Resensi Film-Bhayu MH

I Am Legend

Year : 2007. Director : Francis Lawrence Running Time : 100 mins. Genre : , , , , , , , ,
Movie review score
4/5

Film buatan tahun 2007 ini mengambil setting tahun 2009-2012. Kisahnya adalah tentang post-apocalyptic because of zombie scenario (pasca kiamat dengan skenario yang disebabkan zombie). Serupa dengan trilogi Resident Evil, bahkan saya melihat di beberapa scene ada kemiripan yang jelas bukan tanpa sengaja.

Film dibuka dengan suara berita di televisi menjelang Natal 2012. Di antara sekian berita soal salju dan liburan Natal yang menjelang, ada berita soal keberhasilan Dr. Alice Krippin (Emma Thompson) menemukan serum yang diklaim mampu menyembuhkan kanker. Tingkat keberhasilannya 100 % dengan menggunakan rekayasa genetika sehingga virus kanker bermutasi. Celakanya, di akhir Desember 2009, Krippin virus ini menyebabkan mutasi manusia tak terkendali. Selama 2009-2012, Krippin virus membunuh 90 % populasi manusia di Bumi. Sedangkan 588 juta sisanya berubah menjadi semacam zombie yang bersifat vampir, memangsa manusia hidup yang sehat.

Ahli virus militer Letnan Kolonel Dr.  Robert Neville (Will Smith) menyadari bahwa dirinya punya kemampuan mencari vaksin dari Krippin virus. Maka, menghindari pemboman yang diperintahkan oleh Presiden A.S. atas kota New York dan pulau Manhattan sebagai asal virus, Robert Neville mengungsikan keluarganya keluar pulau. Malang, saat helikopter mengudara, ia tertabrak helikopter lain yang menghindari roket yang ditembakkan pesawat tempur untuk menghancurkan jembatan Manhattan. Istrinya Zoe (Salli Richardson) dan anak perempuannya Marley (Willow Smith) tewas.

Ditemani oleh Samantha, anjing berjenis German Shepherd peliharaan Marley, Robert bertahan di New York. Dari hari ke hari ia mencoba menemukan anti-virus Krippin di laboratoriumnya yang terletak di bawah tanah rumahnya. Di siang hari, ia menjelajahi kota dari rumah ke rumah, mencari persediaan makanan dan minuman, juga bahan bakar. Di sore hari, ia bekerja di laboratorium. Dan di malam hari, ia tidur sembari siaga di rumahnya yang terletak di Washington Square Park townhouse. Rumahnya dibuat seperti benteng dengan pelapis jendela dari besi dan lampu ultraviolet. Itu karena para zombie yang disebut “Darkseeker” hanya bisa berkeliaran di malam hari. Seperti vampire, kulit mereka rentan sinar ultraviolet dari matahari di siang hari. Di tengah hari, Robert Neville selalu mampir ke South Street Seaport, menjaga apabila ada manusia hidup dan sehat yang mendengar siarannya di frekuensi radio AM.

Sebagai hiburannya sehari-hari, Robert mampir ke persewaan video cakram padat dan pura-pura menyewa sambil bicara dengan manekin. Di satu saat, ketika sedang memburu rusa sebagai bahan makanan segar, Sam –anjing Robert- lari memburu rusa itu hingga masuk ke gedung gelap. Robert berusaha mengikuti, tapi terkejut saat gedung itu ternyata penuh Darkseekers. Ketika akhirnya ia dan Sam berhasil keluar, Robert memutuskan menangkap salah satunya sebagai bahan percobaan serum yang dibuatnya. Robert sendiri kebal dari virus, baik melalui gigitan maupun udara, sementara Sam hanya dari penularan melalui udara saja. Walau begitu, upayanya menduplikasi kekebalan dirinya itu belum berhasil.

Keesokan harinya, saat hendak menjelajahi kota, Robert menemukan manekinnya yang diletakkan di persewaan video berpindah tempat di jalanan depan Grand Central Terminal. Karena dalam kondisi depresi sendirian berada di kota sebegitu besar, Robert menyangka manekin itu hidup. Ia pun mendekatinya dan menembakinya. Tanpa disadari, ia masuk dalam jebakan yang serupa dengan yang dibuatnya sehari sebelumnya untuk menangkap Darkseekers. Rupanya, pemimpin Darkseekers melihat cara itu dan menirunya. Robert sebelumnya sudah curiga karena sang pemimpin Darkseekers itu nekat memaparkan dirinya di bawah sinar matahari. Ternyata, sang pemimpin punya kemampuan mendekati manusia, dimana pada Darkseekers lain mereka malah kehilangan akal sehingga seperti binatang buas.

Hari hampir gelap ketika Robert tersadar. Dan saat itulah Darkseekers menyerang. Mereka berhasil melewati batas yang masih disinari matahari, tapi Sam terluka karena gigitan anjing yang sudah terinfeksi. Penggambaran anjing Darkseekers ini sangat mirip dengan anjing di Resident Evil. Robert kembali ke rumahnya dan berupaya menyelamatkan Sam dengan menyuntikkan vaksin yang belum sempurna, tapi gagal. Sam berubah menjadi Darkseekers dan Robert terpaksa membunuhnya dengan mematahkan lehernya.

Berduka karena kehilangan satu-satunya teman, Robert nekat berkendara dengan mobilnya ke South Street Seaport. Di sana, ia mencoba membunuh sebanyak mungkin Darkseekers. Tapi karena kalah jumlah, akhirnya mobil Robert berhasil digulingkan. Di saat kritis itulah muncul pertolongan dari mobil lain yang memasang lampu ultraviolet. Robert diselamatkan dan di perjalanan ditanyai di manakah tempat tinggalnya.

Di pagi hari, Robert tersadar mendengar ada suara perangkat video yang memutar film Shrek. Ia menuju ke ruang tamu dan mendapati seorang bocah lelaki sedang asyik menonton. Ternyata, bocah itu adalah Ethan (Charlie Tahan), anak dari Anna (Alice Braga) yang mendengar siaran radio Robert Neville. Saat hari sebelumnya ia datang tengah hari ke pelabuhan, ia tidak menemui Robert dan memutuskan menunggu hingga malam. Anna mencoba meyakinkan Robert untuk melakukan perjalanan bersamanya ke Bethel, Vermont, dimana diyakini ada koloni orang-orang yang selamat. Robert menolak untuk percaya dan memilih bertahan di situ.

Karena Anna tidak tahu prosedur menuangkan disinfektan di tangga rumah sehingga jejak mereka tidak tercium, para Darkseekers berhasil mengendus lokasi rumah Robert. Apalagi saat dibawa di malam hari itu Rober dalam kondisi terluka. Jejak darahnya tercium oleh pemimpin Darkseekers. Maka, rumah Robert pun diserang. Pertahanan lampu ultraviolet dan bom ranjau M18 Claymore yang dipasang di mobil-mobil yang diparkir di depan rumah serta halaman tak cukup untuk menahan ratusan Darkseekers yang datang dalam tiga gelombang.

Ketiganya akhirnya terdesak masuk ke dalam laboratorium. Saat itulah Robert menyadari percobaannya berhasil. Ia menemukan serum vaksin anti virus Krippin. Caranya dengan mendinginkan tubuh korban sehingga serum bisa meresap masuk lebih baik. Ia sempat mengambil darah dari tubuh Darkseekers yang dijadikan percobaan, lantas memasukkannya ke tabung. Sesaat sebelum memberikannya pada Anna, Robert melihat tattoo kupu-kupu di bahu Anna. Ia teringat putrinya Marley yang menggemari kupu-kupu dan memberi isyarat permainan tangan saat akan lepas-landas. Itu seakan firasat atau pertanda bahwa memang sang “kupu-kupu”-lah penyelamat mereka. Robert menyembunyikan Anna dan Ethan ke sebuah lubang perlindungan, sementara ia sendiri mengambil granat M67 untuk meledakkan laboratorium dan dirinya sendiri bersama para Darkseekers yang menyerbu.

Dalam epilog film, Anna dan Ethan berhasil mencapai Vermont. Di sana, ia menyerahkan serum vaksin yang berhasil dibuat Robert. Karena itulah, nama Robert Neville kemudian menjadi legenda penyelamat umat manusia.

Bagi saya, film ini keren, walau punya kelemahan logika di sana-sini. Misalnya saja saat para Darkseekers menyerbu rumah Neville, terlihat jelas mereka memiliki kemampuan melebihi manusia, sebutlah seperti memanjat dinding dengan mudah. Ini membuat mereka lebih seperti alien daripada mutasi manusia biasa. Di samping itu juga logika standar bagaimana seorang manusia bertahan sendirian di kota sebesar New York. Bila infeksi virus Krippin dimulai 2009 dan saat itu sudah 2012, berarti sudah tiga tahun berlalu. Apakah persediaan makanan-minuman masih bisa dipertahankan tidak kedaluarsa? Juga ketidakmampuan Darkseekers mendeteksi lokasi rumah Robert Neville, padahal rumah itu terletak di kawasan hunian biasa, agak tidak masuk akal. Sementara ketika Robert terluka diselamatkan Anna, jejaknya terendus cuma dalam sehari saja. Apakah misalnya, bunyi musik Bob Marley yang disetel keras-keras di sore hari tidak menarik perhatian Darkseekers?

Toh, di luar itu, film ini tetap luar biasa. Tahukah Anda, utnuk membuat film ini beberapa bagian kota New York sempat ditutup? Padahal, sulit sekali mendapatkan izin pembuatan film di kota itu. Apalagi sampai menutup bagian-bagian kota yang sangat sibuk. Mobil-mobil yang tampak juga betulan, bukan miniatur. Sehingga pembuat film ini memang menyediakan begitu banyak mobil untuk menegaskan efek kota yang ditinggalkan. Kengeriannya begitu terasa, kesendiriannya mencekam, kesunyian bertalu-talu. Rasa suspense-nya setara dengan film-film pembunuhannya Alfred Hitchock, walau rasa horror-nya tidak seseram Resident Evil. Pendeknya, ini salah satu film favorit sepanjang masa saya. Wajib ditonton!

Leave a Reply