Resensi Film-Bhayu MH

Crossing Over

Year : 2009 Director : Wayne Kramer Running Time : 113 mins. Genre : , , , , , ,
Movie review score
3/5

Jangan nonton film ini kalau Anda penyuka film bernuansa khayali seperti action dengan full tembak-tembakan, science fiction atau malah drama penuh mimpi ideal. Namun Anda harus nonton film ini bila menyukai film ala JIFFEST atau yang bernuansa perenungan. Film ini menggunakan teknik penggabungan adegan terpisah menjadi saling terkait. Artinya, ada sejumlah tokoh dengan detail aktivitas pribadi masing-masing yang ternyata kemudian saling terkait satu sama lain. Kalau Anda ingat Crash (2004) yang memenangkan 3 piala Academy Awards alias Oscar di tahun 2006, maka film itu mengambil alur penceritaan mirip dengannya.

Film yang karakter peran utamanya dimainkan oleh Harrison Ford, Ray Liotta, Jim Sturgess dan Ashley Judd ini sangat sarat dengan penggambaran realitas kehidupan di Amerika Serikat dan Mexico. Amrik yang digambarkan bukanlah Amrik yang gemerlap dan glamour semata, melainkan sisi kumuh dan suck-nya. Cerita utama berkisar pada Max Brogan, seorang agen khusus satuan ICE (Immigration and Customs Enforcement). Ini adalah satuan penegak hukum atau polisi khusus yang berada di bawah U.S. Department of Homeland Security atau Departemen Keamanan Dalam Negeri. Dibentuk pada tahun 2003 dilandasi oleh Undang-Undang the Homeland Security Act 2002. Sebelum ada UU ini, fungsi yang kini diemban ICE dipikul oleh berbagai lembaga seperti US Customs Service, INS (Immigration and Naturalization Service), dan Federal Protective Service .

Dalam film ini, Max Brogan yang diperankan Harrison Ford merupakan karakter seorang penegak hukum yang penuh rasa kemanusiaan. Ia kerap memberi pengampunan dan pembebasan bagi imigran gelap yang tertangkap dengan alasan kemanusiaan. Cerita keseluruhannya agak rumit untuk dituliskan. Yang jelas, berbagai kisah dalam film ini terkait dengan upaya perjuangan para tokohnya untuk resmi diterima sebagai warga negara Amerika Serikat. Tugas ICE di bidang imigrasi ditegakkan dengan menertibkan imigran gelap dan upaya penerobosan perbatasan A.S. Ternyata, upaya untuk menjadi W.N. A.S. kerap ditebus tidak hanya dengan harta yang cukup banyak, bahkan juga nyawa.

Kekasih saya bilang ia agak muak saat menyaksikan adegan pengucapan sumpah “warga negara” baru A.S. yang baru saja mendapatkan “Green Card”. Karena kesannya memang jadi W.N. Amrik itu begitu mulianya. Nilai-nilai keunggulan A.S. sebagai negara adidaya tampak begitu mengemuka. Saya juga muak sih melihat ultra-nasionalisme yang dipertontonkan, namun saya rasa saya pun akan begitu kalau saya orang A.S. Karena sebagai orang Indonesia pun saya begitu nasionalis terutama saat berhadapan dengan negara lain yang mengambil sikap permusuhan atau menyakiti harkat dan harga diri bangsa.

Di sini, sikap nasionalisme para petugas yang menjalankan hukum bisa berakibat fatal bahkan konyol. Seperti kasus yang menimpa salah satu karakter bernama Taslima. Saat diminta menulis sebagai tugas di kelas SMA-nya, Taslima yang muslim keturunan India-Pakistan menyatakan “bisa mengerti” pandangan para pembajak pesawat dalam Tragedi 11 September 2001 (9/11). Namun, dengan segera ia dituding berpotensi sebagai teroris. Bahkan beberapa kali postingnya dalam situs muslim dan bicara soal jihad dituding pro-pandangan terorisme, juga tulisannya terkait tugas sekolah tentang bunuh diri disebut berpretensi menjadikan dirinya sebagai “pengantin” alias pelaku bom bunuh diri. Maka, oleh FBI ia pun harus dideportasi ke negara asal orangtuanya yang bahkan tidak dikenalnya lagi karena sejak balita ia sudah tinggal di A.S. Adegan perpisahan Taslima dengan keluarganya di bandara berpotensi membuat mata penonton basah karena menangis. (spoiler alert!)

Banyak pelajaran dari film ini. Tentang bagaimana manusia mempertahankan hidupnya dan berusaha meningkatkan taraf kehidupannya, dunia yang tidak hitam-putih melainkan penuh gradasi warna, hukum keras yang saat ditegakkan terkadang jadi konyol seperti harus memisahkan suami dari istri atau anak dari orangtuanya, dan tentu saja nilai-nilai kemanusiaan yang di sini diwakili karakter Max Brogan. Sangat menyentuh bagi Anda yang punya kepedulian sosial. Akan tetapi membosankan bagi Anda yang merasa hidup Anda ada di atap dunia dan yakin tak akan pernah merasakan problematik seperti karakter dalam film ini. Jadi, nonton atau tidak, terserah Anda saja!

Resensi ini semula dimuat di blog harian LIFESCHOOL pada 23 Agustus 2009

Leave a Reply