Resensi Film-Bhayu MH

(The Divergent Series) Divergent

Year : 2014 Director : Neil Burger Running Time : 139 minutes Genre : , , , , , , ,
Movie review score
3/5

 

Jalan Cerita

Di masa depan dystopia Chicago, masyarakat terbelah ke dalam lima faksi. Abnegation (yang menafikan diri), Amity (yang damai), Candor (yang jujur), Dauntless (yang berani), dan Erudite (yang pintar). Anggotanya bergabung berdasarkan keinginan tetapi sebelumnya diberikan saran melalui tes kemampuan. Beatrice Prior (Shailene Woodley) dibesarkan di Abnegation, faksi yang menjalankan pemerintahan, tetapi ia sangat tertarik pada Dauntless. Ayahnya yang bernama Andrew (Tony Goldwyn) merupakan anggota dewan pemerintahan bersama kepala Abnegation, Marrcus Eaton (Ray Stevenson).

Tiap tahun, setiap anak yang berusia 16 tahun menjalankan tes kemampuan menggunakan serum yang mengindikasikan faksi mana yang paling cocok bagi mereka. Dari situ, mereka kemudian mengumumkan pilihannya pada Pesta Pemilihan. Beatrice menjalani tes dibimbing oleh Tori (Maggie Q) dari Dauntless. Hasil tesnya menunjukkan atribut dari tiga faksi sekaligus yaitu Abnegation, Erudite dan Dauntless. Inilah yang disebut dengan “Divergent”. Menyadari hal itu, dengan maksud menyelamatkan Beatrice, Tori menyimpan hasil tes sebagai Abnegation. Ia juga memperingatkan Beatrice agar merahasiakan hasil tes sebenarnya. Karena Divergent dipandang berbahaya disebabkan kemampuan mereka berpikir bebas dan tidak tergantung siapa pun sehingga pemerintah kesulitan mengendalikan mereka. Oleh karena itu, Divergent dipandang sebagai ancaman bagi struktur sosial masyarakat yang ada sehingga kerapkali harus dimusnahkan atau dibunuh.

Hari berikutnya di Upacara Pemilihan, kakak kandung pria Beatrice bernama Caleb (Ansel Elgort) memilih Erudite. Sementara meskipun ragu, Beatrice akhirnya memilih Dauntless. Itu berarti ia harus berpisah dengan kedua orangtuanya karena adanya dalil “faksi lebih utama dibandingkan keluarga”. Setelah upacara, Beatrice bertemu Christina (Zoë Kravitz) dan Al (Christian Madsen). Mereka adalah Candors yang memilih Dauntless. Juga ada satu orang kelahiran Erudite yang memilih Dauntless yaitu Will (Ben Llloyd-Hughes).

Para anggota baru faksi Dauntless diberikan lagi serangkaian ujian fisik seperti melompat ke dan dari kereta yang berjalan. Dan kemudian saat tiba di markas Dauntless, mereka diminta melompat ke lubang besar dari atap gedung. Beatrice menjadi orang pertama yang berani melakukannya.

Mereka disambut Pemimpin Kelompok Dauntless yang brutal bernama Eric (Jal Courtney). Anggota baru yang non-kelahiran Dauntless dipisahkan dengan dibimbing oleh kepala instruktur bernama Four (Theo James). Keberanian Beatrice melompat pertama kali dari atap gedung membuatnya dijuluki First Jumper. Ketika Four menanyakan namanya, Beatrice memutuskan menyingkatnya menjadi “Tris” saja.

Sistem pelatihan menggunakan semacam pemeringkatan. Apabila pada akhir masa pelatihan mereka berada di deretan peringkat terbawah, maka faksi akan menolaknya. Celakanya, mereka tidak bisa bergabung ke faksi lainnya juga. Sehingga, mereka akan jadi non-faksi atau gelandangan. Hidup miskin di luar tembok kota.

Tris sendiri karena bukan kelahiran Dauntless, mengalami kesulitan adaptasi. Ia berada di peringkat bawa, tetapi perlahan meningkat karena perjuangannya. Ia bahkan sempat masuk rumah sakit ketika harus berhadapan dengan musuhnya Peter (Miles Teller). Namun, ia menebusnya dengan peran kunci saat memainkan permainan “rebut bendera musuh”.

Setelah tahapan pelatihan fisik Dauntless yang melelahkan, para anggota baru dimasukkan ke semacam mesin simulasi. Gunanya adalah untuk menghadapi ketakutan mereka sendiri. Kemampuan “Divergence” Tris membuatnya mudah melewati tes itu. Tetapi Four melihat indikasi itu dan memperingatkannya agar mengungkapkan alasan di balik kesuksesannya dan membimbingnya agar memecahkan masalah dengan cara alamiah seorang Dauntless. Four dan Tris sendiri sejak awal menyadari adanya rasa saling tertarik di antara mereka.

Dalam satu kesempatan yang sulit dicari, Tris mengunjungi saudara lelakinya Caleb di markas Erudite. Caleb mengutarakan kepadanya bahwa Erudite berencana melakukan kudeta terhadap kepemimpinan Abnegation terhadap semua faksi. Karena kunjungan antar anggota faksi terlarang, Tris sembunyi-sembunyi berhasil kembali ke markas Dauntless. Tiba-tiba, Tris diserang oleh Peter, Al, dan Drew yang berupaya membunuhnya. Four datang dan menyelamatkannya. Hari berikutnya, Al menemuinya dan berusaha meminta maaf. Tetapi Tris menolaknya dan menyebut Al pengecut. Akibatnya, Al bunuh diri.

Untuk mempersiapkan ujian akhir, Four membaw Tris ke simulasi untuk memperlihatkan ketakutannya sendiri. Di sana, ia mempelajari bahwa salah satu ketakutan Four adalah menerima perintah yang tidak ingin dilakukannya. Tris juga akhirnya mengetahui jatidiri asli Four yang ternyata bernama Tobias, putra dari pemimpin Abnegation dan kepala pemerintahan, Marcus Eaton. Mereka tambah menyadari perasaan di antara mereka dan ‘meresmikannya’ dengan ciuman mesra.

Di saat hari ujian akhir tiba, Tris melewatinya tanpa mengungkapkan jatidirinya bahwa ia seorang “Divergent”. Hal itu hanya bisa terjadi karena ia sudah melakukan latihan dibimbing oleh Four. Saat berlangsung pesta kelulusan, seluruh Dauntless termasuk yang senior disuntik dengan serum. Disebutkan bahwa itu adalah alat pelacak, tetapi ternyata merupakan serum pengontrol pikiran.

Mengendalikan anggota Dauntless yang bersenjata berat, Erudite memanipulasi mereka untuk menyerang Abnegation. Divergent tidak terpengaruh serum itu, tetapi agar tidak mencurigakan, Tris dan Four berupaya membaur dengan berpura-pura ikut terkena pengaruh. Dalam barisan, ada anggota Dauntless yang terpergok seorang Divergent dan ditangkap.

Ketika menyerang Abnegation, Eric mendapati bahwa Four tidak dalam pengaruh serum. Four dan Tris ditangkap dan dipisahkan. Mereka lantas diselamatkan oleh Natalie (Ashley Judd), ibunda Tris. Tetapi beliau gugur dalam pelarian. Tris pun terpaksa membunuh temannya Will yang menyerangnya. Guna menghentikan rencana busuk Erudite, Tris, ayahnya, Caleb dan Marucs menyusup masuk ke dalam markas Dauntless.

Mereka mendapati Peter tidak dalam pengaruh serum. Tris memerintahkannya untuk membawa mereka ke ruang operasional Erudite. Ayahnya mengorbankan dirinya sendiri dalam baku-tembak, memberi kesempatan yang lain menyelesaikan misi menggagalkan pemberontakan. Tris akhirnya pergi sendiri dan bertemu dengan Four. Ia rupanya sudah disuntik dengan serum pengontrol pikiran yang lebih kuat sehingga menyerangnya. Tris berkelahi dengan Four dan menyadarkannya saat harus berhadapan dengan wajahnya, karena Four tidak dapat menembaknya saat melihatnya yang merupakan ketakutannya.

Menyadari waktunya sempit, pimpinan Erudite Jeanine (Kate Winslet) memerintahkan protokol yang membuat seluruh Dauntless membunuh setiap Abnegation yang ditemuinya. Bila itu berhasil, maka akan terjadi genocide atau pembantaian etnis terstruktur. Tetapi sebevlum Jeanine berhasil menekan tombol perintah, Tris melemparkan pisau ke tangan wanita itu.

Tris berhadapan dengan dilema. Ia tidak bisa memaksa Jeanine membatalkan program tetapi ia juga tidak bisa membunuhnya karena hanya wanita itu yang tahu kodenya. Sebagai jalan keluar cerdas, ia menyuntik Jeanine dengan serum dan membuatnya berada dalam pengaruh program pengontrol pikiran. Tris lantas memerintahkan Jeanine untuk menghentikan program dan melakukannya. Tetapi setelah melakukannya, Jeanine tersadar dan menyerang Tris. Ia berhasil dikalahkan. Tris sendiri kemudian kabur bersama Caleb, Peter, Four, dan Marcus dengan kereta menuju ke akhir dari jalur rel.

 

Kritik Film

Ini adalah bagian film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Veronica Roth. Karena novelnya juga berseri, maka film ini pun direncanakan akan dibuat beberapa sekuel sebagai bagian dari serial franchise film “The Divergent Series”. Film ini dikategorikan sebagai science-fiction dan action, bagi saya juga bisa dikategorikan sebagai fantasy-superhero.

Tokoh superhero di film ini adalah Tris, yang karakternya mirip dengan Katniss Everdeen di serial franchise film “The Hunger Games” (2011,2012,2013). Selain sosoknya yang wanita, ia berkarakter pemberani dan pemberontak, serta seorang pejuang kebenaran.

Karena saya belum membaca novelnya saat pertama kali menonton film ini, maka perbandingan idealisasi adaptasi novel ke film tidak bisa saya lakukan. Maka, yang bisa saya lakukan dalam kritik film ini semata adalah observasi atas karakter dan pemerannya, jalan cerita dan logikanya serta detail yang digunakan baik pakaian maupun perlengkapan lainnya.

Di awal film, ada narasi yang mengantarkan penonton ke dalam dunia masa depan dystopia ala “Divergent”. Situasi di mana manusia beradaptasi akibat perang. Walau di film ini dikisahkan hanya di satu kota saja yaitu Chicago, tetapi bisa dibayangkan kalau pemisahan manusia menjadi lima faksi terjadi di seluruh dunia.

Dunia gelap masa depan tersebut dibangun ulang dengan suasana damai dan sejahtera. Tetapi bagi pecinta kebebasan seperti saya, itu menyiksa. Keteraturan belaka tanpa kebebasan berekspresi adalah penjara. Dan itu rupanya yang dirasakan para Divergent. Karena itulah mereka dianggap berbahaya bagi “masyarakat beradab” yang serba teratur karena diatur oleh sistem, pranata sosial dan kekuasaan. Ini merupakan pengejawantahan eksplisiti dari chauvinisme ala Machiavellian. Masyarakat tidak hanya menyerahkan sebagian kecil haknya sebagai bagian dari du Contract Social ala Jean Jacques Rousseau, tetapi juga dipaksa tunduk pada kekuasaan yang mengatur hampir tiap aspek hidup.

Saya yakin, bila membaca novelnya –saya kemudian memang membeli dan membacanya setelah menonton film ini pertama kali- ada banyak nilai filosofis –terutama filsafat politik- yang dikandung di dalamnya. Tetapi, dalam film, semuanya dibuat lebih ringan. Tentu ini untuk mengakomodasi penonton yang cuma ingin hiburan dan ‘males mikir’. Strategi ini lumayan berhasil karena dengan biaya produksi US$ 85 juta, film ini meraup pendapatan US$ 288 juta lebih.

Leave a Reply