Resensi Film-Bhayu MH

Habibie & Ainun

Year : 2012 Director : Faozan Rizal Running Time : Genre : , , , , , ,
Movie review score
3/5

Kisah ini diangkat dari buku laris karya Makmur Makka berjudul sama. Ditulis pasca wafatnya Hasri Ainun Habibie, merupakan memoir atau biografi dari suaminya, Bacharuddin Jusuf Habibie. Dengan cerdik sutradara Faozan Rizal mengedepankan kisah asmara pasangan itu di atas semua detail kehidupan B.J. Habibie yang kompleks.

Kisah dimulai di Bandung tahun 1953, saat keduanya masih bersekolah. Digambarkan, seorang guru menjodohkan mereka berdua karena sama-sama pintarnya. Habibie sempat mengejek Ainun sebagai hitam dan jelek seperti gula Jawa, tapi malah kemudian jatuh cinta dan mengatakan kalimat yang terkenal itu, “gula Jawa sudah menjadi gula pasir”.

Saya juga suka penggambaran betapa Ainun jadi rebutan para pemuda. Saat enam orang pemuda kaya datang ke rumah Ainun dengan mobil, justru sang gadis malah pergi jalan-jalan dengan Rudy yang datang cuma dengan becak. Sang bapak yang jelas merestui hubungan mereka terlihat “bervisi besar”. Rudy yang saat itu belum jadi apa-apa malah direstui berpacaran dengan anaknya. Terbukti, sang pemuda miskin tadi kemudian malah jadi Presiden Indonesia saat keenam orang pemuda tadi entah ada di mana.

Kisah selanjutnya beralur maju secara linier, mulai dari mereka berdua menikah hingga pergi merantau ke Jerman. Kembali ke Indonesia dan bertemu Presiden Soeharto, menjadi menteri, presiden hingga Ainun wafat.

Detail film ini memadai, tapi kurang gereget. Saat Ainun dirawat di Jerman misalnya, bagi saya terasa aneh Habibie menunggui Ainun sendirian. Mungkin ini dramatisasi, tapi terasa janggal karena di Indonesia suasana komunal terasa sekali. Artinya, kecil kemungkinan Habibie yang sudah sepuh sendirian berjaga di rumah sakit. Setting R.S.-nya sendiri terasa terlalu kecil seperti klinik saja. Padahal, untuk seorang mantan presiden dan juga dikenal sebagai warga terhormat di Jerman, sangat layak istrinya dirawat di R.S. besar. Demikian pula industri kereta api tempat Habibie muda pertama kali bekerja, terlihat terlalu kecil. Padahal, Talbot adalah raksasa di Jerman. Toh, adegan percobaan saat Habibie mengimplementasikan temuannya ke gerbong kereta api cukup bagus.

Detail lainnya pun cukup bagus. Terutama setting di Jerman. Ini karena pemerintah negara itu merawat kondisi kota-kotanya dengan baik. sehingga saat kru film datang ke sana, hampir semua tempat yang pernah dikunjungi Habibie muda masih seperti apa adanya. Terutama sekali di kota Aachen tempat Habibie berkuliah dan bekerja. Untungnya kota itu masuk Jerman Barat, bukan Jerman Timur. Andaikata begitu, bisa jadi kondisinya sudah tak sama karena kurang terawat.

Penggambaran pesawat DC-3  milik maskapai KLM yang ditumpangi Habibie-Ainun ke Jerman juga cukup bagus. Meski terkesan sekali kalau itu cuma miniatur ditambah sedikit animasi awan dan matte langit. Demikian pula adegan saat Habibie pulang kerja berjalan kaki dan terjebak hujan salju, terasa dibuat di studio. Meski begitu, adegan Habibie menyumpal sepatunya yang bolong dengan kertas kerja dan Ainun yang menunggu suaminya pulang cukup bagus dan dramatis untuk menunjukkan perjuangan mereka berdua di tanah orang sekaligus kesetiaan sang istri.

Satu kondisi yang saya tidak tahu sebelumnya adalah Habibie ternyata berkali-kali menyurati pemerintah Indonesia untuk bisa kembali ke negaranya, tapi tidak digubris. Barulah setelah Presiden Soeharto tahu tentang potensinya,Habibie dipanggil kembali untuk pulang dan berbakti bagi Indonesia.

Pemilihan pemeran berbeda untuk karakter Ainun dan Habibie saat masih sekolah dan kuliah hingga dewasa sudah tepat. Namun bagi saya, saat mereka tua terutama ketika Habibie menjabat sebagai menteri hingga presiden dan kemudian Ainun wafat, terasa kurang pas lagi. Semestinya ada sepasang pemeran lagi untuk peran Ainun dan Habibie tua. Juga Tio Pakusadewo yang didapuk sebagai pemeran Soeharto terasa ngganjel. Saya pribadi masih merasa Amoroso Katamsi  -pemeran Soeharto di banyak film terutama Pemberontakan G 30 S/PKI-nya Arifin C.Noer- jauh lebih pas. Walau begitu, secara keseluruhan film ini menarik untuk ditonton. Apalagi mendengarkan soundtracknya “Cinta Sejati” yang dinyanyikan pemeran Ainun sendiri yaitu Bunga Citra Lestari, terasa syahdu.

Leave a Reply