Resensi Film-Bhayu MH

RectoVerso

Year : 2013 Director : Marcella Zalianty (Malaikat Juga Tahu); Happy Salma (Hanya Isyarat); Rachel Maryam (Firasat); Cathy Saron (Cicak Di Dinding); Olga Lydia (Curhat Buat Sahabat). Running Time : 110 minutes Genre : , , , ,
Movie review score
4/5

Film yang diadaptasi dari kumpulan cerpen karya Dewi “Dee” Lestari ini juga berisikan kumpulan film pendek. Ada lima film pendek berbeda dalam satu kesatuan film, yang diistilahkan sebagai film omnibus. Dari 11 cerpen yang terpampang di bukunya, dipilih lima untuk difilmkan dengan judul yang sama.  Masing-masing film pendek tersebut disutradarai oleh aktris terkemuka, dengan screenplay dijalin oleh Yosof Monthana.

Kisah pertama yang disutradarai Marcella Zalianty berjudul “Malaikat Juga Tahu”, yang di bukunya menempati urutan kedua. Di sini diceritakan seorang penderita autis yang cuma disapa “Abang” (Lukman Sardi), putra tertua seorang ibu kos yang disapa “Bunda” (Dewi Irawan). Sebagai penderita autis, ia tidak mampu berinteraksi sosial secara normal, walau memiliki kecerdasan amat menonjol di bidang tertentu. Misalnya saja ia mampu menggesek biola dan mengenal komposisi Beethoven dan Schuman. Tapi, untuk hal-hal lain ia bahkan sama sekali tak mengenalnya. Karena itu meski usianya 38 tahun, tapi tingkah lakunya seperti anak usia 4 tahun. Ia punya koleksi sabun dan rutinitas mencuci baju warna tertentu di hari tertentu yang merupakan bentuk eksistensinya. Ada seorang anak kost yang sangat baik pada Abang. Bila di bukunya cuma disebut “perempuan” atau “perempuan muda”, di film karakternya diberi nama “Leia” (Prisia Nasution). Dan ternyata, Abang jatuh cinta pada Leia. Sialnya, adik kandung Abang yang bernama Hans (Marcell Domits), datang dari luar negeri. Ia bisa dibilang sempurna. Pandai, ganteng, dan tentu saja normal. Dengan segera Hans dan Leia menjalin hubungan serius. Mereka berdua kemudian memutuskan pergi dari rumah itu meskipun Bunda telah berusaha mencegahnya. Dan itu berakibat fatal: Abang patah hati. Karena ia autis, maka ekspresi emosinya adalah dengan mengamuk dan berteriak-teriak.

Di film pendek kedua yang disutradarai Happy Salma, diangkat cerpen “Hanya Isyarat” yang di bukunya ada di urutan kelima. Dalam bukunya, aku liris berkisah tentang ketidakmampuannya menyatakan cinta kepada seseorang yang baru saja dikenalnya. Setting kisahnya di sebuah café dimana terdapat empat lelaki dan aku liris yang wanita. Namun, di film hal ini diperkaya. Kelima orang itu disebutkan merupakan satu bagian dari komunitas traveller atau petualang. Aku liris juga diberi nama: Al (Amanda Soekasah). sementara keempat pria lainnya hanya dua yang disebutkan namanya: Tano (Fauzi Baadila) yang gemar bicara filsafat dan Raga (Hamish Daud) yang ditaksir Al. Dan kisah di café yang jadi klimaksnya terjadi di sebuah warung makan tepi pantai yang eksotis. Dimana di situ Al akhirnya mau bergabung bersama empat lelaki itu untuk ikut dalam permainan “cerita paling sedih”. Dan pemenangnya ternyata Al yang bercerita bahwa ia jatuh cinta pada punggung, menandakan ia tahu tak mungkin ia meraih apa yang diimpikannya. Ia hanya mampu mengirimkan isyarat yang ternyata tak ditangkap dan tak dimengerti oleh pria idamannya.

Film ketiga berjudul “Firasat” menceritakan tentang seorang gadis bernama Senja (Asmirandah) yang kerap kali mendapatkan firasat. Ia sangat pendiam kecuali kepada ibunya. Ia bergabung dalam sebuah “Klub Firasat” yang didirikan pemuda bernama Panca (Dwi Sasono). Selama setahun bergabung di sana, Senja tak pernah mau bercerita apa pun. Tapi kali ini ia merasakan firasat kuat untuk mencegah Panca yang akan pulang kampung menengok orangtuanya yang sakit. Tapi ia gagal dan Panca tetap berangkat.

Dalam film berjudul Cicak Di Dinding, dimana di bukunya menjadi cerpen ke-8, diceritakan seorang seniman muda yang secara kebetulan menjalin hubungan dengan seorang wanita yang lebih tua. Meski begitu, wanita bernama Saras (Sophia Latjuba) ini masih menarik secara fisik hingga membuat seniman pendiam bernama Taja (Yama Carlos) tersebut jatuh cinta. Padahal, ia sangat enggan berinteraksi dengan orang lain. Celakanya, Saras ternyata adalah calon istri dari Irwan (Tio Pakusadewo), penyandang dana dan kuratornya yang sudah menganggap Taja bak adik sendiri. Ini menjadi dilema karena ternyata Saras juga mencintai Taja, namun ia tetap menikah dengan Irwan. Saya menyukai pendekatan sutradara Cathy Saron yang memasukkan penafsirannya sendiri atas cerpen yang aslinya berjudul “Cecak di Dinding” itu. Kisah ini merupakan yang paling berani dan jauh adaptasinya dari cerpen asli, berbanding terbalik dengan “Malaikat Juga Tahu” yang nyaris persis.

Film terakhir menampilkan Acha Septriasa yang berperan sebagai Amanda. Ia adalah seorang mahasiswi yang kerap kali galau. Berkali-kali gonta-ganti pacar, ia selalu curhat pada sahabatnya Reggie (Indra Birowo) yang membantu ibunya menjaga kios photocopy dekat kampus. Kehausan Amanda pada kasih sayang lelaki secara ironis mengabaikan Reggie yang justru paling peduli dan senantiasa menjaganya. Bahkan, tengah malam saat Amanda sakit Regie mau datang ke kosnya dengan membawa obat dan menjaganya. Barulah saat untuk kesekian kalinya Amanda curhat pada Regie, ia menyadari hal itu. Sutradara Olga Lydia dengan cerdas mengemas cerpen “Curhat Buat Sahabat” -yang di buku bertengger di urutan pertama- secara bernas. Sentuhannya memberikan warna tersendiri dalam film ini yang tak ada di cerpen aslinya. Hal yang paling saya suka adalah saat Amanda menyanyikan lagu bagi sahabatnya, satu kenangan romantis yang juga pernah saya alami dari pasangan saya saat kami masih bersahabat.

Menyaksikan film ini, kelima kisah di atas tidak diceritakan satu per satu sampai tuntas, melainkan bergantian. Jadi katakanlah dua menit film pertama, lalu tiga menit film kedua, lalu dua menit film ketiga, dan seterusnya hingga kembali lagi ke film pertama. Tidak seperti Crash (2004) atau Babel (2006), kelima kisah berbeda tokoh itu bukanlah sudut pandang dari tiap karakter yang akan menemui korelasi jalinannya di ujung film. Karena memang kelimanya tidak terkait dan terjadi di dunia yang berbeda. Kesamaannya hanya pada tema yang diusung sebagai sub-judul film ini: “Cinta Yang Tak Terucap”.

Oh ya, recto verso adalah bahasa Latin untuk “bolak-balik” atau “dua sisi”. Biasa juga dipakai kalangan desain grafis dan percetakan untuk menyebut istilah dua permukaan kertas, kodenya 4/4 atau kedua sisi dicetak. Film bertaburan bintang ini semua karakter protagonisnya bernama. Ini berbeda dengan cerpen asli Dee yang anonim, dimana semuanya hanya menyebut kata ganti orang pertama, kedua atau ketiga. Gaya bertuturnya segera membuat saya teringat pada film serupa yang membuat saya mengalami cinta romantis di awal masa perkuliahan: Cinta Dalam Sepotong Roti (1990). Sangat menarik disaksikan terutama bagi Anda yang menyukai kisah drama romantis dan puitis penuh simbolistis, namun tidak bertele-tele. Dan saya terus-terang kagum pada komplitnya Recto Verso yang telah menghasilkan tiga media: buku, album musik dan film. Dahsyat!

2 Responses so far.

  1. Andina says:

    Wah,ulasannya asik Mas. Saya juga suka film ini. Makasih yaa… 🙂

Leave a Reply