Resensi Film-Bhayu MH

Night at the Museum: Battle of the Smithsonian

Year : 2009 Director : Shawn Levy Running Time : 104 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
4/5

Jalan Cerita

Kisah di film ini berlatar-belakang situasi dua tahun setelah sekuel film pertama. Kita tahu, Larry Daley (Ben Stiller) orang yang kreatif dan senang menciptakan aneka barang. Nah, di awal film ini, ia kembali mencoba mewujudkan impiannya menjadi pengusaha. Ia kini mendirikan perusahaan bernama “Daley Devices”, yang menjual barang melalui penawaran langsung ke pemirsa televisi. Begitu suksesnya sampai-sampai endorser-nya adalah mantan juara dunia tinju kelas berat, George Foreman. Barang-barang itu justru diinspirasikan oleh pengalaman serunya selama menjadi penjaga malam di American Museum of Natural History. Tetapi, kesibukannya itu membuatnya tidak punya waktu mengunjungi museum dan teman-teman lamanya lagi.

Di suatu hari, Larry iseng mampir ke museum. Ia terkejut menyaksikan barang-barang dikemas dan museum tampak kosong. Tampaknya museum ditutup untuk direnovasi. Larry lantas naik ke ruangan direktur museum Dr. McPhee untuk bertanya. Jawabannya mengejutkan. Ia mengatakan bahwa pengunjung musem menurun. Oleh karena itu, ia mengajukan penggantian 90 % koleksi museum. Sementara koleksi museum yang lama akan disimpan di Federal Archives yang merupakan bagian dari Smithsonian Institution di Washington, D.C. Setelah itu, ia akan mengisi museum dengan peralatan holografik terkomputerisasi yang mampu menjawab pertanyaan pengunjung secara otomatis.

Malam itu, Larry mengunjungi museum untuk bertemu para penghuninya. Ia memberikan informasi bahwa Rexy si kerangka Tyrannosaurus, Moai si patung kepala Pulau Paskah (suara Brad Garrett), patung lilin Theodore Roosevelt (Robin Williams), dan Akhmenrah (Rami Malek) akan tetap berada di museum itu. Tetapi sisanya termasuk Jedediah (Owen Wilson), Octavius (Steve Coogan), Attila the Hun (Patrick Gallagher), Sacagawea (Mizuo Peck), Dexter si monyet jenis Capuchin, dan para manusia Neanderthal tidak lagi menjadi bagian dari museum. Mereka akan dipindahkan dan jelas tidak bisa hidup lagi saat malam karena “tablet Akhmenrah” masih dipertahankan berada di sana.

Setelah para penghuni museum itu dipindahkan, Larry pun pulang. Tetapi ia kemudian mendapat telepon dari Jedediah. Ia menginformasikan bahwa Dexter mencuri tablet dan membawanya ke Federal Archives. Itu berarti, seluruh penghuni museum tujuan akan hidup. Padahal, di sana ada saudara lelaki Akhmenrah yang jahat, bernama Pharaoh Kahmunrah (Hank Azaria). Ia berencana merebut tablet dan sekaligus menguasai dunia. Pertama-tama, ia menyerang para pendatang baru dari New York city tersebut.

Larry pun buru-buru berangkat ke Washington, D.C. setelah sebelumnya meminta bantuan Nicky (Jake Cherry) anaknya untuk mencari data tentang museum itu. Ia pun mengunjungi museum yang jauh lebih besar daripada tempatnya bekerja, kebingungan mencari dimanakah barang-barang yang baru tiba dari New York city berada. Ia memasuki the National Air and Space Museum, the National Gallery of Art, dan the Smithsonian Instituion Building. Tujuannya cuma satu, mencari letak Federal Archives tempat barang-barang yang tidak dipamerkan disimpan. Akhirnya, dengan panduan anaknya melalui telepon, ia menemukan letaknya yang di bawah tanah.

Larry menemukan teman-temannya membeku, terkurung di container cargo pengiriman di tengah-tengah perkelahian dengan Kahmunrah. Ketika Larry mengambil tabletnya, matahari tenggelam dan malam tiba. Seluruh penghuni museum pun hidup, baik penghuni asli maupun “pendatang” dari New York city. Kahmunrah yang juga hidup mengatakan pada Larry bahwa menjadikan penghuni museum hidup cuma salah satu kekuatan tablet itu. Ia sendiri akan menggunakannya untuk menguasai dunia. Salah satu caranya adalah dengan membangkitkan pasukan dari “dunia bawah”.

Larry meloloskan diri dari pasukan Mesir Kuno dengan bantuan patung lilin Jenderal George Armstrong Custer (Bill Hader) yang melepaskan artefak lain di gudang penyimpanan termasuk gurita raksasa. Sayangnya, Armstrong tertangkap dan kemudian dikurung bersama teman-teman Larry dari American Museum of Natural History di dalam container cargo.

Saat sedang lari menghindari kejaran tentara Mesir Kuno, Larry bertemu Amelia Earhart (Amy Adams) yang bukan saja cantik dan bertubuh bagus, tetapi juga senang petualangan. Dia adalah wanita pertama yang menyeberangi Atlantik dengan pesawat sendirian. Di film ini, patung lilin Amelia Earhart ini tertarik kepada Larry dan menemaninya hingga ke the National Gallery.

Untuk menghindari kejaran, Larry dan Amelia masuk ke dalam foto di dinding. Foto itu adalah foto historis saat hari kemenangan atas Jepang dirayakan di Times Square (V-J Day in Times Square). Di sana terpotret seorang pelaut bernama Joey Motorola (Jay Baruchel) sedang mencium seorang suster dengan eksotis. Larry dan Amelia berhasil memerangkap prajurit Kahmunrah di dalam foto dengan cara membalikkannya menghadap ke dinding. Larry juga sempat menolong gurita raksasa dengan menumpahkan air laut dari sebuah lukisan di dekatnya.

Sementara itu, Kahmunrah berhasil meyakinkan Napoleon Bonaparte (Alain Chabat), Ivan the Terrible (Christopher Guest) dan Al Capone (Jon Bernthal) untuk membantunya. Tetapi ia menolak Darth Vader (Thomas Morley) dan Oscar the Grouch yang hendak bergabung. Tentara Napoleon berhasil menangkap Larry. Ketika Jedediah dan Octavius hendak membebaskan Larry, Jed ditangkap oleh gangster anak buah Al Capone. Untungnya Octavius berhasil lolos.

Kahmunrah berusaha membuka “Gerbang Dunia Bawah” dengan mengatur panel pada tablet, tetapi kombinasinya telah berubah. Untuk mendapatkan kombinasi yang baru, Kahmunra memaksa Larry mencari tahu sebelum matahari terbit. Ia mengancam akan membunuh Jedediah perlahan dengan meletakkan figur miniatur itu ke dalam jam pasir.

Larry dan Amelia bingung mencari petunjuk. Theodore Roosevelt (Robin Williams) membaca hieroglyphs yang mengatakan bahwa kombinasi dapat ditemukan di jantung makam Pharaoh. Amelia membawa Larry ke patung “The Thinker”, tetapi sang patung malah sedang galau. Amelia pun mengataan “dia bukan Einstein” yang lantas membuat Larry ingat bahwa ia pernah melihat boneka kepala Einstein yang bisa bergoyang-goyang karena diberi per. Letaknya di the National Air and Space Museum. Sebelum pergi, karena gembira, keduanya sempat berciuman.

Ketika Larry dan Amelia tampak di pelataran sedang menuju bangunan museum lainnya, Kahmunrah mengira dia akan melarikan diri. Ia pun memerintahkan sekutunya untuk mengejar dan membunuhnya, lantas membawa kembali “tablet Akhmenrah”. Octavius berusaha mencari bantuan ke Gedung Putih, tetapi ia gagal menyeberangi lapangan rumput. Karena tubuhnya yang kecil, ia malah ditangkap oleh seekor bajing karena dikira makanan.

Larry dan Amelia bersembunyi dari pasukan Russia pimpinan Ivan the Terrible yang mengejarnya. Ia lantas berhasil mengunjungi patung Abraham Lincoln di the Lincoln Memorial. Mereka sempat bercakap-cakap tetapi Lincoln tampak enggan membantu.

Keduanya meneruskan perjalanan ke the National Air and Space Museum. Larry sempat mencegah peluncuran roket ulang-alik luar angkasa yang membawa monyet percobaan bernama Able. Ketika mereka bertemu boneka kepala bergoyang Albert Einstein (suara oleh Eugene Levy), diberitahukan bahwa kombinasi barunya adalah nilai pi (3.14159265…). Mereka lantas meloloskan diri dari sana dengan pesawat pertama buatan Wright bersaudara. Sementara Amelia yang dikenali para penerbang “Tuskegee Airmen” di museum itu, dengan senang hati membantunya menghalangi para pengejar mereka. Mereka lantas berpisah jalan dengan tujuan Larry menunda Kahmunrah dan Amelia mencari bantuan.

Napoleon, Ivan dan Al Capone ternyata tahu bahwa Larry dan Amelia bertanya pada boneka kepala bergoyang Einstein. Mereka dengan mudah mendapatkannya dengan mengancam salah satunya. Kahmunrah yang telah berhasil mendapatkan tablet kini mengetahui kunci kombinasinya dan segera membuka “Gerbang Dunia Bawah”. Ia memanggil pasukan Horus bangkit kembali. Octavius ternyata mampu menunggangi bajing dan kembali bersama bantuan besar: patung raksasa Lincoln. Kedatangan raksasa itu ternyata menakutkan prajurit Horus, yang berlarian kembali ke “Gerbang Dunia Bawah”. Sementara itu, Amelia berhasil membebaskan teman-teman Larry dari American Museum of Natural History. Ia juga berhasil mengajak penghuni museum Smithsonian lainnya untuk membantunya. Pertempuran –yang sebenarnya lebih tepat disebut perkelahian- pun terjadi.

Saat yang lain sibuk, Octavius membebaskan Jedediah dari jam pasir. Mereka lantas menyerang musuh dari bawah sehingga Larry berhasil merebut kembali tablet dari tangan Kahmunrah. Saat ia melarikan diri, Napoleon Bonaparte, Ivan the Terrible dan Al Capone mencegatnya. Tetapi Larry berhasil mengalihkan perhatian mereka dengan menanyakan “siapakah bos di antara mereka”. Ketiganya pun bertengkar dan Larry berhasil kabur. Tetapi Kahmunrah berhasil mencegatnya. Dalam perkelahian, Larry berhasil mengalahkannya dan mengirimnya kembali ke dunia bawah.

Setelah musuh berhasil dikalahkan, Larry membawa gurita raksasa keluar dan berenang di kolam yang terletak di Washington Monument. Amelia menerbangkan Larry dan teman-temannya kembali ke New York, kembali ke American Museum of Natural History. Dia sendiri bergegas kembali ke Washington setelah, karena ia diberitahu akan menjadi debu saat fajar tiba bila tidak segera kembali ke Smithsonian.

Dengan pengalaman itu, Larry menyadari bahwa pekerjaan yang dicintainya adalah bersama teman-temannya di museum. Bukan semata masalah uang. Maka, pada akhirnya Larry pun menjual perusahaannya dan menyumbangkan hasilnya kepada museum untuk mengembalikan barang-barang pameran yang telah ditempatkan di Federal Archives. Renovasi dan restorasi pun dilakukan.

Dua bulan kemudian, museum dibuka kembali dengan acara “pameran museum malam”. Para penghuni museum yang hidup bertugas membantu. Roosevelt dan Akhmenrah menjadi pemandu wisata, Attila sebagai pencerita, dan figur pameran lain yang hidup seolah menjadi “animatronic” di museum itu. Larry pun dipekerjakan kembali sebagai penjaga malam. Di saat itulah ia bertemu seorang pengunjung yang penampilannya sangat mirip Amelia Earhart. Ia meminta bantuan kepada Larry dengan mengucapkan satu kalimat yang juga pernah diucapkan Amelia, “saya selalu tersesat”. Tetapi saat ditanya apakah ia keturunan Amelia Earhart, gadis yang mengaku bernama Tess itu malah keliru mengira Amelia wanita penerbang yang pertama sendirian menyeberangi lautan Pasifik. Padahal yang benar Samudra Atlantik.

Kritik Film

NatM-BotS

Dari kanan ke kiri: Larry, Amelia, Roosevelt, Custer, Sacagawea, Attila

Masih melanjutkan sekuel film pertamanya, di film ini para penghuni museum masih hidup di malam hari. Hanya saja, di awal film dikisahkan Larry sudah tidak bekerja lagi di sana. Ia menjadi pengusaha sukses diinspirasikan oleh pengalamannya selama di museum. Karena ia senang menciptakan barang-barang, maka muncullah aneka ciptaannya yang ternyata disukai pasar. Ini bagus sekali. Tetapi agak kurang masuk akal bagaimana ia mengorbankan kesuksesan yang bahkan dirintisnya sejak belum jadi penjaga malam di museum cuma “demi teman”. Apalagi jelas “teman-temannya” itu sebenarnya bukanlah makhluk hidup, melainkan sekedar “dihidupkan”. Di akhir film lebih tragis lagi, ia menjual perusahaannya dan mendonasikan hasilnya untuk perbaikan museum. Dan ia malah kembali lagi jadi satpam. Astaga! Orang waras mana pun tidak akan mau melakukan hal itu.

Itulah hal paling mengganggu saya di sekuel film kedua ini. Logika konyol yang didasari pemaknaan dan penafsiran sesukanya atas konsep “setia kawan” dan “petualangan”.

Penghidupan kembali bala tentara Mesir Kuno dari “dunia bawah” tentu langsung mengingatkan penikmat film pada dua sekuel dari trilogi The Mummy (1999) dan The Mummy Returns (2001). Tetapi di film ini, tentara Horus yang dihidupkan kembali cuma beberapa orang saja. Sementara di dua film “serius” tentang mumi itu jumlah tentara Anubis-nya ribuan.

Tapi sudahlah, di luar itu, film ini tetap menarik disaksikan. Ada beberapa karakter baru dimunculkan, terutama karena di film ini Larry Daley dan rombongan berkunjung ke Smithsonian Institution di Washington, D.C. Museum di ibukota A.S. itu lebih besar daripada American Museum of Natural History di New York, sehingga merepotkan bagi Larry dan teman-temannya.

Museum dan koleksinya tentu saja juga bukan asli. Tetapi Smithsonian Instution mendukung penuh pembuatan film ini. Selain membolehkan shooting di beberapa bagian museum, juga membuatkan brosur terkait film. Bila berkunjung ke sana, khusus di beberapa artefak yang replikanya digunakan di film diberi tanda khusus. Bahkan boneka kepala Einstein berper yang bergoyang-goyang dijual khusus di toko cinderamatanya sebagai bagian dari kerjasama promosi film ini. Dukungan penuh macam ini rasanya sulit didapat di Indonesia.

Efek khusus tentu saja bagus. Walau saat mengendarai pesawat pertama buatan Wright bersaudara, terlihat manuvernya terlalu lincah. Jelas tidak logis karena pesawat itu cuma terbuat dari kayu dan kertas. Dan pesawat aslinya sendiri cuma terbang beberapa meter di atas tanah dan selama beberapa menit saja. Logika juga dilanggar saat pesawat ulang-alik yang memuat Able si monyet luar angkasa nyaris mengudara. Meski bisa dibatalkan, tetapi tentu saja semburan api roketnya seharusnya menghanguskan lokasi ruang pajang yang tidak memadai untuk peluncuran itu.

Karakter Amelia Earhart yang diperankan Amy Adams tampil cukup menggemaskan. Demikian pula karakter seperti Napoleon Bonaparte, Ivan the Terrible, dan Al Capone pun tampil meyakinkan. Walau agak aneh figur para pemimpin besar dari berbagai bangsa dan masa itu mau patuh di bawah perintah Kahmunrah. Sementara karakter-karakter lama dari sekuel film pertama masih firm dan cukup kuat.

Di luar semua itu, film ini masih menarik untuk disaksikan. Penonton bisa belajar sejarah lebih banyak lagi. Efek “wow” akan lebih baik bila mengenal sejarah, terutama sejarah Amerika Serikat. Properti replika artefak bersejarah yang ditampilkan di film ini jauh lebih banyak daripada di sekuel film pertamanya. Menarik sekali melihat mereka tampil dengan cerita petualangan berbeda. Meski pemasukan totalnya menurun dari sekuel film pertamanya menjadi “hanya” US$ 413,1 juta, tetapi dengan biaya US$ 150 juta jelas masih menguntungkan. Ini merupakan pertanda bahwa film ini masih menarik perhatian pasar. Dan jelas mengedukasi masyarakat tentang museum dan sejarah secara menarik. Bagus sekali untuk keluarga kita.

Leave a Reply