Resensi Film-Bhayu MH

Laskar Pelangi

Year : 2008 Director : Riri Riza Running Time : 124 mins. Genre : , , , , , ,
Movie review score
5/5

Hebat! Ini fim Indonesia dengan detail terbaik yang pernah saya tonton! Saya berikan sepuluh jempol –dengan meminjam jempol Anda deh :)- untuk film ini. Saya adalah penikmat film –sebutan kerennya movie-goers– yang gemar sekali memperhatikan banyak hal saat menonton film. Dan menurut saya, film ini merupakan hasil kerja keras Riri Riza dan timnya yang luar biasa.

Setelah Tjoet Njak Dhien (1988) garapan sutradara Eros Djarot, film ini mampu menyalipnya dan menjadi film nasional paling detail tanpa cacat. Detail yang saya maksud adalah dalam penyediaan propertinya sesuai setting waktu dan tempat. Situasi penggambaran setting waktu film yang di tahun 1974 menuntut pencarian atau pembuatan ulang properti di masa itu. Tentu ini sesuai dengan penggambaran di novelnya. Anda pasti sudah tahu dong kalau film ini diangkat dari novel laris berjudul sama karya Andrea Hirata? Bagi saya pribadi, film ini bahkan jauh lebih baik dan membumi dibandingkan novelnya.

Banyak detail yang amat sangat tidak perlu -dimana memakan begitu banyak halaman- dalam novel berhasil dibuang atau dibumikan oleh Riri Riza. Misalnya kepintaran Lintang yang tampak bak otak Einstein, Stephen Hawking, Adam Smith dan Shakespeare digabung sekaligus dalam novelnya, justru dibumikan dengan sederhana dalam film. Kepintaran Lintang dan penggambaran keluarga nelayannya yang tidak tampak jelas dalam novel, justru terlihat seimbang dalam film. Saat lomba cerdas-cermat yang di novel pertanyaan dan jawabannya begitu dahsyat untuk ukuran anak SD, bahkan di kota besar sekali pun, diganti lebih membumi di filmnya. Kemenangan tim Lintang bahkan dramatis dan dengan angka tipis, tidak seperti di novel yang bak jago kungfu shaolin melawan Kungfu Panda 🙂

Demikian pula dengan Mahar yang di novel begitu luar biasa bakat kesenimanannya, dalam film terasa wajar. Ia menenteng radio yang baterainya berkali-kali dipakai ulang dengan cara dikeringkan, sebuah detail yang bahkan tidak ada di novelnya. Pengetahuannya tentang musik pun dibatasi terutama pada musik Melayu, meski ada satu adegan ia mendengarkan musik jazz dari radionya. Suaranya pun tidak seluar biasa dahsyat merdunya seperti digambarkan di novel, melainkan khas suara anak-anak yang tak jarang meleset nadanya. Namun satu yang paling saya salut adalah casting pemilihan pemeran yang terasa pas ditambah penggunaan dialek Melayu Belitong yang kental. Memang semua pemain untuk karakter anak-anak Laskar Pelangi adalah anak asli Belitong. Luar biasa pula riset yang dilakukan, membuat saya teringat pada penggunaan bahasa Indian suku Sioux-Lakota yang nyaris punah dalam film favorit saya garapan Kevin Costner: Dances With Wolves (1990).

Detail-detail juga tampak pada penggunaan seragam PN Timah, sepeda dan mobil yang digunakan, bahkan hingga pernak-pernik yang digunakan pemain. Sebutlah misalnya di toko Sinar Harapan , terlihat ada kemasan dus obat gosok Rheumasonlama dan kapur cap Matjan. Merek-merek tersebut memang populer di masa itu. Ikal juga satu kali terlihat membaca harian sore Sinar Harapanedisi minggu, yang entah kebetulan atau tidak sama dengan nama tokonya yang memang disebutkan di novelnya. Sementara untuk foto lama yang menjadi openingfilm, tampaknya sengaja digarap ulang oleh fotografer Timur Angin putra penyair-budayawan Seno Gumira Adjidarma. Bisa jadi satu paket dengan still photo yang ada dalam websitenya. Tapi kalau itu asli, hebat juga risetnya bisa menemukan foto kru pertambangan timah zaman dulu. Saya jadi ngeh kalau kata “Billiton” yang hingga sekarang masih dipakai perusahaan pertambangan Amerika Serikat BHP Billiton itu asalnya dari kata “Belitung”.

Juga kotak kaleng serbaguna bergambar gadis Prancis dan menara Eifell hadiah untuk Ikal dari Ai Ling pun dibuat duplikatnya. Demikian pula poster lama Rhoma Irama pun harus diprint lagi. Jelas sulit mendapatkan properti asli semacam digambarkan di novelnya, bahkan terasa mustahil. Detail itu bahkan tidak tampak digambarkan dalam novelnya. Namun dengan kreatifnya Riri menambahkannya di filmnya.

Riri Riza juga menambahkan detail pada plang larangan masuk ke area milik PN Timah yang di novelnya terdapat di halaman 36 dan 58. Dalam novel hanya disebutkan larangan berbahasa Indonesia: “Dilarang Masuk Bagi Yang Tidak Memiliki Hak”, sementara dalam film ditambahkan bahasa Belandanya sekalian.

poster-laskar-pelangi

Saya mencatat ada sejumlah perbedaan antara film dengan novelnya:

  1. Dalam film, kisah Lintang bertemu buaya tidak dibuat sedramatis di novel. Pertemuan Lintang dengan Bodengadan tindakan Bodenga mengusir buaya juga tidak sama. Di novel dikisahkan ia menepuk kepala buaya, sementara di film hanya dilihat dari jauh saja. Dari gambar yang ada, tampaknya buaya dan pemain berada di lokasi berbeda di filmnya. Ini mungkin karena kru Miles Production kesulitan menghadirkan buaya asli dan pawangnya.
  2. Karakter Lintang dan Mahar dalam film terasa lebih membumi dibandingkan di novelnya.
  3. Hilangnya Flo dalam novel lebih detail daripada di film.
  4. Tarian saat karnaval di film dikatakan terinspirasi dari suku Asmat, sementara di novel dari suku Masai di Afrika.
  5. Tidak ada adegan Flo memberi majalah National Geographic kepada Mahar dalam novel, tapi di filmnya malah jelas sebagai sumber inspirasi untuk tema karnaval. Tampaknya ini sponsor.
  6. Di film juga ada sejumlah detail terlihat untuk banyak brand yang ngetop di masa itu. Saya tidak tahu apakah itu memang sponsor atau bukan. Tapi penghadirannya menghadirkan suasana yang pas. Di novel nyaris tidak ada nama brandyang muncul, kecuali tentu saja PN Timah.
  7. Penggambaran ketimpangan antara wilayah yang dikuasai PN Timah dan perkampungan penduduk di luarnya tidak tampak tegas dalam film. Ini jelas karena PN Timah juga menjadi sponsor seperti tampak dalam poster dan website resminya (http://www.laskarpelangithemovie.com).Toh PN Timah masih berbaik hati membolehkan tulisan plang larangan yang terasa kejam itu muncul di film.

Benang merah cerita juga jadi terasa tegas ditambah sejumlah momen mengharukan yang ditandai dengan slow motion. Tambahan adegan kesepuluh murid melafalkan sila-sila Pancasila dan ending title berupa bunyi pasal 31 UUD 1945 menambah bobot nasionalisme dan rasa bangga berbangsa. Sebuah sentuhan manis dari sutradara handal ini. Tak salah bila Mizan Production dalam produksi film perdananya ini memilihnya.

Jadi, jangan sampai ketinggalan menyaksikan film ini ya. Minimal jadi mensyukuri betapa kita yang masih bisa menonton bioskop masih lebih beruntung ketimbang mereka di Belitong sana yang bahkan kesulitan menyaksikan film yang berkisah tentang daerah mereka sendiri. Belum lagi di area-area lain yang bisa jadi lebih mengenaskan ketimbang pulau kaya tambang itu. Ironis.

Foto illustrasi diambil dari website resmi: http://www.laskarpelangithemovie.com

Resensi ini pertama kali dimuat dua hari berturut-turut di blog harian LifeSchool:

Leave a Reply