Resensi Film-Bhayu MH

Java Heat

Year : 2013 Director : Conor Allyn Running Time : 104 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
2/5

Sudah beberapa kali saya melihat promosi film ini, maka ketika akhirnya tayang di bioskop, saya memilih mendahulukannya daripada menonton Iron Man 3. Saya pikir, film andalan Hollywood itu masih akan lama bertahan, sementara Java Heat saat ini sudah ‘terpojok’ ke teater paling buncit. Artinya, sebentar lagi bakal turun dari layar Cineplex.

Film ini sebenarnya sangat menjanjikan. Ini adalah film pertama yang diizinkan shooting di candi Borobudur. Demikian pula dengan setting Yogyakarta-nya. Penggunaan bahan peledak dan peluru juga cukup massif.

Ceritanya sederhana, seorang “Bule” yang mengaku sebagai asisten pengajar tamu bidang “sejarah seni Asia Tenggara” di sebuah kampus di Yogyakarta ditangkap polisi. Itu karena ia adalah orang terakhir yang terlihat bicara dengan Sultana (Atiqah Hasiholan) yang kemudian tewas karena ledakan bom. Anehnya, ketika ditemukan, jasad Sultana justru tergeletak di lokasi yang mendekati arah bom. Itu karena menurut kesaksian Jack Travers (Mickey Rourke) Sultana berdiri di posisi yang lebih jauh dari saat jasadnya ditemukan. Padahal, seharusnya saat bom meledak, semua orang terhempas menjauhi arah epicentrum ledakan. Polisi curiga. Maka penyelidikan pun dimulai. Apalagi setelah Jack mengenali bahwa jasad di kamar mayat yang diduga Sultana sebenarnya bukanlah dia. Artinya, kematian Sultana dipalsukan. Dan justru dugaannya adalah Sultana diculik oleh seorang penjahat internasional bernama Malik (Kellan Lutz) yang memanfaatkan kelompok jihad asal Malaysia, padahal dia hanya mengincar perhiasan mahal yang dikenakan Sultana sekaligus ingin menjual calon ratu itu sebagai pelacur.

Foto 1. Seragam Letnan Hashim.

Foto 1. Seragam Letnan Hashim.

Ada beberapa hal yang saya soroti dari film ini, terutama detail di wardrobe dan property. Seragam polisi yang dikenakan adalah sorotan pertama saya. Letnan Hashim (Ario Bayu) yang dikisahkan berasal dari Detasemen 88 tidak terlihat mengenakan seragam seperti lazimnya polisi kita. Ia hanya memakai seragam coklat dengan badge detasemen 88 di lengan kiri, di lengan kanannya tidak ada badge sama sekali, bahkan tidak ada nama di dada kanan, melainkan wing tidak jelas. Dan yang paling penting, ia tidak memakai lencana kewenangan Polri. (lihat foto 1) Saya bahkan sempat melihat lencana di dada kirinya berubah dari berbentuk bundar menjadi segi lima di scene lain. Sayangnya saya tidak sempat memfotonya.

Foto 2. Seragam sang jenderal.

Foto 2. Seragam sang jenderal.

Demikian pula sang jenderal polisi berbintang empat pun mengenakan seragam ala tentara Afrika atau Timur Tengah, dengan pangkat berupa jalinan rotan bertanda pedang bersilang. Sementara seragam jas (PDU=Pakaian Dinas Upacara)- nya warna dan bentuknya mirip dengan seragam Polri di tahun 1970-1980-an.(lihat foto 2).

Foto 3. Mobil polisi.

Foto 3. Mobil polisi.

Mobil polisi yang digunakan pun sama saja. Tidak ada lambang Polri-nya sama sekali. (lihat foto 3). Tadinya, saya mengira ada semacam “rasa tidak enak hati” atau “menjaga kehormatan korps” karena tidak digunakannya lambang-lambang Polri, sebagaimana lambang Kraton juga dibuat berbeda dengan milik Kraton Kesultanan Ngayogyakarto Hadiningrat.

Foto 3.

Foto 3. Lencana kewenangan sang ajudan.

Tapi saat melihat topi pet sang jenderal, saya melihat lambang Polri Tri Brata di sana. Demikian pula ajudannya –yang berpangkat kapten- (diperankan oleh Wikana) justru mengenakan lencana kewenangan Polri. (lihat foto 4). Ini tidak konsisten. Untuk property mobil pun nanggung. Di banyak scene terlihat mobil dinas polisi yang dipakai hanya satu, yaitu yang dipakai Letnan Hashim. Malah, sang jenderal berbintang empat yang di negeri kita hanya disandang oleh Kapolri justru naik mobil berplat sipil. Di sisi lain, sempat ada scene dimana pasukan polisi berangkat dari markasnya –kelihatannya Polda DIY- yang justru menunjukkan banyak kendaraan polisi lain. Demikian pula scene selanjutnya dimana polisi mengepung teroris. Sayangnya,di kebanyakan scene justru cuma mobil yang dipakai Letnan Hashim yang tampak. Apakah sulit mendapatkan izin penggunaan mobil polisi lebih banyak?

Di sisi lain, saya memuji keberanian sutradara menafsirkan Kraton sebagai institusi layaknya pemerintahan sebuah negara. Meski tidak disebutkan Kraton Kesultanan Ngayogyakarto Hadiningrat, namun tentu orang mudah mengasosiasikan karena lokasinya memang di Yogya. Hanya saja, penulis script keliru saat menyebutkan Sultana sebagai sultan wanita pertama di Jawa, karena sejarah mencatat ada sejumlah ratu sejak era Majapahit, sebutlah seperti Tribuana Tungga Dewi. Dan gelar “Sultana” sendiri tidak ada. Juga saat perhiasan yang dikenakan Sultana justru disebutkan oleh Jack Travers (Mickey Rourke) berasal dari “Khmer Rouge”, agak aneh buat saya. Karena itu artinya Khmer Merah, Partai Komunis Kamboja penguasa negara itu di tahun 1975-1979 (walau berdiri tahun 1968 dan baru menghilang tahun 1999). Bila yang dimaksud adalah kerajaan Kamboja tua, kata “Rouge” yang secara harfiah berarti “oranye” tidak perlu disebutkan.

Saya juga memuji keberanian menampilkan scene kehidupan malam termasuk pelacuran ala Thailand di Yogyakarta. Sebenarnya di kota-kota besar Indonesia memang ada klub malam seperti itu, hanya saja tidak terekspose ke publik. Sebagai satu karya tulis kesaksian jurnalistik, cobalah Anda baca buku karya Moammar Emka: Jakarta Undercover. Kita ini bangsa munafik menurut saya. Seolah-olah beriman dan beragama, padahal di bawah permukaan banyak aktivitas seperti itu. Contohnya saja AF, politisi asal partai dakwah yang malah berzina. Halah! Kok jadi ngelantur? Ayo, kembali ke laptop!

Di scene kehidupan malam ini ada paradoks lucu, dimana calo untuk mencari pelacur justru menolak saat ditawari minuman beralkohol. Ia berkata, “I’m a Moslem, not drink alcohol”. Lucu, karena pelacuran justru lebih tinggi derajat keharamannya dibandingkan “sekedar” minum minuman keras. Saya jadi teringat karakter Salim di Slumdog Millionaire (2008) yang diperlihatkan “rajin shalat” tapi bisa membunuh dengan darah dingin.

Di film ini, diceritakan bagaimana bisnis prostitusi berkait erat dengan bisnis lain seperti narkoba yang didalangi mafia asal China (Triad). Penggambaran ini juga cukup cakep buat saya. Demikian pula human trafficking yang disebutkan berani menculik perempuan untuk dijadikan pelacur. Ini mengingatkan saya pada film Indonesia lain yaitu Virgin 3.

Detail lain seperti poster sang jenderal yang hendak mencalonkan diri sebagai gubernur juga bagus. Meski bagi orang Indonesia itu sulit terjadi dalam realitas. Jenderal bintang empat tidak akan “turun pangkat” jadi gubernur, karena itu jatahnya jenderal bintang dua. Saya juga memuji pemilihan pemeran sang jenderal yang diperankan oleh bintang gaek Frans Tumbuan yang secara postur dan wajah mirip Kapolri Jenderal Pol. Timur Pradopo. Kalau mengenai penyebutan pangkat Inspektur Polisi Satu (Iptu) sebagai Letnan sih tidak masalah. Karena itu lebih mudah diterima secara internasional. Saya juga melihat ada scene dimana ajudan sang jenderal malah memimpin  tim penyerbuan untuk menculik Jack yang sedang dibawa oleh Marinir AS. Ini agak aneh. Selain karena mudahnya Marinir AS dilumpuhkan, seorang ajudan lazimnya tidak akan jadi pasukan operasional apalagi ala SWAT. Oh ya, ada dua karakter Marinir AS berseragam tampil di film ini, cukup membuat film ini bernuansa Amrik. Hehehe.

Sayangnya, ledakan dan tembakan di film ini terkesan mubazir. Adegan tembak-tembakan yang menurut saya cukup seru hanya saat Jack diserbu oleh tiga orang anggota kelompok jihad, yang kemudian justru ditembaki oleh tiga anggota Triad. Juga saat Letnan Hashim dan Jack Travers ditembaki oleh kelompok jihad yang membuat mobil polisi yang mereka tumpangi terguling. Sayangnya, adegan khas film barat dimana mobil polisi yang terguling diperlihatkan pecah lampu sirinenya yang sedang menyala tak terlihat. Padahal, ini justru yang disukai banyak penonton. Sementara adegan saat Jack dan Hashim ditembaki oleh pasukan Kraton karena dianggap mencuri harta dari bank sentral (yang secara menyolok diperlihatkan disponsori oleh BNI ’46) terkesan agak mubazir. Demikian pula penggunaan RPG (Rocket Propeller Grenade) oleh pasukan Kraton agak terlalu “lebay”.

Secara keseluruhan, film ini agak jeblok dan sepertinya kurang direspons bagus oleh pasar. Jalan ceritanya “bikin mumet”, tapi “segitu doang”. Ada terlalu banyak karakter sehingga penonton dibuat bingung menerka-nerka interkoneksinya. Akibatnya selain Jack Travers dan Letnan Hashim, karakter lain sama sekali tidak terpapar dengan baik dalam cerita. Bahkan Malik saja tidak jelas latar belakangnya. Padahal, dialah tokoh antagonis utamanya. Juga bagaimana ceritanya kok dia bisa bertemu dengan Karim dan kelompok jihadnya.  Jadi, terserah Anda saja, mau menontonnya atau tidak. Walau bagi saya, di sini para bintang kita seperti Ario Bayu dan Atiqah Hasiholan sudah cukup bagus dalam beradu akting dengan bintang Hollywood sekelas Mickey Rourke.

2 Responses so far.

  1. Mukhlas says:

    Assalamu’alaikum, salam kenal Mas. Senang ketemu situs ini. Btw, kok bisa dapat foto2nya sih? Dikasih atau gimana Mas?

Leave a Reply