Resensi Film-Bhayu MH

Godzilla

Year : 1998 Director : Roland Emmerich Running Time : 139 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
3/5

 

Jalan Cerita

Terjadi insiden nuklir di kepulauan Polynesia yang merupakan wilayah koloni Prancis. Tanpa diketahui, ada sarang kadal yang terkena efek radiasi. Satu dekade kemudian, sebuah kapal pancing berbendera Jepang tiba-tiba diserang oleh makhluk laut yang sangat besar di Samudra Pasifik Selatan. Hanya seorang pelaut yang selamat dari insiden itu. Ia terkena trauma hebat, dan saat ditanya oleh pria Prancis misterius di rumah sakit tentang apa yang dilihatnya jawabannya hanya “Gojira”.

Dr. Niko “Nick” Tatopoulos (Matthew Broderick), seorang ilmuwan NRC digambarkan sedang berada di zona terlarang Chernobyl-Ukraina. Ia sedang menyelidiki dampak radisi pada lingkungan, ketika tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan petugas dari Departemen Dalam Negeri A.S. Ia bersama sejumlah ilmuwan lainnya bersama pasukan militer lantas dikirim ke Tahiti dan Jamaica. Mereka mempelajari puing kapal Jepang dengan jejak cakar raksasa yang tertera di atasnya.

Pria Prancis misterius yang mewawancara korban selamat tadi juga hadir. Ia kemudian memperkenalkan diri sebagai Philippe Roaché (Jean Reno) dan mengaku seorang agen asuransi. Di atas pesawat militer, Nick mengidentifikasi contoh kulit yang ditemukannya di reruntuhan kapal sebagai spesies tak dikenal. Ia mengesampingkan teori dari pihak militer bahwa makhluk itu adalah dinosaurus yang hidup kembali. Nick lebih cenderung pada kemungkinan bahwa makhluk itu mutasi akibat tes nuklir. Media massa menjuluki makhluk berbentuk reptil raksasa itu sebagai “Godzilla”. Ia dideteksi melakukan perjalanan ke New York city dengan meninggalkan jejak kerusakan.

Pihak militer segera mengevakuasi kota sembari berupaya membunuh makhluk itu. Tetapi amunisi pihak manusia ternyata tidak mampu menembus kulitnya yang tebal. Walau begitu, makhluk itu tetap hewan biasa dan ia ternyata terluka. Nick mengumpulkan contoh darah itu dan terkejut setelah melakukan tes kehamilan. Ternyata Godzilla itu bereproduksi secara aseksual, alias tidak membutuhkan pasangan. Mungkin mirip cacing yang hermafrodit. Diketahui suhu tubuhnya memanas dan ia siap bersarang untuk melahirkan. Diduga kuat ia sedang berupaya mengumpulkan makanan untuk keperluan itu.

Di tempat lain, seorang wartawati bernama Audrey Timmonds (Maria Pitillo) yang selalu tidak dianggap sedang putus asa saat melihat siaran televisi. Berita soal Godzilla menarik perhatian warga, dan ia terkejut melihat di layar televisi ada sosok pria yang dikenalnya: Nick. Ia pun memutuskan memanfaatkan hubungan mereka. Karena ia adalah bekas pacar Nick, mudah saja ia menemuinya di pusat kendali militer untuk menangani Godzilla.

Nick menerimanya dengan tangan terbuka, dan ternyata ia masih mencintainya. Terbukti dengan masih bertebarannya foto-foto Audrey di meja Nick. Tergoda untuk mendapatkan berita eksklusif, Audrey curang dengan mencuri kaset video rahasia milik Nick. Ia lantas membawa rekaman itu ke medianya dan disiarkan luas dengan harapan mendapatkan penghargaan. Tetapi bosnya yang culas, Charles Caiman (Harry Shearer), malah mengumumkan kaset video itu sebagai penemuan medianya sendiri. Rekaman itu menunjukkan penemuan awal Godzilla di beberapa tempat, menunjukkan jejak cakar raksasa.

Mengetahui adanya kebocoran, militer merasa dipermalukan dan memecat Nick dari pekerjaannya. Tetapi kemudian ia diculik oleh Roaché, yang lantas mengungkap identitas dirinya sebenarnya sebagai agen DGSE, agensi intelijen asing Prancis. Dia dan koleganya telah mengamati berbagai kejadian terkait Godzilla dan berencana menutupi keterlibatan negaranya dalam kecelakaan nuklir yang menyebabkan munculnya Godzilla. Mereka mengajak Nick bekerjasama untuk mencari sarang Godzilla yang diduga ada di dalam kota.

Godzilla kemudian menyelam ke Sungai Hudson dan sempat diserang oleh kapal selam Angkatan Laut A.S. Pihak berwenang mengira makhluk itu tewas dan merayakannya. Sementara tim khusus pimpinan Roaché bersama Nick terus mencari keberadaan sarang makhluk itu. Mereka menduga, makhluk itu bertelur seperti reptil lainnya dan memerlukan sarang untuk menaruh telurnya. Tanpa diketahui, Audrey dan kamerawannya Victor “Animal” Palotti (Hank Azaria) mengikuti mereka. Mereka akhirnya sampai di terowongan kereta bawah tanah (subway) menuju ke Madison Square Garden. Alangkah terkejutnya mereka mendapati tempat itu ternyata penuh dengan telur Godzilla, ratusan jumlahnya. Mereka berupaya menempatkan dinamit untuk menghancurkan telur-telur itu. Tetapi belum berhasil meledakkannya, telur-telur itu menetas.

Bayi-bayi Godzilla itu memakan cadangan ikan yang disediakan induknya. Tetapi karena para manusia itu melewati pula lautan ikan mati untuk mencapai sarang, tubuh mereka pun menjadi bau ikan. Dan bayi-bayi itu tertarik pada mangsa yang masih hidup karena bergerak. Apalagi ikan-ikan yang tersedia dengan cepat habis, sehingga mereka mulai memburu tim Roaché. Pada akhirnya, satu per satu seluruh anggota timnya tewas dimangsa.

Nick, Audrey, Roaché dan Victor akhirnya berhasil mencapai ruang khusus peliputan pers di stadion olahraga. Karena terdapat peralatan untuk siaran langsung di sana, mereka pun melakukan liputan langsung yang disiarkan secara luas. Masyarakat terkejut melihat betapa banyaknya bayi Godzilla yang hidup dan akan sangat bahaya bila terlepas ke kota. Merespon fakta mengejutkan itu, pihak militer merespon dengan menyiapkan serangan udara untuk mengebom Madison Square Garden.

Saat pihak militer dan masyarakat panik terhadap keberadaan ratusan bayi Godzilla, ternyata induk Godzilla tidak mati. Ketika ia kembali ke sarang, didapatinya anak-anaknya telah tewas dibom. Ia pun marah dan memburu Nick, Roaché, Audrey dan Victor yang dideteksinya masih bergerak. Keluar dari stadion yang terbakar, Roaché menemukan taksi yang ditinggalkan dan mengemudikannya sepanjang jalan Manhattan. Godzilla terus memburu mereka dan mencapai Brooklyn Bridge. Jembatan itu ditabraknya, tetapi kabel-kabel baja penahan yang putus membelitnya. Pesawat jet tempur yang baru saja membon stadion pun kembali menyerang Godzilla dengan peluru kendali (missile). Godzilla terjatuh, menghancurkan taksi tepat di rahangnya dan perlahan tewas. Roaché, Nick, Audrey dan Victor selamat. Sementara khalayak New York merayakan kematian Godzilla.

Tetapi di arena stadion olahraga, ternyata ada satu telur yang selamat dari pemboman. Bayi Godzilla keluar dari cangkang telur dan mengaum. Mengindikasikan kemungkinan adanya sekuel film ini berikutnya.

Kritik Film

Godzilla adalah karakter monster orisinal dari Jepang. Sebelum Hollywood meliriknya, ia sudah ‘membintangi’ 28 film buatan Jepang. Karakter ini dimiliki hak ciptanya oleh Toho Co., Ltd. Pertama kali muncul di film karya sutradara kenamaan Jepang Ishiro Honda pada tahun 1954 berjudul “Godzilla”. Untuk keperluan pemasaran di Amerika Serikat, ia diberi subjudul “King of the Monsters”. Begitu populernya dia sebagai bagian dari pop-culture hingga dibuat pula dalam bentuk merchandise, video games, komik, novel, buku, dan serial televisi.

Pembuatan versi barat ini tentu dengan seizin pemilik hak cipta dari Jepang. Tetapi, rupanya Toho merasa bentuk akhir dan karakter monster dalam film besutan sutradara Roland Emmerich ini kurang pas. Sehingga dalam pemasaran berikutnya, nama monster ini disingkat menjadi “Zilla”.

Saya sendiri tidak pernah melihat film pertama buatan Ishiro Honda. Tetapi saya ingat pernah melihat film hitam-putih salah satu serial filmnya di TVRI sewaktu kecil. Orangtua saya pun mengenal karakter monster Jepang ini. Namanya sendiri merupakan gabungan dari dari dua kata hewan dalam bahasa Jepang, yaitu gorilla (gorira (ゴリラ)), dan paus (kujira, 鯨(クジラ)) yang digabungkan menjadi “gojira”  (ゴジラ?). Visualisasinya dalam film dekade 1950-1960-an memang dahsyat. Meski kalau sekarang kita bisa tertawa karena jelas terlihat bahwa itu hanya orang memakai kostum yang bergerak di tengah kota miniatur, tetapi ingat bahwa pada masa tersebut belum ada teknologi CGI. Maka, trik itu cerdik dan terbukti menarik penonton.

Ketika pada 1998 Hollywood pada akhirnya mengangkat icon pop-culture Jepang ini ke layar lebar, tentu kita mengharapkan peningkatan pada efek visualnya. Dan harapan itu sebenarnya tidak sia-sia. Film berbiaya US$ 130 juta ini membuat Godzilla seolah nyata.

Meski tidak memuaskan bagi Toho selaku “bapak” Godzilla, saya pribadi cukup puas melihat penampakan monster itu. Walau, tentu saja penampakannya sangat mirip dinosaurus dan langsung mengingatkan saya pada Jurassic Park (1993). Membandingkan kedua film itu, terasa malah Godzilla seperti ‘kalah sebelum perang’. Karena penggambaran monster di film yang hadir lima tahun lebih awal itu malah lebih bagus, dan pastinya lebih banyak. Ketakutannya pun lebih nyata. Rasa panik menyadari adanya makhluk raksasa yang hendak merusak kota dan menghancurkan peradaban manusia kurang terasa di film ini.

Menurut saya, meski bagus sebagai alur cerita, hubungan cinta Nick dan Audrey terkesan terlalu dipaksakan. Tidak terlihat gereget kalau masih ada cinta di antara mereka. Mustinya, minimal bisa diselipkan satu-dua adegan romantis. Walau dalam suasana tegang, tentunya hal itu masih dimungkinkan.

Tewasnya Godzilla yang hanya ditembak dengan peluru kendali (rudal) atau missile dari pesawat jet tempur juga seperti anti-klimaks. Padahal ia telah ditembak dengan torpedo sebelumnya dan tidak apa-apa. Bahkan di awal film juga diperlihatkan helikopter menembakinya dengan roket didukung pula oleh tank dan MLRS dari darat. Kekuatan semua jenis bom itu relatif sama. Kenapa gagal membunuh monster itu di awal film tetapi akhirnya berhasil? Penggemar kemiliteran –apalagi militer dan ahli kemiliteran- pasti akan berpikiran serupa.

Selain itu, saya menikmati menonton film ini. Intensitas ketegangannya dijaga dengan baik hingga akhir, membuat penonton betah duduk tidak beranjak. Kalau pun tidak menonton di bioskop, tetap akan sayang menekan tombol “pause” pada remote control DVD player.

Leave a Reply