Resensi Film-Bhayu MH

Elektra

Year : 2005 Director : Rob Bowman Running Time : 97 mins. Genre : , , , , ,
Movie review score
3/5

Satu lagi jagoan komik Marvel diangkat ke layar lebar. Kali ini jagoan cewek cantik dan seksi berbalut baju ketat merah bersenjatakan trisula khusus (yang disebut sai) : Elektra. Bagi yang belum tahu siapa dia –seperti saya- mulanya mengira kehebatan wanita ini terkait dengan listrik atau elektrik sesuai namanya. Ternyata tidak sama sekali. Itu sekedar nama saja, lengkapnya Elektra Natchios.

Berbeda dengan enam jagoan Marvel lain yang tergabung dalam The Avengers, kisah Elektra tidak terkoneksi dengan mereka. Namun, ia justru merupakan bagian dari kisah jagoan Marvel lainnya: DareDevil.

Film ini memang merupakan lanjutan dari film DareDevil (2003), sehingga penonton yang menyaksikan film tersebut akan lebih ngeh dengan ceritanya. Karena di film DareDevil, secara cameo karakter Elektra sudah muncul. Tapi kalau Anda belum menonton film itu pun tidak perlu kuatir, karena bahkan DareDevil sama sekali tak disebut-sebut di film ini.

Yang agak mengherankan bagi penonton barangkali kenapa Elektra disebutkan terbunuh dan bangkit dari kematian di awal film. Tidak disebutkan kenapanya, tapi bisa diduga itu karena musuhnya, organisasi hitam bernama The Hand. Elektra diselamatkan oleh Stick, ahli beladiri yang kemudian menjadi gurunya. Dari Stick-lah Elektra belajar dan berlatih Kimagure, seni bela diri kuno Jepang yang bahkan bisa menghidupkan orang mati dan memberikan penglihatan sebelum sesuatu terjadi. Ketika dianggap cukup, Elektra malah disuruh pergi dari perguruan tanpa dia tahu harus ke mana. Maka, jadilah dia pembunuh bayaran.

Ia memiliki agen bernama McCabe, yang memberikannya detail target dari client. Satu ketika, ia ditugaskan pergi ke satu pulau terpencil. Di sana ia tak sengaja berkenalan dengan tetangganya karena seseorang masuk ke rumahnya dan berupaya mencuri kalung. Si pencuri itu Abby, gadis remaja yang tinggal bersama ayahnya Mark Miller tak jauh dari rumah tempat Elektra menginap. Tanpa diduga Elektra, ternyata kedua orang itulah targetnya berikutnya. Tidak seperti sebelumnya, kali ini Elektra menolak melaksanakan tugasnya karena merasa ada yang salah.

Pimpinan kelompok The Hand yang bernama Roshi kemudian mengutus Kirigi untuk memburu Elektra. Tapi tak hanya itu, karena mereka juga hendak membunuh Mark dan menculik Abby. Ini karena gadis itu adalah “the Treasure” yang memiliki potensi besar sehingga diperebutkan kekuatan baik dan jahat. Elektra berusaha bertahan dan kemudian juga ditolong oleh gurunya, Stick.

Sebagai film superhero, sudah pasti hasilnya “jagoan menang”. Justru yang menarik adalah mengikuti lika-liku perjuangannya. Bagi saya, film ini memang khas film di zamannya. Ceritanya banyak bersandar pada narasi sehingga tidak tergambarkan oleh peran karakter di film. Apa-kenapa-nya kurang begitu jelas. Demikian pula penyelesaian akhir dimana satu-per-satu Elektra membantai anggota kelompok Kirigi yang terdiri dari Typhoid, Stone, Kinkou dan Tattoo terasa terlalu mudah. Padahal, mereka digambarkan sebagai ninja hebat.

Toh, sebagai penyuka film semacam ini, saya masih bisa menikmati adegan perkelahiannya. Dan sebagai lelaki, tentu saja juga menikmati tubuh seksi Jennifer Garner dalam balutan lycra ketat merah. Walau bagi saya pribadi, wajah Jennifer agak “ketuaan” untuk peran superheroine ini.

ElektraPoster

Catatan: klik pada gambar poster di kiri atas untuk melihat trailer-nya.

2 Responses so far.

  1. risna laia says:

    Like That

Leave a Reply