Resensi Film-Bhayu MH

End Game

Year : 2009 Director : Pete Travis Running Time : 101 mins. Genre : , , , , , ,
Movie review score
2/5

Film ini buatan Inggris, berarti bukan Hollywood. Dibuat berdasarkan pada kisah nyata. Melihat awal film, penonton diberikan informasi bahwa ini film yang berkisah tentang Afrika Selatan pada dekade 1980-an.

Diawali dengan diselundupkannya Michael Young, Consolidated Goldfields ke dalam kubu perlawanan terhadap rezim Apartheid. Karena kehadirannya tak dikehendaki, ia pun diusir. 18 bulan kemudian, di Connaught Rooms di London, Young menemui Thabo Mbeki, Direktur Informasi ANC. Pergerakan Young sendiri bak agen rahasia karena saat itu rezim apartheid di bawah Presiden P.W. Botha masih kuat. Dan pemerintah Inggris sendiri masih mendukung rezim tersebut. Apalagi agen-agen rahasia rezim terus menguntitnya. Sementara Young terus berusaha mencari pihak yang bersedia menjadi mediator penghubung dengan ANC (African National Congress), organisasi perlawanan anti apartheid yang dipimpin Nelson Mandela.

Young menemui Willie Esterhuyse -profesor filsafat di Stellenbosch University- untuk membantunya. Meski pertama kali menolaknya, tapi kemudian sang profesor luluh hati nuraninya. Ia diminta memimpin delegasi dari rezim apartheid dalam pertemuan dengan delegasi ANC. Namun, dalam tugasnya ia diminta melapor kepada Doktor Niel Barnard, kepala National Intelligence Service. Dengan begitu, Botha sang presiden dipastikan juga tahu. Padahal, pertemuan itu dirahasiakan. Pemerintah rezim apartheid Afrika Selatan berupaya mengadu domba pihak yang pro-diplomasi dengan sayap militer ANC. Bahkan Mandela yang sedang dipenjara diminta mengecam aksi kekerasan ANC yang dilakukan sayap militer ANC yang berpusat di Lusaka. Sementara di pihak ANC sendiri tetap ada kelompok militan yang percaya bahwa satu-satunya cara perjuangan melawan rezim apartheid adalah dengan kekerasan bersenjata. Presiden ANC Oliver Tambo berupaya keras menjembatani perbedaan dua faksi dalam ANC tersebut.

Pertemuan diadakan di Wells Park, Somerset-Inggris. Fasilitator pertemuan adalah Consolidated Goldfields, perusahaan Inggris yang memiliki investasi besar di Afrika Selatan. Young atas mandat dari Rudolf Agnew -chairman perusahaan itu- menjadi semacam panitia pertemuan.

Pertemuan tingkat tinggi tertutup yang diadakan pada tahun 1988 ini sangat bersejarah. Karena inilah titik awal penyerahan kekuasaan rezim apartheid kepada ANC. Diawali dengan pembebasan Nelson Mandela dari penjara dan dipindahkan ke rumah mewah sebagai tahanan rumah. Pertemuan kedua di Somerset pun diadakan. Rezim mengutus Willem de Klerk -saudara Presiden baru Afrika Selatan F.W. de Klerk- untuk mengikuti pertemuan itu. Di saat delegasi masih berunding, pada 11 Februari 1990 Presiden F.W. de Klerk mengumumkan pembebasan Mandela dan mencabut larangan terhadap tiga partai politik anti apartheid serta memerintahkan memulai perundingan resmi. Inilah awal dari pengalihan kekuasaan yang ditandai dengan Pemilu bebas empat tahun kemudian.

Saya terutama kagum pada detail penggambaran situasi di era apartheid. Baik pakaian, kendaraan, maupun bangunan yang dipakai. Memang lokasinya banyak yang otentik, termasuk Pollomoon Prison tempat Nelson Mandela pernah ditahan lebih dari 20 tahun. Lokasi shootingnya terutama memang di dua tempat, yaitu di Reading, Berkshire-Inggris dan Cape Town-Afrika Selatan.

Banyak hal menarik bisa dipelajari dari film ini. Seperti ucapan Mbeki saat di Connaught Rooms-London tahun 1987. Dengan bergurau ia memperkenalkan diri, “My name is Thabo Mbeki, and I am a terrorist.” Karena itulah stigma yang dikenakan rezim kepadanya. Saya juga menyukai bagaimana Mbeki dengan kerendahan hati justru menyerahkan segalanya kepada F.W. de Klerk saat sang presiden menawarkan pertemuan resmi. Bahkan saat ditanyakan prasyarat dari ANC, Willem mengatakan tidak ada. Kebijakan ini menunjukkan ketinggian kompetensi diplomasi Mbeki, yang di kemudian hari menjadi Presiden Afrika Selatan menggantikan Mandela pada 1999. ANC sendiri kemudian menjadi penasehat bagi IRA dan Hamas dalam perundingan guna mendapatkan kemerdekaan.

Sebagai tontonan, bisa dipastikan film ini membosankan. Penuh percakapan panjang karena memang ini tentang diplomasi. Apalagi film ini adalah semi-dokumenter dalam arti reka-ulang dari kejadian sejarah. Maka, bagi pencari hiburan sebaiknya menghindari menyaksikan film ini. Tapi sebaliknya bagi mereka penyuka film bermutu dan senang belajar terutama sejarah, film ini tak boleh dilewatkan. Apalagi di buku The Fall of Apartheid karya Robert Harvey yang merupakan muasal film ini, bab terakhir yang berjudul “Endgame” ditulis langsung oleh Michael Young atas permintaan Thabo Mbeki. Jadi, otentisitasnya terjaga.

Leave a Reply