Resensi Film-Bhayu MH

Limitless

Year : 2011 Director : Neil Burger Running Time : 105 mins. Genre : , , , , ,
Movie review score
4/5

Di awal film, kita disuguhi adegan dimana seorang pemuda berjalan tak tentu arah di siang hari bolong. Narator menceritakan itu adalah dirinya. Namanya Eddie Morra. Seorang pengangguran yang sedang berusaha menulis sebuah buku. Ia pernah menikah dengan teman kuliahnya yang bernama Melissa, tapi dengan segera wanita itu meninggalkannya. Begitu pula dengan pacarnya saat itu, Lindy. Saat sedang lontang-lantung di jalanan, tiba-tiba ia bertemu seseorang yang dulu pernah dikenalnya: adik dari mantan istrinya. Vernon namanya.

Vernon mengajak Eddie ke sebuah café kecil dan mengobrol di situ. Saat itulah ia memberikan semacam narkoba berbentuk tablet bening. Menurut Vernon, tablet itu akan memberikan kita kemampuan mengakses seluruh otak kita yang selama ini hanya digunakan 20 %-nya. Semula Eddie tak percaya, tapi saat menelan tablet itu, keajaiban terjadi. Otaknya lebih terang dan ia mampu melakukan berbagai hal dengan jelas. Antara lain ia mampu menyelesaikan novelnya cuma dalam satu hari saja!

Sayangnya, khasiat tablet itu hanya bertahan sampai ia tidur. Ketika ia bangun keesokan paginya, Eddie kembali menjadi pemalas yang tak tahu apa yang harus dikerjakan. Tapi ada yang tersisa: novelnya selesai ditulis dan ia menyerahkannya ke editornya yang akhirnya antusias membacanya. Eddie tahu, ia harus kembali mendapatkan pil itu. Maka, ia pun ke apartemen Vernon dan berharap mendapatkan tablet itu kembali. Pasalnya, tablet itu mahal. Hargaya US$ 800 sebutir. Dan Eddie harus rela menjadi “pembantu” bagi Vernon. Celakanya, saat ia kembali, Vernon terbunuh. Dari sinilah kemudian cerita berkembang. Karena ternyata konsumen Vernon cukup banyak. Dan seperti jenis narkoba lainnya, tablet itu menimbulkan ketergantungan. Karena pasokannya terbatas, maka terjadilah perebutan dari mereka yang membutuhkan.

Keberhasilan Vernon kemudian membuat hidupnya menjadi jauh lebih baik. Selain memiliki uang berlimpah, ia pun terkenal. Lindy pun kembali kepadanya. Sayangnya, ia menjadi serakah. Karena ingin memiliki uang banyak, ia masuk ke bursa saham dengan uang pinjaman dari rentenir. Inilah awal dari masalahnya karena sang rentenir tak mau begitu saja melepaskannya. Ia malah meminta jatah tablet dari Eddie yang membuat Eddie kerepotan.

Pertarungan antara Eddie dan sang rentenir inilah yang mewarnai seluruh film. Walau begitu, ini bukan film aksi dimana “jagoan pasti menang”. Akhirnya cukup sulit ditebak. Dan tentu penonton sangat berharap Eddie Morra sebagai protagonis bisa mengatasi masalahnya.

Film ini inspiratif, karena memberikan pencerahan bagi kita bahwa kita sebenarnya bisa menembus batas apabila kita mau. Stimulan seperti narkoba jenis baru yang digunakan di film ini sebenarnya bisa diganti dengan “motivasi” dan “tekad”. Kemalasan harus dikalahkan dengan kerja keras. Dengan begitu kejayaan akan datang dengan sendirinya.

 

Leave a Reply