Resensi Film-Bhayu MH

Conviction

Year : 2010 Director : Tony Goldwyn Running Time : 107 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
3/5

Film ini merupakan penggambaran ulang dari kisah nyata perjuangan seorang wanita bernama Betty Anne Waters untuk membebaskan kakak kandungnya, Kenneth Waters yang akrab dipanggil Kenny. Ia didakwa melakukan pembunuhan berencana (di Amerika Serikat disebut pembunuhan tingkat satu) terhadap Katharina Brow di kota Ayer, negara bagian Massachusetts. Pengadilan memutuskan ia bersalah pada tahun 1983, setelah pernah ditangkap pada tahun 1980 dan dilepaskan karena kurangnya bukti. Adanya pengakuan dari tiga orang saksi yaitu mantan istrinya Brenda, mantan pacarnya Roseanna serta petugas polisi Sersan Nancy Taylor membuat Kenny kembali ditangkap. Pada tahun 1982, ia dijatuhi hukuman seumur hidup tanpa peluang pembebasan bersyarat. Yakin adiknya tidak bersalah, Betty Anne berusaha membebaskannya. Karena tak ada pengacara yang mau membantu, ia sendiri akhirnya memutuskan untuk kuliah hukum.

Tiga tahun kemudian, Betty Anne menikah dan tinggal bersama suaminya Rick. Mereka dikaruniai dua putra yaitu Richard dan Ben. Satu saat ia gelisah karena Kenny yang biasanya rajin meneleponnya tiap minggu tiba-tiba absen. Ketika ia mengeceknya, ternyata Kenny melakukan percobaan bunuh diri di penjara. Betty Anne yang sempat mengabaikan kuliahnya memutuskan untuk melanjutkannya. Suaminya tidak mendukung dan mereka akhirnya bercerai.

Sempat ada penggambaran kilas-balik saat pengadilan Kenny berlangsung. Di saat itu dihadirkan ibu mereka, yang ternyata bukan wanita baik-baik. Ia memiliki sembilan anak dari tujuh pria yang berbeda, dan semuanya dibiarkan tumbuh tanpa kelayakan. Karena itulah Kenny dan Betty Anne sangat dekat dan saling mendukung satu sama lain.

Karena itulah Betty Anne berjuang keras berkuliah hukum di  Roger Williams University di Rhode Island sambil bekerja di bar. Tujuannya adalah agar setelah lulus, ia bisa menjadi pengacara bagi adiknya sendiri. Moralnya jatuh dan kembali berhenti kuliah, hingga seorang teman kuliahnya Abra Rice yang juga sudah tua datang ke rumah dan menyemangatinya.

Di kelompok belajarnya, Betty Anne mengetahui satu fakta baru. Saat itu ada sebuah metode ditemukan di bidang kedokteran yang bisa berguna bagi pembuktian satu kasus kejahatan terutama pembunuhan. Metode itu adalah penelitian DNA (Deoxyribo Nucleid Acid), merupakan satu kode genetik yang unik pada manusia. Dan sama seperti sidik jari, tak ada DNA manusia yang sama satu sama lainnya.

Setelah lulus dan mendapatkan izin sebagai pengacara, Betty Anne makin bersemangat. Ia pun mencari kembali bukti (novum) baru dan menggali kembali kasus tersebut. Ia menghubungi Barry Scheck dari “Innocence Project”, pengacara yang bertujuan membantu orang-orang yang salah dakwa dan dihukum atas kesalahan yang bukan merupakan perbuatannya.

Semula ia mendapatkan kesulitan, karena petugas polisi tidak mau membantunya. Untunglah ia kemudian dibantu seorang letnan yang simpati. Ketika diadili dahulu, golongan darah Kenny dinyatakan sama dengan golongan darah si pembunuh. Hanya saja, ketika itu tes DNA belum ada.

Saat mencari bukti itulah, ia mendapatkan informasi bahwa Sersan Nancy Taylor dipecat dari dinas aktif kepolisian karena merekayasa barang bukti dalam suatu kasus hukum. Fakta ini membuat Betty Anne makin yakin pada kecurigaannya terhadap kesaksian dan bukti yang dihadirkan dalam pengadilan kasus Kenny.

Mereka sempat dipersulit termasuk oleh laboratorium yang lama mengeluarkan hasilnya. Akhirnya hasil tes DNA keluar, memastikan bahwa darah pembunuh yang ada di TKP (Tempat Kejadian Perkara) bukanlah darah Kenny.Dengan novum baru tersebut, Betty Anne membuka kembali kasus dan meminta Kenny dibebaskan. Ia memberitahu Kenny di penjara tentang hal itu dan adiknya gembira karena setelah 16 tahun ditahan, ia berpotensi dibebaskan.

Akan tetapi, Kantor Jaksa Wilayah yang dipimpin Martha Coakley menolak pembuktian itu. mereka mengatakan bahwa masih ada cukup bukti untuk menahan Kenny. Frustrasi, Kenny mengatakan bahwa otoritas hukum akan menemukan cara untuk tetap menahannya daripada mengakui bahwa pengadilan dan pemidanaan dirinya cacat dan salah. Betty Anne pun kecewa tapi menolak kalah.

Betty Anne ditemani Abra Rice dan Barry Scheck kemudian mengunjungi dua saksi kunci kasus itu: mantan istri dan bekas pacar Kenny. Dengan berlinang air mata, keduanya mengakui kalau dahulu mereka disuruh oleh Sersan Nancy Taylor untuk bekerjasama. Sebagai orang yang menangkap Kenny, sang polisi merekayasa kesaksian agar mendapatkan hasil. Didesak oleh anaknya Mandy yang terkejut pada dusta ibunya, Brenda mantan istri Kenny akhirnya menandatangani surat pengakuan (affidavit). Dengan bekal surat pengakuan dua saksi kunci dan bukti tes DNA itulah kembali mereka mengajukan pembukaan kembali kasus sekaligus pembatalannya.

Dalam sidang pengadilan, Kenny akhirnya dibebaskan dan direhabilitasi. Mandy yang semuila mengira ayahnya pembunuh sehingga menolak dihubungi Betty Anne akhirnya mengubah sikapnya. Ia malah membenci ibunya yang telah berdusta.

Dalam epilog dinarasikan bahwa Betty Anne berhasil memenangkan tuntutan melawan Kota Ayer atas salah dakwaan kepada Kenny. Akan tetapi, bekas Sersan Nancy Taylor tetap tak bisa dituntut karena hukum negara bagian Massachusetts melindunginya. Disebutkan pula bahwa pembunuh asli Katharina Brow tak pernah terungkap. Sebelum credit title, sempat ditampilkan pula sosok foto asli Kenny dan Betty Anne Waters saat konferensi pers.

Kritik Film

Sebenarnya, secara ide cerita, film ini kuat. Hanya mungkin eksekusi naskah dan pemilihan pemain kurang memadai. Akibatnya, film jadi terasa datar dan kurang menggigit. Suasana kebatinan dan pergulatan emosional Betty Anne dan terlebih Kenny kurang digali. Film ini jadi terasa seperti semi-dokumenter yang sekedar mereka ulang kejadian nyata saja.

Memang, untuk ukuran film buatan tahun 2010, terasa film ini seperti ‘jadul banget’, penonton seakan dipaksa maklum bahwa setting waktu film di dekade 1980-an ya ‘memang begitu itu adanya’. Padahal, kalau mau bisa saja film dibuat seperti Collateral (2004). Walau fiksi, tapi film ini menggambarkan kehidupan sehari-hari secara bagus. Bagi orang Indonesia penggemar film, nuansanya terasa seperti film-film yang kerap diputar di JIFFEST.

Pasar pun berpendapat negatif. Dengan biaya produk 12,5 juta dollar AS, film ini hanya meraup pendapatan 9,7 dollar AS saja.

Namun, di luar sisi filmografi, saya sangat terkesan dengan perjuangan Betty Anne Waters yang menjadi ide film ini. Inspiratif dan memberikan semangat hidup bahwa kebenaran harus diperjuangkan tanpa kenal lelah bagaimanapun caranya.

Leave a Reply