Resensi Film-Bhayu MH

Minority Report

Year : 2002 Director : Steven Spielberg, 21 Juni 2002, Running Time : 145 mins. Genre : , , , , , ,
Movie review score
5/5

Film ini bergenre fantasi sains-fiksi. Berkisah mengenai dunia masa depan di tahun 2054, dimana pembunuhan bisa dicegah melalui peramalan. Ada alat khusus yang mengeksplorasi kemampuan 3 manusia yang diberi nama “pre-cogs”. Mereka meramalkan pembunuhan sebelum terjadi. Di kepolisian sendiri dibentuk departemen khusus bernama “PreCrime” yang dikepalai Captain John Anderton (Tom Cruise). Tugas mereka menangkap “calon pembunuh”.

Di awal film dikisahkan bagaimana cara kerja peramalan ini. Para “pre-cogs” akan melihat visi masa depan –yang belum terjadi- tentang terjadinya pembunuhan. Lalu akan dikirim sinyal yang lantas mengukir kotak kubus kayu menjadi sebuah bola. Ada dua bola, satu bertuliskan nama calon korban dan satu lagi bertuliskan nama calon pelaku. Bola ini akan turun disertai rekaman visi masa depan yang seperti potongan footage video dan data perkiraan terjadinya perkara pembunuhan. Kapten Anderton lalu akan menganalisanya di hadapan saksi Dr. Katherine Pollard dan Chief Justice Frank Pollard yang menyaksikan melalui tele-conference. Setelah jelas , akan dikirim Pre-Crime unit dari DCPD (District of Columbia Pre-Crime Division) untuk mencegah pembunuhan dan menangkap calon pembunuh. Hal ini membuat pembunuhan di ibukota AS itu menurun drastis hingga 90 %, bahkan alat itu tak pernah salah. Di awal film, DCPD menangkap Howard Mark, seorang suami yang istrinya –Sarah- selingkuh dengan pria lain bernama Donald Dubin. Andai tidak dicegah, Sarah dan Dubin akan tewas.

Anderton punya sisi lain, meskipun dihormati sebagai pimpinan kepolisian, ia menjadi pecandu obat bius bernama “Clarity”. Hal itu terjadi setelah ia kehilangan putra satu-satunya Sean.

Karena sistem PreCrime akan dijalankan secara nasional melalui referendum –setelah sejak 2046 dianggap berhasil di kepolisian Washington, DC.-,  DCPD akan diaudit oleh Danny Witwer dari Department of Justice dengan mandat supervise langsung dari US Attorney General. Danny mencari kelemahan atau flaws dalam sistem. Dan untuk itu, ia memaksa masuk ke dalam “Temple” tempat ketiga “pre-cogs” berada. Padahal, seharusnya tak seorang pun selain teknisi bernama Wally yang boleh ada di sana.

Ketika semua sudah pergi dan tinggal Anderton di ruangan itu, Agatha -satu-satunya “pre-cogs” perempuan- meraih tangannya dan meminta Anderton melihat sebuah visi. Di layar yang terletak di kubah, Anderton melihat sosok seorang wanita yang tewas ditenggelamkan.

Anderton menyelidiki siapakah wanita itu. Diketahui namanya Anne Lively yang ditenggelamkan di Roland Lake. Kasus ini berasal dari masa awal adanya sistem “Pre-Crime” dibuat. Namun, ada keanehan karena visi Agatha hilang dari data, padahal data visi dari Arthur dan Dashiell  ada. Selain itu ada data lain yang hilang, termasuk identitas sang pembunuh yang tidak jelas karena retina matanya diganti. Sang kapten pun berkonsultasi dengan Lamar Burgess, Direktur “Pre-Crime” untuk menyelidiki soal ini. Sang direktur pun tak bisa banyak mengingat dan malah mengingatkan Anderton agar hati-hati pada kecanduannya karena mereka sedang diperiksa federal.

Witwer menerobos masuk ke rumah Anderton dan menemukan Clarity. Sementara di kantornya, mesin mengeluarkan sebuah bola berwarna coklat. Itu berarti pre-meditated atau peramalan yang belum pasti terjadi. Lebih jarang daripada bolah merah yang sudah pasti. Saat Anderton sedang memeriksa visi pembunuhan Leo Crow yang akan terjadi 36 jam kemudian, Anderton terkejut saat melihat pembunuhnya ternyata dirinya. Bola yang menyebutkan nama dirinya disembunyikan olehnya. Karena mengira insiden itu dibuat oleh Witwer karena mengetahui kecanduannya, Anderton pun lari meninggalkan markas. Wally memberinya waktu dua menit untuk kabur. Kini, sang kapten polisi justru dikejar oleh anak buahnya sendiri. Ia nyaris ditangkap saat retina matanya teridentifikasi di sebuah stasiun kereta bawah tanah. Namun, ia berhasil lolos saat masuk ke pabrik perakitan mobil. Dan selain mobil yang terintegrasi dengan sistem lalu-lintas serupa rel, ternyata masih ada mobil biasa yang berjalan di jalan biasa.

Dalam upaya mencari kejelasan apa yang terjadi, Anderton mendatangi Dr. Iris Hineman. Ia adalah penemu sistem Pre-Crime yang telah pensiun. Namun, ia menolak disebut penemu karena ia justru sedang ingin menyelamatkan tiga “pre-cogs” yang semula adalah pasiennya. Iris menerangkan bahwa dari 3 pre-cogs, Agatha –satu-satunya perempuan- adalah yang paling kuat. Sementara si kembar pria yaitu Arthur dan Dashiell terkadang malah tidak melihat kejadian yang sama. Sistem hanya akan mengeluarkan data apabila ada dua pre-cogs yang melihatnya. Sementara justru seringkali sebuah kejadian hanya dilihat oleh Agatha. Inilah yang disebut “Minority Report”.  Namun, sistem menghapusnya karena tidak bisa menerima ketidaksempurnaan. Padahal, menurut Iris, semua orang yang ditahan sebenarnya punya “masa depan alternatif”. Jadi, DCPD selama ini menahan orang yang memang belum tentu akan melakukan pembunuhan. Iris memberi petunjuk bahwa “Minority Report” bisa diunduh dari “pre-cogs” yang melihat visi itu, yaitu Agatha yang paling kuat.

Anderton lari ke “Sprawls”, daerah kumuh dimana hanya ada sedikit billboard iklan yang memiliki pemindai retina mata. Ia pergi ke Solomon P. Eddie, MD. seorang ahli bedah plastik yang pernah membakar para pasiennya di Baltimore, saat Anderton bertugas di sana namun ia tidak menahannya. Anderton meminta agar bola matanya diganti agar tidak terdeteksi.

Sementara itu Witwer mengunjungi Lara, mantan istri Anderton yang meminta cerai setelah kehilangan anaknya. Meski tidak ada keterangan tentang keberadaan Anderton, namun Witwer mendapatkan background insight mengenai kebiasaan Anderton mengkonsumsi “Clarity”.

Anderton berhasil diganti bola matanya, namun belum bisa dibuka sebelum 12 jam karena akan menyebabkan kebutaan. Dalam tidurnya ia bermimpi kembali ke saat di mana ia kehilangan Sean putranya di kolam renang umum justru saat sedang mengajaknya berenang. Diduga, Sean diculik sindikat perdagangan manusia (trafficking). Namun, belum lagi 12 jam, DCPD memeriksa gedung tempat Anderton berada dengan menyebarkan spyder . Anderton berupaya menghindar dengan bersembunyi di bathtub berisi air es. Itu karena sypder menggunakan infra merah untuk mendeteksi keberadaan manusia. Hanya karena gelembung udara yang keluar dari hidungnya keberadaannya terdeteksi. Untugnya, saat di-scan, matanya sudah teridentifikasi milik orang lain.

Dengan menggunakan temporary paralytic enzyme dari Solomon yang bisa mengendurkan otot wajah selama 30 menit hingga wajah berubah, Anderton menyusup masuk kembali ke kantornya. Ia menggunakan bola mata lamanya saat di-scan agar bisa masuk. Dibantu Wally, ia mencoba mengakses data. Tapi ia keburu ketahuan oleh Witwer dan Fletcher sehingga terpaksa menculik Agatha. Anderton membawanya ke seorang ahli teknologi informasi bernama Rufus T. Riley –pemilik Cyber Parlor- yang membuat perangkat komputer untuk membaca “pre-cogs”.

Saat itulah Agatha menunjukkan dua visi. Pertama soal Anderton yang menembak Leo Crow, kedua justru visi yang berjalan mundur seperti rewind film tentang terbunuhnya Anne Lively. Anderton terpaksa kabur saat tim DCPD tiba di lokasi.

Ia terus mencari keberadaan Leo Crow saat melihat billboard iklan yang menampilkan foto lelaki yang dilihat oleh “pre-cogs”. Ia pun mencari hotel di sekitarnya dan mendapati ada satu yang datanya menunjukkan Leo Crow menginap di kamar 1006. Agatha berupaya mencegahnya tapi Anderton tetap naik ke kamar. Di sana, ia mendapati foto puluhan anak dan salah satunya adalah pas foto Sean anaknya. Penghuni kamar yang bernama Leo Crow muncul. Ia mengaku membunuh Sean. Anderton kalap, tapi karena dicegah Agatha, pada waktu yang diramalkan ia akan menembak, Anderton mengurungkan niatnya. Tapi Leo malah marah. Ia mengatakan kalau sewaktu di sel seseorang meneleponnya dan akan ‘mengurus’ keluarganya apabila ia dibunuh oleh Anderton. Sang kapten sadar ini jebakan, tapi Leo tetap tak tahu siapa yang menyuruhnya. Leo meraih senjata di tangan Anderton dan menembakkannya ke dadanya sendiri hingga ia terjatuh dari kamar.

Pembunuhan yang untuk pertama kali terjadi sejak 6 tahun terakhir karena adanya DCPD justru dilakukan oleh mantan Kapten DCPD sendiri. Saat tim DCPD dipimpin Fletcher dan Witwer tiba, justru sang agen federal menyadari adanya keanehan. Karena sebelumnya ia bertugas sebagai polisi di bagian pembunuhan, Witwer menyadari Anderton telah dijebak.

Ia kemudian mengundang Lamar Burgess ke apartemen Anderton dengan membawa file dari “Containment” di kantor DCPD dan dari “Cyber Parlor”-nya Rufus. Ia membandingkan data keduanya yang ternyata berbeda. Ada dua pembunuhan yang seolah sama, tapi riak air yang berbeda membuat ia sadar ada pihak yang menginginkan visi Agatha dihapus. Saat itulah Lamar menembak Witwer, karena tahu “pre-cogs” tidak berfungsi tanpa Agatha.

Anderton membawa Agatha ke rumah mantan istrinya. Tapi Lara menelepon Lamar yang membuat Anderton ditangkap DCPD. Padahal, saat itu ia sedang mendengarkan kesaksian Agatha soal Anne Lively. Ternyata, Anne adalah ibu Agatha yang dibunuh karena tidak mau menyerahkan Agatha kepada proyek percobaan DCPD. Anne mantan pecandu hingga anaknya lahir dengan otak yang abnormal, namun menjadi semacam keistimewaan karena mampu melihat pembunuhan di masa depan. Anderton ditahan karena dituduh membunuh Leo Crow dan Danny Witwer. Agatha pun dibawa kembali ke “Temple”.

Lara menyadari adanya keanehan saat ia mengunjungi Lamar Burgess setelah Anderton ditahan. Ia lantas mengunjungi lokasi penahanan Anderton dan menodong penjaga agar suaminya dibebaskan. Di saat itu, Lamar Burges sedang menghadiri acara peresmian National Pre-Crime dan ia sebagai direkturnya. Dengan bantuan Jad –rekan John di DCPD-, Lara meminta agar video rekaman visi Agatha ditayangkan di lokasi acara. Di saat itulah baru terlihat kalau pembunuh Anne adalah Lamar. Ia menggunakan tipuan dengan menyewa seorang pembunuh untuk membunuh Anne di danau. Setelah si pembunuh ditangkap DCPD, barulah Lamar datang dan membunuh Anne dengan menenggelamkannya. Sistem “Pre-Crime” mengira itu adalah echo saja atau biasa disebut “pre-cogs déjàvu”, sehingga membuat teknisi menghapusnya. Padahal, itu adalah pembunuhan asli.

Lamar terkejut, demikian pula seluruh hadirin. Celeste istrinya jatuh pingsan. Saat itu Anderton sudah berada di lokasi acara dan menelepon Lamar. Sang direktur menerimanya menggunakan blue-toot handsfree unit dan akhirnya mereka bertemu di balkon. Di saat itu, “pre-cogs” mendeteksi akan terjadi pembunuhan. Korbannya John Anderton dan pembunuhnya Lamar Burgess. Mereka dihadapkan pada dilema. Andaikata Lamar membunuh John, ia akan ditahan. Tapi bila tidak, maka sistem “pre-cogs” terbukti salah. Akhirnya Lamar memilih bunuh diri.

Dalam epilog, proyek “Pre-Crime” akhirnya dibatalkan. Seluruh tahanan dibebaskan tanpa syarat walau banyak yang masih diawasi polisi. Anderton kembali rujuk dengan Lara dan memutuskan memiliki anak lagi. Ketiga “pre-cogs” dievakuasi ke suatu lokasi rahasia sebagai perlindungan.

Kritik Film

Dari segi penampilan teknologi, film ini nyaris tanpa cela. Teknologi masa depan terlihat futuristik, namun masih masuk akal. Satu-satunya “flaws” adalah justru saat Witwer menunjukkan surat mandatnya yang masih berupa kertas. Padahal hampir semua hal di film itu sudah terkomputerisasi dan digital. Bahkan koran yang masih berbentuk seperti koran pun digital, bukan lagi kertas. Yang paling canggih, terdapat alat pemindai retina mata di semua tempat untuk mendeteksi identitas seseorang. Juga mobil masa depan yang terintegrasi melalui sistem lalu-lintas menggunakan semacam rel dan helikopter polisi yang sangat modern.

Jalan cerita juga menarik untuk diikuti. Karena film yang diadaptasi secara bebas dari cerita pendek berjudul “The Minority Report” karya Philip K. Dick ini memang kuat kisahnya. Sekedar catatan, ada karya Dick lainnya yang juga difilmkan, yaitu Total Recall. Penulis ini memang bagus dalam menggambarkan masa depan, terutama teknologinya. Steven Spielberg sendiri begitu seriusnya mempersiapkan hingga ia mengundang para ahli yang tergabung dalam Global Business Network untuk bertukar pikiran dalam acara yang khusus dibuatnya selama 3 hari. Hasilnya adalah dokumen setebal 80 halaman yang diberi nama “2054 bible” sebagai panduan rancangan teknologi bagi film ini. Hebatnya, para produsen teknologi informasi pun terinspirasi sehingga benar-benar mewujudkan beberapa teknologi yang ditampilkan di film ini.

Nuansa film sangat modern, namun terlihat di bagian-bagian kota tertentu di mana penduduknya miskin teknologi masih kuno. Adegan saat Anderton lari dan menuju ke bagian kota yang kumuh terlihat agak mengganjal. Nuansa biru dengan menggunakan filter dipakai untuk menyamarkan situasi kota yang sebenarnya masih “masa kini” banget, dalam arti masih tahun 2000-an, bukan 2054.

Oh ya, selain sukses secara komersial dengan meraup US$ 358 juta lebih dari biaya produksi US$ 102 juta, film ini juga penuh sponsor. Mobil yang digunakan Anderson adalah Lexus, jam tangannya Bulgari, pakaian yang dikenakan Agatha dibeli di GAP, papan iklan yang menunjukkan lelaki di luar kamar Leo Crow menunjukkan produk Revo, koran yang dibaca penumpang kereta adalah USA Today, bahkan saat Anderson melewati deretan papan iklan ada Guiness. Hal ini menunjukkan produser, sutradara dan seluruh crew film ini tidak main-main dalam menggarapnya. Dan memang hasilnya memuaskan.

Leave a Reply