Resensi Film-Bhayu MH

Night at the Museum

Year : 2006 Director : Shawn Levy Running Time : 108 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
4/5

Jalan Cerita

Seorang pria bernama Larry Daley (Ben Stiller) bercerai dan gagal mempertahankan pekerjaannya yang mapan. Ia pun telah mencoba peruntungannya di bisnis, terutama dengan menciptakan aneka alat buatan sendiri. Tetapi alat-alat itu gagal menarik minat pasar. Salah satu penemuannya disebut “The Snapper”, satu alat yang dapat mematikan dan menyalakan lampu ruangan cuma dengan mendeteksi jari yang dijentikkan. Mantan istrinya Erica (Kim Raver) menudingnya sebagai contoh buruk bagi anak mereka yang berusia 10 tahun, Nicky (Jake Cherry). Larry pun kuatir suami baru mantan istrinya atau ayah tiri Nicky, Don (Paul Rudd) yang bekerja sebagai pialang akan mendapatkan penghormatan lebih dari putranya.

Oleh karena itu, Larry terdorong untuk mencari pekerjaan yang baik, minimal memiliki penghasilan tetap. Ia pun mendapatkan pekerjaan di American Museum of Natural History, New York city. Hal itu terutama karena penjaga malamnya Cecil Fredericks (Dick van Dyke) akan pensiun. Selain Cecil, dua rekannya Gus (Mickey Rooney) dan Reginald (Bill Cobbs) pun akan pensiun bersamaan. Tetapi pengganti tiga orang penjaga malam atau petugas keamanan giliran kerja malam hari itu hanya seorang: Larry Daley. Ketika serah-terima, ketiga orang penjaga itu menitipkan pesan yang terdengar janggal: “agar Larry membiarkan sejumlah lampu tetap menyala, serta jangan membiarkan apa pun masuk… atau keluar.”

Di malam pertamanya bekerja sebagai penjaga malam, Larry terkejut melihat apa yang terjadi. Ternyata, keajaiban terjadi karena seluruh penghuni museum hidup! Segala macam patung, artefak dan benda-benda lainnya menjadi hidup setelah matahari terbenam.

Larry pun terpaksa menangani kerangka Tyrannosaurus yang hidup, tetapi berkelakuan seperti anjing hingga Larry menamainya “Rexy”. Ia juga bertemu sejenis monyet dari spesies langka “capuchin” bernama Dexter (Crystal) yang iseng dan jahil, gemar mencuri kunci milik Larry. Dua boneka miniature yaitu Octavius (Steve Coogan), seorang jenderal dari zaman Romawi Kuno serta Jedediah (Owen Wilson), cowboy dari era Wild-Wild-West di masa awal Amerika Serikat. Meski berbeda masa, tetapi keduanya malah sering bertengkar. Sebuah patung totem kayu bernama Moai (Brad Garret) dari Pulau Paskah (Easter Island). Dan patung lilin Presiden ke-26 A.S., Theodore “Teddy” Roosevelt (Robin Williams).

Dari figur terakhir inilah Larry mendapatkan penjelasan apa yang terjadi. Menurut Teddy, sejak “Tablet Akhmenrah” yang terbuat dari emas masuk ke museum pada 1952, semua benda yang dipamerkan di museum menjadi hidup di malam hari. Tidak ada yang keluar museum karena apabila mereka tidak kembali ke posisinya saat matahari terbit, mereka akan berubah jadi debu. Meskipun terkejut, Larry memutuskan bertahan dengan bantuan Teddy. Ia pun mengambil alih kepemimpinan dan meminta semua penghuni museum menurutinya. Suatu hal yang tidak mudah karena mereka berasal dari berbagai masa bahkan jenis.

Keesokan harinya, Larry mencari Cecil untuk meminta nasehat. Ia dianjurkan untuk mempelajari sejarah untuk mempersiapkan diri. Tidak hanya dari litetatur, Larry juga belajar dari ahli sejarah museum bernama Rebecca Hutman (Carla Gugino). Ia pernah menulis disertasi mengenai Sacagawea (Mizuo Peck), yang patungnya juga ada di museum tersebut.

Malam berikutnya, Larry menggunakan pengetahuan itu untuk mengendalikan penghuni museum yang hidup. Empat orang Neanderthal ditampilkan dalam diorama sedang menyalakan api. Tetapi saat hidup, mereka keluar dari ruangan diorama. Hal itu membuat Larry repot karena jelas akan heboh bila manusia modern zaman sekarang bertemu mereka. Akhirnya dengan susah-payah Larry berhasil memulangkan mereka, walau salah satunya terpaksa musnah jadi debu karena tetap berada di luar museum saat fajar menyingsing.

Paginya, direktur museum Dr. McPhee (Ricky Gervails) hampir saja memecat Larry atas apa yang terjadi di area pameran Neanderthal. Tetapi Larry bisa menjelaskan dan diberi kesempatan lagi. Larry lantas menemui Rebecca, menawarinya pertemuan dengan Sacagawea. Tetapi sayangnya ia tidak percaya pada cerita Larry.

Dalam rangka mencari teman untuk menyaksikan hidupnya penghuni museum di malam hari, Larry pun membawa Nick anaknya. Celakanya, malam itu ternyata tak satu pun dari mereka yang hidup. Ternyata, hal itu disebabkan oleh “tablet Akhmenrah” ternyata dicuri oleh Cecil, Gus, dan Reginald. Mereka juga membawa serta sejumlah artefak berharga, dengan uang hasil penjualannya direncanakan untuk mendanai pensiun mereka dan menjaga kesehatan ketiganya. Mereka menon-aktifkan tablet itu dengan mengubah panelnya, untuk mencegah penghuni museum turut-campur. Tetapi Nick berhasil mengaktifkan kembali tablet itu. Sayangnya, Cecil memergokinya dan lantas menguncinya bersama Larry di ruang pameran Mesir Kuno dan pergi dengan membawa tablet.

Guna menghadapi dua patung Anubis yang hidup, Larry melepaskan mumi Akhmenrah (Rami Malek). Ternyata, pharaoh muda itu ramah dan mampu berbahasa Inggris. Menurutnya sendiri, bahasa Inggris dipelajarinya saat ia menjadi barang pameran museum di Cambridge, Inggris. Ia juga menolong Larry dan Nick melarikan diri dengan memerintahkan Anubis menghancurkan gerbang. Mereka lari ke arah Attila the Hun dan gerombolannya yang menghadang, beruntung Larry bisa menenangkan mereka. Attila lantas ikut bergabung bersama Larry, Nick, dan Akhmenrah.

Kelompok kecil itu menemukan penghuni museum lainnya sedang sibuk bertengkar bahkan berkelahi. Dengan suaranya yang keras, Moai dari Pulau Paskah berteriak meminta perhatian yang lain agar diam. Larry pun mendapatkan kesempatan bicara di depan semuanya. Ia kemudian meminta semua penghuni bekerjasama, terutama menghadapi aksi ketiga mantan penjaga malam. Para penghuni museum akhirnya setuju bekerjasama dan membantu Larry.

Gus dan Reginald kemudian dapat ditangkap oleh mereka. Tetapi sayangnya Cecil yang membawa “Tablet Akhmenrah” meloloskan diri, walau truknya dihancurkan serdadu anak buah Octavius bersama Jedediah. Terjadilah kejar-mengejar hingga ke Central Park. Akhirnya di sana Larry, Nick, Akhmenrah, Jedediah, Octavius, Attila the Hun dan Rexy berhasil menghentikan Cecil. Cecil pun menyerahkan kembali tablet itu kepada Akhmenrah. Sang Pharaoh memakai kekuatan tablet itu untuk mengembalikan penghuni museum yang sebagian sempat kabur ke kota.

Rebecca yang tengah mengemudi, melihat sosok Rexy ketika ia kembali ke museum sebelum matahari terbit. Ia pun sadar walau ceritanya sulit diterima akal, ternyata Larry tidak berbohong. Rebecca lantas bergegas ke museum untuk menemui Larry. Ia lantas diperkenalkan kepada Theodore Roosevelt dan Sacagawea.

Keesokan harinya, Dr. McPhee memecat Larry setelah ia melihat reportase berita bahwa terjadi kejadian aneh di sekitar museum. Beberapa yang disebutkan adalah adanya lukisan ala manusia gua di stasiun kereta bawah tanah museum, jejak kaki dinosaurus di Central Park, dan terlihatnya para manusia gua oleh penduduk. Tetapi segera Larry dipekerjakan kembali karena justru kejadian itu membuat animo masyarakat datang ke museum memuncak. Para penghuni museum terus berpesta tiap malam tiba bersama Larry dan Nicky. Dan akhirnya penemuan Larry yaitu “The Snapper” bisa berguna untuk mematikan lampu.

Di tengah-tengah penayangan nama-nama pekerja film ini (credit title), ditunjukkan nasib dari ketiga orang mantan penjaga malam. Cecil, Gus, dan Reginald tampak jengkel karena dipekerjakan sebagai tenaga pembersih kamar kecil di museum sebagai hukuman.

Kritik Film

Night-at-the-museum_1

Film ini menarik dari segi ide. Diangkat dari buku anak-anak berjudul The Night at The Museum (New York: Barron’s Educational Series, 1993), yang kemudian saat film ini ditayangkan juga dijadikan novel berjudul sama oleh Leslie Goldman. Meski di buku karakter utamanya bernama Hector, namun ide dasarnya tetap sama. Ide kisahnya adalah penghuni museum yang hidup di malam hari. Walau di buku aslinya yang hidup hanya kerangka dinosaurus saja. Sementara di film dan novelnya justru semua penghuni museum yang beraneka ragam dan jenisnya.

Menarik melihat bagaimana imajinasi bisa dikembangkan sedemikian bebas. Museum yang menampung beraneka artefak bersejarah atau pun replikanya menjadi hidup, merupakan impian yang luar biasa. Anak-anak pastinya menyenangi hal ini, bukannya takut.

Lupakan logika. Karena seperti penuturan patung lilin Teddy, kejadian “hidupnya penghuni museum di malam hari” sudah berlangsung sejak 1952. Artinya, sudah banyak saksi akan kejadian ini terutama penjaga malamnya. Demikian pula susunan barang-barang yang berantakan, mustahil bisa kembali rapi di pagi hari. Bisa saja memang penghuni museum didaulat kembali ke tempatnya sebelum fajar. Tetapi bagaimana dengan kaca dan perabotan yang hancur ditabrak “Rexy” saat berlari?

Satu yang paling pantas mendapatkan pujian justru kru film pembangun set. Asal tahu saja, film ini tidak diambil gambarnya di museum yang asli. Tentu saja, karena jelas koleksi artefak bersejarah tak ternilai harganya bisa rusak. Museum aslinya hanya diambil gambar luarnya saja. Tetapi seluruh bangunan di film ini adalah set film belaka, yang sengaja dibangun untuk kepentingan film saja. Hasilnya luar biasa bukan? Penonton seperti diyakinkan bahwa kejadian itu memang berlangsung di American Museum of Natural History yang asli.

Hubungan ayah-anak antara Larry dan Nicky sebenarnya menarik untuk dieksplorasi lebih jauh. Tetapi sutradara tampaknya sudah kerepotan dengan dua plot utama: Larry yang berupaya menguasai keadaan di museum dan upaya mencegah pencurian oleh tiga orang mantan penjaga malam. Dua hal ini saja memiliki “break-down” yang lumayan banyak, hingga mampu memenuhi film sepanjang 108 menit.

Film ini jelas menarik untuk disaksikan bersama keluarga, terutama guna mendidik anak-anak supaya mengenal museum dan mencintai sejarah. Walau sayangnya, di Indonesia kondisi museum masih amat memprihatinkan. Tetapi bagi American Museum of Natural History yang jadi setting film ini, dampak positif film ini nyata: kunjungan saat masa tayang film ini meningkat hampir 20 %. Diluncurkan menjelang Natal 2006 dan masa liburan, film berbiaya US$ 110 juta ini mampu membukukan US$30,8 juta di minggu pertama penayangannya di 3.685 layar bioskop di A.S. dan Kanada. Hingga akhir masa tayangnya di seluruh dunia pada 30 April 2007, film ini mencatatkan “box office” sebesar US$ 574,5 juta. Sangat manis!

Leave a Reply