Resensi Film-Bhayu MH

Negeri 5 Menara

Year : 2012 Director : Affandi Abdul Rachman Running Time : 114 mins. Genre : , , , , , ,
Movie review score
1/5

 

Menyaksikan film ini dengan ekspektasi akan sebagus “Ayat-Ayat Cinta” (AAC), terus terang saya agak kecewa. Berbeda dengan AAC, saya belum membaca novelnya sebelum menyaksikan filmnya. Jadi, saya menonton di bioskop dengan kepala kosong.

Hal pertama yang membuat saya kecewa adalah tempo penceritaan yang amat lambat. Hal kedua adalah ceritanya yang sangat “doktriner”. Hal ketiga adalah akhir cerita yang “begitu doang”.

Namun, di samping ketiga hal yang mengecewakan tersebut, ada sejumlah point yang saya kagumi dari film ini. Apa saja? Nanti akan saya terangkan. Sekarang, mari kita simak dulu sepintas jalan ceritanya.

[spoiler alert!]

Film dibuka dengan percakapan antara dua orang suami-istri yang jelas tampak berasal dari Minangkabau.Kenapa? Karena bahasa yagn digunakan adalah bahasa Minang, plus dandanan sang istri yang khas wanita asal daerah tersebut. Mereka adalah orangtua dari Alif Fikri Chaniago, yang akan jadi tokoh utama film ini. Keduanya sedang berunding bagaimana cara memberitahukan pada putra tunggalnya bahwa mereka berniat menyekolahkannya ke pesantren. Padahal, Alif sudah “bertaruh” durian dengan sahabatnya Randai untuk bisa masuk ke ITB (Institut Teknologi Bandung). Dan tentunya jalan terbaik untuk itu adalah melanjutkan sekolah SMA di Bandung. Ketika kedua orangtuanya memberitahukan keputusan itu, Alif tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.

Ia baru bisa memaklumi dan akhirnya mengikuti kemauan ibunya setelah ayahnya menjual kerbau satu-satunya. Saat itulah ayahnya menyarankan agar mengambil hikmah dari cara tradisional orang Minang bertransaksi, yaitu dengan memasukkan tangan ke dalam sarung yang dipakai oleh pedagang. Di balik sarung itulah mereka tawar-menawar harga kerbau dengan cara meraba tangan lawan transaksinya.

Maka, setelah kerbau terjual, berangkatlah Alif ke Jawa, tepatnya ke Ponorogo. Di sana, ia masuk ke Pondok Madani. Di saat akan menghadapi tes masuk, Alif diwarisi pena (fulpen) milik kakeknya yang sudah diturunkan ke bapaknya. Di masa itu, memiliki fulpen bertinta celup merupakan sebuah kemewahan. Alif pun mampu mengerjakan tes dengan baik dan lulus diterima sebagai santri.

Saat pertama kali masuk kelas, ustadz Salman yang menjadi wali kelas di kelas Alif mengajarkan satu kalimat “sakti” yang akan jadi “mantra” sepanjang film. Sang ustadz pun menunjukkannya secara dramatis dengan cara membawa sebilah golok dan sebatang bambu.Golok itu digunakannya untuk memotong bambu. Walau sulit dan butuh berkali-kali usaha, namun akhirnya berhasil. Itu merupakan satu demonstrasi dari kalimat: “Man Jadda Wa Jada”. Inilah “mantra sakti” itu, pepatah Arab yang berarti: “Siapa bersungguh-sungguh, niscaya akan berhasil.”

Singkat kata, Alif ditempatkan satu asrama dengan Raja Lubis dari Medan, Said Jufri dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung, dan Baso Salahuddin dari Gowa. Keenam orang inilah yang kemudian menamakan dirinya “Shohibul Menara”. Itu karena tempat mereka sering “nongkrong” adalah di bawah menara masjid. Momentum mendapatkan nama itu adalah saat mereka berhasil memenangkan juara kedua lomba berbahasa Inggris serta merayakannya di bawah menara. Saat mereka sedang merayakan, seorang siswa lain lewat dan menyebut mereka dengan istilah “Shohibul Menara”. Maka, jadilah mereka berenam memakai nama itu sebagai nama kelompoknya.

Kisah selanjutnya berputar di sekitar Pondok Madani tempat mereka menuntut ilmu. Mulai dari penyesuaian diri dengan tradisi dan kebiasaan di sana hingga menghadap Kyai pimpinan pondok utnuk “memprotes” listrik yang sering mati. Termasuk juga penggambaran pergolakan batin Alif yang masih ingin meneruskan pendidikan ke ITB. Hal itu terutama karena ia ingin seperti Habibie. Alif makin sedih saat Randai sahabat masa kecilnya dulu ternyata berhasil masuk SMA di Bandung, bahkan kemudian ke ITB. Di tahun keempat “nyantri”-nya di Pondok Madani, ibunya tak bisa mengirimkan uang saat liburan tiba. Walhasil, Alif pun tak bisa pulang. Beruntung, Tatang mengajak kelima sahabatnya bersama-sama pulang dengannya ke Bandung. Di sanalah Alif kemudian bertemu kembali dengan Randai. Sahabatnya ini mengajak Alif berkunjung ke ITB dimana saat itu kebetulan sedang mengadakan “stadium generale” dengan pembicaranya idola mereka: Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie.

Kesedihan sempat datang saat Baso mendadak harus pulang karena neneknya sakit. Ia yang sudah yatim-piatu tak kuasa menolak ketika tetangganya datang mengabarkan berita itu. Karena baktinya pada sang nenek yang merawatnya, maka ia pun meninggalkan pendidikannya yang belum selesai. Perjuangan lima “Shahibul Menara” tersisa terus berlanjut tanpa kehadiran Baso lagi.

Sebagai film yang diadaptasi dari novel karya Ahmad Fuadi, film ini tentu mengambil “bentuk” dari karya sastra aslinya. Namun, tentu saja terjadi adaptasi di sana-sini. Karena saya belum membaca novelnya, maka saya tak bisa berkomentar dari sisi ini.

Saya hanya bisa mengetengahkan apa yang saya kagumi dari flim ini. Hal pertama adalah detailnya. Baik di penggunaan bahasa dan dialeknya, kostum (wardrobe) maupun property lain seperti kendaraan dan bangunan. Karena setting film di tahun 1980-an, maka kita bisa melihat lagi kendaraan Toyota Corolla DX hingga surat beramplop kilat khusus berprangko Presiden Soeharto! Keren! Hal kedua adalah kemampuan adaptasi dari novel yang konon sangat detail dan panjang menjadi lebih sederhana. Film masih cukup menarik meski alurnya terlalu lambat terutama di 15 menit pertama awal film. Hal ketiga adalah konsistensi pada pesan yang ingin dibawa dan kemampuan membawakan “dakwah” tanpa terlalu berkesan menggurui.

Semua itu menjadikan film ini layak ditonton. Terlebih bila ditambah keinginan memajukan perfilman negeri sendiri dan mencintai bangsa, tambah pas deh. Tapi terus-terang bagi penyuka film-film action “dar-der-dor” ala Hollywood bakalan ngantuk di dalam bioskop. Walau tentu saja, pilihan tetap di tangan Anda…

One Response so far.

  1. Thanks, I’ve been hunting for info about this topic for ages and yours is the best I’ve discovered so far.
    men’s banff parka

Leave a Reply