Resensi Film-Bhayu MH

Jumper

Year : 2008 Director : Doug Liman Running Time : 88 mins. Genre : , , , , , , , ,
Movie review score
3/5

Saya menonton film ini tanpa bisa menduga apa ceritanya. Sudah gitu agak telat karena ngantri justru saat beli snack-nya. Orang Indonesia memang suka lemot, sewaktu ngantri bukannya ngincer duluan mau beli apa -padahal tuh menu kepampang gede2 di atas counter– tapi bingung lagi pas udah di depan kasir. sic! Jadinya saya masuk bioskop pas tayang judul, sekitar 5 menitan pasca film mulai. Untung pendekatannya seperti film2 James Bond yang pakai prolog, jadi tidak begitu ketinggalan cerita. Dengan segera saya bisa mengejar ketertinggalan mengikuti jalan cerita film yang unik ini.Cerita film berkisar pada kemampuan sang karakter utama bernama asli David Rice (Max Theriot) yang mampu berpindah-pindah tempat hanya dengan memusatkan pikiran.

Bukan saja mampu menembus tembok, tapi juga pindah ke negara lain. Pendeknya, ke mana pun ia mau. David lantas menggunakannya untuk memperkaya diri sendiri dengan merampok bank. Perampokan ini membuat bingung polisi karena perampoknya bahkan tidak merusak pintu atau dinding. Hingga muncul seseorang yang mengaku dari NSA dan ternyata ia adalah Paladin. David akhirnya tahu bukan hanya dirinya yang punya kemampuan itu setelah bertemu Griffin (Jamie Bell). Dari Griffin-lah ia tahu selama ini terjadi perang antara kaumnya yang disebut Jumper dengan kaum Paladin yang memburu mereka. Sampai titik ini saya jadi teringat Buffy The Vampire Slayer yang ceritanya juga soal pertarungan abadi antara dua kaum: vampire dan slayer.

Banyak hal yang bisa dipertanyakan dari jalan cerita. Terutama ketidakjelasan dari asal kemampuan istimewa ini. Hanya dijelaskan bahwa kaum Jumper ini kebanyakan menyadarinya sewaktu kecil dan perlu latihan untuk memakainya. Demikian juga asal-usul kaum Paladin pun tidak jelas. Pencampuran informasi fiksi bahwa kaum Paladin dan Jumper telah berperang sejak lama dengan fakta buatan seolah kaum Paladin adalah para inkuisitor dan pembantai penyihir di abad pertengahan juga terasa mengganjal. Tidak ada pengaruh ke jalan cerita secara keseluruhan. Nyatanya, Paladin –diambil dari bahasa Latin Palatinae- semula adalah nama yang dipakai untuk kepala rumah tangga istana dan pengawal kerajaan Romawi Kuno.

Kalau melihat karakternya, Jumper bukanlah satu hal orisinal. Setidaknya, seingat saya karakter macam ini ada dalam X-Men bernama Nightcrawler. Ia bisa berpindah-pindah ke mana pun, bahkan sempat pula mengancam Presiden AS karena sang presiden hendak menerapkan aturan pembatasan bagi mutant. Untungnya, dia termasuk kelompok X-Men yang tentu saja protagonis. Bedanya dengan Jumper adalah Nightcrawler sama sekali tidak menikmati kemampuannya itu, malah tersiksa. Apalagi bentuk tubuhnya yang mirip kelelawar.Dengan kemampuan karakter yang lebih terbatas, sebenarnya ide Wachowski bersaudara dalam The Matrix:Revolution juga mirip. Dalam film tersebut ditampilkan adanya duo antagonis atau villain kembar bernama Twins 1 dan Twins 2. Hanya saja mereka sebenarnya bukanlah manusia, hanya program komputer yang seharusnya sudah dihapus tapi dipertahankan hanya karena mereka mampu menembus ke mana saja dengan cepat.

Saya sendiri gemas melihat karakter cewek pujaan David Rice yang ‘ngerepotin banget’. Juga berkelahinya David dengan Griffin menjelang akhir film rasanya terlalu berlebihan. Karena sebenarnya mereka bisa bekerjasama. Bahkan nasib Griffin apakah berhasil dibunuh oleh David atau tidak juga tidak jelas. Ini seperti memaksakan plot ala Highlander  yang memang mengharuskan membunuh sesamanya untuk bisa tetap hidup. Demikian pula penonton seakan dipaksa berpihak pada kaum Jumper yang jadi protagonis film ini walaupun mereka sebenarnya berbuat jahat seperti merampok bank. Ini berlawanan dengan Buffy The Vampire Slayer yang justru pemburunya yang protagonis.

Pemilihan aktor-aktris yang tidak begitu ternama rupanya untuk mengkompensasi biaya efek khusus visual yang canggih. Menyenangkan melihat karakter utama berlompatan ke berbagai tempat terkenal dunia: di puncak kepala patung Sphinx Mesir, dia atas  Big Ben London, tengah kota Tokyo, hingga di Roma-Italia.  Adegan pertarungannya juga istimewa. Tidak rugi menonton film action ini apalagi bila sekedar melewatkan akhir pekan.

Leave a Reply