Resensi Film-Bhayu MH

Flight Plan

Year : 2005 Director : Robert Schwentke Running Time : 98 mins. Genre : , , , , ,
Movie review score
3/5

Judulnya “Rencana Penerbangan”, ini terkait dengan manifest pesawat yang kemudian jadi masalah bagi Kyle Pratt (Jodie Foster) yang kehilangan putrinya di dalam pesawat. Kenapa begitu? Karena Julia (Marlene Lawston)  yang baru berusia 6 tahun ternyata tak terdaftar! Ia tidak ditemukan di manifest penumpang pesawat maupun di daftar penumpang yang masuk di Bandar Udara (bandara) Berlin. Ibunya juga kehilangan tanda masuk pesawat (boarding pass) milik anaknya. Apa akibatnya? Sang ibu yang baru saja kehilangan suaminya David (John Benjamin Hickey) yang jenazahnya diangkut bersama pesawat itu dianggap gila.

Sebagai insinyur perancang pesawat, Kyle tahu prosedur keselamatan penerbangan. Termasuk apabila ada penumpang yang hilang apalagi anak kecil. Karena itu, ia memaksa Kapten Pilot Marcus Rich (Sean Bean) untuk menginisiasi pencarian. Pencarian pertama berakhir nihil, bahkan sempat membuatnya bentrok dengan penumpang berpenampilan Arab. Itu karena pasca 9 September 2001, trauma terhadap pembajakan pesawat menjadi-jadi di Amerika Serikat dan Eropa. Karena menimbulkan kepanikan, polisi udara Gene Carson (Peter Sarsgaard) terpaksa memborgol tangan Kyle. Tindakannya didukung kru pesawat terutama oleh pramugari Stephanie (Kate Beahan) yang terus-menerus sinis kepadanya.

Kapten Pilot Marcus menerima kawat dari rumah sakit di Berlin yang ditandatangani direktur kamar mayat (Christian Berkel). Isinya, menyatakan kalau Julia sedang bersama ayahnya saat jatuh dan turut meninggal. Dengan demikian, Kyle dianggap berdelusi belaka. Seorang psikolog terapis (Greta Scacchi) yang berada di pesawat mencoba menghiburnya. Sang ibu bahkan sempat ragu pada kewarasannya sendiri. Tapi ia tersadar kalau Julia masih hidup saat melihat gambar hati yang dibuat anaknya di jendela yang berembun sesaat setelah mereka naik.

Maka, ia pun meminta izin untuk pergi ke kamar mandi. Tapi sesungguhnya ia berniat melanjutkan upaya pencarian anaknya sendirian. Kyle mensabotase pesawat dengan merusak sistem elektronik sehingga seolah terjadi penurunan tingkat oksigen yang mengharuskan mereka memakai masker. Kekacauan itu dimanfaatkan Kyle untuk menembus ke bagian bagasi barang di pesawat. Di sana, ia menemukan dan membuka peti mati suaminya seraya menangis. Carson berhasil menemukan Kyle dan membawanya kembali ke dalam kabin pesawat dalam keadaan tangan diborgol ke depan. Kondisi itu justru mendapatkan sambutan meriah dari penumpang pesawat yang merasa terganggu dengan kepanikan Kyle.

Menyadari peluangnya makin kecil, Kyle meminta kepada Carson agar diizinkan melanjutkan pencarian saat pesawat sudah mendarat. Carson mempertimbangkan dan mengatakan akan bicara kepada Kapten Pilot. Namun, yang dilakukannya ternyata malah menyelinap ke bagian avionik pesawat dan mengaktifkan bom yang terpasang di sana. Saat itulah penonton bisa melihat Julia sedang tertidur, rupanya ia dibius.

Dengan memfitnah Kyle, Carson meminta Kapten Pilot memenuhi tuntutan tebusan sebesar US$ 50 juta. Karena adanya ancaman itu, pesawat mendarat darurat di Goose Bay Airport yang terletak di Goose Bay, Labrador, Canada. Carson diminta oleh Kyle untuk tidak turun dari pesawat. Sementara seluruh penumpang dan kru telah turun. Ketika Kapten Pilot telah turun, Kyle nekat menyerang Carson dengan alat pemadam api dan mengambil detonator (alat pemicu) bom. Ia memborgol Carson ke sebuah tiang dan berusaha lari. Stephanie keluar dari persembunyian dan berupaya mencegah Kyle lari. Carson yang tersadar menembaki Kyle dengan pistol cadangan. Kyle akhirnya terpojok dan mengunci diri di kokpit pilot. Dengan tipuan, ia berhasil mengelabui Carson dan masuk ke area avionik pesawat dimana ia menemukan putrinya yang masih belum tersadar. Stephanie panik dan lari keluar pesawat, sementara Carson berupaya mencegah Kyle.

Ketika sampai di bagian avionik, Carson mengungkapkan bahwa suami Kyle bukanlah bunuh diri atau terjatuh, melainkan dibunuh dengan cara didorong dari atas atap. Kyle berhasil lolos dan menjebak Carson di dalam ruang avionik. Dengan detonator di tangan, Kyle meledakkan pesawat itu yang hancur bagian depannya. Tapi ia sendiri dan putrinya bisa selamat.

Di darat, akhirnya pilot, kru dan para penumpang menyadari kesalahan mereka. Bahkan Kapten Pilot meminta maaf secara langsung karena sempat tidak percaya kepada Kyle. FBI juga menangkap Stephanie dan direktur kamar mayat di Rumah Sakit Berlin yang memalsukan kematian Julia. Happy ending bagi Kyle dan Julia, yang bahkan masih belum sadar ibunya telah melalui perjuangan mempertahankan hidupnya.

Bagi saya, film ini punya plot sederhana tapi kuat. Cuma ada satu ide dasar: bagaimana apabila ada seorang anak yang hilang di dalam pesawat yang tengah mengudara. Pesawat yang digunakan di film ini sendiri adalah fiksi, diberi nama kode E-474. Namun, dalam pembangunannya –terutama interiornya- mengacu pada pesawat Airbus A-380 dan terinspirasi pula dari Boeing 747. Dan memang untuk penerbangan Eropa jarak jauh, ada dua tingkat kabin penumpang. Besarnya pesawat secara logis memang memungkinkan seseorang tersesat, apalagi anak kecil.

Tapi lebih dari itu, bagi saya film ini adalah tentang perjuangan seorang ibu. Bagaimana ia yakin pada tujuan dan hidupnya sendiri, saat semua orang lain menganggapnya gila. Berjuang sampai akhir, itu yang terpenting.

Leave a Reply