Resensi Film-Bhayu MH

Schindler’s List

Year : 1993 Director : Steven Spielberg Running Time : 197 minutes Genre : , , , , , , ,
Movie review score
5/5

Perang merupakan bahan cerita tak habis-habis untuk karya seni. Sejarah manusia mencatat begitu banyak darah ditumpahkan dalam sebuah perang. Kita mencatat, perang terbesar terakhir yang melibatkan banyak negara adalah Perang Dunia II. Dan berbeda dengan kebanyakan buku sejarah mencatat, perang sebenarnya adalah muara kejahatan manusia. Di dalamnya berpadu ambisi, nafsu keserakahan, kepahitan hidup, kegetiran penderitaan, dan kekejaman sekaligus.

Di film ini, sejarah pahit tentang peperangan itu dikisahkan dengan gamblang. Pada tahun 1939, Jerman menyerbu Polandia, menandai dimulainya perang besar dalam sejarah manusia modern itu. Karena politik anti-semit Hitler, para warga Polandia keturunan Yahudi dimusuhi. Mereka didata, diusir dari tempat tinggalnya, dilokalisasi dalam kamp, dipaksa bekerja, disiksa bahkan kemudian dibunuh secara massal. Dalam situasi inilah Oskar Schindler memasuki kota  Kraków yang telah dikuasai Nazi. Posisinya sebagai anggota Partai Nazi memudahkannya dalam membangun jaringan kelak.

Dengan kemampuannya bernegosiasi dan me-lobby, ia mendekati para perwira  Wehrmacht (Angkatan Bersenjata Nazi Jerman) di sebuah restoran. Karena terkesan sebagai orang penting, para perwira itu malah dengan senang hati berfoto-ria dan berpesta karena ditraktir Schindler. Ia pun berpikir untuk melakukan bisnis terkait perang. Maka, ia mencari tangan kanan dari kalangan Yahudi berpendidikan. Terpilihlah Itzhak Stern, seorang anggota Judenrat –komisi Yahudi di bawah pendudukan Nazi- yang merupakan seorang akuntan.

Melalui Stern, Schindler dipertemukan dengan para Yahudi kaya yang kini terusir dari rumahnya dan dipaksa tinggal di perkampungan khusus untuk mereka yang disebut ghetto. Dengan meyakinkan, Schindler berhasil mendapatkan investasi jutaan zloty (mata uang Polandia) untuk membeli sebuah pabrik yang sudah bangkrut. Ia kemudian menamai pabrik itu Deutsche Emailwarren Fabrique (DEF). Produksi utamanya adalah panci yang kemudian dikembangkan menjadi peralatan makan untuk militer Nazi Jerman.

Schindler menggunakan tenaga kerja buruh Yahudi karena lebih murah daripada buruh Polandia non-Yahudi. Akan tetapi Stern menggunakan kesempatan itu untuk menyelamatkan sebanyak mungkin kenalannya, terutama yang dianggap Nazi tidak berguna untuk perang. Profesi seperti dosen atau musisi dianggap tak lebih berguna daripada tukang kayu di masa perang. Mereka biasanya dikirim ke kamp konsentrasi atau langsung dieksekusi mati.

Tak lama setelah pabrik beroperasi, seorang perwira Nazi lain datang ke Kraków  untuk mengawasi pembangunan kamp konsentrasi Płaszów. Dia bernama Untersturmführer (Letnan Dua) Amon Goeth dari kesatuan SS (SchutzStaffel, arti harfiahnya skuadron pelindung, lengkapnya Waffen-SS. Semula merupakan sayap militer dari Partai Nazi, tapi kemudian malah jadi semacam pasukan elite dari angkatan bersenjata Nazi Jerman) yang kejam.

Ketika kamp itu selesai, ia memerintahkan seluruh penghuni ghetto untuk dibunuh. Alasannya sangat rasis dan merupakan race-genocide. Schindler bersama istrinya yang akhirnya menetap setelah sebelumnya sempat berkunjung sebentar menyaksikan pembantaian itu dari atas bukit saat sedang berkuda. Kejadian itu mengubah pandangan Schindler tentang perang dan bangsanya sendiri.

Dengan hati-hati, ia berupaya mendekati Goeth yang lebih kejam daripada para komandan Nazi lainnya. Schindler bahkan berupaya mempengaruhi Goeth agar menjadi lebih pemaaf. Hal itu karena ia mendengar Goeth yang merupakan seorang penembak jitu gemar menembaki buruh Yahudi yang dianggapnya malas dari atas balkon villanya di atas bukit.

Schindler sendiri mengubah fokus bisnisnya dari semula semata mencari keuntungan, kini ia mengarahkannya menjadi upaya penyelamatan sebanyak mungkin nyawa Yahudi. Apalagi ia mendengar bahwa pasukan Nazi Jerman mulai mengalami kekalahan di berbagai front. Beberapa kali ia mengalami gangguan serius, seperti para pekerjanya tiba-tiba dicegat di jalan saat hendak berangkat kerja dan disuruh membersihkan salju seharian. Pernah pula Itzhak Stern dimasukkan daftar Yahudi yang hendak dikirim ke kamp konsentrasi hingga memaksanya membebaskan sang manager. Karena itu, ia lantas menyogok Goeth agar diperbolehkan merelokasi para pekerjanya ke dalam sebuah sub-camp tersendiri yang terpisah dari ghetto.

Ketika Nazi Jerman mulai kalah perang, pasukan mereka diperintahkan meninggalkan Polandia. Goeth diperintahkan memindahkan seluruh populasi Yahudi yang tersisa dari Płaszów ke kamp konsentrasi Auschwitz.  Schindler berupaya membujuk Goeth agar memperbolehkannya merelokasi para pekerjanya ke pabrik senjata barunya yang direncanakan dibangun di kota kelahirannya Zwittau-Brinnlitz. Goeth setuju tapi meminta bayaran suap amat mahal per kepala buruh yang hendak diselamatkan. Schindler pun berupaya mencari pinjaman dan tambahan dana, tapi tak banyak berhasil. Schindler bersama Stern lantas mengetik daftar nama yang kemudian disebut “Schindler’s List” untuk diselamatkan. Stern semula tidak tahu bahwa Schindler ‘membeli’ mereka dari Goetz, tapi akhirnya ia bisa ‘menghubungkan titik’ dan mafhum maksud baik boss-nya dan menyebut daftar itu sebagai “daftar kehidupan”. Total ada 1.100 nama di daftar itu. Bahkan Schindler berupaya menyelamatkan Helen Hirsch, pembantu rumah tangga di villa Goetz yang kerap disiksa walau juga ditiduri oleh komandan Nazi itu.

Para pekerja Schindler diberangkatkan dengan dua rangkaian kereta berbeda, pria dan wanita ditempatkan di rangkaian terpisah. Anak-anak dikelompokkan ke dalam rangkaian kereta wanita. Tapi ada masalah besar, rangkaian kereta wanita dan anak-anak ternyata salah arah. Mereka malah menuju Auschwitz. Schindler terkejut dan berupaya menemui komandan kamp konsentrasi mengerikan itu. Dengan suap sekantong berlian, ia akhirnya berhasil membebaskan para buruhnya.

Di pabriknya, Schindler melarang para penjaga SS untuk memasuki are produksi. Bahkan ia memperbolehkan para buruh yang dipimpin seorang rabbi untuk beribadah Shabbat. Karena tidak mau pabriknya berkontribusi pada kekejaman perang, ia sengaja keliru mengkalibrasi hingga amunisi buatannya tak akurat. Ia menyuruh Stern untuk membeli selongson dari pabrik lain dan mengirim beberapa contohnya untuk menenangkan angkatan bersenjata. Selama tujuh bulan beroperasi, Schindler terus menggunakan ‘cara lama’-nya dalam menjaga hubungan yaitu dengan menyuap para komandan tentara Nazi.

Stern mulai panik saat mereka kehabisan uang. Untunglah melalui radio mereka mendengar berita kekalahan Nazi Jerman. Jenderal Pold selaku Panglima Angkatan Bersenjata Nazi Jerman menyerah kepada Jenderal Eisenhower selaku Panglima Angkatan Bersenjata Gabungan Sekutu. Secara bersamaan Nazi Jerman juga menyatakan menyerah kepada Pasukan Tentara Merah Uni Sovyet.

Mendengar itu, ia lantas mengumpulkan para buruh dan serdadu Nazi penjaga kamp bersama di satu ruangan. Ia mengumumkan penutupan pabrik dan rencananya melarikan diri karena ia adalah anggota Partai Nazi dan bisa disangka penjahat perang. Ia pun menyarankan para prajurit untuk pergi kembali ke keluarganya alih-alih melaksanakan tugas untuk membunuh para buruh.

Tengah malam lebih lima menit, sesuai rencana Schindler melarikan diri. Ia masih dikawal oleh tentara SS Jerman dan disupiri seorang buruh berpakaian tahanan. Sebagai tindakan jaga diri, Stern mengorganisir semua buruh Yahudi untuk menandatangani surat keterangan tentang siapa sebenarnya Schindler. Ia yang telah menyelamatkan ribuan nyawa Yahudi itu merasa menyesal mengapa tidak menyelamatkan lebih banyak lagi. Saat Schindler menangis tersedu-sedu, Stern menguatkannya dan mengatakan bahwa ia sudah cukup menyelamatkan banyak nyawa. Dari para buruh di pabriknya itulah kelak akan beranak-pinak menjadi banyak keturunan. Ia juga mengutip Talmud yang mengatakan “Barangsiapa menyelamatkan satu nyawa seolah menyelamatkan dunia seutuhnya.” Schindler pun pergi meninggalkan pabrik dan para buruh yang telah diselamatkannya.

Para buruh tinggal di pabrik dan menunggu pasukan yang akan membebaskan mereka. Ternyata, hanya ada satu orang perwira Tentara Merah Uni Sovyet yang datang dengan berkuda. Setelah menyatakan mereka dibebaskan, ia hanya menyarankan agar para buruh pergi ke kota terdekat.

Dalam epilog film, dikisahkan Goeth tertangkap saat menjadi pasien rumah sakit jiwa dan dihukum mati dengan digantung. Ada tulisan narasi yang mengisahkan Goeth gagal meneruskan bisnisnya dan bercerai dari istrinya usai perang. Tetapi ia dihargai di Israel, negara Yahudi yang berdiri kemudian. Schindler diundang ke Yerusalem dan diberi penghargaan. Kisah lantas melompat ke masa kini. Dimana Schindler yang lahir tahun 1908 telah meninggal dunia pada tahun 1974 dan dimakamkan di Yerusalem. Para buruh Yahudi Schindler (Schindlerjuden) dan anak keturunannya beramai-ramai berziarah ke makam Schindler. Mereka meletakkan batu di atas nisannya  sebagai tanda berziarah. Di akhir film, ada tangan yang meletakkan sepasang mawar di tengah nisan. Tangan itu adalah milik aktor Liam Neeson yang berperan sebagai Schindler sendiri.

Kritik Film

Film ini nyaris tanpa cacat. Detailnya membuat seolah film ini adalah dokumenter asli, apalagi Spielberg memilih menggunakan film hitam-putih seperti di masa itu. Meski merupakan kisah nyata, namun naskah film ini diangkat dari novel karya penulis Australia Thomas Keneally yang berjudul Schindler’s Ark.

Baik secara kritik film maupun finansial, film ini mendapatkan sambutan luar biasa. Ia menerima berbagai penghargaan termasuk 7 Piala Oscar atau Academy Awards 1994 dan 7 BAFTA Awards serta 3 Golden Globe Awards. Film ini juga dianggap sebagai salah satu film terbaik yang pernah dibuat. Salah satunya adalah oleh American Film Institute yang menempatkannya di urutan ke-8 dari 100 Film Amerika Serikat sepanjang masa.

Secara komersial, dengan biaya produksi 22 juta dollar A.S., film ini sukses meraup penghasilan 321,2 juta dollar A.S. di seluruh dunia. Banyak kepala negara yang menganjurkan menyaksikan film ini termasuk Presiden A.S. saat itu Bill Clinton. Bahkan di Jerman sendiri film ini ditonton oleh lebih dari 100.000 orang di 500 teater. Sementara di dunia secara keseluruhan tak kurang dari 6.000.000 orang telah menyaksikan di layar lebar, belum terhitung di video cakram padatnya kemudian.

Banyak penggunaan simbol di film ini. Satu yang membuat saya menangis adalah seorang gadis kecil bermantel merah yang digambarkan berupaya menyelamatkan diri saat pembantaian dilakukan di ghetto Kraków. Ia akhirnya tewas karena pasukan Nazi Jerman tidak hanya selesai setelah sore hari, tapi kembali lagi pada malam hari untuk membunuh para Yahudi yang bersembunyi. Momentum inilah yang membuat Schindler berubah pikiran tentang perang dan bangsanya sendiri. Ia menyadari betapa kejamnya Nazi Jerman dan bertekad menyelamatkan nyawa warga Yahudi sebagai sesama manusia. Pewarnaan merah hanya pada mantel gadis kecil itu terasa mencolok di keseluruhan film yang hitam-putih belaka.

Film ini sempat dilarang edar oleh rezim Orde Baru di Indonesia. dan saya kira tak pernah ada pencabutan resmi surat larangannya. Meskipun kemudian di era reformasi video dalam cakram padatnya dijual resmi, saya melihat versi yang ada adalah yang diedarkan di China (karena ada narasi subtitle beraksara China). Saya tidak mengerti mengapa film ini dilarang, karena ini adalah kemanusiaan. Alasan waktu itu adalah karena kuatir menimbulkan sentimen pro-Semit, sementara Yahudi dibenci banyak muslim Indonesia yang pro-Palestina. Saya kira ini keliru. Negara Israel memang mencaplok banyak wilayah Arab dan menindas warga Palestina sejak 1948. Tapi, derita mereka dengan holocaust Perang Dunia II adalah nyata dan fakta sejarah. Ini tidak boleh dilupakan. Di saat itu, merekalah korbannya. Lagipula, Yahudi itu suku bangsa, Israel itu negaranya, sementara mereka yang bertindak keras kepada Arab terutama Palestina adalah zionis. Ini adalah kelompok Yahudi garis keras. Tidak semua Yahudi adalah zionis. Itulah yang harus dimengerti.

Akan tetapi, film ini sama sekali tidak bagus ditonton bagi anak-anak. Penuh adegan sadis dan kekejaman. Juga ketelanjangan dan beberapa adegan seksual kasar. Dengan kultur Indonesia, perlu pribadi dewasa dan matang untuk bisa menyaksikan film ini secara tenang.

Bagaimanapun, kejahatan kepada kemanusiaan haruslah dilawan. Baik itu kepada orang Islam, Kristen, Yahudi atau yang lain. Apapun latar belakang suku, bangsa, agama, dan rasnya, semua manusia ciptaan Tuhan. Janganlah karena mereka “liyan” atau “bukan kita” maka seolah sah-sah saja dibunuh. Karena menghilangkan nyawa satu orang manusia tanpa pengadilan hukum yang sah sama dengan melawan Tuhan dan menghancurkan dunia. Ingat itu!

Leave a Reply