felix. Saat Max dan Annie masih di saluran telepon, Vincent masuk ke ruang kerjanya. Beruntung Annie sedang berada di perpustakaan. Max yang berada di bawah dari gedung lain melihat posisi Annie dan Vincent. Sayang baterai telepon genggam Max habis, sehingga Max pun berusaha menuju ke gedung tempat Annie bekerja. Sementara ia berpacu dengan waktu, Vincent memburu Annie. Ia memutuskan listrik dari gardu induknya sehingga lantai tempat Annie berada gelap.

Max terlibat baku tembak dengan Vincent. Meskipun sulit, akhirnya ia berhasil menembak Vincent dan menyelamatkan Annie. Vincent yang hanya terluka tidak menyerah. Ia terus mengejar keduanya hingga ke stasiun kereta bawah tanah. Max dan Annie menaiki kereta, tapi segera Vincent bisa menyusul. Di dalam kereta, mereka terjebak karena Vincent dengan ketat mengawasi setiap kali kereta berhenti untuk mencegah keduanya turun.

Pada akhirnya, Vincent dan Max terlibat baku-tembak jarak dekat. Peluru pistol keduanya habis, lalu mereka duduk saling berhadapan. Dalam pembicaraan basa-basi, Vincent mengatakan satu kalimat retoris yang ironis, “ada pria naik MTA dan mati, menurutmu ada yang perhatikan?” Sehabis mengatakan itu, Vincent tewas karena luka-lukanya dalam kondisi terduduk di dalam kereta. Max dan Annie turun di stasiun berikutnya, sementara mayat Vincent terus terbawa kereta.

Kritik Film

Bagi saya pribadi, film ‘dalem banget.’ Ada banyak pelajaran hidup di sana. Mulai dari semangat untuk meraih berjuang meraih hidup yang lebih baik hingga mempertahankan diri serta menyelamatkan nyawa orang lain. Naskah skenario film ini ditulis oleh Stuart Beattie, yang berdasarkan pengalamannya saat menumpang taksi di usia 17 tahun, lantas menulis cerita fiksi tentangnya. Ia membayangkan bila ada seorang pembunuh bayaran menumpang taksi tanpa disadari sama sekali oleh supirnya. Naskah awal berjudul “The Last Domino” itu kemudian dikembangkannya menjadi naskah film. Tentu saja, naskah filmnya berbeda dengan naskah awal itu. Filmnya sendiri semula dikembangkan untuk memenuhi permintaan proyek pembuatan film berbiaya rendah guna ditayangkan di stasiun televisi kabel HBO. Namun, ternyata saat dilayarlebarkan juga mendapatkan sambutan baik. Dengan biaya produksi US$ 100 juta, film ini meraup pendapatan US$ 300 juta lebih.

Kelemahan logika ada sedikit, terutama standar film Hollywood yang seolah menggampangkan penggunaan senjata. Seorang supir taksi yang tak pernah memegang pistol seumur hidupnya bisa menembakkan pistol dengan mudah adalah satu hal yang aneh. Terlebih lagi ia bisa melukai bahkan membunuh seorang pembunuh bayaran terlatih. Demikian pula pasukan gabungan polisi dan FBI yang dengan cepat tiba di klub malam Lim, tapi sama sekali tidak terlihat di kantor Annie. Padahal, standar operasinya bila memang polisi dan FBI sudah tahu ada saksi pengadilan yang terancam, mereka mengirimkan pasukan sekaligus ke semua tempat saksi yang tersisa dan mengamankannya.

Walau begitu, kelemahan itu tidak menutup keasyikan mengikuti jalan cerita. Tidak tertebak dan membuat penasaran hingga akhir. Memberikan sensasi tersendiri khas film thriller-suspense. Pastinya, membuat kita thinking something about life setelah menyaksikannya.

Leave a Reply