Resensi Film-Bhayu MH

From Paris With Love

Year : 2010 Director : Pierre Morel Running Time : 92 mins. Genre : , , , ,
Movie review score
1/5

Bagi Anda yang kangen pada penampilan John Travolta, film ini mungkin bisa jadi ‘pengobat rindu’ yang pas. Juga buat penyuka film bergenre action yang ujung-ujungnya ‘jagoan pasti menang’, apalagi ditambah bumbu special effect ledakan bom dahsyat, film ini tak boleh dilewatkan.

Cerita dimulai dengan kiprah seorang pegawai Kedutaan Besar Amerika Serikat yaitu James Reece (diperankan oleh Jonathan Rhys Meyers) yang bertugas sebagai personal aide Duta Besar A.S. di Prancis. Reece ini ternyata bukan pegawai biasa, melainkan agen yunior CIA. Ia ditugaskan untuk berbagai operasi ringan seperti penyadapan, namun ia mulai bosan dan meminta atasannya agar memasukkannya sebagai bagian agen khusus yang bertugas dalam operasi khusus CIA. Itu artinya, operasi yang memerlukan kekerasan bersenjata.

Harapannya terwujud ketika ia ditugaskan menjemput agen khusus senior bernama Charlie Wax (John Travolta berhasil memerankannya dengan baik). Agen berkepala botak ini ternyata seorang yang sangat piawai berkelahi dan menggunakan senjata, sampai-sampai Reece terkejut dan kedodoran saat harus mengikuti aksinya. Bahkan, kebodohan si agen yunior ini tampak saat ia harus membawa-bawa guci antik ala Cina berisi bubuk heroin ke beberapa tempat yang mereka datangi. Ternyata, guci itu baru berguna saat harus dipecahkan saat berhadapan dengan gerombolan gangster China (Triad?) yang menghadang mereka. Tujuannya? Agar penghadang mereka takut karena ada barang bukti dalam jumlah besar di tempat mereka, sembari mengancam akan mendatangkan polisi.

Alur cerita cukup rumit. Tidak langsung penonton tahu siapa sebenarnya yang dikejar. Plot cerita masih jadi misteri hingga setengah film berjalan. Penelusuran Wax dan Reece kerap kali membuat kecele karena ternyata tujuannya belum sampai, melainkan masih tujuan antara. Pada akhirnya, diketahui adanya upaya pembunuhan terhadap delegasi A.S. yang sedang menghadiri suatu konferensi. Delegasi itu dipimpin oleh Menteri Luar Negeri A.S.

Secara keseluruhan, film ini sarat adegan action. Tak kurang dari 28 jenis adegan action berbeda diperagakan, termasuk kejar-kejaran di jalan tol. Dimana Wax bahkan sampai menggunakan senjata panggul anti pesawat terbang “Stinger” untuk menghadang laju teroris yang hendak membunuh Menteri Luar Negeri A.S.

Toh, semua itu tak cukup untuk menjadikan film ini box office. Aksinya terlalu biasa, bahkan dibandingkan trilogi Bourne yang lebih sederhana dalam hal special effect, film ini terasa kurang greget. Kalaupun harus dipuji, justru pada kepiawaian sutradara dan penulis skrip untuk mengulur keingintahuan pemirsa terhadap siapa otak sebenarnya dari usaha pembunuhan ini. Termasuk menyembunyikan tudingan teroris dari sekelompok fanatik beragama Islam, walau sempat menyebut kata “jihad”. Cukup laik tonton untuk hiburan akhir pekan.

Resensi ini semula diposting di blog harian LIFESCHOOL pada 21 Februari 2010

Leave a Reply