Resensi Film-Bhayu MH

Edge of Tomorrow

Year : 2014 Director : Doug Liman Running Time : 113 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
4/5

Jalan Cerita

Film yang di beberapa negara juga dipasarkan dengan judul kedua yang merupakan tagline-nya yaitu “Live. Die. Repeat.” ini adalah film sains-fiksi ber-setting masa depan yang tidak terlalu jauh. Dikisahkan Bumi diinvasi oleh pasukan alien bernama Mimic. Mereka menguasai Eropa daratan dan mengalahkan banyak negara serta membunuh jutaan manusia. Dalam upaya melakukan perlawanan, A.S. dan Inggris bergabung membentuk United Defense Force (UDF).

Dalam pertempuran sebelumnya, pasukan manusia diklaim berhasil mengalahkan alien. Melejitkan bintang pertempuran Sersan Rita Vrataski (Emily Blunt). Ia diklaim mampu membunuh ratusan mimic, padahal baru sehari bergabung dengan angkatan bersenjata sebagai wajib militer. Karena itulah tayangan iklan layanan masyarakat yang dibawakan petugas hubungan masyarakat A.S. Mayor William Cage (Tom Cruise) mengajak untuk bergabung sebagai wajib militer. Hal itu, menurut klaim mereka, karena adanya peralatan baru berupa “full metal jacket”, robot tempur yang dipakai prajurit mirip pakaian.

Mayor William Cage kemudian dipanggil ke London, markas besar UDF. Di sana, ia menghadap Jenderal Brigham (Brendan Gleeson). Mengira akan ditugasi membuat biografi sang jenderal, Cage mengusulkan sejumlah judul. Tetapi ia ternyata malah ditugasi untuk ikut terjun ke pertempuran di garis depan. Pasukan UDF merencanakan serangan ofensif dengan pendaratan di garis pantai Prancis untuk merebut kembali Eropa keesokan harinya. Sebagai wajib militer yang sebelumnya adalah eksekutif perusahaan periklanan yang bangkrut, Cage merasa dirinya bukanlah militer sejati. Ia mengaku takut melihat darah dan berusaha menolak perintah sang jenderal. Akibatnya, ia kemudian diperintahkan untuk ditangkap. Petugas Polisi Militer menembakkan taser listrik yang membuatnya pingsan.

Ketika terbangun di atas tumpukan tas di bandara Heathrow, ia dianggap sebagai desertir. Pangkatnya dilucuti dan ia bahkan diturunkan sebagai prajurit, pangkat terendah dalam kemiliteran. Sersan Kepala Farell (Bill Paxton) yang menemuinya menganggapnya pembual karena di surat perintah dikatakan begitu. Ia dianggap berdelusi sebagai perwira dan berusaha kabur dari pasukan. Cage yang jadi prajurit ditempatkan di regu J (squad J). Semula, ia masih berupaya menjelaskan siapa dirinya, tapi sia-sia.

Ia pun diejek oleh teman-temannya sebagai pengecut. Apalagi ia belum pernah latihan memakai robot tempur, sehingga kebingungan. Dalam pertempuran pertamanya, ia bahkan tak tahu cara menembakkan senjatanya. Tetapi ia kemudian berhasil membunuh beberapa mimic dan di saat terakhir malah berhasil menembak satu yang paling besar. Tetapi sayangnya, darah alien yang hitam ternyata bersifat kimiawi yang destruktif. Saat darah alien mengenai wajah Cage, dia pun terbakar dan tewas.

Alangkah terkejutnya dia ketika terbangun kembali saat masih berada di tumpukan tas bandara Heathrow. Kejadian yang telah dialaminya berulang, mulai dibangunkan seorang prajurit lain, ditemui Sersan Kepala Farell, disuruh bergabung ke Regu J, dan kemudian berlatih bersama mereka, hingga kembali ke medan pertempuran. Anehnya, tiap kali ia kemudian tewas, ia kembali lagi ke posisi terbangun di atas tumpukan tas itu. Dan Cage akhirnya menyadari, hanya dirinya satu-satunya yang menyadari hal itu.

Akhirnya, ia memisahkan diri dari regunya dan berupaya mencari Sersan Rita Vrataski yang merupakan pahlawan perang UDF. Ia berhasil menemukannya dan rupanya itu sudah kesekian kalinya ia bersamanya dan menyelamatkan hidupnya. Gerakannya yang mampu menebak tepat langkah mimic membuat Vrataski sadar apa yang terjadi. Sehingga ia kemudian mengutarakan satu pesan yang aneh bagi Cage: “Cari aku setelah kau terbangun.”

Ketika untuk kesekian kalinya terbangun lagi di tumpukan tas, fokus Cage berubah, ia kemudian kabur dari latihan regunya dan pergi mencari Vrataski. Ia kemudian meyakinkan Vrataski –yang tidak ingat pernah bertemu Cage dalam momentum waktu lain- bahwa ia mengalami siklus perulangan waktu. Vrataski terkejut, tetapi senang. Ia lalu mengajak Cage menemui Dr. Carter (Noah Taylor). Ia adalah seorang ahli tentang biologi Mimic yang kemudian dibuang sebagai teknisi rendahan setelah mencoba meyakinkan pemerintah tentang teorinya.

Ia berpendapat, ribuan mimic yang tersebar di Eropa berada dalam satu kendali otaku tama. Mereka bukanlah pasukan, tetapi organ tubuh. Kalau hendak mengalahkan mereka, haruslah menghancurkan Omega sebagai otaknya. Dari Dr. Carter dan Vrataski pula Cage tahu bahwa efek perulangan waktu yang dialaminya adalah akibat ia membunuh Alpha, makhluk yang berfungsi sebagai semacam komandan lapangan mimic. Vrataski mengatakan, ia juga pernah mengalami hal itu.

Berkali-kali mengalami perulangan waktu, Cage menjadi kecewa. Ia pun melarikan diri dari kamp pelatihan dan pergi ke sebuah bar di London. Tetapi rupanya mimic memburunya dan ia pun menyadari bahwa saat pasukan UDFmelakukan invasi ke Prancis, mimi justru mengambil alih London yang kosong pertahanan. Ia pun kembali lagi menemui Vrataski setelah dibunuh mimic dan kembali terbangun di tumpukan tas yang sama.

Cage dilatih Vrataski hingga menjadi prajurit tempur hebat. Saat di medan pertempuran, ia bahkan membuat heran teman-teman segrupnya. Mereka berupaya keluar dari pantai dan menuju daratan karena Cage mendapat visi Omega ada di bendungan Bavarian Alps. Tetapi upaya mereka berkali-kali gagal karena Vrataski tewas. Akhirnya, Cage jengkel dan dalam siklus perulangan waktu berikutnya ia memilih meninggalkan Vrataski dan pergi ke bendungan sendirian. Saat itulah ia baru sadar kalau visinya tentang keberadaan Omega di dam itu adalah tipuan.

Mereka berdua lalu menemui Jendral Brigham atas saran Dr. Carter. Ia mengatakan pernah membuat alat khusus yang membuat manusia bisa mengeksplorasi pikiran Omega melalui Alpha. Karena Cage sudah terinfiltrasi darah Alpha, maka ia pun diasumsikan serupa. Meski setelah sekian kali mendatangi sang jenderal mereka berhasil mendapatkan alat itu. Tetapi dalam pelarian, mereka kemudian berhasil dihentikan oleh tentara yang mengenakan pakaian robot tempur. Untunglah Vrataski sempat menusukkan alat buatan Dr. Carter itu ke paha Cage. Dengan begitu, Cage mendapatkan visi lokasi Omega sebenarnya ternyata berada di bagian bawah tanah museum Louvre Pyramid di Paris.

Cage ditahan di rumah sakit tentara, dan kemudian dibebaskan oleh Vrataski. Saat Vrataski hendak menembaknya untuk mengembalikan waktu, Cage mencegahnya karena ia sudah diinfus transfusi darah. Maka, ia tak lagi punya kemampuan memutar ulang waktu. Mereka berdua memutar otak bagaimana dari London bisa sampai ke Paris.

Akhirnya, atas usul Cage, ia mengajak Vrataski untuk meyakinkan regu J agar membantu. Mereka berhasil mencapai Louvre, tetapi dengan mengorbankan seluruh anggota pasukan yang lain. Vrataski pun kemudian mengorbankan diri untuk memancing Alpha terakhir yang berjaga di dekat Omega. Tetapi kemudian Alpha itu berhasil membunuh keduanya, untungnya Cage sempat melepaskan pin rangkaian granat di sabuk senjata yang dibawanya dan terjun ke arah Omega. Granat-granat itu meledak hebat dan membunuh Omega. Seketika, saat itu juga seluruh mimic di daratan Eropa berhenti dan mati.

Cage lantas terbangun lagi untuk kesekian kalinya dengan waktu yang berputar. Tetapi kali ini bukan di tumpukan tas saat ia dituduh desersi sebagai prajurit yang menyamar sebagai perwira. Ia terbangun di atas helikopter yang membawanya ke markas UDF sehari sebelumnya. Ia masih memakai seragam militer A.S. lengkap dengan tanda pangkat mayornya. Jenderal Brigham mengumumkan kemenangan manusia dengan kematian mimic yang mengikuti ledakan energi besar di Paris. Di momentum waktu yang ini, Cage sama sekali tidak pernah ditahan dan ia kemudian mendatangi Vrataski yang tengah berlatih yoga. Wanita itu sama sekali tidak mengenalinya, dan karena ia pahlawan perang, meski Cage memakai seragam mayornya, ia tidak takut dan bertanya menantang apa yang diinginkan Cage. Sementara Cage hanya menyeringai dan tertawa. Karena hanya dia seorang yang ingat apa yang terjadi.

 

Kritik Film

Agak sulit mencari kelemahan teknis untuk film Hollywood berbiaya US$ 178 juta. Karena pastinya semua aspek digarap serius. Untuk efek khusus (special effect)-nya saja, digarap oleh sembilan perusaaan berbeda. Maka, sebagai penonton, paling yang bisa dikritisi adalah alur logika dalam jalan cerita.

Pertama-tama, harus diketahui sedikit teori fisika kuantum bahwa waktu adalah relatif. Tetapi di sini, alih-alih manusia yang mampu memanipulasi waktu, kendali itu ternyata dimiliki oleh alien. Sehingga, basis ini harus diyakini sebagai taken for granted dulu. Bagi saya, penggambaran alien di film ini merupakan kemajuan, karena bentuknya yang unik dan aneh. Tidak seperti alien kebanyakan yang seringkali masih terinspirasi dari film Alien (1979)-nya Ridley Scott yang memang telah menjadi franchise serial film. Kemampuan geraknya yang sangat cepat mirip teleportasi juga bagus sekali. Walau tentu agak aneh juga mereka cuma bertempur dengan “tangan kosong” saja tanpa senjata. Dengan ujung sulur-sulur mereka yang tajam itulah mereka membunuhi manusia. Itu pun, karena ukuran tubuh yang lebih besar dan kecepatan tinggi, mereka berhasil memperdaya pasukan manusia.

Saya cuma agak heran kenapa pemakaian seragam tentaranya tidak seperti seragam asli tentara A.S. dan Inggris? Apakah Hollywood masih perlu izin khusus untuk itu? Bukankah sangat biasa film-film Hollywood memakai seragam asli agar terlihat lebih realistis? Tidak ada tanda-tanda kemiliteran asli di film ini. Semuanya disamarkan. UDF sendiri memang fiktif, tetapi nanggung karena justru tidak diperlihatkan logo-logonya.

Selain itu, semuanya nyaris perfect, kecuali kelemahan logika di tempat latihan Vrataski untuk melawan mimic. Karena mimic-nya dibuat dari semacam alat berbahan besi baja, jelas bisa melukai yang berlatih. Terbukti Cage sendiri beberapa kali mengalami patah tulang dan terpaksa ditembak mati Vrataski untuk mengulang waktu. Logikanya, kalau orang biasa, sudah pasti tidak akan berhasil melewati rintangan itu. Dan sebaliknya kalau berhasil seperti Vrataski, alatnya justru rusak karena patah terkena sabetan pedangnya. Sehingga untuk dipakai lagi perlu waktu lama.

Untuk seragam robot tempurnya, saya menyukai pendekatan itu yang pertama kali diperkenalkan di Trilogi The Matrix (1999, 2001). Dengan pakaian itu, manusia jadi jauh lebih kuat. Dan saya suka humornya yang menunjukkan alat itu buatan Jepang. Karena buru-buru saat dipersiapkan, hingga saat diterjunkan ke medan tempur semua petunjuknya masih dalam aksara negeri pembuatnya, sehingga menyulitkan pemakainya.

Secara ilmiah, film ini menarik idenya. Karena hingga kini, para ilmuwan terus tertarik mengeksplorasi kemungkinan manipulasi ruang ,waktu dan dimensi. Film ini setidaknya bisa jadi bumbu penyegar.

 

 

Leave a Reply