Resensi Film-Bhayu MH

Die Hard

Year : 1988 Director : John McTiernan Running Time : 132 minutes Genre : , , ,
Movie review score
3/5

Jalan Cerita

Di malam Natal, petugas New York Police Department (NYPD) bernama John McClane tiba di Los Angeles untuk upaya rekonsiliasi dengan istrinya yang sudah berpisah, Holly. MClane dibawa ke Nakatomi Plaza untuk sebuah pesta Natal perusahaan oleh Argyle. Saat McClane berganti pakaian, pesta digangung oleh kedatangan Hans Gruber dan kelompok teroris bersenjata berat: Karl, Franco, Tony, Teo, Alexander, Marco, Kristoff, Eddie, Uli, Heinrich, Fritz, dan James. Mereka mengambil alih gedung dan menyandera semua orang di dalamnya. McClane berhasil menghindar dan bersembunyi, walau cuma bersenjata pistol standar patroli polisi.

Gruber menyasar Joseph Takagi, pimpinan Nakatomi dan mengatakan akan memberinya pelajaran atas keserakahan perusahaannya. Terpisah dari sandera lain, Gruber menginterogasi Takagi dan meminta kode untuk membuka ruang penyimpanan benda berharga. Ia mengungkapkan bahwa aksi terorisme mereka cuma pengalihan dari upaya pencurian US$ 640 juta dalam bentuk surat berharga di dalam ruang penyimpanan gedung. Takagi menolak bekerjasama dan dibunuh oleh Gruber.

Tanpa sengaja, McClane memperlihatkan diri dan dikejar oleh Tony. Dengan keahliannya, McClane malah berhasil membunuh pengejarnya. Ia mengambil alih senjata dan radio komunikasinya. Dengan radio itu, ia mengontak Los Angeles Police Department (LAPD). Sersan Al Powell diperintahkan menyelidiki. Gruber menyadari adanya seseorang yang membahayakan rencananya di dalam gedung. Maka ia mengirim dua orang anak buahnya Heinrich dan Marco, tetapi keduanya dapat dibunuh McClane. Gruber mengelabui Powell yang masuk untuk mengecek gedung dengan menempatkan anak buahnya berseragam penjaga. Karena tidak mendapati sesuatu yang mencurigakan, Powell pun keluar gedung dengan tangan kosong.

McClane yang tahu siasat Gruber, lantas menjatuhkan mayat Marco ke atas mobil Powell. Ini langsung membuat LAPD percaya pada peringatan McClane sebelumnya, walau sempat meragukan. LAPD langsung mengepung gedung. Dengan membawa tas milik Heinrich berisi bom C-4 dan detonatornya, McClane kembali bersembunyi.

Tim SWAT LAPD menyerbu dengan menggunakan mobil lapis baja M8 Greyhound yang tidak dipersenjatai. Tetapi serangan itu telah dapat diduga sehingga Gruber mengirim James dan Alexander untuk mencegat. Kedua orang teroris itu meledakkan mobil SWAT dan membunuh seluruh anggotanya dengan roket. Melihat hal itu, McClane menggunakan C-4 untuk meledakkan lantai gedung yang dikuasai James dan Alexander hingga keduanya tewas.

Rekan kerja Holly bernama Harry Ellis berupaya melakukan mediasi antara Hans dan McClane untuk mengembalikan detonator. McClane menolak mengembalikannya, sehingga Gruber mengeksekusi Ellis. KEtika mengecek bom yang ditanam di atap, Gruber langsung berhadapan dengan McClane. Karena McClane tidak melihat seperti apa rupa Gruber sebelumnya, Gruber berpura-pura sebagai sandera yang melarikan diri. McClane malah memberinya pistol. Dengan pistol itu ia berupaya menembak McClane. Tetapi sang polisi cerdik, pistol itu tak ada pelurunya. Sebelum McClane sempat berbuat apa-apa, datanglah Karl, Franco, dan Fritz. Mereka bertarung dengan hasil Fritz dan Franco terbunuh, tetapi McClane terdesak dan terpaksa kabur, meninggalkan detonatornya.

Di luar gedung, tim FBI tiba dan mengambil-alih kendali atas situasi pengepungan polisi. Mereka memerintahkan aliran listrik ke dalam gedung diputus. Hal ini menyebabkan ruang penyimpanan terkunci. Gruber menuntut helikopter mendarat di atap sebagai alat transportasi. Ia bermaksud meledakkan bom di atap untuk membunuh sandera sekaligus memalsukan kematian dirinya dan tim penjahat. Dalam upaya pencarian, Karl menemukan McClane dan mereka berdua bertarung.

Di saat bersamaan, Gruber melihat di televisi laporan dari Richart Thomburg tentang anak McClane. Dari tayangan itu, ia sadar bahwa McClane adalah suami Holly. Sehingga ketika para sandera diperintahkan ke atap, Gruber membawa Holly untuk digunakan sebagai pengancam bagi McClane. Karl dapat dikalahkan McClane dan ia pun menuju kea tap. Di sana ia membunuh Uli dan meminta para sandera kembali ke bawah sebelum bom di atap meledak. Ketika akhirnya meledak, atap hancur berikut helikopter FBI.

Tinggal sedikit tim penjahat yang tersisa karena dibunuh McClane. Theo lantas pergi ke garasi parkir berupaya mengambil mobil untuk kabur. Tetapi Argyle berhasil membuatnya pingsan. McClane sadar istrinya Holly dijadikan tameng oleh Gruber. Ia pun memburu mereka dan memukul jatuh Kristoff. Ketika sudah berhadapan, McClane menyerahkan senapan mesin yang dirampasnya dari anak buah Gruber untuk menyelamatkan Holly. Tetapi ia membuat Gruber dan Eddie bingung karena tertawa. Saat keduanya lengah, McClane meraih pistol yang dilakban di punggungnya. Ia berhasil menembak Gruber di bahu dan membunuh Eddie. Gruber yang terluka terjatuh ke jendela dan berpegangan pada jam tangan Holly. McClane melepaskan jam tangan istrinya itu dan membiarkan Gruber jatuh terhempas ke jalanan di bawahnya.

Setelah turun dari gedung, McClane dan Holly dibawa dari gedung dan bertemu Powell. Karl muncul dari dalam gedung menyaru sebagai sandera dan masih berupaya menembak McClane. Tetapi ia dapat dilumpuhkan Powell. Argyle meloloskan diri dari garasi parkiran dengan menabrakkan limousine ke pintunya. Thornburg tiba dan berusaha mewawancara McClane, tetapi dipukul oleh Holly. Argyle kemudian membawa pergi McClane dan Holly dengan limousine yang dikendarainya.

Kritik Film

Menyaksikan film ini melalui cakram padat, saya harus membawa diri kembali ke tahun 1980-an saat film ini diluncurkan. Waktu itu, teknologi CGI masih sangat awal, malah bisa dibilang belum ada. Maka, trik yang bisa dilakukan untuk memanipulasi gambar pun terbatas.

Oleh karena itu, berbagai adegan action dan laga di film ini hampir pasti dilakukan dengan cara tradisional: menggunakan stunt-man. Efek ledakan atau tabrakan pun paling bagus menggunakan miniatur.

Mengingat itu semua, film ini bisa dibilang bagus di masanya. Bruce Willis bermain total sebagai John McClane. Dan memang film ini merupakan salah satu serial franchise film andalannya. Karakter John McClane tidak bisa tidak harus diperankan oleh Bruce Willis, seperti halnya karakter Terminator bagi Arnold Schwarzenegger.

Apa pun, film ini adalah salah satu pelopor dalam genre action hard-liner yang menabalkan aksi baku-tembak diramu baku-hantam seru. Kalau di era sekarang, kita bisa melihat pola ini misalnya di The Raid (2012) Tentu saja bukan hanya Bruce Willis yang harus bekerja keras, tetapi terutama stunt-man dan tim special effect-nya.

Jalinan ceritanya juga kuat dan menimbulkan rasa penasaran. Walau berpola “jagoan pasti menang”, tetapi “cara”-nya yang membuat penonton betah mengikuti hingga akhir. Tetapi justru ini di beberapa adegan (scene) juga menampakkan kelemahan logika. Misalnya bagaimana kelompok teroris bisa dengan mudah mengalahkan tim SWAT LAPD yang sebenarnya merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Tetapi di sisi lain, segerombolan pasukan bersenjata itu malah kalah oleh “alone hero”, yaitu John McClane yang beraksi sendirian.

Toh, seperti saya bilang di awal, film ini termasuk yang “memorable” di masanya. Saya saja masih ingat kok rasanya pertama kali menyaksikan film ini. Penuh “ooh” dan “aah” kekaguman. Disertai keasyikan membayangkan diri sebagai sosok jagoan tak terkalahkan pastinya.

Leave a Reply