Resensi Film-Bhayu MH

Forrest Gump

Year : 1994 Director : Robert Zemeckis Running Time : 142 minutes Genre : , , , , , , ,
Movie review score
5/5

Jalan Cerita

Kisah dimulai pada tahun 1981, dengan pembukaan yang akan dikenang oleh penontonnya karena khas. Sehelai bulu burung melayang-layang mengikuti angin, hingga akhirnya jatuh di kaki seorang pria yang sedang menunggu bus di bangku halte. Bulu burung itu dipungutnya dan dimasukkan ke dalam sebuah buku agenda. Lalu, pria itu menoleh kepada orang yang duduk di sebelah kanannya dan mulai bercerita. Meski orang yang duduk menunggu bus di bangku tersebut bergonta-ganti, pria itu terus saja menceritakan kisah hidupnya. Ia tak peduli pada apa pun reaksi orang atas ceritanya.

Pria itu adalah Forrest Gump (Tom Hanks). Dan film ini adalah kisah tentang hidupnya.

Ia memulai ceritanya dengan mengkisahkan asal-muasal namanya. Konon, nenek-moyangnya bernama Nathan Bedford Forrest. Dengan konyol, Forrest menceritakan bahwa kakek buyutnya itu adalah pendiri kelompok yang senang mengenakan seprai putih dan berkeliling kota dengan memakainya. Ia tidak tahu makna nama “Klu-Klux-Klan” yang konon didirikan kakek buyutnya itu.

Forrest memuji sepatu wanita di sampingnya, lalu mulai menceritakan betapa ia ingat setiap sepatu yang dipakainya. Sewaktu kecil, kakinya lemah sehingga ia nyaris tak bisa berjalan seperti penderita penyakit polio. Tetapi ibunya tidak menyerah, ia pergi ke dokter dan membeli semacam alat penyangga kaki. Dengan alat dari besi itu, meskipun terpincang-pincang, Forrest bisa berjalan. Ia mengatakan kalimat yang terus diingat Forrest hingga dewasa. Kalimat motivasi menyatakan agar jangan sampai membiarkan orang mentertawakan karena kelemahanmu. Ibu Forrest (Sally Field) ini sangat penyayang dan melakukan apa pun untuk Forrest. Apalagi secara finansial ia tidak memiliki masalah karena ia mewarisi rumah yang sangat besar dari keluarganya. Dengan menyewakan kamar-kamar yang banyak itulah mereka hidup.

Forrest senang dengan rumah yang selalu ramai. Hingga satu ketika, rumah mereka diinapi oleh “seorang pemuda ramah bersuara bagus yang membawa gitar dan dijuluki orang-orang sang raja”. Forrest yang diakrabi oleh pemuda itu mengajari langkah kakinya yang lucu, hingga diadopsi menjadi dansa “hip-swinging”. Forrest tidak tahu orang itu adalah Elvis Presley (Peter Dobson) yang kelak dijuluki the king of pop. Hanya saja saat menginap di rumah Ibunya Forrest, ia masih muda dan belum terkenal.

Satu ketika Forrest sudah masuk usia sekolah. Ibunya berupaya mendaftarkannya ke sekolah dasar biasa, tetapi ditolak. Alasan Kepala Sekolah adalah karena IQ (Intellectual Quotient) Forrest di bawah rata-rata, istilah psikologisnya “borderline”. Ia menolak menyekolahkan Forrest di sekolah khusus (di sini disebut SLB=Sekolah Luar Biasa). Kepala Sekolah yang berpikiran nakal akhirnya bersedia memberikan dispensasi dengan syarat Ibu Forrest mau melayaninya berhubungan seks. Forrest yang menunggu di luar rumah selama kejadian itu mendengarkan suara-suara aneh dari dalam rumah. Dan saat Kepala Sekolah keluar dan menyatakan Ibu Forrest sangat menyayanginya hingga bersedia berkorban untuknya, Forrest malah menirukan suara mirip monyet yang baru saja didengarnya itu.

Di hari pertama dalam bus menuju ke sekolah, semua anak menolak duduk di sampingnya. Tetapi seorang gadis kecil bernama Jenny mempersilahkannya. Forrest pun jatuh cinta pada pandangan pertama, walau tentu saja ia masih belum mengerti arti cinta. Mereka berdua pun segera menjadi sahabat sejati dan selalu berdua ke mana-mana, tidak hanya di sekolah saja tetapi juga sepulang sekolah. Jenny sepertinya enggan pulang ke rumahnya sendiri sehingga selalu meminta Forrest berlama-lama menemaninya.

Kondisi Forrest yang pincang dan terlihat bodoh menjadi sasaran ejekan anak-anak lain. Tiap hari mereka mem-bully Forrest, hingga satu ketika saat ia dan Jenny sedang berjalan pulang, ada sekelompok anak dengan mengendarai sepeda mengejeknya. Karena dilempari, Jenny menyuruh Forrest berlari. Saat itulah Forrest memaksakan kakinya hingga ke batasnya. Dan keajaiban terjadi, besi-besi penyangga kakinya patah dan ia ternyata bukan saja bisa berjalan normal, tetapi berlari dengan sangat kencang.

Meskipun kemampuan intelektualnya di bawah rata-rata, tetapi berkat kecepatan larinya itu ia memperoleh beasiswa atletik di University of Alabama. Ia bergabung ke tim football kampusnya dan jadi andalan karena tak ada yang mampu mencegatnya saat sudah berlari. Meski seringkali terjadi kekonyolan karena ia sulit dihentikan hingga harus dicegat tim pemandu sorak. Karena kemampuannya itulah, ia pun masuk sebagai “All-American Football Player”. Sebagai penghargaan, Presiden John F. Kennedy pun menerimanya bersama tim lain. Konyolnya lagi, saat bertemu presiden dan ditanya bagaimana perasaannya, Forrest malah menjawab, “Sepertinya saya ingin kencing” dan membuat presiden tertawa.

Setelah lulus dari kuilah, secara sukarela Forrest mendaftarkan diri di Angkatan Darat A.S. (U.S. Army). Di kesatuan tersebut, Forrest bersahabat dengan Benjamin Buford “Bubba” Blue (Mykelti Williamson). Temannya yang berkulit gelap keturunan Afrika ini berasal dari keluarga bekas nelayan udang. Ibunya sendiri bekerja sebagai pelayan di keluarga kulit putih secara turun-temurun. Dan karenanya, Bubba membanggakan kemampuan ibunya mengolah udang menjadi aneka jenis masakan.

Karena saat itu A.S. sedang terlibat Perang Vietnam, maka pasukan Forrest pun dikirim ke sana. Satu saat peleton mereka disergap musuh. Dengan kecepatan larinya, Forrest berhasil lolos. Tetapi ia sadar kalau ia sendirian dan Bubba ada di belakang. Maka, dengan maksud menyelamatkan sahabatnya, ia kembali ke medan pertempuran. Tetapi setiap kali ia lewat, selalu saja ada teman prajuritnya yang meminta tolong. Sehingga ia menyelamatkan nyawa empat orang prajurit termasuk komandan peleton Letnan Satu Dan Taylor (Gary Sinise). Sementara Bubba yang terakhir ditemukannya akhirnya tewas setelah sempat dibawa Forrest menjauh.

Sepulangnya ke Amerika Serikat, atas keberanian dan jasanya itu, Forrest dianugerahi Congressional Medal of Honour, medali tertinggi bagi prajurit dan warga negara A.S. Ia menerimanya langsung dari Presiden Lyndon B. Johnson. Masih memakai seragam lengkap, Forrest berjalan-jalan keluar White House. Tanpa ia tahu, seorang aktivis anti Perang Vietnam menyeretnya dan malah memaksanya naik panggung. Karena lugu, ia pun menurut saja. Tetapi saat diminta memberikan sambutan, Kepala Polisi menyabotase sistem tata suara sehingga pidato Forrest tidak terdengar. Jenny yang saat itu menjadi “Flower Generation” melihat sosok Forrest di atas panggung. Ia pun berlari menghampiri dan mereka berdua pun berkencan kembali. Tetapi ternyata Jenny sudah punya pasangan saat itu, seorang pimpinan kelompok aktivis anti-perang garis keras. Ia yang bertemperamen keras sempat menampar Jenny dan Forrest membelanya. Meski berterima kasih, tetapi keesokan harinya Jenny memutuskan pergi bersama kelompok itu dan meninggalkan Forrest.

Forrest lantas ditemui oleh bekas komandannya yang marah dengan keadaan. Ia menyindir kenapa orang bodoh malah dapat medali. Kondisinya yang cacat karena kedua kakinya diamputasi tambah membuatnya marah karena ia merasa seharusnya ia mati di medan perang. Karena ia diselamatkan oleh Forrest, maka ia pun menyalahkannya. Forrest yang baik hati dan tulus tidak marah walau disalahkan.

Karena sudah usai perang, Forrest pun banyak menganggur. Untuk mengisi waktu kosong, ia berlatih ping-pong. Ternyata, ia sangat ahli sehingga seringkali melakukan tour untuk mewakili U.S. Army. Forrest bahkan pernah melakukan pertandingan persahabatan di China. Padahal saat itu kondisinya sedang Perang Dingin. Karena tergabung di tim nasional ping-pong A.S., Forrest kembali diundang mengunjungi White House dan bertemu Presiden Richard Nixon.

Ia disediakan penginapan di Watergate Hotel. Tanpa disengaja, Forrest melihat ada orang yang masuk ke salah satu ruangan di gedung sebelah hotelnya. Ia menelepon polisi dan meminta mereka membantu orang-orang itu karena “kasihan mencari sesuatu dalam gelap”. Tentu saja Forrest tak tahu bahwa ia melaporkan orang-orang yang masuk ke kantor Partai Demokrat A.S. dan kemudian dikenal sebagai “Watergate Scandal”.

Menjelang tahun baru, ia kembali bertemu dengan Letnan Dan. Ia pun disewakan pelacur untuk merayakan malam pergantian tahun. Tetapi di kamarnya yang murah, pelacur itu mengejek Forrest yang tak hendak berkencan sebagai “bodoh”. Letnan Dan marah dan mengusir mereka. Para pelacur pergi sambil mengejeknya sebagai “freak” alias “orang aneh”. Malam itu, Forrest menceritakan niatnya meneruskan cita-cita Bubba sebagai nelayan penangkap udang. Ia berniat membeli kapal udang dan pastinya menjadi kaptennya. Dan mentertawakan, tetapi berjanji andaikata Forrest mampu mewujudkan niatnya itu, ia akan bergabung dan menjadi anak buahnya.

Saat sedang berlatih ping-pong, seorang prajurit masuk dan membawa surat pembebas-tugasan dirinya. Forrest pun berlari pulang dan menemui ibunya. Ternyata karena ia masuk sebagai tim ping-pong dan terkenal, banyak produk menawarinya menjadi bintang iklan. Ia menerimanya dan memanfaatkan uangnya untuk membeli kapal penangkap udang.

Saat melayarkan kapalnya pertama kali, Dan datang di dermaga, memenuhi janjinya untuk bergabung. Dan cuma memberi satu syarat, ia tak mau memanggil Forrest dengan sebutan “Sir”. Atas saran Dan, Forrest pun memberi kapalnya nama. Karena ia hanya tahu satu nama di hati dan pikirannya, kapal itu diberinya nama “Jenny”.

Forrest dan Dan pun memulai ekspedisi pencarian udang dengan kapal “Jenny”. Tetapi karena kapal mereka menggunakan peralatan seadanya dan hanya bisa beroperasi di lepas pantai, mereka hanya mendapatkan sampah. Peruntungan mereka berubah setelah terjadi “Hurricane Carmen”. Pada saat itu, atas saran Dan, mereka berlayar jauh ke balik teluk. Dan ternyata, justru karena itulah kapal mereka selamat dari badai, sementara tidak ada kapal lainnya yang selamat. Udang yang mereka dapat melimpah dan keuntungan mereka yang besar membuat mereka mampu membeli kapal-kapal lain yang semuanya dinamai “Jenny” hanya dengan urutan nomor saja.

Berdua, mereka mendirikan Bubba Gump Shrimp Company. Seorang bapak yang duduk di sampingnya di halte tertawa begitu Forrest memberitahukan jatidirinya. Ia mengira Forrest seorang pembual. Karena menurutnya tak mungkin seorang jutawan A.S. naik bus umum. Tetapi seorang nenek tua yang duduk kemudian terkesima saat Forrest menunjukkan sampul majalah Forbes dengan maksud menunjukkan foto Letnan Dan, dimana di sampul majalah itu juga ada foto dirinya. Berarti, Forrest tidak bohong seperti dikira semula.

Karena menerima kabar ibunya sekarat, Forrest pun segera pulang ke rumah. Ia menyerahkan pengelolaan perusahaan pada Dan. Ketika di rumah, Gump menerima surat dari Dan bahwa ia menginvestasikan sebagian keuntungan perusahaan mereka di “suatu perusahaan buah”. Ketika Gump diperlihatkan membuka surat berkop surat perusahaan itu, ternyata adalah “Apple Computer” yang logonya memang buah apel. Gump sama sekali tidak tahu perusahaan itu sama sekali bukan perusahaan buah. Tetapi keputusan itu jelas membuat mereka berdua tambah kaya. Tetapi tak lama kemudian ibunya meninggal dunia.

Jenny pun pulang ke kota asalnya dan menemui Forrest. Ia sempat tinggal bersama Forrest di rumahnya. Tetapi saat Forrest melamarnya, Jenny menolaknya. Meski sempat bercinta, tetapi pada pagi harinya Jenny menyelinap pergi. Ia merasa tak pantas bagi Forrest.

Kecewa dan patah hati, Forrest pun melakukan aktivitas yang aneh tapi nyata: berlari. Ia berlari tanpa arah dari ujung ke ujung Amerika, dari pantai timur ke pantai barat. Berbulan-bulan ia melakukan itu hingga menjadi pemberitaan media massa. Aktivitasnya itu pun memberikan inspirasi banyak orang hingga ia kemudian memiliki pengikut yang mengikutinya berlari ke mana pun. Ia bahkan sempat menginspirasi dua ide yang penonton tahu jadi kemudian populer: sticker di bumper mobil bertulisan “Shit Happened” dan icon smiley face. Tetapi satu ketika, Forrest bosan berlari dan berhenti begitu saja, lalu pulang kembali ke rumah.

Sesampainya di rumah, Forrest menerima surat dari Jenny yang memintanya bertemu. Oleh karena itulah, ia kemudian naik bus untuk mencari alamat tempat tinggal Jenny. Nenek tua baik hati yang duduk di samping Forrest di bangku halte bus diperlihatkan surat bertuliskan alamat Jenny. Ia lantas memberitahu tak perlu naik bus ke sana, lagipula busnya tak kunjung datang. Karena alamat itu hanya enam blok saja jauhnya.

Forrest bangkit dan meninggalkan bangku halte bus itu. Film lantas beralur maju di masa kini film, setelah sebelumnya sempat beralur kilas-balik (flash-back) beberapa kali.

Forrest menemukan alamat di Henry Street. Jenny yang kini bekerja sebagai pelayan restoran membukakan pintu dan memperkenalkannya pada seorang anak lelaki kecil. Ia memberitahunya bahwa nama anak itu juga Forrest (Haley Joel Osment). Dan akhirnya Jenny mengakui bahwa anak itu adalah anak Forrest. Meski terkejut, Forrest gembira dan menemani anak itu menonton televisi. Dari gerak-geriknya yang serupa, dengan mudah diketahui bahwa mereka memang ayah dan anak.

Sedihnya, Jenny memberitahu Forrest bahwa ia mengidap penyakit aneh akibat seringnya berhubungan seks bebas dan menggunakan obat terlarang dengan jarum suntik bersama-sama. Kemungkinan besar penyakit itu adalah AIDS. Jenny menyatakan bersedia menjadi istri Forrest. Mereka pun kembali ke Alabama dan menikah. Saat upacara, Dan datang dengan tunangannya, seorang wanita berdarah Jepang. Dan sendiri kini bisa berjalan berkat kaki palsu berbahan titanium alloy yang dipasang.

Tak lama kemudian, Jenny meninggal dunia. Film diakhiri dengan adegan Forrest mengantar anaknya Forrest Jr. untuk menunggu bus sekolah yang akan menjemputnya di hari pertama sekolah. Film ditutup secara dengan adegan bulu burung yang ditemukannya di awal film kembali terbang tertiup angin.

Kritik Film

Speechless. Itulah yang terjadi pada saya saat pertama kali menyaksikan film ini. Begitu mengesankan, begitu inspiratif.

Film ini juga begitu berani menggabungkan kejadian sejarah dengan cerita fiktif. Mengakomodasi penulisan novelnya, Forrest Gump digambarkan bertemu dengan tiga Presiden A.S. di masa berbeda. Teknologi penyisipan sinematografi baru ke dalam footage dokumenternya patut dipuji, bahkan hingga 20 tahun kemudian.

Film ini sangat inspiratif, memberikan pesan moral yang sangat kuat. Bahwa seorang dengan kekurangan apa pun tetap bisa maju dan sukses dengan memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Tak jarang, potensi itu tertutupi atau belum diketahui. Dukungan keluarga terdekat juga sangat penting, ini akan melindungi dari celaan dan hinaan dari orang lain. Kalau dibahas soal ini, saya rasa bisa satu artikel tersendiri. Dan memang contoh dari film ini sering saya pakai sebagai bahan dalam pelatihan dan tulisan.

Selain pesan moralnya yang kuat, secara sinematografi film ini sangat bagus. Ia menyabet banyak penghargaan perfilman. Pada ajang Academy Awards (Oscar) ke-67 saja ia diganjar 6 piala yaitu   Best Picture, Best Actor in a Leading Role, Best Director, Best Visual Effects, Best Adapted Screenplay, dan Best Film Editing. Ia dimasukkan dalam daftar 100 Film Terbaik sepanjang masa oleh American Film Institute dan juga daftar 500 Film Terbaik sepanjang masa oleh Empire. Masih banyak lagi deretan penghargaan untuk film ini yang akan sangat panjang bila dituliskan.

Secara komersial, film ini sangat sukses. Dengan biaya pembuatan US$ 55 juta, ia meraup pendapatan hampir US$ 678 juta dari pemutaran film di bioskop saja. Itu berarti 12 kali lipatnya! Kritikus juga menyambut baik film ini dengan tulisan yang positif. Tetapi kritikan dari sisi negatif juga ada, misalnya perbedaan dengan novel asli karya Winston Groom yang dituliskan pada 1986. Tetapi saya pikir masih sangat wajar karena ‘bahasa film’ jelas beda dengan ‘bahasa sastra’. Sutradara Robert Zemeckis telah mampu menghidupkan film dengan lebih ‘bernyawa’.

Leave a Reply