Resensi Film-Bhayu MH

(James Bond 007) Quantum of Solace

Year : 2008 Director : Marc Forster Running Time : 106 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
4/5

Lebih gelap, lebih tegang, lebih seru, penuh aksi laga.

Begitulah janji yang diusung oleh sekuel James Bond bertitel Quantum of Solace ini. Sejak pemeran James Bond berganti menjadi Craig David dari sebelumnya Pierce Brosnan, citra Bond menjadi “down to earth”. Bond tak lagi tampil sebagai agen rahasia yang selalu tampil rapi mewangi sepanjang hari, tapi jauh lebih manusiawi. Ia bisa terluka, bahkan tak selalu mengenakan tuxedo atau jas licin. Kita masih ingat, dalam sekuel sebelumnya Bond sempat ditangkap dan disiksa. Dalam sekuel kali ini pun Bond menghadapi kesulitan lain: tak dipercaya oleh MI-6, agency yang mempekerjakannya.

Pasalnya, semenjak awal film telah muncul kecurigaan di dalam tubuh agency karena terjadinya pengkhianatan. Kekasih Bond -Vesper- terbunuh. Vesper -yang diperankan Eva Green- telah muncul dalam sekuel sebelumnya, Casino Royale. Dan Bond pun terbakar ambisi pribadi untuk menuntut balas. Diketahui bahwa pembunuh Vesper terkait dengan organisasi rahasia bernama Quantum yang dipimpin oleh White dan Le Chiffre.

Secara umum, saya pribadi agak bosan menonton film ini. Karena tema utama yang diangkat terlalu biasa. Meski awalnya bagus, karena MI-6 tidak tahu keberadaan sebuah organisasi rahasia yang begitu besar. Padahal, organisasi ini konon telah meng-endorse pemberontakan di banyak negara. Namun, penyelesaian akhir dari Bond saat menghabisi salah satu pimpinan organisasi rahasia ini -bernama Dominic Greene- terasa biasa banget. Pengawalnya hanya satu-dua orang dan dengan mudah dilumpuhkan Bond. Lebih terasa tantangannya saat Bond menghadapi pasukan khusus polisi Bolivia yang ternyata telah disuap oleh Greene. Ini mengakibatkan kematian Mathis sahabatnya. Dari sisi ini pun, kematian Mathis dan Fields terasa terlalu mudah. Padahal, kedua rekan Bond ini adalah agen rahasia terlatih. Belum lagi peranan Mathis yang tidak seperti cewek Bond lainnya, sekedar numpang lewat belaka.

Cara Bond melumpuhkan Greene terasa terlalu mudah karena sejak awal film organisasi rahasia ini diberitakan punya ‘tangan’ di mana-mana. Bahkan, di awal film saat menginterogasi White, M dan Bond nyaris dibunuh agen rekan mereka sendiri yang ternyata juga anggota organisasi rahasia tersebut. Jadi, seperti menyaksikan anti-klimaks. Yah, saya pikir ini bukan ‘spoiler alert’, karena kita toh tahu film dengan genre action hero macam Bond sudah pasti ‘jagoannya menang’ toh? Tinggal caranya yang variatif, dan di sini saya tidak akan mengungkapkannya. Biar Anda nonton sendiri saja.

Yang juga terasa amat kebetulan adalah kemudahan Bond mendapatkan sarana transportasi dari satu tempat ke tempat lain. Terasa terlalu mudah, tanpa usaha berarti. Juga upaya melacak dedengkot organisasi rahasia-nya pun terlalu mudah. Demikian pula pertemuan Bond -yang dilanjutkan dengan persekutuan kerja- dengan Camille Mantis terasa dipaksakan. Koneksinya hanyalah pada Jenderal Medrano yang membunuh keluarga Camille dan merupakan klien dari Greene. Demikian pula motif Greene mendukung pemberontakan di Bolivia hanya untuk menguasai sumber daya air di negara bergurun itu kurang dieksplorasi.

Tentu saja, ada sejumlah hal menarik dari film ini. Pastinya adegan actionnya terasa sangat real. Kita bahkan bisa meringis saat menyaksikan Bond terbentur-bentur dengan kerasnya, seolah merasakan sendiri. Selain itu setting tempat yang berpindah-pindah ke sejumlah kota di dunia membuat mata bisa menikmati pemandangan yang tidak biasa. Juga penyampaian ilustrasi betapa bobroknya pemerintahan di banyak negara terutama Amerika Selatan. Dan juga betapa CIA ternyata ikut berperan dalam kudeta dan penentuan pemerintahan di sejumlah negara. Memang, di film ini Bond adalah agen rahasia Inggris. Tapi harus diingat film ini tetap buatan Hollywood, jadi istimewa juga orang Amerika melakukan oto-kritik macam ini.

Buat para penyuka Bond, sudah pasti film ini tidak boleh dilewatkan. Juga bagi para penyuka film bergenre action. Cuma, jangan berharap terlalu banyak. Sebabnya, di tengah-tengah teknologi perfilman saat ini, seharusnya film dengan reputasi seperti Bond bisa menyajikan lebih. Dan tidak sekedar pameran realitas kasar seperti jurus dari sekuel sebelumnya, Casino Royale. Karena kalau begitu, Bond yang legendaris malah kalah asyik dengan trilogi Bourne jadinya.

Catatan: Resensi ini pertama kali dimuat di blog harian LIFESCHOOL pada 15 November 2008.

Leave a Reply