Resensi Film-Bhayu MH

Last Knights

Year : 2015 Director : Kazuaki Kiriya Running Time : 115 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
2/5

Film yang mengisahkan seorang ksatria yang bangkit melawan penguasa sadis dan korup. Ia melakukannya sebagai balas dendam atas dibunuhnya sang tuan oleh penguasa. Kode kehormatan para ksatria itu sederhana: hati besar penuh keberanian, berlakuan baik serta kesetiaan dan pengabdian penuh kepada satu tuan. Diangkat dari legenda kuno bangsa Denmark yang dimodifikasi.

Jalan Cerita

Di suatu tempat fiktif di Eropa abad pertengahan, terdapatlah sekelompok ksatria yang mengabdikan hidupnya pada seorang tuan penguasa lokal. Penguasa itu semacam Lord atau Count yang menguasai wilayah kecil lengkap dengan kastilnya, namanya Lord Bartok (Morgan Freeman). Ia disegani bukan saja karena kemampuannya bermain pedang atau kebangsawanannya, tetapi justru karena kebijaksanaannya dan sifat welas-asih kepada rakyat. Karena itu, sekelompok ksatria ahli-pedang yang dipimpin begitu setia kepadanya. Mereka dipimpin oleh Commander Raiden of the Seventh Rank (Clive Owen) yang berwibawa.

Satu saat, Kaisar (emperor) mengirim surat melalui utusan khusus. Sang utusan sempat merendahkan Raiden yang mencegatnya, tetapi kemudian berbalik segan begitu tahu siapa ksatria di hadapannya. Dalam suratnya, sang Kaisar memerintahkan agar pajak dinaikkan. Lord Bartok dan Raiden berbincang, mereka berdua sepakat hal itu berat untuk dilaksanakan. Tetapi Bartok meminta Raiden tidak membicarakan itu kepada keluarganya.

Raiden kembali ke rumah menemui istrinya tercinta Naomi (Ayelet Zurer) yang mampu menangkap kegelisahannya. Tetapi di tengah malam, tuannya datang dengan penyamaran, memintanya ikut pergi bersama. Ternyata, ia mengajaknya pergi ke makam para leluhurnya yang telah menguasai wilayah itu selama 10 generasi dan membela penduduk dari Great War. Di sanalah Lord Bartok menyerahkan pedangnya, mengangkat Raiden sebagai pewarisnya. Hal itu dilakukan karena Bartok tidak memiliki anak lelaki.

Bartok memutuskan agar mereka berangkat ke ibukota untuk memenuhi panggilan Kaisar. Maka, berangkatlah ia diiringi oleh pasukan pengawal setianya plus membawa hadiah. Sesampainya di istana, ia menemui Menteri (Minister) Gezza Mott (Aksel Hennie) yang congkak. Bartok memberinya hadiah berupa sebuah jubah. Itu merupakan sebentuk penghinaan walau jubah itu terbuat dari sutra yang bagus. Karena biasanya hadiah berupa logam dan batu mulia sebagai semacam sogokan. Sementara Bartok menolaknya karena menganggap sang menteri tak punya wewenang atasnya. Bahkan ia bersikeras tetap menolaknya meski Mott mengajaknya ke ruang harta tempat berbagai upeti disimpannya. Rupanya, Bartok diracun sehingga sempat jatuh. Tetapi ia mampu menghunus pedangnya ke leher Mott. Segera saja Ito (Tsuyoshi Ihara) komandan pengawalnya yang sedang bermain catur dengan Raiden melesat. Ia menghunus pedang ke leher Bartok, sementara Raiden menghunus pedang ke leher Auguste. Bartok pun lantas ditahan dan dihadapkan kepada sidang di depan sang Kaisar (Peyman Mooadi) sendiri.

Saat dipersilahkan bicara, Bartok tidak menyangkal tuduhan telah menyerang menteri. Tetapi ia malah mengungkapkan betapa korupnya Mott dan ia telah ditindas bertahun-tahun. Ia malah mengatakan kejahatannya justru karena tidak membunuh Mott saat memiliki kesempatan. Ia bahkan berani membantah Kaisar saat mengatakan kehormatannya tetap dan tak perlu diraih kembali.

Maka, Kaisar memutuskan menghukum mati Bartok serta merampas seluruh hartanya termasuk mencabut kekuasaan atas wilayah yang dipegang keluarganya turun-temurun. Klan Bartok pun dinihilkan. Saat Raiden memprotes, Mott malah mengusulkan kepada Kaisaragar hukuman mati kepada Bartok justru dilakukan oleh pengawal setianya itu. Ketua Dewan (First Council) berusaha memprotes, tetapi Mott mengatasnamaan Kaisar memotong ucapannya. Mott juga mengancam akan menghabisi seluruh keluarga Bartok apabila Raiden menolak perintah menghabisi tuannya sendiri.

Meski Raiden menolaknya, tetapi Bartok justru memerintahkannya melaksanakan perintah Kaisar. Raiden terpaksa memenggal kepala Bartok dengan pedangnya sendiri yang telah diserahkan kepadanya. Pasca kematian Bartok, Mott mencoba menyakinkan Kaisar agar membunuh Raiden. Tetapi Ketua Dewan mencegahnya karena cuma akan membuatnya jadi martir dan bisa menyulut pemberontakan. Kaisar mengatakan akan membunuhnya bila memang Raiden terbukti hendak membunuh Mott. Tetapi kekuatiran Mott tak punah. Ia meminta 1.000 orang pengawal kepada mertuanya, Auguste (Ahn Sung-kee) yang kuatir pada keselamatan putrinya Hannah (Park Si-yeon).l

Setelahnya, Raiden melaporkan kejadian di ibukota kepada istri tuannya, Maria (Shohreh Aghdashloo). Raiden pun membubarkan pasukannya yang kebingungan. Tak berapa lama, pasukan Kaisar tiba. Keluarga Bartok diusir dari kastilnya dan rumahnya dibakar. Para penduduk yang setia juga terusir keluar dari tanahnya.

Satu tahun kemudian, Letnan Cortez menjadi pedagang ikan bersama dengan Gabriel, ksatria yang termuda. Teman-temannya pun bertebaran, mencari aneka pekerjaan semata untuk menyambung hidup. Jim bekerja serabutan, sementara Rodrigo sukses membuka bar.

Tetapi yang paling parah adalah Raiden sendiri. Ia mabuk-mabukkan begitu parahnya hingga istrinya meninggalkannya. Padahal, sejak kematian Bartok dan terusir dari tanahnya, Raiden sudah tidak lagi bekerja. Selain menghabiskan simpanan keluarga, istrinya bekerja membuat dan menjual keranjang anyaman bambu. Untunglah keluarga Raiden belum punya anak.

Kehancuran Raiden terus dimata-matai oleh Ito atas perintah Mott. Raiden telah menjual pedangnya sebelum istrinya meninggalkannya. Itu pertanda bahwa bagi seorang ksatria ia telah melepaskan ikatannya pada dirinya sebelumnya. Karena pedang ibarat nyawa kedua yang harus dijaga. Tetapi pertanda Raiden sudah bukan lagi Raiden yang dulu adalah saat Lilly (Rose Caton) diserahkan kepadanya di rumah bordil. Meski tidak menyentuh gadis yang masih perawan itu, tetapi Raiden juga tidak membebaskannya dari rumah bordil.

Di kastilnya, Mott memperkuat diri. Ia melengkapinya dengan penjagaan ketat dan gerbang besi. Kaisar sendiri mendapatkan masukan dari Ketua Dewan tentang ambisi dan keserakahan Mott. Tetapi tak lama kemudian Ketua Dewan sendiri meninggal dunia. Kaisar tak punya pilihan selain mengangkat Mott. Bukannya tenang, Mott makin paranoid hingga membunuh anjingnya sendiri.

Sementara, Cortez terus mematangkan rencana balas-dendam bersama teman-temannya. Ia menyiapkan dokumen palsu agar bisa bekerja di dalam area kastil. Tentu saja Mott tak mau ada bekas ksatria Bartok yang bekerja di sekitarnya. Tetapi rencana mereka nyaris ketahuan karena Jim teman mereka melihat salah seorang di antara mereka bekerja sebagai pandai besi. Karena Jim berencana mengadukan hal itu, ia terpaksa dipenggal oleh Olaf.

Last Knights squadAkhirnya tibalah saatnya balas dendam. Ternyata, aksi mabuk-mabukan Raiden adalah tipu-muslihat belaka. Ia hanya bermaksud mengelabui Ito yang ia tahu menguntitnya. Raiden lantas bergabung dengan rekan-rekan satu timnya sesama ksatria. Mereka pun merencanakan serbuan akhir. Dengan taktik jitu, meski kalah jumlah dengan pasukan pengawal Mott, mereka bisa masuk ke dalam kastil. Termasuk membuka pintu gerbang dari dalam dengan bantuan seorang ksatria yang disusupkan Auguste di balik cermin raksasa hadiahnya kepada Mott.

Pada akhirnya, Raiden berhadapan dengan Ito. Mereka beradu pedang satu lawan satu. Meski keduanya petarung handal, akhirnya Raiden mampu menebas patah pedang Ito dan membunuhnya. Tapi itu belum selesai, ia memburu ke kamar Mott dan memenggal kepalanya.

Kaisar kebingungan dengan kejadian itu. Ia mengundang Dewan Penasihat untuk rapat. Karena paling senior, saran Auguste paling didengarkan. Meski marah, tetapi Kaisar diingatkan agar tidak menghukum para ksatria. Karena justru rakyat akan menganggap itu tidak adil. Sebab, para ksatria hanya bertindak sesuai kode kehormatannya dan membalas dendam atas perbuatan Mott sebelumnya. Malah, Auguste menyarankan agar para ksatria itu dijadikan pahlawan rakyat.

Akhirnya, kaisar setuju. Tetapi harus ada yang dihukum atas kekacauan itu. Dan juga pembunuhan terhadap petinggi kekaisaran. Oleh karena itu, Raiden dipanggil, untuk kemudian dieksekusi di hadapan sang Kaisar sendiri.

Kritik Film

LAST_KNIGHTS_QUAD_V5-800x601Menyaksikan film ini, sepintas rasanya seperti menyaksikan Kingdom of Heaven (2005). Bedanya, bila film itu merupakan kisah sejarah nyata –walau versinya bisa diperdebatkan-, film Last Knights (2015) ini adalah fiktif. Tidak ada landasan nyatanya, walau bisa dikategorikan berlatar sejarah (historical background). Jadi, menarik menyoroti interpretasi sutradara asal Jepang Kasuaki Kiriya tentang kisah yang dibuat seperti epik abad pertengahan itu.

Pertama-tama, harus disadari bahwa film ini fiktif. Sehingga adanya ketidakakuratan dalam penerapan latar sejarah haruslah dimaklumi. Karena hal ini tampak di berbagai tempat. Dan saya harus menuliskannya di sini karena ini kritik film.

Kelemahan pertama justru pada pemilihan setting waktu abad pertengahan. Eropa saat itu dilanda “abad kegelapan”, penguasa monarki berkuasa tetapi silih-berganti saling menjatuhkan. Tidak ada demokrasi, juga tidak ada persamaan hak antar warga. Pembauran atau asimilasi masih muskil. Plus adanya rasa ego pada kedigdayaan ras masing-masing. Kulit putih jelas mengunggulkan supremasinya. Maka, aneh rasanya melihat seorang berkulit hitam seperti Bartok yang diperankan Morgan Freeman bisa menjadi seorang tuan tanah penguasa wilayah. Apalagi digambarkan keluarganya sudah turun-temurun menguasai wilayahnya. Berarti sudah beberapa generasi ada keluarga berkulit hitam berkuasa di satu tempat di Eropa. Dalam sejarah dunia nyata, itu mustahil.

Soal warna kulit dan ras juga tidak diperhatikan di kelompok 12 orang ksatria itu sendiri. Di antara mereka ada yang berkulit hitam, juga jelas ada yang keturunan ras Jepang dan China. Bahkan sang Letnan Cortez dari namanya saja berbau Meksiko atau Amerika Latin. Wajahnya pun menegaskan hal itu. Pasukan asal berbagai bangsa ini juga mustahil di abad pertengahan. Kalau pun ada “legiun asing” seperti terdapat di beberapa imperium, mereka berasal dari satu bangsa yang sama bekerja pada tuan yang berasal dari bangsa berbeda.

Kelemahan kedua adalah pada kostum para ksatria. Terlihat ada kesan ingin praktis, entah itu dari bagian kostumny sendiri atau malah arahan sutradara. Seragam hitam ala ninja dengan pelindung dada, tangan dan kaki dari kulit. Sangat modern. Di masa itu, Eropa justru gemar seragam tentara berwarna-warni plus pelindung tubuh dari besi seperti baju zirah.

Kelemahan ketiga adalah pada jalan cerita. Sang kapten yang digambarkan pura-pura mabuk sempat mengelabui anak buahnya sendiri. Masalahnya bukan di situ. Para ksatria digambarkan tetap berkumpul walau tak lagi punya tuan dan malah wilayah tanah tuannya sudah hilang direbut. Itu aneh. Karena sama saja dengan menjadi pengangguran. Di Eropa abad pertengahan, hal ini sulit terjadi. Mereka biasanya akan bercerai-berai dan mencari pekerjaan sendiri-sendiri pada tuan lain yang masih ingin mempekerjakannya. Dan meski digambarkan mereka memang bekerja di bidang lain, tetapi ternyata cuma sebagai kamuflase belaka.

Kelemahan keempat justru pada adegan yang seharusnya paling seru: pertempuran. Benteng dan kastil yang digambarkan dijaga ketat dan rumit malah begitu mudahnya ditembus. Plus, ratusan prajurit begitu mudah kalah oleh sekitar dua puluhan saja ksatria-nya Raiden. Menaruh perisai sebagai hiasan dinding adalah tipuan cerdik. Tetapi lucunya setelah menembus area terdalam kastil, para ksatria malah membuang perisai itu. Dan para pemanah di atas benteng seperti “kompak” menghentikan tembakan.

Kelemahan kelima masih terkait dengan pertempuran, yaitu siasatnya. Rupanya, penulis skenario Michael Konyves dan Dove Sussman terinspirasi dari kisah klasik “kuda troya”. Kisah legenda yang diyakini sebagai fakta sejarah itu merupakan siasat Yunani untuk mengalahkan warga Troya. Maka, sebuah cermin dihadiahkan Auguste kepada Mott. Tetapi, agak aneh bagaimana bisa seorang serdadu sendirian bersembunyi sekian lama di balik cermin?

Kelemahan keenam adalah pada besarnya kerajaan. Sang penguasa menyebut dirinya emperor (atau dalam bahasa Indonesia “Kaisar”). Ini adalah sebutan untuk maharaja yang biasanya menguasai imperium yang sangat luas. Tetapi kita bisa lihat dalam film, wilayah kerajaannya kecil saja. Bahkan istana dan kastilnya pun kecil. Juga jumlah prajuritnya jelas amat sangat sedikit untuk ukuran pengawal emperor. Bandingkan dengan film sejenis seperti trilogi The Lord of the Ring atau mungkin yang lebih kecil budget-nya King Arthur (2004) atau Braveheart (1995).

Panjangnya durasi film memang terasa agak bertele-tele untuk sebuah plot balas dendam. Saya merasa, adegan Raiden yang “hancur” dan “menyesali diri” terlalu makan durasi. Akibatnya, saat adegan pertempuran di akhir film malah jadi terkesan terburu-buru. Terutama pertarungan pedang antara Ito melawan Raiden, terkesan mudah sekali Ito dikalahkan. Padahal, keduanya komandan yang pastinya dipandang paling ahli di pasukannya.

Di luar semua kelemahan itu, film ini tetap asyik ditonton, terutama bagi penyuka adegan laga ala ksatria. Walau bagi saya, menyaksikan The Last Samurai (2003) masih jauh lebih asyik.

Leave a Reply