Resensi Film-Bhayu MH

Resident Evil

Year : 2002 Director : Paul W.S. Anderson Running Time : 100 mins. Genre : , , , , , , , ,
Movie review score
4/5

Bagi penggemar game terutama yang menggunakan console platform, tentu familiar dengan judul film ini. Memang betul, ini adalah judul permainan adventure RPG (Role Playing Game) terkenal keluaran Capcom. Bersama Sony yang memegang hak ciptanya, semula menunjuk George A. Romero sebagai sutradara sekaligus penulis skenario awal. Namun, justru karena terlalu dekat dengan video game-nya maka pembuatannya dibatalkan. Sony lantas mengontrak Paul W.S. Anderson yang menulis ulang naskahnya. Dengan beberapa karakter saja yang diambil dan jalan cerita yang tidak persis sama dengan game, justru naskah ini lebih disukai. Hal ini bertujuan agar penonton yang sama sekali tidak tahu soal game masih tetap bisa menikmati filmnya.

Cerita dimulai dengan pemaparan bahwa saat ini Umbrella Corporation adalah satu perusahaan yang memiliki bisnis senjata yang menguasai dunia. Di bawah tanah Raccoon City terletak salah satu fasilitas riset genetik milik perusahaan tersebut, yang disebut the Hive. Dalam suasana kantor yang sibuk, seorang pencuri mengambil contoh virus-T yang telah direkayasa secara genetika. Ia sengaja melemparkan virus itu ke lantai sehingga tabung reaksinya pecah. Hal ini mengakibatkan para staf laboratorium terkontaminasi. Sebagai tindakan darurat, sistem komputer yang memiliki kecerdasan buatan (artificial intelligence) mandiri bernama the Red Queen mengunci the Hive dan memutuskan membunuh semua orang di dalamnya.

Di tempat lain, seorang wanita cantik bernama Alice bangun di sebuah puri mewah dengan bingung. Ia menderita amnesia, lupa pada banyak hal termasuk identitas dirinya. Tiba-tiba sekelompok orang bersenjata menyerbu masuk dan menangkap seseorang yang mengaku bernama Matt Addison, yang baru saja menjadi polisi di Raccoon Police Department. Pasukan itu menjelskan bahwa semura orang dalam kelompok itu –kecuali Matt- adalah pegawai Umbrella Corporation. Mereka juga menerangkan bahwa Alice dan rekannya Spence adalah penjaga the Hive yang disamarkan sebagai pasangan yang hidup di puri tersebut. Mereka juga mengabarkan 5 jam sebelumnya the Red Queen mengunci the Hive, tapi mereka belum mengetahui alasannya. Mereka lalu pergi ke the Hive menggunakan kereta bawah tanah dan bertemu Spence di sana.

Pasukan itu tiba di ruang kontrol pusat kendali dimana mainframe the Red Queen berada. Akan tetapi sebelum sampai di sana, mereka harus melewati lorong yang dilengkapi sistem pertahanan sinar laser yang mampu mendeteksi gerakan. Empat anggota pasukan tewas karenanya. Salah satu anggota pasukan bernama Kaplan yang ahli teknologi informasi akhirnya mematikan the Red Queen, menyebabkan tenaga listrik padam. Hal ini mengakibatkan semua pintu di dalam the Hive terbuka. Tentu saja ini membuat para zombie terlepas. Bahkan juga ada Lickers, binatang yang telah termutasi dengan lidah panjang menjulur.

Mereka bertempur melawan para zombie, membuat Rain tergigit dan J.D. terbunuh. Sementara Alice mulai ingat kembali pada ingatannya, namun saat itu mereka malah terpisah dari kelompok. Matt mencari informasi mengenai saudarinya Lisa yang bekerja di sana, sementara Alice melawan sejumlah kawanan anjing yang sudah terinfeksi. Alice yang tidak tahu siapa dirinya terkejut saat ia bisa secara refleks menggunakan kemampuan bela diri melawan kawanan anjing bahkan membunuh mereka.

Matt menemukan saudarinya telah menjadi zombie. Alice menyelamatkan Matt. Ia kemudian menerangkan bahwa ia dan Lisa adalah aktivis lingkungan. Lisa menyelundup ke dalam Umbrella Corporation untuk mendapatkan bukti adanya percobaan tidak sah. Saat diberitahu, Alice sontak teringat bahwa dirinya justru adalah orang dalam yang dikontak Lisa. Mereka berdua memang punya niat sama untuk menjatuhkan Umbrella Corporation, tapi ia tidak mengatakan hal itu kepada Matt.

Anggota tim yang selamat kemudian kembali berkumpul di ruang kontrol pusat kendali the Red Queen. Mereka diberitahu hanya punya waktu satu jam sebelum the Hive kembali terkunci secara otomatis. Alice dan Kaplan mengaktifkan kembali the Red Queen dengan maksud untu kmencari jalan keluar sembari mencabut pemutus arusnya agar bisa dimatikan dari jarak jauh. Saat mereka mencoba melarikan diri melalui terowongan, para zombie menyerbu. Kaplan digigit dan terpisah dari kelompok.

Alice lantas teringat bahwa anti-virusnya ada di laboratorium, tapi saat ia kembali ke sana sudah tidak ada. Hilang. Spence pun mulai memulihkan ingatannya. Bahwa sebenarnya dialah yang mencuri dan melepaskan virus itu. Ia menyembunyikan virus-T dan anti-virusnya di kereta. Spence tergigit zombie, memerangkap orang-orang yang selamat di lab dan menuju ke kereta. Ia mengambil anti-virus, tapi diserang oleh Licker sehingga terbunuh. Rekan-rekannya yang lain cuma bisa melihat dari monitor CCTV.

Red Queen yang sudah aktif kembali berkomunikasi melalui monitor di laboratorium tempat Alice dan teman-temannya terkurung. Ia menawarkan akan menyelamatkan Alice dan Matt, asal mereka mau membunuh Rain. Alice menolak, walau Rain yang telah tertular justru memintanya. Licker mulai menyerang. Kaplan mematikan Red Queen untuk membuka pintu. Mereka mencapai kereta namun diserang oleh Spence yang telah menjadi zombie. Alice kemudian membunuhnya dan mengambil anti-virus.

Di dalam kereta, Rain dan Kaplan yang telah tergigit disuntik anti-virus. Tanpa mereka sadari, Licker bersembunyi di dalam kereta dan menyerang. Kaplan terbunuh dan Licker sempat menggigit Rain. Alice dan Matt berjuang melawan Licker, ditambah kemudian Rain yang berubah menjadi zombie. Tapi mereka berdua berhasil membunuhnya.

Mereka akhirnya berhasil lolos dari the Hive ke puri tempat Alice terbangun. Matt yang terluka mulai bermutasi. Sebelum Alice sempat memberinya anti-virus, tiba-tiba pintu terbuka. Muncullah serombongan peneliti Umbrella berpakaian pelindung putih diiringi pasukan bersenjata. Mereka memisahkan Alice dan Matt, dimana terdengar suara yang memerintahkan Matt dimasukkan program “Nemesis”. Alice mencoba melawan tapi dipukul hingga pingsan.

Ketika siuman lagi beberapa saat kemudian, Alice terbangun di sebuah bangsal Rumah Sakit Raccoon City. Ia tidak ingat apa yang terjadi. Gadis itu pun keluar dan melihat bahwa kota telah ditinggalkan. Di sebuah kios terlihat kepala berita koran yang menuliskan bahwa virus-T telah menyebar ke permukaan setelah Umbrella kembali membuka the Hive. Hal itu membuat pasukan zombie menyerang warga dan melumpuhkan kota. Alice lantas menuju ke sebuah mobil polisi yang masih menyala namun tak lagi ada petugasnya. Ia mengambil sebuah senapan shotgun dari sana dan melangkah menyusuri kota.

Ulasan

Film ini memerlukan imajinasi tinggi, apalagi bagi penonton yang sama sekali belum tahu game-nya. Sebagai film bergenre horror, zombie di film ini tidak menyeramkan, justru karena sangat banyak. Dan, yang paling asyik mereka bisa dibunuh dengan cukup mudah. Cukup menembak kepalanya atau memenggalnya. Agak bingung juga sih logikanya di mana, kenapa kepala yang jadi sasaran. Tapi sudahlah, memang “dari sononya” begitu. Sama dengan di game­-nya.

Pola ini membuat penonton tak perlu repot mengernyitkan kening. Begitu pula dengan sosok-sosok protagonis yang bisa datang dan pergi seenaknya, tanpa kejelasan siapa sebenarnya karakter mereka. Penonton cuma perlu tahu ada tiga pihak di sini. Golongan putih yang baik adalah mereka yang jadi jagoan, golongan hitam yang jahat adalah pihak Umbrella Corporation, dan golongan pelengkap penderita yang nggak penting adalah para zombie. Mereka hadir cuma untuk dibasmi. Hehehe.

Satu yang jelas, film ini memenuhi harapan orang yang pernah memainkan game­-nya seperti saya. Tidak terlalu sama jalan ceritanya, tapi yang penting serunya tetap greng. Jadi, jangan lewatkan untuk menontonnya. Kalau terlewat di bioskop, carilah cakram padatnya. Kalau bisa, tetap beli yang asli ya…

Leave a Reply