Resensi Film-Bhayu MH

Harry Potter and the Half-Blood Prince

Year : 2009 Director : David Yates Running Time : 153 mins. Genre : , , , , ,
Movie review score
5/5

Film Harry Potter seri keenam ini sangat mencekam. Nyaris seperti film horror atau thriller daripada film anak-anak segala umur. Bedanya, seramnya bukan karena penampakan makhluk-makhluk aneh, tapi karena suasana ceritanya memang dibangun begitu. Cerita memang menjadi unsur kuat dari film ini. Maklum saja, film ini memang diangkat dari seri novel super laris karya J.K. Rowling yang ciamik

Dalam film ini, komunitas penyihir pengikut “Pangeran Kegelapan atau Dia Yang Tak Boleh Disebut Namanya” mulai menteror komunitas muggle, manusia biasa. Di London, terjadi serangkaian peristiwa dan fenomena aneh. Antara lain hancurnya “Millenium Bridge” di London dan awan gelap yang bergulung-gulung menaungi kota selama berhari-hari. Kejadian ini akibat “Pelahap Maut”, begitu mereka menyebut dirinya, mulai mengorganisasikan diri guna menyambut kembalinya pimpinan mereka, Lord Voldemort Sang Pangeran Kegelapan. Tentu saja, bila sang pimpinan bangkit kembali, diharapkan mereka akan menguasai dunia.

Para “Pelahap Maut” bahkan berusaha menculik Harry saat berada di “The Burrows”, kediaman keluarga Weasley termasuk Ron teman sekelasnya. Akan tetapi upaya itu dapat digagalkan anggota Orde Phoenix meski harus merelakan terbakarnya “The Burrows”. Suasana mencekam ini terasa hingga ke ruang-ruang kelas Hogwarts.Bahkan Harry sempat menolak kembali sekolah, tapi akhirnya luluh berkat bujukan Dumbledore yang meminta Profesor Horace Slughorn ikut membujuknya.

Karena adanya ancaman terhadap keselamatan para murid dan guru, Kementerian Sihir menurunkan pasukan Auror untuk menjaga sekolah. Sejak pintu masuk hingga ke depan aula dan kelas, Auror berjaga untuk mengantisipasi serangan Pelahap Maut.

Karena tindakan para Pelahap Maut, cuaca pun jadi memburuk. Matahari nyaris tak terlihat, awan mendung hitam menggumpal terus-menerus, bahkan di dunia manusia biasa. Di Hogwarts, cuaca seperti itu membuat suasana muram, bahkan latihan Quidditch pun sepi dan hampir ditiadakan. Dalam suasana mencekam itu muncul kisah perebutan Keeper tim Quidditch asrama Gryffindor. Di sinilah terlihat simpati Hermione kepada Ron dengan membantunya memenangkan perebutan posisi itu. Percikan api cinta Hermione kepada Ron ditampilkan cukup berwarna di film ini. Demikian pula posisi Harry yang makin dewasa sehingga menjadi perhatian para gadis di Hogwarts.

Sementara judul sekuel film ini, Pangeran Berdarah Campuran (The Half-Blood Prince), muncul saat Harry dan Ron yang sedang iseng menonton anak-anak baru di lorong, ditegur Profesor Minerva McGonagall. Mereka lantas disuruh masuk kelas Ramuan yang diasuh Profesor Horace Slughorn, walau sebenarnya mereka enggan. Saat berebut buku teks yang tersisa, keduanya berebut buku yang masih bagus. Ron yang menang. Tapi ternyata, buku teks lecek yang dimiliki Harry lebih dahsyat. Di dalam buku itu terdapat tulisan tangan murid terdahulu yang memilikinya. Murid ini ternyata mengeksplorasi buku teks ramuan itu sedemikian rupa hingga menemukan aneka cara mengolah ramuan dengan lebih singkat dan pasti berhasil. Akibatnya, untuk pertama kalinya Harry menjadi juara di kelas, mengalahkan Hermione. Dan itu berkat buku teks lecek itu, yang dahulunya tertulis dimiliki oleh “Pangeran Berdarah Campuran.”

Sementara, kelompok Pelahap Maut terus bergerak. Mereka bahkan telah pula menggerakkan “kader”nya yaitu Draco Malfoy. Akan tetapi, misi rahasia Draco tidak terungkap hingga akhir film. Walau sejak awal trio jagoan kita yaitu Harry Potter, Hermione Granger dan Ron Weasley telah memergoki Harry memasuki toko bernama Borgin & Burkes di Diagon Alley, tapi apa tepatnya misi yang diembannya tetap jadi misteri hingga menjelang akhir film. Inti cerita selain berkisar pada tugas yang diberikan Voldemort pada Draco Malfoy, juga pada upaya pengungkapan rekaman kenangan tentang Tom Riddle sewaktu masih menjadi siswa di Hogwarts. Tom Riddle adalah nama asli Voldemort sewaktu muda. Melalui Pensieve, Profesor Dumbledore mengetahui ada rekaman kejadian yang diubah oleh Profesor Horace Slughorn tentang siswanya itu. Dumbledore kemudian menugaskan Harry untuk mengorek keterangan dari Slughorn. Karena kelak dari rekaman itulah kemudian diketahui salah satu rahasia Voldemort. Dan rahasia itu pula –bersama misi misterius yang diemban Draco Malfoy- yang kemudian membawa kematian salah satu tokoh utama cerita ini dalam salah satu episode tergelap Harry Potter ini. (ssst, spoiler alert!)

Yang jelas, seri film ini rasanya makin menunjukkan kedewasaan. Anak-anak mungkin perlu mencerna banyak karena film ini menunjukkan bahwa karakter para tokoh terus menjadi dewasa. Akibatnya, konflik dan situasi yang dihadapi makin kompleks. Namun, mengingat bukunya yang ratusan halaman saja dilahap habis segala usia, pastinya film ini lebih mudah dicerna daripada bukunya.

Ada adegan penting yang dipotong dari awal buku. Salah satunya yang saya ingat adalah dialog antara Perdana Menteri Sihir (Inggris) dengan Perdana Menteri muggle Inggris. Mungkin ini menyangkut kehormatan lambang-lambang negara, sehingga tidak disertakan. Bisa jadi karena dalam buku, Perdana Menteri muggle digambarkan ‘culun’ dan ketakutan menghadapi kaum ‘wizard’ alias penyihir.

Artikel ini pertama kali dimuat di blog harian LIFESCHOOL pada 2 Agustus 2009

Leave a Reply