Resensi Film-Bhayu MH

Die Hard with a Vengeance

Year : 1995 Director : John McTiernan Running Time : 131 minutes Genre : , , ,
Movie review score
3/5

Jalan Cerita

Di kota New York, sebuah bom meledak menghancurkan pusat perbelanjaan Bonwit Teller. Seorang lelaki yang menyebut dirinya bernama “Simon” menelepon Inspektur Polisi Walter Cobb. Sang inspektur menangani Unit Kasus Besar di New York city Police Department (NYPD). Simon mengatakan kalau ia bertanggung-jawab atas bom yang meledak itu. Tetapi untuk selanjutnya, ia mau agar Letnan John McClane yang tengah diskors mengenakan papan iklan di tubuhnya. Masalahnya, ia ingin sang letnan berkulit putih itu memakainya di Harlem yang merupakan kawasan kulit hitam. Dan papannya juga bertuliskan provokatif: “I hate niggers” atau “Saya benci orang kulit hitam”.

Seorang pemilik toko di Harlem bernama Zeus Carver yang simpati berupaya menyelamatkan McClane. Tetapi sekelompok pemuda berkulit hitam sudah keburu melihatnya, sehingga mereka berdua diserang. Keduanya berhasil lolos dan McClane kembali ke markas polisi. Setibanya di sana, didapatkan informasi bahwa Simon kemungkinan menguasai ribuan gallon bahan peledak. Tak berapa lama, Simon menelepon kembali menuntut McClane dan Carver untuk turut bermain guna menghindari serangkaian ledakan yang bisa mengancam nyawa warga kota.

Tak punya pilihan, keduanya terpaksa mengikuti permainan Simon yang mengirimkan instruksinya melalui telepon. Simon menyuruh mereka pergi ke Wall Street station, 90 blok ke selatan, dalam waktu hanya 30 menit untuk menghentikan bom yang ditanam di kereta bawah tanah Brooklyn jalur 3. McClane berhasil menemukan lokasi bom dan melemparkannya keluar kereta, tetapi sayangnya bom tetap meledak. Ledakan menyebabkan bagian belakang kereta keluar rel, menghancurkan banyak tiang penyangga stasiun kereta bawah tanah.

FBI yang membantu penyelidikan memberitahu McClane bahwa nama lengkap Simon adalah Simon “Peter” Gruber, saudara dari Hans Gruber. Dia adalah penjahat yang dibunuh oleh McClane di sekuel film pertama Die Hard (1988). Saat sedang diadakan taklimat, Simon kembali menelepon menyatakan bahwa ada bom lain yang ditanam di salah satu sekolah yang dikelola pemerintah kota, dan bom itu juga disebutkan peka terhadap sinyal radio polisi. Di saat McClane dan Carver dipaksa melengkapi petunjuk untuk mengidentifikasi sekolah mana yang dimaksud, polisi mengorganisir pencarian di seluruh sekolah, sembari menon-aktifkan saluran radio polisi.

McClane mempelajari keadaan dan menyadari bahwa mereka berdua justru sedang dialihkan perhatiannya dari Wall Street. Demikian pula seluruh polisi di kota yang tengah sibuk mencari bom. Padahal, Simon sesungguhnya merencanakan perampokan. Ketika kembali ke kota, McClane menemukan anak buah Simon yang menyamar sebagai polisi, pebisnis, pekerja konstruksi dan penjaga telah merampok the Federal Reserve Bank of New York. Mereka masuk melalui stasiun kereta bawah tanah yang telah rusak sebelumnya. Komplotan itu berhasil menggasak emas batangan senilai 140 milyar dollar Amerika Serikat yang diangkut dengan 14 unit truk pengangkut tanah.

McClane berupaya mengejar dan membunuh anak buah Simon di bank. Ia mengikuti truk-truk tanah itu melaju ke saluran air (aquaduct) di New York City Water Tunnel No. 3 serta berhasil menangkap salah satunya. Simon menghancurkan cofferdam –bendungan penahan air- dan membanjiri terowongan. McClane terlempar keluar dan kembali bertemu dengan Carver. Berdua, mereka kembali mengikuti belasan truk tanah itu yang menuju ke sebuah kapal tanker. Tetapi sayangnya keduanya ditangkap saat hendak naik.

Polisi melokalisir dan mengevakuasi sekolah yang mereka duga terdapat bom di dalamnya. Ketika alat pemicu waktu sampai ke angka nol, barulah polisi sadar bahwa bom itu adalah pengalih perhatian belaka. Sementara itu, McClane dan Carver menemukan bahwa Simon menggunakan sisa bahan peledak untuk meledakkan tanker itu. Bila itu terjadi, maka, emas-emas tersebut akan jatuh ke lautan. Simon melakukan itu untuk menghancurkan perekonomian A.S. karena emas itu adalah cadangan devisa penjamin mata uang milik bank sentral. Simon lantas meninggalkan tanker, dimana di dalamnya masih ada McClane dan Carver yang terikat di dekat bom. Setelah berupaya keras, akhirnya keduanya berhasil selamat tepat sesaat sebelum bom meledak.

Ketika keduanya kembali berkumpul dengan rekan-rekan McClane dari kepolisian dan diobati lukanya, MClane mengungkapkan teorinya bahwa tidak ada emas di kapal. Karena menurutnya Simon terlalu bodoh bila membuang emas sebanyak itu. Dan ternyata ia benar karena setelah diperiksa emas yang dikatakan ada di kapal cuma logam bekas. Dengan begitu, berarti Simon telah melarikan diri bersama emas curian berjumlah besar.

Ketika McClane sedang menelepon istrinya Holly yang tengah pisah ranjang, ia menyadari bahwa botol aspirin yang diberikan Simon kepadanya mencantumkan alamat di sebuah kota perbatasan Kanada, Quebec. McClane dan Carver bersama Royal Canadian Mounted Police menyerbu gudang dimana Simon dan gerombolannya tengah bersiap mendistribusikan emas-emasnya. Simon berhasil lolos dengan helikopter. Ia lantas berusaha menembaki McClane dari udara. Dalam upaya mempertahankan diri, McClane menembak kabel listrik tegangan tinggi yang kemudian menghantam helikopter dan menghancurkannya, membunuh Simon. Carver lantas kembali bergabung dengan McClane dan meyakinkannya agar menuntaskan teleponnya kepada istrinya dari telepon umum terdekat.

Kritik Film

Serial franchise film ini telah berhasil menancapkan dirinya sebagai “trend-setter” untuk aliran “hard-core action”. Kenapa saya sebut begitu? Karena hanya di sekuel film franchise inilah kita bisa menyaksikan secara konsisten aksi-aksi luar biasa yang melibatkan baku-tembak, perkelahian, dan ledakan dalam skala yang mencengangkan. Mobil dan gedung betulan yang dihancurkan merupakan salah satu trade-mark-nya. Tidak pernah digunakan miniatur dalam pembuatan film ini. Karena itulah saya sebut aksinya “dahsyat”.

Meski kita tahu film berjenis “jagoan pasti menang” ini akan “happy ending”, tetapi yang ditunggu penonton adalah caranya. Bagaimana si jagoan akan menang? Apakah dengan sulit atau gampang? Dan pastinya yang diinginkan adalah aksi yang menantang.

Adegan-adegannya memang dahsyat, melibatkan kerusakan yang kolosal. Walau, tentu saja dari segi akal sehat akan banyak logika yang disederhanakan. Begitu mudahnya fasilitas umum yang tentunya bukan saja dirancang kuat tetapi juga dijaga ketat dihancurkan oleh satu orang adalah salah satunya.

Hanya saja, tempo cepat saat menyaksikan film ini seakan tidak memberikan kesempatan pada penonton untuk berpikir. Mata dan pikiran seakan diseret semata untuk mengikuti cepatnya alur dan jalan cerita. Menebak-nebak apa lagi yang akan terjadi selanjutnya.

Maka, untuk film buatan tahun 1995, dan masih terasa asik dinikmati hingga dua dekade setelahnya, rasanya kata “bolehlah” sudah lebih dari cukup. Silahkan mencari film ini, yang kalau format aslinya mungkin masih dalam bentuk laser disc yang besar itu.

Leave a Reply