Resensi Film-Bhayu MH

Godzilla

Year : 2014 Director : Gareth Edwards Running Time : 123 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
4/5

Bagi penyuka film monster, bisa jadi sudah akrab dengan nama “Godzilla”. Dia adalah monster laut asal Jepang yang khas. Ia dikisahkan merupakan semacam dinosaurus yang lama tertidur, berasal dari planet lain yang kemudian bangun dan menimbulkan kekacauan. Film aslinya sendiri adalah buatan Jepang pada tahun 1950-an. Karena itu, film ini dengan apik mengawalinya dengan prolog yang terkesan merupakan sejarah sehingga seolah merupakan nyata.

 

Jalan Cerita

Film dibuka dengan sejumlah footage film hitam-putih. Dokumentasi berbagai percobaan senjata nuklir di masa Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Sovyet. Akibat nuklir, terjadi mutasi pada makhluk hidup. Karena merupakan senjata terkuat manusia, saat kemunculan pertama kali Godzilla, ia dihantam dengan bom nuklir. Manusia mengira ia sudah tewas selamanya.

Ada saksi mata kejadian tersebut yang tidak percaya pada klaim pemerintah itu. Ia menyelidiki jejak makhluk purba itu. Pada tahun 1999, ilmuwan dari Proyek Monarki (Project Monarch) bernama Ishiro Serizawa dan Vivienne Graham menyeldiki penemuan di sebuah tambang yang runtuh di Filipina. Mereka mendapati adanya tulang-belulang yang muncul ke permukaan Bumi dan jejak aneh menuju ke lautan. Sementara itu, di Jepang Pembangkit Listrik Tenaga Listrik Janjira mendapati adanya aktivitas seismic yang tidak biasa. Supervisor A.S. yang dikontrak PLTN itu bernama Joe Brodys lantas meminta istrinya Sandra yang juga seorang ahli untuk masuk ke dalam terowongan menuju reaktor inti nuklir. Tanpa diduganya, ternyata getaran mirip gempa bumi itu membuat reaktor nuklir bocor. Meskipun tim Sandra sudah berlari, tetapi kebocoran reaktor yang kemudian meledak tak bisa dihindari. Di hadapan suaminya yang terpaksa menutup pintu baja pengaman agar kebocoran tidak naik ke PLTN, istri dan timnya tewas terpanggang.

Pada tahun 2014, 15 tahun setelah kejadian tersebut, putra Joe yang bernama Ford kembali dari tugas militer ke rumah keluarganya di San Fransisco. Ia bekerja di Divisi Penjinak Bahan Peledak Angkatan Laut A.S. Tetapi ia segera pergi ke Jepang begitu mendengar kabar ayahnya ditahan karena menerobos bekas tempat kerjanya dahulu, PLTN Janjira.

Joe lantas membujuk Ford untuk menemaninya kembali ke rumah lama mereka. Karena kebocoran reaktor nuklir, seluruh warga sekitar terutama pekerja dievakuasi mendadak. Sehingga mereka tak sempat berkemas, termasuk Joe meninggalkan banyak data di rumahnya. Karena kasihan, Ford setuju menemani ayahnya masuk ke zona terlarang. Mereka berhasil mendapatkan data-data dalam tumpukan buku dan disket lama.

Meski berhasil mendapatkan data, mereka kemudian ditangkap dan dibawa ke fasilitas rahasia yang tersembunyi di balik reruntuhan bekas PLTN. Joe mengaku pernah bekerja di sana dan datanya dicek oleh pimpinan proyek dan ternyata betul. Di saat mereka ditahan di sana, sesosok makhluk raksasa bersayap bangkit dan berhasil melepaskan diri dari pengamanan. Ia melarikan diri dengan merusak fasilitas rahasia tersebut. Joe terluka dan lantas tewas, tetapi sempat menitipkan amanat kepada putranya untuk meneruskan penyelidikan. Kepada publik, pemerintah mengumumkan bahwa insiden itu adalah akibat gempa bumi hebat.

Pimpinan U.S. Navy Laksamana William Stenz membentuk gugus tugas khusus untuk mengatasi masalah itu. Serizawa, Graham dan Ford ditugaskan bergabung. Makhluk yang lolos itu diberi julukan MUTO, singkatan dari Massive Unidentified Terrestrial Organism (Makhluk Hidup Luar Angkasa Tak Teridentifikasi Raksasa). Ilmuwan yang terlibat menerangkan bahwa ekspedisi laut dalam pada 1954 telah memicu kemunculan Godzilla, makhluk predator alfa prasejarah. Diterangkan juga bahwa percobaan nuklir pada 1950-an sebenarnya ditujukan untuk membunuhnya. Dan kerusakan PLTN Janjira sebenarnya karena MUTO. Ford mengungkapkan bahwa Joe telah memonitor sinyal echolocation yang menunjukkan bahwa MUTO berkomunikasi dengan sesuatu.

Diketahui MUTO mendarat di Hawaii, menghancurkan kapal selam nuklir Rusia. Godzilla kemudian tiba, menyebabkan tsunami dan kemudian segera terlibat perkelahian dengan MUTO, sebelum ia terbang. Sementara itu, MUTO kedua yang tidak bersayap muncul di Nevada dan menghilang di Las Vegas. Para ilmuwan mengasumsikan bahwa MUTO kedua adalah betina. Kedua MUTO itu diduga berkomunikasi untuk bereproduksi di San Fransisco.

Meskipun para ilmuwan keberatan, Stenz menyetujui rencana pemakaian senjata nuklir untuk menghancurkan monster tersebut. Ford bergabung dalam tim yang mengantarkan hulu ledak nuklir dengan kereta. MUTO betina menyerang kereta dan merusak hulu ledak. Hulu ledak yang tersisa diangkut dengan pesawat ke kota dan segera diaktivasi setelah militer gagal menghentikan Godzilla di Golden Gate Bridge. MUTO menangkap hulu ledak dan membuat sarang di daerah Chinatown.

Godzilla yang memburu jejaknya tiba dan berkelahi lagi dengan MUTO. Saat itulah para prajurit termasuk Ford terjun ke kota untuk menemukan dan melucuti hulu ledak. Gagal menonaktifkan di sarang MUTO, mereka membawanya dengan perahu untuk diledakkan di laut. Ford meledakkan sarang MUTO, menyebabkan betinanya meninggalkan perkelahian. Awalnya, MUTO terlihat unggul, tetapi kemudian kemenangan justru di tangan Godzilla. Makhluk ini lantas terjatuh di pantai dan Ford diselamatkan saat bom meledak di laut. Hari berikutnya, Ford menemukan keluargnya di tempat pengungsian. Godzilla, yang dikira mati, tiba-tiba bangkit dan kembali ke samudra. Beritanya dituliskan ambigu di media massa: “Raja Monster – Penyelamat Kota Kita?” yang mengindikasikan bahwa ia mungkin saja telah menyelamatkan kota dari MUTO.

 

Kritik Film

Film ini seolah melanjutkan garapan Hollywood sebelumnya, yaitu Godzilla (1998). Keterkaitannya coba dibangun di awal film dengan pengutipan footage film hitam-putih di masa tahun 1950-an. Godzilla sendiri merupakan karakter monster Jepang (disebut “kaiju”) yang pertama kali muncul di film karya sutradara Ishiro Honda pada 1954. Sebelum Hollywood mengangkatnya pada 1998, ia telah terkenal di penjuru dunia karena telah ada 28 serial film dalam franchise-nya yang dibuat di Jepang.

Akan lebih baik bila sudah melihat film Godzilla (1998) sebelum melihat film ini, sehingga bisa membandingkan. Karena mungkin agak sulit memperoleh copy film buatan Jepang-nya, maka perbandingan cukuplah antara kedua film tersebut. Karena hak cipta karakter Godzilla tetap dimiliki oleh perusahaan Jepang bernama Toho Co., Ltd, maka pembuatan setiap film Godzilla di mana pun di seluruh dunia akan selalu dalam pengawasan mereka.

Di film ini, Godzilla yang muncul bisa jadi adalah anak dari Godzilla yang tewas dalam film Godzilla (1998). Karena di akhir film dikisahkan ada satu butir telur yang selamat dari pemboman di Madison Square Garden dan menetas. Ia mungkin bersembunyi hingga akhirnya muncul pada tahun 2014 ini.

Tetapi kali ini ia tidak sendirian dalam kiprahnya yang mengancam peradaban manusia. Justru ia bertarung melawan monster raksasa lain yang disebut MUTO. Secara pribadi, saya agak heran dengan penyebutan ini. Kenapa tidak menciptakan nama baru yang unik dan lucu? Sebutlah dalam serial film franchise buatan Jepangnya ada karakter “King Ghidorah”.

Walau dari segi nama terkesan kurang kreatif, saya justru memuji penampakan MUTO yang kreatif. Sepasang kekasih MUTO benar-benar lawan sepadan bagi Godzilla dan ancaman bagi manusia. Apalagi salah satunya memiliki sayap dan bisa terbang. Bukan saja tambah mengerikan, tetapi juga menghancurkan. Penampakan Godzilla di flim ini sudah melalui riset panjang.

Selain mempelajari film-film asli buatan Jepang, produser dan tim pembuat film menyadari keberatan Toho selaku pemilik hak cipta terhadap bentuk Godzilla pada film besutan Roland Emmerich tahun 1998. Karena itu, sutradara Gareth Edwards berkali-kali merancang dan mengubah bentuk Godzilla hingga dirasa memuaskan. Edwards sendiri menyatakan bahwa ia gembira bahwa Toho menerima monster buatannya sebagai bagian dari “keluarga monster Toho”.

Sebagai orang Indonesia, kita patut berbangga karena dalam mewujudkan karakter Godzilla, mereka mempelajari gerakan beberapa binatang predator atau pemangsa. Hanya ada satu jenis sisa binatang proasejarah sejenis dinosaurus yang masih hidup di seluruh dunia. Dan itu hanya ada di Indonesia: komodo. Bagian kepalanya sendiri adalah gabungan dari beruang, anjing dan elang.

Raungan Godzilla sendiri istimewa karena ahli sound effectnya sangat perfeksionis. Mreka mencampur suara asli dari film buatan Toho group dengan karakter suara baru. Pekerjaan untuk mendapatkan raungan ini sendiri berlangsung selama enam bulan dari keseluruhan produksi film selama tiga tahun.

Secara umum, film ini berhasil mengejutkan dan menimbulkan efek “wow” bagi pemirsanya. Satu hal yang tidak mudah mengingat begitu majunya teknologi digital sebagai perangkat pendukung pembuatan film. Pasar pun menyambut positif dengan pemasukan sebesar US$ 525 juta, sekitar empat kali lipat dari biaya produksi yang US$ 160 juta. Angkat jempol bagi sutradara Gareth Edwards dan tim!

Leave a Reply