Resensi Film-Bhayu MH

Hansel & Gretel: Witch Hunter

Year : 2013 Director : Tommy Wirkola Running Time : 88 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
3/5

Sutradara dan penulis scenario film ini mengubah cerita rakyat klasik asal Jerman menjadi sebuah aksi seru. Alih-alih mengusung kisah aslinya dimana Hansel dan Gretel adalah anak miskin yang terjebak di pondok penyihir  tengah hutan, di film ini kedua anak itu tumbuh dewasa sebagai pemburu penyihir. Masa kecil Hansel dan Gretel memang diambil sebagai awal film, tapi kisah mereka dewasa adalah hal yang sama sekali baru diusung di film ini.

Akisah, di masa kecilnya yang samar-samar, Hansel dan Gretel hanya ingat dibawa ke hutan oleh ayahnya dalam keadaan panik. Ibunya ditinggalkan di rumah. Kemudian mereka tertarik pada sebuah rumah yang gerbangnya terbuat dari permen jelly berwarna-warni. Saya sontak teringat pada film anak-anak Charlie and the Chocolate Factory (2005). Tapi tiba-tiba mereka ditangkap oleh penyihir. Untungnya, mereka berhasil lolos dan membunuh penyihir itu. Dari situlah mereka belajar, bahwa cara terbaik membunuh penyihir adalah dengan membakarnya.

Sejak itulah kedua kakak-beradik itu jadi pembunuh penyihir. Mereka berkelana ke berbagai kota dan melakukan tugasnya sebagai pemburu bayaran. Film ini mengambil setting waktu di abad pertengahan di mana saat itu dianggap banyak penyihir berkeliaran, masyarakat kerapkali menangkapi orang-orang yang dicurigai. Menyaksikannya saya teringat pada Van Helsing (2004), meskipun di film itu musuhnya adalah vampire dan bukan penyihir.

Secara umum, film ini tidak mengejutkan. Ceritanya datar walau ada unsur ketegangan di dalamnya. Efek khusus untuk menampilkan penyihirnya bagus, walau tentu tidak sebagus serial Harry Potter. Karena ini fiksi, maka sah-sah saja kedua jagoan itu menggunakan senjata yang terhitung modern. Walau janggal tapi tetap keren, mengingatkan saya pada The League of Extraordinary Gentlemen (2003). Toh intrik yang dibangun tak serumit Underworld, walau sebenarnya bisa dibuat sedetail itu. Jalan cerita sederhana membuat film ini mudah diikuti, walau bukan jenis film yangmana penonton akan “mendapatkan sesuatu” setelah pulang. Bonus bagi para pria: wajah cantik dan body seksi Gemma Arterton sebagai Gretel dalam balutan busana ketat dari kulit. Hmmmm….

Leave a Reply