Resensi Film-Bhayu MH

Lone Survivor

Year : 2013 Director : Peter Berg Running Time : 121 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
5/5

Sebagai peresensi dan penikmat film, saya berupaya masuk ke bioskop saat menonton film baru dengan kepala kosong. Artinya, saya tidak membaca resensi atau ulasan orang lain lebih dahulu. Ini agar saya bisa menangkap muatan film lebih banyak. Barulah setelah itu saya cari referensi untuk melengkapi tulisan saya.

Nah, saat menonton film ini, kesan pertama saya adalah detailnya yang luar biasa. Ini film perang, yang cara penyajiannya langsung mengingatkan saya pada cara Steven Spielberg. Dramatis, penuh epik tapi dibumbui nuansa drama. Sutradara Peter Berg sebelumnya pernah membesut film senafas yaitu The Kingdom. Bedanya, saya sangat tidak menyukai film itu. Sementara untuk Lone Survivor ini sebaliknya, suka banget!

Kebetulan penonton di sebelah saya, seorang pria muda ‘cupu’ yang sok pahlawan menenangkan pacarnya yang ketakutan melihat darah, menggunakan kalimat standar: “Ini kan cuma film. Betulannya nggak mungkin ada orang bisa kayak gitu, jatoh tapi nggak papa.” Saat ada kesempatan, saya pun bicara agak keras dengan teman sebelah saya, “Mereka SEALs, pasukan elite terbaik di dunia. 30 orang pasukan elite kita tidak bisa melawan seorang mereka.” Dan dia akhirnya terdiam dan bungkam seribu bahasa saat di akhir film ditampilkan fakta: film ini kisah nyata!

Yap. Betul. Ini kisah nyata. Film ini diangkat dari buku berjudul sama tulisan Marcus Luttrell dibantu ghost writer Patrick Robinson. Merupakan rekaman pengalaman Marcus selama menjadi anggota pasukan elite khusus milik angkatan laut Amerika Serikat yaitu US NAVY  SEALs. Dalam film, titik berat pengisahan adalah saat berlangsungnya Operasi Sayap Merah (Operation Red Wing) dalam masa War on Terror in Afghanistan. Ini disebut dunia sebagai invasi AS ke Afghanistan pasca peristiwa ditabraknya Menara Kembar World Trade Centre (WTC) di New York pada 11 September 2001. Namun, film ini dibuat oleh Hollywood, jadi sudah pasti sudut pandangnya adalah dari sisi AS yang menganggap invasi itu sebagai operasi militer yang sah.

Film dimulai dengan suasana pelatihan untuk membentuk seorang prajurit NAVY SEALs., dimana digunakan pula footage dari buku The Only Easy Day Was Yesterday: Making Navy SEALs karya Richard D. Schoenberg. Selain itu secara resmi pihak US Navy juga memberikan akses kepada sutradara Peter Berg kepada dokumen operasi tersebut termasuk foto-fotonya.

Kisah film kemudian berlanjut kepada kegiatan tim gabungan Angkatan Bersenjata A.S. (US Armed Forces) saat melaksanakan perang di Afghanistan. Fokusnya terutama kepada misi SEAL Team 10 untuk membunuh komandan Taliban –Ahmad Shah (Yousuf Azami)- dalam sebuah operasi bernama Operation Red Wings. Pangkalan operasi berada di markas Jalalabad yang disingkat “J-bad base”.

Untuk keperluan itu, dikirimkan tim pengintai pendahulu (reconnaissance and surveillance team) beranggotakan empat orang anggota pasukan elite itu. Dikawal penuh dengan formasi lengkap 2 unit AH-64 Apache, 2 unit HH-60 Pave Hawk dan di udara dipantau dari pesawat komando Globe Master, ke-4 anggota SEAL itu diterjunkan dari MH-47 Chinook.

Empat orang anggota tim dipimpin oleh Letnan Michael P. “Murph” Murphy (Taylor Kitsch) yang selain sebagai komandan lapangan juga seorang spotter (penentu lokasi operasi). Anggotanya adalah Matthew “Axe” Axelson (Ben Foster) yang bertugas sebagai teknisi sonar sekaligus sniper. Juga Danny Dietz (Emile Hirsch), prajurit yang bertugas sebagai bagian komunikasi. Dan terakhir adalah Marcus Luttrell (Mark Wahlberg), seorang prajurit yang bertugas sebagai sniper (penembak jitu) dan kesehatan lapangan

Dengan berjalan kaki beberapa kilometer melewati medan pegunungan yang berat, keempat prajurit SEAL akhirnya tiba di titik pengintaian. Mereka bisa melihat desa dan mengenali Ahmad Shah ada di sana. Akan tetapi, karena posisi pandang kurang baik, Letnan Murphy memutuskan memindahkan lokasi pengintaian. Masalah mulai muncul karena sinyal radio ternyata buruk sehingga mereka kesulitan memberitahu markas . Komandan akhirnya memutuskan untuk beristirahat dahulu di posisi baru.

Tanpa diduga, muncul beberapa kambing yang diikuti 3 orang penggembalanya. Mereka adalah penduduk desa di bawahnya yang merupakan markas Taliban. Salah satu kambing mengenai kaki seorang prajurit sehingga mereka berempat terpaksa keluar dari persembunyian dan menawan ketiga penggembala itu. Beberapa jam mereka berdebat apakah akan melepaskan ketiga orang itu dengan resiko mereka akan melaporkan keberadaan mereka kepada Taliban di desa, membiarkan mereka dalam kondisi terikat atau dibunuh. Letnan Murphy mengingatkan adalah hukum humaniter dalam perang yang melarang tentara membunuh warga sipil. Akhirnya, mereka melepaskan ketiga orang itu dan salah satu pemuda segera berlari ke desa untuk memberitahu Taliban keberadaan tentara Amerika.

Mereka berupaya menghubungi ke markas melalui radio komunikasi agar membatalkan misi karena sudah unsur pendadakan sudah hilang. Operasi sudah terbongkar. Namun, radio masih belum bisa mendapatkan sinyal. Akhirnya Letnan Murphy berinisiatif menggunakan telepon satelit untuk menghubungi markas dan meminta bicara dengan Lieutenant Commander (Mayor) Erik S. Kristensen (Eric Bana), komandan SEAL Team 10’ QRF (Quick Reaction Force). Sayang sebelum tersambung hubungan telepon putus karena masalah gangguan sinyal. Murphy dan timnya dilanda dua kepanikan. Pertama, keberadaan mereka sudah diketahui dan sedang dikejar oleh pasukan Taliban yang berjumlah lebih banyak. Kedua, apabila mereka gagal memberitahu markas, pasukan inti operasi akan datang dan menimbulkan korban tewas lebih banyak.

Tanpa dinyana, pasukan Taliban dengan cepat sudah mengepung mereka. Sementara mereka terus berusaha meloloskan diri, radio komunikasi malah tertembak. Dan celakanya, saat meloncat Danny yang membawa kompas dan peta tertinggal di atas gunung. Ia tertangkap oleh pasukan Taliban dan ditembak mati. Senapan otomatis M-4 dan perlengkapan militernya pun disita oleh Taliban.

Ketiga orang tersisa pun bertahan sebisanya. Dalam upaya memberitahu markas apa yang terjadi, Murphy naik ke dataran yang lebih tinggi dengan membawa telepon satelit. Tentu saja, resikonya adalah ia akan ditembaki karena berada di tempat terbuka. Dan sang letnan pun gugur.

Dua orang tersisa terus berupaya bertahan. Karena tahu bahwa Letnan Murphy mengorbankan jiwanya agar mereka berdua bisa diselamatkan. Di markas, pasukan SEAL tidak  bisa menahan kepergian dua helikopter AH-64 Apache milik Kavaleri ke-7 US Army (Angkatan Darat AS). Itu karena perbedaan kesatuan dan skala prioritas. Bahkan dua helikopter HH-60 Pave Hawk pun dilarang terbang tanpa dukungan Apache. Karena mengingat keselamatan anggotanya, US Navy SEAL Capt. (Kolonel) Kenney (Corey Large) memerintahkan tim QRF dipimpin Mayor Erik Kristensen segera berangkat dengan dua MH-47 Chinook.

Sayang kenekatan itu harus dibayar mahal. Satu helikopter baling-baling ganda MH-47 Chinook yang ditumpangi Mayor Erik Kristensen ditembak jatuh dengan RPG (Rocket Propeller Grenade). Melihat bahaya itu, pilot MH-47 Chinook satunya memutuskan pergi. Sayangnya, saat itu Axe pun sudah gugur dan tinggal menyisakan Luttrell.

Beberapa jam kemudian dua helikopter AH-64 Apache disertai HH-60 Pave Hawk datang dan menyapu kawasan dengan tembakan. Tapi karena tidak melihat tanda-tanda keberadaan pasukan darat SEAL dan kehabisan bahan bakar, mereka terpaksa pergi kembali ke pangkalan. Luttrell terpaksa melewatkan malam di tengah hutan.

Dalam upayanya menyelamatkan diri, ia lari ke tengah hutan. Ia begitu gembira saat menemukan sungai dan menceburkan diri seraya meminum airnya yang segar. Saat itulah ia bertemu dengan  Gulab dan anaknya yang menyelamatkan dirinya ke desanya. Ia mengatakan dirinya bukan Taliban dan bermaksud membantu. Meski Gulab menggunakan bahasa asli Pashtun dan Luttrell menggunakan bahasa Inggris, namun sang prajurit menangkap maksud baik orang itu yang datang beserta anaknya. Luttrell dibawa ke desa Gulab dan dirawat di sana.

Gulab dan seisi desanya menerapkan tradisi Pashtunwali, yang akan melindungi siapa pun tamu mereka dari musuhnya. Maka, ketika Taliban datang, penduduk desa pun melawan. Saat penduduk desa sudah terdesak, datanglah pasukan lengkap angkatang bersenjata A.S. Mereka didukung oleh 2 helikopter AH-64 Apache, 2 helikopter HH-60 Pave Hawk dan dari ketinggian didukung tembakan cannon dari C-17 Globemaster III yang sekaligus berfungsi sebagai pesawat komando. Saat pasukan Taliban kabur karena dihujani tembakan, dua unit MH-47 Chinook kemudan menurunkan 30 orang pasukan gabungan US Navy SEALs dan US Army Ranger. Luttrell akhirnya berhasil diselamatkan.

Karena film ini didukung penuh oleh pihak angkatan bersenjata Amerika Serikat, sudah pasti detail soal kemiliteran amat sangat cermat. Marcus Luttrell asli selain berperan sebagai penasehat, ternyata juga ikut berperan sebagai cameo serdadu tanpa memiliki karakter di film ini. Demikian pula sejumlah veteran perang dan mantan anggota SEALs pun dilibatkan. Bahkan sutradara Peter Berg diizinkan ikut pelatihan SEALs dan mengikuti operasi di lapangan. Ia adalah orang sipil pertama yang mendapatkan keistimewaan itu. Para aktor utamanya pun dilatih khusus oleh NAVY SEALs selama tiga pekan di kamp militer. Sehingga, untuk urusan fisik dan kemiliteran, tak ada cacat sama sekali.

Secara pribadi, saya langsung teringat pada film semacam ini yaitu The Thin Red Line (1998) dan Behind Enemy Lines (2001). Ada beberapa film perang lain tapi karena berbeda masa, agak sulit membandingkan. Misalnya kalau dibandingkan dengan Saving Private Ryan (1998)-nya Steven Spielberg yang mengambil setting World War II. Tapi dari segi gaya penceritaan, film Lone Survivor ini memang mirip sekali dengan Saving Private Ryan. Ada ketegangan, ada perang, ada epik kepahlawanan, namun yang terpenting ada drama anak manusia. Bahwa prajurit juga manusia biasa yang bisa ketakutan dan kebingungan. Keren, tegang, dan jelas ada unsur semangat: kita tak boleh menyerah pada keadaan sesulit apa pun. Hingga titik darah penghabisan!

Leave a Reply