Resensi Film-Bhayu MH

Die Hard 2 (Die Harder)

Year : 1990 Director : Renny Harlin Running Time : 124 minutes Genre : , , ,
Movie review score
2/5

Jalan Cerita

Pada malam Natal, dua tahun setelah Insiden di Menara Nakatomi (Nakatomi Plaza) yang dikisahkan di sekuel film pertamanya, John McClane menunggu di Washington Dulles International Airport . Rencananya, sang istri Holly akan tiba dari Los Angeles-California. Reporter Richard Thomburg yang telah menginformasikan identitas Holly kepada Hans Gruber, ditempatkan di bangku dekat wanita itu di pesawat. Ketika menunggu di bar bandara, McClane mendapati dua orang pria dengan pakaian kamuflase militer membawa dua paket. Salah satunya bahkan bersenjata laras panjang.

Karena curiga, naluri polisinya muncul. Ia mengikuti keduanya ke area bagasi. Di sana, keduanya sadar pada penguntitan McClane dan membuka tembakan. McClane meladeni hingga ia membunuh salah satu di antaranya. Ia sadar bahwa kedua orang itu pembunuh bayaran yang sedang merencanakan sesuatu yang besar. Ia menginformasikan kecurigaan itu kepada Polisi Khusus Bandara Kapten Carmine Lorenzo. Sayangnya, ia tidak percaya dan McClane malah diusir dari kantornya.

Mendadak, terjadi serangan dari sepasukan teroris terhadap sebuah gereja dekat bandara Dulles. Dipimpin oleh bekas anggoa Pasukan Khusus A.D. A.S. (U.S. Army Special Forces) Kolonel Stuart, mereka kemudian mengambil alih sistem ATC (Air Traffic Control), memutus komunikasi dengan pesawat dan menguasai bandara. Tujuannya adalah untuk membebaskan Jenderal Ramon Esperanza, diktator Val Verde dan raja obat terlarang. Ia akan dibawa ke A.S. untuk diadili. Pasukan itu menuntut disediakannya pesawat Boeing 747 sebagai wahana mereka melarikan diri ke luar negeri.

Mempelajari situasi ini, McClane menyadari bahwa istrinya ada di salah satu pesawat yang terbang di atas Washington D.C. dan hanya punya bahan bakar sedikit untuk dialihkan. Dan jelas akan jatuh apabila teroris tetap mengontrol bandara. Ia bersiap untuk melawan teroris, bekerjasama dengan seorang tenaga pembersih toilet bernama Marvin, guna mendapatkan jalan masuk lebih baik ke bandara.

Direktur Komunikasi Bandara Dulles, Leslie Barnes, langsung menuju ke bangunan Annex Skywalk yang belum jadi bersama tim SWAT. Anak buah Stuart yang menyaamar sebagai pegawai Bandara, menyerang dan membunuh tim SWAT.

Sementara itu, dengan bantuan Marvin, McClane mencapai lokasi pembantaian melalui saluran udara. Ia kembali terlibat baku-tembak dan menyelamatkan Barnes serta membunuh anak buah Stuart. Menyadari satu per satu orang-orangnya tewas, Stuart berusaha mengkalibrasi perlengkapan pendaratan pesawat dan berpura-pura sebagai petugas ATC. Ia hendak menjatuhkan jet berisikan 230 orang penumpang dan awak pesawat.

Menghadapi kondisi itu, Pasukan Khusus Amerika Serikat dipanggil, dipimpin oleh Mayor Grant. Radio dua-arah yang terjatuh dari anak buah Stuart memberikan petunjuk bahwa Esperanza telah mendarat. McClane yang masih dibantu oleh Marvin berupaya mendahului, sayangnya ia malah terjebak di dalam pesawat pengangkut. Ia harus meloloskan diri sebelum granat yang dilemparkan Stuart meledak.

Barnes membantu McClane mengenai lokasi persembunyian tentara bayaran dan memerintahkan Grant dan pasukannya agar menyerbu. Tetapi para tentara bayaran berhasil melarikan diri dengan mobil salju saat baku tembak antara tim Grant dan komplotan Stuart. McClane mengejar mereka dan berhasil merebut mobil salju. Tetapi saat ia menembakkan senjata, ternyata pelurunya kosong sehingga mobil saljunya diledakkan Stuart tanpa perlawanan berarti dari McClane. Saat itulah McClane sadar bahwa pasukan tentara bayaran dan pasukan khusus ternyata bekerjasama.

Segera McClane meminta Lorenzo agar mengirim petugas guna menahan Boeing 747 agar tidak tinggal landas. Ia membuktikan kecurigaannya dengan menembakkan senjata berpeluru kosong kepada Lorenzo. Thornburg memonitor percakapan di ATC, dan ia tahu ada rencana rahasia dari Barnes. Dengan sengaja ia mengunci diri di kamar mandi pesawat dan menginformasikan apa yang terjadi di Bandara Dulles kepada khalayak ramai. Hal itu menimbulkan kepanikan dan menyulitkan pasukan untuk menyerbu pesawat. Holly mengetahui Thornberg melaporkan langsung dari dalam pesawat. Ia pun kemudian mencarinya di kamar mandi dan menyengatnya dengan taser.

McClane menumpang helikopter berita yang menurunkannya di sayap kiri pesawat tentara bayaran. Dengan jaketnya, ia menutup saluran udara pesawat sehingga tidak bisa tinggal landas. Grant muncul dan berkelahi dengan McClane, tetapi malah tersedot masuk ke mesin jet dan tewas. McClane harus kembali berkelahi menghadapi Stuart yang muncul berikutnya. Meski McClane berhasil dipukul jatuh, tetapi ia sebelumnya membuka tutup tanki bahan bakar pesawat. Ketika pesawat tinggal landas, jejak bahan bakar yang tercecer hingga landasan disulut oleh McClane menggunakan korek api gas. Semua teroris tewas di dalamnya. Sementara pesawat yang ditumpangi Holly menggunakan landasan yang diterangi api sisa membakar pesawat teroris untuk panduan mendarat. Akhirnya, McClane dan Holly pun kembali bertemu dan bersatu.

Kritik Film

Entah kenapa, kisah di serial film ini selalu bermula di Malam Natal. Padahal, peluncuran tayang perdananya pada bulan Juli. Sekuel pertamanya pun begitu (baca di sini).

Ah, tapi sudahlah, mari kita cermati filmnya. Secara umum, film ini asyik dinikmati bagi pecinta film action. Adegan aksi laga dan baku-tembaknya seru. Walau bagi saya, agak kurang memberikan “hal baru” dan “kejutan” seperti di film pertamanya.

Walau begitu, adegan action-nya tetap menarik disaksikan, Tetapi harus diingat, dengan pola “jagoan pasti menang” unsur logika agak dikesampingkan. Mulai dari mudahnya kelompok teroris mengambil alih bandara, hingga kemudian mereka bisa membunuh tim SWAT segala. Tetapi tentu saja “alone superhero” yang merupakan sosok McClane adalah sumber dari semua ketidaklogisan. Bagaimana bisa seorang polisi biasa mengalahkan tim teroris yang dipimpin mantan anggota pasukan khusus?

Tetapi bagi saya, yang justru lebih tidak masuk akal adalah bagaimana mungkin anggota U.S. Army Special Forces yang disebut-sebut salah satu pasukan elite terbaik di dunia bisa berkhianat? Mereka disumpah setia bukan saja kepada negara dan korpsnya, tetapi juga kepada nilai-nilai kebenaran. Uang tidaklah menarik bagi mereka. Bahkan meskipun sudah pensiun atau purnawira. Karena itu, justru penyebutan pasukan penjahat sebagai mantan anggota pasukan elite A.D. A.S. ini membuat saya kurang nyaman. Sebab, banyak cara mendapatkan uang selain menjadi teroris. Di dunia nyata, kemampuan mereka dihargai tinggi oleh kontraktor militer sehingga mereka biasanya menjadi tentara bayaran. Tugas mereka antara lain menjaga fasilitas atau obyek vital bernilai tinggi milik perusahaan A.S. di luar negeri. Walau pada akhirnya John Mc.Clane mengalahkan pasukan teroris penyandera justru dengan bantuan pasukan U.S. Army Special Forces yang aktif, tetap saja bagi saya itu mencederai integritas korps tersebut.

Biar bagaimana, sebaiknya memang tidak usah dengan kening berkerenyit saat menyaksikan film ini. Karena tujuan utama dari film adalah memberikan hiburan. Dan saya rasa, di era-nya, film ini berhasil mencapai tujuan itu. Bahkan, film ini masih tetap enak dinikmati hingga sekarang, 2 dekade berikutnya.

Leave a Reply