Resensi Film-Bhayu MH

Iron Man 3

Year : 2013 Director : Shane Black Running Time : 130 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
4/5

Tony Stark kini jadi selebritis. Sejak di akhir film Iron Man (2008) ia memproklamirkan dirinya sebagai Iron Man, masyarakat jadi tahu bahwa taipan kaya-raya itu adalah sang superhero. Dasar narsis, Tony pun menikmati segala publikasi media dan perhatian masyarakat itu. Tapi di film ini, justru kepopuleran itu menjadi bumerang baginya.

Film diawali dengan kilas-balik (flash back) ke tahun 1999. Saat itu, Tony Stark dan Maya Hansen yang menghadiri pesta tahun baru di Swiss bertemu dengan Aldrich Killian. Pria ini adalah ilmuwan pengagum Stark dan mempelajari riset Maya dan baru saja mendirikan AIM (Advanced Idea Mechanics). Killian yang kumuh disuruh menunggu di atap gedung yang dingin oleh Stark, tapi taipan itu tak kunjung datang. Ia malah sibuk di kamar bersama Maya yang mendemonstrasikan risetnya tentang kemampuannya mengakses bagian otak untuk meregenerasi bagian tubuh yang luka atau hilang.

Di masa kini, Aldrich mengembangkan proyek bernama “Extremis” . Ini merupakan pengembangan riset Maya 13 tahun sebelumnya. Aldrich mengklaim mampu mengupgrade bagian otak manusia agar berkembang. Namun, seperti halnya riset Maya di masa lalu, serumnya pun belum sempurna. Ia berupaya mendekati Pepper Pots –pacar Stark- yang kini mengendalikan perusahaan Stark Industries. Stark sendiri memilih beristirahat dari perusahaan, antara lain karena ia mengalami serangan panik (anxiety attack) akibat invasi alien di New York (akibat Loki turun dari Asgard di film The Avengers).

Happy Hogan yang kini jadi kepala keamanan di Stark Industries sehari-har I bertugas mengawal Potts. Ia melaporkan pada Stark kalau kekasih bossnya itu bertemu Killian. Saat terjadi serangan di Teater China oleh Mandarin, Happy terluka. Mandarin pun mengedarkan siaran (broadcast) berisikan semacam peringatan kepada pemerintah A.S. Stark terintimidasi dan melalui televisi ia melancarkan tantangan verbal kepada Mandarin agar datang ke rumahnya. Mandarin menjawabnya dengan melancarkan serangan menggunakan tiga helikopter sipil yang dipersenjatai roket. Serangan itu menghancurkan mansion mewah Stark dan nyaris membunuh Stark, Potts dan Hansen yang sedang berkunjung.

Stark sempat menyelamatkan Potts  dengan menginstruksikan kostum Iron Man agar dikenakan kepada kekasihnya itu. Setelah keduanya selamat, Stark menarik kembali kostum itu. memakainya, dan terbang diselamatkan oleh JARVIS –pengendali degan kecerdasan intelektual- ke Tennessee. Sayangnya, tenaganya tak cukup untuk kembali ke California. Sehingga terpaksalah Stark terdampar di sana. Dengan bantuan seorang anak berusia 10 tahun yang jadi pengagumnya, Stark berupaya menghubungi Potts. Itu karena dunia mengira dirinya sudah tewas.

Dengan bantuan Harley –nama anak itu- Stark melacak keberadaan Mandarin di Miami. Namun saat ia berhasil masuk ke markasnya, ternyata orang yang ada di video dan mengaku Mandarin cuma aktor bayaran bernama Trevor Slattery. Tindakan itu adalah tipuan pengalihan karena sebenarnya Mandarin adalah Killian sendiri.

Kecanggihan teknologi yang dimiliki Killian membuatnya mampu membajak Iron Patriot. Ini adalah kostum eks “Iron Man” versi sebelumnya –ada di Iron Man 2- yang dirampas pemerintah dari Stark. Dikenakan oleh Kolonel Angkatan Udara James Rhodes, namanya diubah dari sebelumnya “War Machine”. Karena mereka kemudian bersahabat, Stark pun merelakan kostum itu diambil.

Dengan mengenakan kostum Iron Patriot rampasannya, Killian menyusup ke dalam Air Force One. Ia mengalahkan semua agen pengawal dan menculik Presiden Ellis. By the way, penonton pasti ngeh bahwa wajah Ellis ini sangat mirip George W. Bush, Jr.

Kembali ke laptop, Ellis hendak dibunuh di depan siaran langsung televisi  oleh Killian. Sementara Wakil Presiden ternyata terlibat dalam rencana itu. Terutama karena ia tertarik pada janji Killian untuk menumbuhkan kembali kaki putrinya yang cacat.

Dengan bantuan Harley, Stark melacak jejak para veteran yang dijadikan anak buah Killian. Saat bertemu ibunda Chad Davis –salah satu veteran itu- ia diserang oleh dua orang anak buah Killian yang kemudian diketahui bernama Ellen Brandt dan Chad Davis sendiri. Killian dengan mudah mengakses para veteran sebab AIM memang bekerjasama dengan pemerintah.

Stark yang berhasil menyelamatkan diri kemudian meminjam van milik sebuah stasiun televisi. Ia dibantu oleh Garry, seorang teknisi yang kebetulan juga pengagumnya. Sementara itu Killian menculik Potts dan Hansen yang bekerja padanya, namun kemudian ia membunuh Hansen yang meminta Stark dibebaskan. Stark dan Rhodes kemudian bertemu, mereka berdua berupaya menyelamatkan Presiden dan Potts yang disandera Killian. Dibantu oleh Jarvis dan dua belas kostum Iron Man yang mampu berpikir dan bergerak mandiri, keduanya mengalahkan Killian dan anak buahnya. Potts sendiri sempat terjatuh dari ketinggian, tapi selamat karena ia sudah disuntik serum Extremis yang disempurnakan. Saat Stark terancam oleh Killian yang tak juga mati walau sudah diledakkan dalam konstum Mark 42 –seri terbaru Iron Man yang masih dalam taraf prototype-, Potts-lah yang membunuhnya.

Sebagai bentuk penghargaan dan komitmennya untuk meluangkan waktu lebih banyak bagi Potts, Stark menghancurkan semua kostum Iron Man. Ia bahkan melakukan operasi bedah untuk mengambil reaktor pengendali di dadanya. Ini sebagai simbol bahwa ia tak akan selamanya jadi Iron Man.

Oh ya, jangan pergi dulu saat credit title. Karena di akhirnya, ada scene singkat melanjutkan narasi Stark yang sempat terdengar di awal film. Terdengar suara Stark sedang bercerita “curhat” tentang dirinya. Dan ia ternyata berada di sofa terapi. Di hadapannya seorang psikiater sampai tertidur mendengar ceritanya.  Psikiater itu adalah Dr. Bruce Banner, yang kelak akan menjadi The Hulk!

Bagi penggemar serial komik Marvel, tentu film ini tak boleh dilewatkan. Juga bagi penyuka film-film superhero. Hanya saja bagi saya ada sejumlah tanda tanya karena agak tidak logis. Misalnya saat Killian menyerang rumah Stark, begitu mudahnya hal itu terjadi. Padahal ia hanya menggunakan helikopter sipil yang diberi “aksesori” senjata. Juga agak lucu orang sekaya Stark hanya tinggal berdua dengan kekasihnya tanpa satu pun staf atau pembantu. Dan ini –disadari atau tidak- terjadi hampir di semua film. Walau begitu setting film di California yang berbeda dengan komik-komiknya yang banyak berlokasi di New York merupakan terobosan berani sutradara Shane Black. Sebagai sutradara “baru”, ia tentu dituntut melanjutkan kesuksesan sutradara Jon Favreau di dua seri Iron Man sebelumnya, yang di film ini duduk sebagai produser eksekutif. Oh ya, bagi yang belum tahu, Jon selalu ikut bermain di tiga film Iron Man. Dialah yang berperan sebagai Happy Hogan sang asisten Stark dan Potts.

2 Responses so far.

  1. James says:

    Nice review pals, thank’s 🙂

Leave a Reply